Kodrat Wanita

2248 Kata
Bukan aku tak mau, tapi biarkan kami mendapatkan kepercayaan dari Tuhan Semesta Alam dengan cara yang sudah sewajarnya. Ketika rezeki beserta tanggung jawab besar itu datang maka saat itulah kami memang benar-benar siap untuk menjaga amanah dari Sang Pencipta. [Abella Rasheika Valerian,  Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori] “Terus satu lagi, Le. Nanti kalau istrimu mau KB, kamu jangan ngasih izin. Kalian harus punya banyak anak, kalau bisa program anak laki-laki sana sama dokter yang ada di Surabaya kuwi, tanya sama Mbakmu pasti dia ngerti siapa yang Ayah maksud. Ayah ngelola semua aset ini buat menjamin kehidupan penerus Ayah, sebanyak apa pun anakmu nanti Ayah gak akan keberatan karena memang semua ini ndak akan habis tujuh turunan. Boleh wae kalau pengen punya anak perempuan, tapi kalian harus punya lebih banyak anak lelaki biar keluarga kita kuat,” desak Janu sambil menegakkan duduknya di kursi kebesarannya. “Yah, Rafa sama istri Rafa pasti kasih cucu buat Ayah. Jadi, ndak perlu khawatir. Kalau soal berapa banyak ‘kan tergantung sama Yang Di Atas mau nitipin berapa banyak sama kami, Yah.” Evano mencoba mencari jalan tengah sebab ia tak ingin jika pembicaraan ini didengar istrinya. “Kamu udah ngerti kalau Ayah dari lama pengen kamu nikah ya biar kamu ngasih ahli waris secepatnya. Siapa lagi yang bakale meneruskan nama besar Cokroatmojo dari keluarga Janu Endrasuta tur ngelola semua yang kita punya ini kalau ndak anakmu?! Keturunanmu! Anaknya Mbakmu nanti bakale menjadi milik keluarga suaminya yang memang lebih berhak dan Ayah ndak bisa protes kalau mereka lebih mendahulukan tugas dari keluarga besannya Ayah. Lha kalau kamu ‘kan beda, Le,” tegas Janu sekali lagi. “Injih, Rafa paham, Yah. Sebenernya tanpa Ayah ingatkan seperti ini kami sudah tahu, tapi penerus itu cuman bisa kami usahakan. Kalau soal kapan datangnya dan berapa banyak ‘kan tergantung sama Yang Di Atas, Yah.” Evano berusaha segera mengakhiri pembicaraannya dengan sang ayah.  “Ya, pokoke kalian harus usaha terus. Jangan nunda-nunda! Mbakmu udah meriksa kondisi istrimu, toh? Dia sehat dan bisa ngasih banyak anak buatmu, toh?” Evano mulai tak suka dengan cara bicara ayahnya, ia menatap lurus mata ayahnya, “Bella insyaAllah sehat, Yah. Kalau ada apa-apa pasti Mbak’e udah bilang sama Rafa, tapi soal berapa banyak ya tetep harus Rafa bicarakan sama Bella. Anak-anak kami akan menggantungkan hidup mereka pertama kali sama Bella. Jadi, Rafa ndak bisa sesuka hati main perintah dan nentukan apa yang harus kami putuskan berdua.” “Kamu ini lelaki. Tugas istri ya nurut, manut sama kata-katamu. Kalau kamu terlalu nuruti kemauannya istrimu, ngaca sama pengalaman Ayah, Le. Bundamu jadi ngunu kuwi karena Ayah terlalu percaya dan manjain dia. Lihat toh apa balesannya ke Ayah?! Mencoreng nama Janu Endrasuta Cokroatmojo sampai Ayah ndak punya muka di depan keluarga besar kita!” Mendengar sang bunda kembali dibicarakan dengan nada dan ekspresi yang sama membuat Rafa lepas kendali, “Rafa paham dan ndak ada maksud untuk menentang Ayah sedikit pun. Karena Rafa adalah kepala keluarga sekaligus imamnya Abella berarti urusan keluarga Rafa harus diputuskan pakai cara Rafa toh? Kami sudah dewasa dan kami hanya membutuhkan restu, terutama doa Ayah agar pernikahan kami langgeng. Kalau begitu Rafa harus sampaikan dari sekarang, Bella dan Bunda itu sama, mereka bukan pabrik pembuat anak, Yah. Apa pun kata orang tetap Rafa yang harus memutuskan, dan keputusan Rafa adalah mendengarkan keinginan istri Rafa, yaitu Abella Rasheika Cokroatmojo. Rafa mau ke kamar dulu, Ayah silakan istirahat.” Tanpa perlu mendengar atau mendebat lebih jauh, Evano segera bergegas keluar meskipun