Alasan apa yang membuatku begitu berkeras hati untuk tetap menapaki jalan terjal ini bersamamu? Sedang cinta yang kita pupuk saja baru menampakkan tunas mungilnya.
[Abella Rasheika Valerian, Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori]
Clemira terdiam, dia menatap lurus ke arah ruangan berkaca lebar dengan tirai beludru warna merah marun di kedua sisinya. Mencerna semua perkataan adik iparnya yang bernada putus asa dalam kebimbangan, jelas membuatnya ingin mencari jalan keluar untuk membantu permasalahan rumah tangga adiknya. Pembicaraan yang kian serius setiap kali bertemu dengan Abella membuatnya semakin mengenali karakter adik iparnya, “Pernah denger peribahasa orang Jawa, tresna jalaran saka kulina?” celetuk Clemira tiba-tiba membuat Bella memandangnya dengan tatapan bingung, “Cinta datang karena terbiasa. Sepertinya kalian secara ndak sadar sudah naik level, Dek. Bukan cuma sekedar kompromi karena tuntutan atau simpati wae, tapi mulai ada banyak hal yang memang cocok setelah kalian saling mengenal. Lha sekarang wis terbukti, kamu bisa nerima adikku yang kelakuannya unik itu,” ungkap Clemira dengan tawa tak habis pikir saat mengingat kembali sosok Evano Rafanial Cokroatmojo yang ia besarkan setelah kepergian sang bunda.
“Sepertinya sih begitu, Mbak. Semakin aku mengenal karakternya mas Evan, aku jadi mulai memupuk harapan karena ngerasa nyaman di dekat dia. Bahkan mungkin mulai bergantung juga sama dia. Apalagi pas semalem dia bilang, ‘Pilih semua yang Adek suka dan sekiranya bakalan bisa nyenengin mata Mas juga’, gitu katanya, Mbak. Aku ‘kan jadi ngerasa diinginkan banget,” ungkap Bella dengan wajah merona mengingat hal-hal manis meskipun terkadang itu berupa perhatian kecil yang diberikan Evano. Bahkan tak jarang prianya itu seolah tak menyadari jika apa yang dilakukannya sanggup menghangatkan hati Bella sekaligus memberikan kekuatan untuk wanitanya pula.
Clemira terkekeh mendengar perkataan Bella, apalagi adik iparnya ini seakan memberikan reka adegan dengan wajah tersipu, “Yo wis, kalau gitu coba deh lihat deretan lingerie yang di situ dulu, Dek. Menurutmu mana yang bikin kamu ngerasa seksi banget kalau kamu pakai di depan dia? Inget lagi deh, siapa tahu dia pernah keceplosan atau mungkin ngasih kode keras soal kesukaannya gitu?” tunjuk Clemira pada deretan lingerie edisi terbatas dari seri koleksi terbaru.
Bella terbelalak mendengar perkataan kakak iparnya. Benar juga, Clemira tak mungkin mengetahui selera Evano soal yang satu ini. Berbeda dengan barang-barang yang tadi sudah kakak iparnya pilihkan sebagai referensi untuknya saat nanti ia harus memilih sendiri pakaiannya, “Mana yang mau kamu pakai seandainya kamu punya kesempatan emas buat membalas tiga kali klimaks beruntunmu?” sambung Clemira lagi.
Bella segera mendekati beberapa potong lingerie dengan berbagai model dan bahan yang ia rasa bisa menjadi kostumnya saat beraksi. Sepertinya dia memang harus mencoba berinisiatif untuk mengajak Evano lebih dulu, jika perlu dialah yang akan menggoda prianya habis-habisan. Kenapa merasa ragu, memangnya ada yang salah dengan itu? Ah, rasanya tidak juga. Malah bisa jadi hal-hal tak terduga seperti ini yang akan memberikan sensasi tak terlupakan dalam kehidupan rumah tangganya, “Kalau yang ini aja gimana, Mbak?” tanya Bella menunjuk satu lingerie berwarna hitam dan satu lagi berwarna merah menyala.
“Boleh juga, dia pasti gak bakalan bisa nunda-nuda lagi kalau kamu nyambut dia pakai yang model begini. Oh, iya. Ngomong-ngomong mbak harus balik ke RS sekarang, Dek. Barusan dapat kabar dari ners soal pasien yang kemarin rekam medisnya agak mengkhawatirkan. Mbak kayaknya harus siap-siap buat operasi lebih dini. Jadi, Mbak ndak bisa nemenin kamu sampai selesai, ya. Kalau kamu bingung bisa chat suamimu aja kalau misal Mbak lama bales chatmu. Kalian hati-hati baliknya,” pamit Clemira yang mendapat anggukan paham dari Abella.
