Jika memang itu sebuah tuntutan, lalu mengapa kau seolah sengaja menundanya? Apakah ada yang kau sembunyikan dariku dengan dalih untuk melindungiku atau ada alasan lain yang aku tak tahu?
[Abella Rasheika Valerian, Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori]
“Kalau Mas Evan punya black card, kenapa dia yang datengin Jenna di Mag Downtown New York waktu itu?” gumam Bella setelah ia keluar dari lift panorama seorang diri. Dia mengedarkan pandangannya, memilah butik mana yang akan ia datangi lebih dulu. Oh, ini bukan soal butik brand ternama, tapi lebih tepatnya apa yang harus ia beli lebih dulu di sini? Mengingat kehadiran tiga kartu tambahan yang sekarang berbaris rapi di dompet khusus untuk menyimpan kartu miliknya membuat Abella harus berpikir keras. Standar Evano pastinya lebih tinggi darinya. Abella memutuskan mencari minum terlebih dahulu agar ia bisa mendapat pencerahan. Baru saja kakinya melangkah, ada tepukan di pundaknya yang membuat ia berjingkat.
“Astaghfirullah, Mbak’e ngagetin aja. Loh, Mbak kok di sini? Katanya tadi dapat telepon ada yang mau lahiran?” tanya Bella keheranan sebab kakak iparnya sedang berada di Mall, bukan di Rumah Sakit East Medical Centre milik Hwanhee.
“Alhamdulillah tadi prosesnya normal dan lumayan cepet, semua selamat ibu sama bayinya. Padahal baru dikabarin tadi subuh, toh? Ternyata ketuban udah pecah dari kemarin, untung masih bisa lahiran normal,” jawab Clemira dengan wajah lesu.
“Mbak kelihatan capek banget loh, kenapa gak istirahat di rumah aja? Bukannya hari ini sebenernya Mbak libur, ya?”
“Ngantuknya wis keburu hilang kalau balik nyetir lagi sampai rumah, Dek. Tadinya Mbak mau nonton jam pertama aja, biasane ‘kan ndak rame tuh. Apalagi hari kerja gini.”
Bella terkikik geli mengartikan kalimat kakak iparnya, “Jangan bilang Mbak beli tiket premier cuma buat numpang tidur?”
“Biasanya emang gitu. Jadi, ndak usah heran kalau ketemu Mbak di Mall baru keluar dari bioskop, tapi masih muka bantal. Itu berarti Mbak habis tidur ditemenin aktor-aktor Hollywood,” canda Clemira ikut terkekeh menanggapi dugaan tepat sasaran adik iparnya, “Lha kamu ngapain sendirian di sini? Suami bucinmu ke mana?”
“Tadinya emang mau nganterin, tapi gak jadi soalnya mau ketemu sama rekan bisnisnya sambil makan siang mumpung Mas Rafa masih di sini. Jadi, mereka bisa lebih leluasa bahas kerja sama yang mau diperpanjang.”
“Hooo, dia ndak galau emange ninggalin istrinya shopping sendirian di Mall segede gini?”
“Emang sempet merajuk manja sih, tapi pas aku tahu yang mau ditemuin tuh salah satu klien lama, ya aku bilang urusan shopping itu kerjaan wanita. Aku bisa minta jemput kalau udah selesai daripada nyeret dia ke sana kemari buat nyari sesuatu yang aku sendiri bingung sekarang mau mulai dari mana,” ungkap Bella dengan wajah lelah, dia lebih memilih berbelanja peralatan makan termasuk dapur dan kebutuhan dapur ketimbang pakaian yang bisa didelegasikan ke salah satu penata gaya profesional. Keluarga Valerian biasanya menggunakan jasa para profesional daripada harus sibuk membuang waktu keluar masuk dari satu butik ke butik lain, sementara mereka harus lebih fokus mengelola jaringan bisnis keluarga agar tetap berjaya meskipun tanpa mengandalkan campur tangan para pria sepenuhnya.
“Owalah, gitu toh. Pantesan ekspresimu kayak orang yang lagi dipaksa nemenin belanja. Emang Rafa ndak bilang apa-apa pas tadi nganter kamu ke sini, Dek?”
“Ceritanya panjang Mbak. Oh iya, kalau Mbak belum ngantuk banget gimana kalau kita makan siang dulu?” ajak Bella, ia sebenarnya sedang mencari alasan untuk berbincang-bincang dengan kakak iparnya. Semakin sering dia berinteraksi dengan Clemira, semakin nyaman dia dengan kakak iparnya. Padahal semua orang selalu menganggap wanita satu ini galak, jutek, dan segala macam label tak ramah yang tersemat dalam diri wanita cantik berparas kebule-bulean ini.