ia sempat melihat tatapan nyalang yang diberikan ayahnya. Pembicaraan Evano dan ayah mertuanya terus terngiang-ngiang di telinga Bella bagaikan kaset rusak. Begitu nama sang ibu mertua mencuat, nada dan cara bicara Evano terdengar berbeda. Sosok pelindung dalam dirinya langsung muncul ketika istri dan ibunya dianggap hanya sebagai pelayan dari setiap keinginan suami. Tubuh Bella masih bergetar hebat, ia menggigil mengingat kalimat yang nyaris sama seperti yang diucapkan mendiang ayahnya saat ia masih sangat muda dulu. Keluarga Amadeo Valerian dan Janu Cokroatmojo memiliki satu permasalahan yang serupa. Bella tak menyangka ayah mertua yang selama ini terlihat berwibawa dan cukup diplomatis ternyata tetap menjunjung tinggi budaya patriarki seperti mendiang sang ayah. Bedanya Bella sudah paham dengan alasan sang ayah, tapi dari sudut pandang ayah mertuanya? Sepertinya Bella harus kembali menyiapkan diri jika ingin keluar dari bayang-bayang masa lalu yang membuat keluarganya nyaris hancur. Sedangkan di lain tempat, Evano masih berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya untuk mengontrol emosinya. Dia tak ingin menemui istrinya dalam suasana hati yang buruk. Istrinya itu jelas tipe wanita yang sensitif dan Evano tak ingin Bella ikut memikirkan hal-hal yang hanya akan membebani mental wanitanya saja. Perdebatannya dengan sang ayah kembali mencuat setelah ia berpamitan untuk kembali ke Seattle dalam waktu dekat karena pekerjaannya sudah menumpuk, sementara sang ayah sengaja memunculkan bahasan soal bulan madu dan hal-hal soal ahli waris seperti yang sudah-sudah. Ia menutup matanya sambil bersandar di dinding dekat kusen pintu ruang kerja ayahnya saat perkataan pedas ayahnya belum bisa ia enyahkan dari kepalanya. Evano terlonjak ketika ia membuka kedua matanya. Dia sudah merasa ada sesuatu yang berdiri di dekatnya, dan benar saja, Jarvish ikut bersandar di dinding tepat di sampingnya. Adiknya tersenyum tengil sambil mengunyah permen karet. “Mulai, kebiasaan banget ngagetin orang kamu, Le!” tegur Evano pada adik semata wayangnya. “Mas bakalan lebih kaget lagi kalau tak kasih tahu apa yang barusan tak lihat,” respon Jarvish masih tak berniat menatap wajah kusut kakaknya, “Mbak tadi denger soal lagu lama yang Mas bahas sama Ayah, tad—“ Kalimat Jarvish tak lagi menarik untuk Evano dengar sebab ia sudah bergegas masuk ke kamarnya untuk menemui istri tercintanya. Evano mengunci pintu kamar mereka, ia berjalan tergesa lalu segera memeluk istrinya yang berbaring dalam posisi membelakangi pintu. Bella merasakan pelukan posesif dengan napas menderu di tengkuknya. Ia bergeming, membiarkan Evano menenangkan diri sebab dia juga masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya saat ini, tapi lidahnya terlalu kelu untuk sekedar bertanya atau berpura-pura menanyakan apakah semuanya baik-baik saja pada suaminya. Ia hanya mempererat rangkulan suaminya, menahan tangan besar itu agar tetap merengkuhnya dalam kehangatan seolah hidupnya kini bergantung pada pelukan tangan besar sang suami. Dia tak ingin suaminya tahu jika ia sudah mendengar semua yang berusaha Evano halangi untuk masuk ke telinganya. Tadi ia sempat mendengar suaminya mengatakan bahwa pembicaraan antara ayah dan anak itu tak perlu keluar dari ruang kerja ayahnya sesaat sebelum Bella memutuskan menyudahi acara mengintainya dan segera menyingkir dari ruangan yang dipenuhi aura keangkuhan itu sebelum ada orang yang memergokinya. Meskipun pada akhirnya adik iparnya malah menjadi satu-satunya saksi kunci dari kejadian sore hari ini. “Sayang, Adek nggak tidur toh? Mas kira Adek masih kecapekan,” lirih Evano mencoba mengawali pembicaraan. Sungguh ia tak ingin membuat Bella merasa tertekan atau