Bella kembali melanjutkan Pekerjaan Rumah yang diberikan sang suami dengan referensi dari kakak iparnya. Pembicaraan mereka sampai hampir sore hari ini membuat tekad Bella menjadi bulat. Dia harus mengetahui apa pun alasan Evano yang seolah selalu menunda-nunda malam pertama mereka yang sesungguhnya. Gayung bersambut, tak berselang lama setelah Clemira pergi ternyata Evano sudah sampai di lobby Mall. Suami Abella terdengar kaget sekaligus bersemangat saat mendengar Clemira meninggalkannya seorang diri di butik lingerie ternama. Dengan langkah lebar Evano menyusul istrinya.
“Sayang?” panggil Evano saat keduanya berada di ruang VIP butik.
“Mas cepet banget sampai sini? Katanya tadi masih di parkiran?”
Evano tak sanggup berkonsentrasi saat melihat Bella masih memegang lingerie dengan model yang melecutkan fantasi liar Evano. Padahal istrinya baru mematut diri di depan cermin saja, belum benar-benar menyelubungi diri dengan jenis pakaian pencipta suasana panas. Evano membayangkan betapa selarasnya kulit putih mulus istrinya jika berpadu dengan warna dan model dari lingerie yang masih Bella pegang di depan badannya. Seakan memahami apa yang ada dalam pikiran suaminya juga reaksi Evano yang tampak jelas, Bella berjalan mendekat dengan langkah gemulai seolah sedang membuai fantasi suaminya, ia mencondongkan tubuhnya hanya untuk berbisik, “Kalau Adek pakai ini nanti malam, apa bakalan muasin mata Mas juga?” desah Bella ditutup kecupan di telinga suaminya. Sungguh sebuah bakat yang memang sudah terbentuk sejak wanita pertama kali diciptakan oleh Sang Pencipta alam semesta.
Evano mengerjapkan kedua matanya dengan cepat, berusaha mengumpulkan logikanya yang beberapa saat lalu sudah retak sejak melihat istrinya mematut diri di depan cermin dan dengan segera logika itu hancur berkeping-keping kala sang istri memberikan kecupan pelecut fantasi di telinganya. Oh, pasti beginilah yang dirasakan Adam beberapa saat sebelum terlempar ke dunia. Satu embusan napas panjang sebelum Evano memberikan senyuman tipis, “Kalau Adek berencana terus ngegoda Mas di sini, berarti jangan salahin kalau malam pertama kita terjadi di sini, sekarang juga?!” tantang Evano dengan ekspresi dan nada suara sarat akan hal-hal nakal nan sensual.
Tentu saja Bella jadi panik sendiri saat mendengar kalimat sensual yang dilontarkan suaminya. Sungguh lawan yang menantang, Evano dengan sifat tenangnya yang terkadang tampak polos ternyata menyimpan hal nakal yang berbahaya di baliknya. Tidak bisa! Bella sudah berjanji pada Clemira untuk mendapatkan ganti tiga kali kepuasan maka dengan sebuah keberanian cenderung nekat, ia menantang balik suaminya, “Berarti kita harus kasih ganti rugi karena nutup toko ini terlalu lama dan minta mereka matiin CCTV di ruangan ini?” kata Bella sambil memainkan ujung jari telunjuknya di dadá bidang sang suami.
Sudah jelas bukan itu yang tersusun cepat di kepala Evano. Ia membalas tatapan nakal istrinya dengan aura d******i yang jarang ia tampakkan di depan istrinya, “Di deket sini bukannya ada Mag Boutique atau sekalian aja di Mag View? Sepertinya malam pertama di aset sendiri bisa menjamin Mas bebas bikin istri Mas ini menjerit puas sampai nyaris pingsan.”
Tuh, ‘kan! Siapa pun akhirnya pasti menyadari jika Evano dengan segala keramahan dan sikap santunnya bukanlah lawan bicara yang bisa disepelekan. Hanya dengan satu sentakan di pinggang istrinya membuat Bella merasakan bukti gairáh Evano secara nyata yang sedang menyapa perut bagian bawahnya, “Ayo, kita ke sana sekarang, Mas?” Bahkan Bella tak bisa berpikir jernih sampai kalimat yang keluar dari mulutnya menjadi taksa, ambigu. Apakah yang tadi itu sebuah ajakan atau wanitanya Evano ini butuh diyakinkan?