“Ide bagus, habis makan terus tidur. Itu surga dunia banget buat jiwa dan raga Mbak yang lagi lelah belakangan ini.” Clemira merangkul pundak adik iparnya lalu mengajaknya ke sebuah restoran yang tenang dan menyediakan privasi demi menjaga kenyamanan pengunjungnya. Ia yakin adik iparnya sedang butuh telinga saat ini. Siapa pun pasti akan tahu hanya dengan sekali melihat ekspresi Bella yang tampak sangat tertekan.
Mereka memesan menu yang mudah dicerna, sebab satu orang sedang terlihat malas makan sementara yang lain terlihat malas mengunyah, “Wis, pesenan kita udah lengkap semua. Kamu mau cerita apa?” todong Clemira, dia memang bukan tipe wanita yang suka berbasa-basi.
“Jadi, Mas Rafa semalem ngasih aku tiga kartu. Dua buat keperluan rumah di sini sama di Seattle, satu buat keperluan penyegaran.”
Clemira menautkan alisnya, mencoba mengartikan kalimat bias adik iparnya, “Terus kenapa bingung? Kamu sekarang pegang unlimited sama black card toh?”
Bella mengangguk lemas, “Masalahnya aku gak tahu standarnya Mas Rafa, Mbak. Aku emang punya kartu unlimited, tapi belum sampai level black card. Di antara kami yang punya black card itu cuma tiga keluarga doang. Aryasatya, Lee, sama Schultz. Oh, palingan sekarang Jenna juga punya soalnya dia ‘kan udah balik ke lingkaran Murakami, bukan cuma Saba doang. Lagian aku gak terlalu hobi belanja baju, Mbak. Soalnya ‘kan selama ini kami pakai jasa personal shoppers,” terang Abella diakhiri helaan napas.
“Gitu, ya? Ada fasilitas bingung, gak ada apalagi. Ya wis, kita shopping habis beres makan. Mbak kasih tips gimana cara menyegarkan imajinasinya bojomu kuwi, Dek. Sekali-kali Mbak alih profesi jadi personal shopper khusus buat Bu Abella Rafanial Cokroatmojo.”
“Wih, kalau personal shopper-nya aja Mbak’e udah jelas beruntung banget aku.”
“Baru tahu kalau kita ini tim yang solid? Ke mana wae kamu selama ini kok baru nyadar? Berhubung sekarang kegiatan ini jauh lebih menarik daripada tidur ditemenin aktor-aktor Hollywood, berarti Mbak kudu totalitas nge-make over adik ipar kesayangan Mbak satu ini. Ayo, buruan habisin biar kita bisa kasih kejutan sama bojomu yang bucin itu.”
Selang tiga puluh menit kemudian, Clemira sudah membuat Abella menjadi model dadakan karena berulang kali mengganti baju dengan berbagai warna dan motif yang berpotongan elegan. Clemira sengaja mengosongkan setiap butik yang mereka kunjungi agar keduanya dapat memilih apa pun yang adik iparnya ini butuhkan menggunakan kesaktian kartu kredit khusus miliknya yang sempat membuat Abella bingung. Clemira berdalih ini untuk mengajarinya cara menggunakan black card yang sekarang ada di tangannya. Jadi, saat dia di negeri Big Apple nanti nyonya muda Cokroatmojo ini tak akan kagok untuk menggunakan kartu yang lebih sakti itu. Mereka memulai perburuan dari gaun cocktail untuk acara formal lengkap dengan semua aksesoris penunjang seperti high heels dan clutch.
“Gimana, udah mulai terbiasa sama alurnya?” tanya Clemira sambil menggandeng Bella ke butik pakaian dalam terkenal.
“Ini cuma karena Mbak mau ngajarin aku doang biar terbiasa, ‘kan? Makanya pakai ngosongin toko dari pelanggán lain segala.”
“Iyo memang, nanti kamu pasti bakalan begini juga kalau dianterin belanja sama adiknya Mbak yang bucin itu. Kamu udah tahu toh kalau dia agak anti bersentuhan dengan lawan jenis. Lha kalau nge-Mall otomatis lebih banyak kaum hawa yang berkeliaran di setiap tokonya,” tukas Clemira memulai acara pancing-memancingnya.
Bella seketika tersadar, inilah alasan lain kenapa kakak iparnya baru saja mengosongkan setiap butik brand ternama yang mereka kunjungi sejauh ini. Dia jadi penasaran untuk bertanya tentang sesuatu, “Mm, Mbak. Aku boleh tanya sesuatu gak?” tanya Bella sedikit ragu.
“Akhirnya kamu mau ngomong juga. Mbak sampai taruhan sama diri sendiri, butuh berapa banyak toko yang harus Mbak tutup biar kamu mau curcol sama Mbakmu ini,” celetuk Clemira mendudukan dirinya dengan nyaman di tengah jajaran gaun tidur, lingerie, dan pakaian dalam berbagai jenis dan warna yang semuanya merupakan keluaran terbaru dan beredisi khusus terbatas.