kembali mengingat hal menyakitkan yang sudah lampau saat mereka sepakat untuk menutup kisah pedih masa lalu yang membuat keduanya merasakan rasa sakit yang sama. Bella menggigit bibir bawahnya saat mendengar kalimat bernada lembut sarat perhatian yang diucapkan Evano dengan suara beratnya. “Adek kok diem aja? Malu apa marah sama Mas karena kita tadi digodain terus sama yang lain soalnya telat bangun, hm? Adek beneran ndak mau ngomong sama Mas nih ceritanya?” lirih Evano masih mencoba membuat Bella merespon ucapannya. Dia tak hentinya mengecupi rambut istrinya yang beraroma menenangkan. Bella nyaris terisak saat menyadari suaminya seakan tahu jika ia sedang mencoba memendam kegundahannya sendiri. Di saat seperti ini tiba-tiba dia ingat dengan misinya bersama sang kakak ipar yang harus segera mereka tuntaskan sebelum keadaan semakin tak terkendali, “Gimana aku bisa capek kalau semalem cuman aku yang dapat kepuasan?” Bella mencoba mendobrak dinding ketakutan yang hampir menjepitnya. Ia ingin berbalik, tapi pergerakannya ditahan tangan kekar Evano. “Apa bedanya, Sayang? Mas juga dapat kepuasan meskipun bukan secara lahiriah, tapi batiniah. Adek gak tahu, ‘kan? Semalem Mas akhirnya bisa memuaskan ego Mas sebagai seorang pria yang bisa bikin istrinya sangat terpuaskan tanpa perlu penetrasi. Sampai tiga kali berturut-turut lagi, catet tuh. Apa yang semalem bukannya sangat memuaskan? Soalnya tubuh dan ekspresi Adek tuh semalem gak bisa bohong banget. Apalagi banjirnya itu, sampai Mas kepikiran buat jemur kasur. Makanya Mas yang bongkar sendiri seprainya,” jawab Evano masih mencoba berkelit. Bella memejam erat, suaminya masih belum berniat untuk berbagi rahasia. Jika begini terus bagaimana dia bisa cepat mengambil tindakan, sementara ia tak ingin bertindak gegabah dan membuat suaminya menjauhinya atau kembali terpuruk seperti cerita kakak iparnya dulu, “Kok kedengerannya jadi aku yang egois banget. Apa Mas mau gantian? Aku bisa kok nyoba muasin Mas dengan cara apa pun yang Mas mau. Tinggal Mas bilang aja kalau pengen, aku siap melaksanakan kewajibanku kapan aja.” Pelukan Evano melonggar, Bella memanfaatkannya untuk berbalik menghadap suaminya. Evano tersentak kala melihat mata besar dengan iris cokelat terang favoritnya berubah kemerahan saat membalas tatapannya. Sudah berapa lama istrinya menangis? Bella menyentuh rahang tegas bercambang tipis milik Evano, “Mas mau sekarang? Kita masih punya waktu sebelum hari terlalu sore, aku gak apa-apa kalau Mas mau main cepat. Aku bisa tahan kok kalau di-unboxing cepat-cepat, insyaAllah aku bisa cepat terbiasa sama rasa ngilunya.” Perkataan Abella menyayat ego Evano, “Astaghfirullah, Sayang. Mas ...!” Evano seperti sedang menelan saliva bersamaan dengan benda-benda tajam apa pun yang bisa terbersit dalam pikiran manusia saat ini. Bagaimana bisa Abella mengatakan hal yang membuatnya tampak seperti seorang istri yang hanya pasrah dalam kendali seorang suami persis seperti keinginan ayahnya? Evano tak ingin mendengar omong kosong seperti ini lebih lama lagi. Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, dia beranjak ke meja serba guna tempat ia biasa meletakkan ponsel, kunci mobil, dan juga dompetnya. Bella melihat heran pada reaksi suaminya. Evano kembali menghampirinya sambil membawa dompet, “Adek mau muasin Mas, ‘kan?” tanya Evano yang segera diangguki Bella, “Mau nurutin apa pun kemauan Mas?” sambungnya lagi yang masih mendapat anggukan serupa, “Kalau gitu mulai sekarang pegang dua kartu debit ini. Ini buat Adek pakai kalau mau beli keperluan bulanan, selama kita di sini berarti Adek punya tanggung jawab buat belanja bulanan pakai kartu ini. Pas kita udah balik ke Seattle nanti, Adek pakai kartu debit yang ini