Evano tersenyum, lalu menautkan jari mereka. Meminta pegawai toko untuk membungkus semua seri edisi terbatas dengan ukuran Bella dalam setiap warna dan membayarnya menggunakan salah satu kartu sakti miliknya, “Mas lupa tadi gak bawain Adek yang ini juga. Kalau belanjanya pas kita pulang mendingan pakai kartu yang ini aja udah cukup. Duh, kalau deket Adek tuh entah kenapa emang suka bikin Mas lupa sama segalanya.”
Mereka bergegas berjalan ke arah lobi dan menunggu mobil Evano diambil oleh petugas valet parking. Kedua tangan sejoli ini dipenuhi tas belanjaan barang merek terkenal. Evano terlihat sangat puas dengan hasil perburuan istrinya yang diawasi langsung oleh kakak perempuan kesayangannya. Saat Evano selesai membantu Bella memakai sabuk pengaman seperti biasanya, sebuah kecupan kembali berhasil dicuri Evano dari bibir istrinya. Sepertinya Bella sudah mulai terbiasa jika Evano selalu paham kapan dia menurunkan tingkat kewaspadaannya. Bella menatap ke arah Evano yang masih tersenyum jumawa, “Habis ‘ngiket’ istrinya terus ambil untung buat kepuasan diri sendiri. Jago banget ya, Anda,” goda Bella dengan nada sarkas.
Evano sontak menoleh dengan ekspresi takjub tak percaya, “Jadi, nanti maunya ‘diiket’, Sayang? Satu hal yang pasti, meskipun ‘diiket’ juga ntar yang dapet puasnya pasti berdua. Kita berangkat sekarang, gak perlu reservasi khusus, ‘kan?” Evano terkekeh melihat reaksi tersipu istrinya. Memang semenyenangkan ini menggoda istrinya sendiri.
Bella sudah mengeluarkan ponselnya saat kabin Maybach yang mereka tumpangi diramaikan nada dering dari ponsel Evano yang dipasang dalam mode bluetooth. Evano melirik layar audio yang menunjukkan jika telepon itu berasal dari kediaman utama Cokroatmojo. Ia segera menerima panggilan itu karena biasanya telepon dari rumah termasuk penting, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Evano setelah menekan tombol panggil di roda kemudinya.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Le. Kalian ke mana wae toh? Bude udah nyampai rumahmu dari siang tadi lho, istrimu juga lagi ndak ada di rumah. Kalian balik jam berapa? Bude udah kangen sama kamu dan pengen ketemu istrimu juga,” balas seorang wanita yang dari suaranya saja sudah jelas berusia baya. Apalagi tadi wanita ini menyebut dirinya sebagai kakak dari ayah mertua Bella. Evano segera menjelaskan jika mereka dalam perjalanan kembali ke rumah. Segera setelah menutup telepon ia mendesah pasrah, membuat Bella paham jika malam pertama mereka terpaksa harus mundur lagi.
Ketika mereka berhenti di persimpangan lampu merah, Evano memberikan tatapan nelangsa pada istrinya. Bella terkekeh geli melihat ekspresi menggemaskan dari prianya, “Ya udah, ndak apa-apa toh, Mas. Biasanya yang sabar itu menang banyak,” hibur Bella mencoba menggunakan logat Jawa seperti nada bicara di keluarga suaminya yang mulai terdengar familiar di telinganya.
Evano terbahak saat mendengar cara pengucapan logat Jawa yang masih kagok dari bibir istrinya, “Hoo jadi gitu, ya, Dek? Ndak apa-apa nih kalau kita ndak jadi ngadon sekarang?” goda Evano menggunakan logat Jawanya.
“Emang adonan yang bagus itu harus didiemin dulu biar ngembang dan hasilnya sempurna habis bahannya dicampur rata. Kemarin ‘kan semua bahannya udah diuleni sempurna soalnya berhasil melewati tiga kali proses yang luar biasa. Jadi, nanti pas penutupnya dibuka pasti udah siap banget tuh buat di panggan di oven yang udah panas. Inget ya, ovennya harus ‘panas’ loh, Mas,” rayu Bella sambil mengerling.
Pembicaraan suami istri yang penuh kode panas membuat keduanya tak sabar. Semoga malam ini mereka bisa mencuri kesempatan meskipun di rumah pastinya akan ada lebih banyak orang. Untungnya dulu Evano sendiri yang mengawasi renovasi kediaman utama Cokroatmojo. Jadi, ia cukup yakin jika kamarnya kedap suara meskipun ia membuat istrinya menjerit penuh kenikmatan seperti rencana dan fantasi liarnya setelah hari itu ia terbangun dengan rasa dan aroma Bella yang masih bisa ia rasakan ditambah dengan adrenalin yang terpacu saat membawa cabin cruiser milik istrinya kembali ke pelabuhan Genoa.