Bella memandang tak percaya dengan reaksi Clemira, ternyata kedua kakak beradik ini sama saja. Meskipun bisa dan sangat mampu untuk mengintimidasi lawan bicaranya agar mendapatkan jawaban yang mereka inginkan, tapi keduanya masih menghargai perasaan orang lain. Toh memang mereka terlihat tak pernah bersikap semena-mena pada orang lain yang tak bersalah atau bersikap tak sopan sejauh pengamatan Bella, “Mumpung kita lagi di sini, menurut Mbak aku bakalan cocok pakai yang model gimana buat nanti malam?” ucap Bella, “Mungkin” sambungnya lagi dengan nada sangat lirih sambil menghindari tatapan Clemira.
Clemira mengernyit heran, satu dugaan muncul dalam otak cerdasnya, “Ini buat un-boxing ya?” tukas Clemira tanpa tedeng aling-aling.
Bella menelan saliva susah payah sambil mengangguk dengan wajah kikuk, “Aku gak tahu kenapa Mas Rafa sepertinya sengaja mengulur waktu, tapi kemarin siang ...,” Bella menunduk sambil mencengkeram rok sifon sutranya, “Aku sempet denger Mas Evan sama Ayah bahas soal sesuatu di ruang kerja,” lirih Bella pada akhirnya.
Satu helaan napas panjang dan berat lolos dari bibir Clemira, “Ayah masih aja gitu, padahal anaknya udah nikah. Bukannya dikasih waktu malah makin ndak sabaran. Mbak tebak ini yang bikin mukamu kusut, iya toh?”
Bella mengangguk sekali lagi dengan wajah nelangsa, “Kalau emang Ayah udah ndak sabaran, terus kenapa Mas Evan sengaja ngulur waktu, Mbak?”
“Ini Mbak nanya bukan karena mau nyampurin urusan rumah tanggamu loh, ya. Anggaplah sekarang kamu salah satu pasiennya Mbak, karena emang pembahasan begini udah gak asing lagi di polinya Mbak. Jadi, ndak perlu ragu karena kita sekarang emang lagi sesi konsultasi,” ujar Clemira mengawali pembicaraan serius mereka, “Kamu udah sejauh mana sama si Tole? Apa yang kamu rasain sama dia selama beberapa minggu ini jadi istrinya? Meskipun kalian udah meyakinkan Mbak waktu di Roma kalau hari itu emang kecelakaan tanpa adanya khilaf dan kalian baru ketemu hari itu, tapi apa kamu udah ada rasa cinta sama suamimu, opo piye?”
Bella menatap Clemira dengan mata berbinar, dia merasa jalan keluar yang dia cari sudah ada di depan mata, “Kalau soal perasaan aku nerima pinangan Mas Evan emang beneran karena gak ada paksaan. Meskipun aku awalnya merasa setuju karena tuntutan keadaan dan rasa bersalah, mungkin juga kompromi. Sekarang seiring berjalannya waktu aku menyadari jalan jodoh kami memang seunik ini dan Mas Evan selalu memperlakukan aku dengan baik, tanya aku nyaman atau gak dan sebenernya kami udah sempet bahas mau punya berapa anak. Ya, tapi itu tadi aku gak tahu kenapa Mas Evan kayaknya sengaja ngulur-ngulur waktu. Jujur aja aku jadi ragu apa Mas Evan masih belum yakin sama aku?” terang Bella ‘memuntahkan’ semua rasa yang mengganjal dalam hatinya, “Sebenernya kalau buat berhubungan yang beneran emang belum Mbak, tapi aku udah sempat ngerasain meledak tiga kali berturut-turut. Aku kira kemarin kami bakal lanjut, tapi ternyata sampai tadi pagi Mas Evan belum ada ngasih kode juga. Aku harus apa, Mbak? Kalau Mas Evan gak mau mengawali masa aku yang maju duluan? Jujur aku punya ketakutan sendiri soal bahasan pabrik anak. Bukan soal punya banyak anak atau menjadi korban ego pria, tapi aku harus tahu apa alasannya biar bisa berdamai dengan kenyataan. Aku udah lelah dengan jeratan yang rasanya membuatku trauma. Kami masih mungkin buat mewujudkan pernikahan sekali selamanya, ‘kan, Mbak?” tanya Bella dengan tatapan nanar bernada getir. Entah kenapa ia ingin selalu mendobrak ketakutan yang berusaha membelenggunya dan Bella berusaha keras untuk tak melepaskan Evano. Apa karena cara Evano memperlakukannya, juga karakter prianya itu? Evano Rafanial Cokroatmojo memang kata lain dari sebuah kenaifan bagi Abella Rasheika Cokroatmojo.