buat keperluan rumah di sana. Dua-duanya unlimited, jadi Adek gak perlu pakai kartu kredit buat keperluan makan atau kebutuhan sehari-hari kita. Terus yang ini, Adek pakai buat belanja apa pun yang harus Adek pakai buat nyenengin mata Mas. Gaun buat nemenin Mas di acara formal, sekalian aksesorisnya, pakaian jenis apa pun buat di rumah atau kalau Mas butuh ditemenin buat perjalanan bisnis dan liburan pastinya, terus terutama baju tidur yang harus Adek pakai setelah kita sholat isya. Inget, apa pun buat nyenengin mata Mas! Kalau yang dua ini tadi buat kebutuhan perut dan apa pun yang sekiranya gak cocok kalau pakai kartu kredit, buat yang satu ini Adek pakai untuk kebutuhan lain yang sekiranya gak masalah kalau harus bayar pakai kartu ini, ya?!” tegas Evano sangat detail dengan suara menuntutnya, meskipun ia tahu istrinya sudah tak asing lagi dengan kartu-kartu yang ada di tangannya karena sudah jelas keluarga Amadeo Valerian juga memiliki kartu yang sama. Pancaran mata istrinya tadi membuat dadá Evano bergemuruh, dia ingin mencobanya kali ini. Dia sudah bertekad untuk memberanikan diri. Jika nanti Bella mengetahui apa yang tak pernah sanggup ia katakan melalui mulutnya sendiri maka ia akan menggunakan cara lain untuk menguji seberapa jauh kebenaran dari dugaannya selama ini. Dia sedang bertaruh dengan semesta saat ini maka ia akan melemparkan semua koinnya sebelum memulai taruhan yang menentukan nasib pernikahannya ke depannya. Setidaknya, sebelum hari besar itu tiba dia harus melindungi martabat istrinya dari satu lagi tuduhan yang berpotensi menyakiti martabat istrinya. Jika Abella ingin menuruti perkataan sang ayah mertua maka suaminya jelas punya cara sendiri untuk menunjukkan siapa yang harus dia ikuti sebagai kepala rumah tangga. Bella adalah istrinya, bukan bundanya. Jika Evano tak bisa menyelamatkan Bundanya maka ia tak akan pernah membiarkan istrinya mengalami hal serupa dengan wanita yang seharusnya bisa ia lindungi. Bella mengangguk seperti kerbau dicucuk hidungnya, ia memandangi tiga kartu yang ada di tangannya. Satu kartu berlogo Visa jenis signature dan satu lagi berlogo Mastercard berjenis world elite. Sedangkan satu kartu lain dikenal dengan black card yang legendaris. Evano menangkup wajah Bella, membawa netra yang masih memancarkan sorot kebingungan itu untuk mengunci tatapan dengannya, “Adek juga harus inget satu hal dan ini yang terpenting. Abella Rasheika Cokroatmojo itu wanita yang Mas tunggu, jodoh pilihan Allah dan Bunda. Jadi, mulai sekarang jangan dengerin omongan orang lain kalau itu hanya akan menyakiti hati Adek dan gak akan bikin Adek berkembang dengan kalimat-kalimat yang hanya diucapkan untuk menyudutkan Adek aja,” tutur Evano lantas memberikan satu kecupan lembut sebelum menunduk sambil memejamkan erat kedua matanya dan menghela satu napas berat, lalu ia kembali mendongak, “Mas minta maaf atas nama Ayah, kalau tadi Adek sempet denger apa yang gak seharusnya Adek denger.” Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Abella, bibir juga bulu mata lentiknya bergetar. Dia memangkas jarak di antara mereka lalu mengecup lembut bibir Evano dengan satu isakan kecil yang lolos. Evano segera membalas kecupan istrinya dengan ciuman lembut yang terus membuai seolah Abella bisa saja terluka jika ia menciumnya penuh dengan tuntutan, sementara Bella memang sedang rapuh sekarang. Bella masih bertanya-tanya bagaimana bisa suaminya seakan selalu tahu apa yang ada dalam hatinya. Evano merengkuh tubuh istrinya, memangku tubuh Bella dan membiarkan kedua tangan wanitanya menangkup rahang tegasnya, kemudian merangkul lehernya. Mengikuti cara istrinya ingin dicumbu saat Bella butuh keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN