Tuntutan Ayah

2359 Kata
Saat aku sudah merasa hidupku kini baik-baik saja, lantas kenapa ketakutan masa lalu itu kembali mencoba menjerat kakiku sekali lagi? Apakah aku benar-benar harus terbiasa dengan rasa sakit ini selamanya? [Abella Rasheika Valerian,  Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori] “Astaghfirullah, Mas. Kita hampir telat sholat subuh! Buruan bangun, Sayang,” pekik Bella sambil mengguncang lengan suaminya saat melihat ke arah jendela dan langit tampak sudah mulai terang dari balik tirai vitrase. Evano langsung terduduk dari tidurnya, tapi ia seketika bersandar lagi ke kepala ranjang saat kepalanya terasa pening. Bella yang hendak turun dari ranjang menoleh saat menyadari pergerakan suaminya yang tiba-tiba dan merasa bersalah seketika, “Aduh, Mas! Maaf aku bikin Mas kaget, ya? Pusing banget pasti, Mas bangun pelan-pelan aja. Aku mandi duluan, ya. Aku ‘kan harus itu, anu, mm ....” Bella tiba-tiba kehilangan kata-kata, dia hanya bisa menunjuk kikuk ke arah pintu kamar mandi. Evano terkekeh melihat kepanikan istrinya, “Iya, Sayang, Adek mandi besar duluan sana. Mas masih berkunang-kunang rasanya.” Evano sengaja menggoda istrinya yang sudah merona dengan bibir bawah yang digigit, “Gak usah malu, Mas udah lihat semuanya karena semalam lampunya terang benderang kayak langit tuh. Adek juga gak usah keburu-buru, ntar kepeleset malah Mas jantungan lagi kayak semalem,” ujar Evano mengingatkan Bella yang terlihat akan bergegas turun dari ranjang. Saat Bella menyingkap quilt yang menutupi bagian bawah tubuhnya, kedua kaki jenjangnya dengan segera menarik perhatian Evano. Apa lagi saat Bella langsung berjalan tanpa memedulikan penampilannya. Sudah pasti sebagai seorang pria dewasa Evano seketika meneguk salivanya, lalu memejamkan matanya, ‘Sebentar lagi, Van. Sabar, dikit lagi kamu pasti bisa bahagiain istrimu!’ pekiknya dalam hati. Air hangat yang mengguyur tubuh Bella ikut menghapus lelehan air matanya. Dadanya terasa sesak seketika saat menyadari dugaan kakak iparnya memanglah benar adanya. Semalam Bella sempat merasakannya, bukti hasrat milik suaminya yang menyapa celah kaki jenjangnya saat tubuh Evano menjepit kakinya. Meski samar, tapi Bella bisa bisa menyadarinya sebab kulitnya sedang dibuat sensitif sekujur tubuh saat itu. Dia tak boleh menyerah, semua pasti ada jalannya. Ia bukan hanya harus mengumpulkan tekad dan kenekatannya saja. Ini perkara rumah tangganya, Bella jelas tak akan menyerah apa lagi membiarkan orang lain melukai harga diri prianya. Evano adalah jodoh yang dikirimkan Allah dan semesta untuknya, pria yang direstui semua orang-orang yang menyayanginya maka sudah sepatutnya ia menjaga martabat prianya apa pun yang terjadi selama ia masih diberi napas oleh Sang Ilahi. Meskipun Evano masih belum bernyali untuk mengungkapkan fakta ini padanya, tapi ia tak akan memaksa karena ini jelas akan berdampak pada psikis prianya. Evano sedang melepas satu set seprai dan menumpuknya dengan barang bukti lain dari sisa pemanasan mereka semalam saat Bella keluar dari kamar mandi dalam balutan bathrobe dan handuk di atas kepalanya, ”Loh, kok Mas yang beresin semuanya?” tanya Bella sambil membelalakkan mata. “Adek udah ada wudhu, ‘kan? Mendingan atur alat sholatnya, Mas mandi sekarang jadi Adek gak perlu pegang ini lagi,” jelas Evano sambil bergegas ke kamar mandi membawa semua barang bukti dan membiarkan istrinya memakai baju. Untungnya mereka masih bisa melaksanakan sholat subuh di detik-detik terakhir sebelum fajar benar-benar menyingsing. Evano berdiri di belakang istrinya yang sedang menyisir rambut ikal panjangnya, “Sini, mau Mas bantuin ngeringin rambutnya?” tawar Evano sambil membalas tatapan Bella dari cermin. “Enggak deh, Mas. Biar kering sendiri aja soalnya aku ternyata lupa gak bawa semprotan buat ngelindungi rambut pas mau di-styling tuh,” terang Bella. “Oh, biar rambutnya gak rusak ya, Sayang? Iya, jangan sampai rusak. Ntar Mas gak bisa ciumin kalau pas tidur,” goda Evano terlampau jujur. “Ih, Mas emang sukanya gitu, ngendus-ngendus istrinya kayak Adek ini jarang mandi aja,” sewot Bella sambil memutar bola matanya. “Loh, kalau kata orang Jawa ‘kan Mas ndusel itu karena alasan yang udah Mas kasih tahu ke Adek pas awal-awal kita nikah tuh. Wanginya Adek itu menenangkan, makanya Mas gak mau jauh-jauh dari istri Mas ini,” sanggah Evano tanpa sungkan. Dia hendak meraih sisir, tapi Bella segera berbalik menghadap Evano. “Sini, Adek bantuin nyisir rambutnya, Mas. Apa mau dikeringin juga? Mana hairdryer-nya?” “Ada tuh di kamarnya Mbak Cle kalau mau ambil. Mas biasanya suka gangguin dia tidur kalau harus keramas pagi-pagi pas mau ke kantor. Lagian Mas juga gak gitu suka ngeringin rambut pakai cara gak alami, makanya daripada pengering rambutnya gak kepakai mendingan Mas ngerepotin Mbak Cle aja biar rumah gak sepi-sepi banget gitu kalau pagi,” aku Evano dengan ekspresi tengilnya. Bella seketika menyemburkan tawanya, “Pantesan aja Mbak Cle bilang aku kudu siap mental ngadepin tingkahnya Mas yang kadang ngeselin banget,” ucap Bella, tapi seketika ia menggigit lidahnya saat sadar dia sudah keceplosan. “Oh, gitu toh? Sekarang akhirnya ketahuan ‘kan kenapa kemarin bisa seru banget ngobrol sama Mbak Cle? Ternyata Adek udah mulai bersekutu sama Mbak Cle, ya?” tukas Evano menggoda Bella, ia menunduk untuk mencuri sebuah kecupan saat Bella terbelalak dengan bibir sedikit terbuka karena kaget. “Ish, Mas mulai lagi sukanya mencuri kecupan terang-terangan!” “Iya, dong. Ini gunanya semalem dibuka pakai corkscrew. Berhubung kita belum sarapan jadi Mas ngecupnya di bagian terbuka, kalau yang terselubung harus nunggu kenyang dulu biar ada yang bisa dibakar.” “Sepertinya kita perlu sediain alat pemadam portable soalnya Mas itu sukanya meleduk aja semenjak kita pulang dari Roma. Oh iya, Mas mau dibikinin sarapan apa atau mau sarapan pakai masakannya Mbok aja?” tanya Bella, tangannya masih sibuk menyisir rambut basah suaminya agar tak kusut saat kering nanti. Lalu setelahnya ia merapikan rambutnya sekali lagi menggunakan sisir yang sama. “Kita sarapan pakai masakannya Mbok aja, ya? Mas tahu Adek masih capek soalnya kelihatan banget nih dari tadi badan Adek kayaknya pegel gitu. Lagian gak apa-apa juga kalau Mas sekarang gampang meleduk, orang yang bikin meleduk ‘kan istrinya Mas sendiri,” rayu Evano diakhiri kekehan keduanya. Evan segera menautkan jemari mereka saat mengajak istrinya keluar kamar  sebelum Bella melangkah kembali ke kamar mandi untuk mengeksekusi isi keranjang cucian di mana barang bukti mereka masih tergeletak di dalamnya. Tadinya Bella ingin langsung mencucinya sebelum sarapan, tapi jelas Evano harus mencegahnya karena ia tahu istrinya pasti sudah lapar. Saat mereka sampai di ruang makan, ternyata anggota keluarga lain masih berkumpul dan sedang menikmati hidangan penutup atau sekedar menghabiskan minuman. Sudah jelas pengantin baru ini terlambat bergabung untuk sarapan. “Weits, penganten baru. Pantesan sampai gak ikutan sholat subuh berjamaah di musholla padahal imamnya udah ditungguin kayak biasa. Sampai sarapan pun juga ketinggalan,” goda Jarvish saat melihat kakak dan kakak iparnya baru bergabung dengan keadaan yang menunjukkan adanya tanda-tanda ‘perang semalam’. Bella sengaja tak menanggapi perkataan adik iparnya, dia lebih memilih fokus meladeni sarapan sang suami daripada memperpanjang bahasan yang membuatnya mati kutu. Evano melotot ke arah adik bungsunya, memberikan kode agar adiknya itu tak menggoda istrinya pagi-pagi. “Kirain Kakak bakal keluar kamar pas siang atau sore makanya tadi aku chat ke nomor Kakak sama Mas Evan, tapi pada belum masuk nih sampai sekarang,” celetuk Nasima sambil menggoyangkan ponselnya yang tadi tergeletak di atas meja makan. “Eh, ngechat ya? Waduh, mana ketinggalan di kamar lagi handphone-nya. Emang ada apa, Dek?” tanya Bella menanggapi perkataan adik bungsunya. “Kami mau balik ntar sore, kerjaan para Pak Su udah gak bisa ditinggal lagi, Kak. Kalau Kakak mah dispensasi soalnya pengantin baru,” terang Nasima “Berangkat jam berapa ntar sore? Kalian berangkat bareng atau sendiri-sendiri?” sambung Bella lagi. “Jelas sendiri-sendiri soalnya Kak Humira sekeluarga mau langsung balik ke New Zealand dan kami mau ngajakin para tetua liburan di Tokyo soalnya keluarganya Akio udah kangen berat sama Nonni dan Mama katanya,” jelas Nasima cepat-cepat. Dia sudah melihat Zaidan berlari ke arah ruang makan setelah bermain di taman belakang dekat musholla gazebo. Nasima segera berdiri untuk mencegah keponakan kesayangannya mendekati Bella atau bocah kecil itu pasti akan mengganggu sarapan zia dan zio favoritnya yang kesiangan. Di kediaman utama Cokroatmojo memang ada sebuah musholla yang dibangun menggunakan konsep setengah terbuka, lebih tepatnya ada bangunan beratap joglo yang jika diakses dari dalam maka akan berbentuk gazebo sedang dari luar berbentuk seperti rumah joglo. Bangunan ini terletak di atas kolam ikan pada bagian halaman belakang yang memiliki sekat khusus dengan area kebun belakang dan kolam renang agar privasi kediaman mereka tetap terjaga. Rumah besar ini membutuhkan banyak pekerja yang bertugas membantu para tuan rumah untuk merawat aset pribadi milik keluarga Cokroatmojo, dan ada pintu penghubung dengan jalan lebar yang berbatasan dengan perumahan berukuran masing-masing satu tubuh orang dewasa yang bisa digunakan untuk akses masuk keluar bagi siapa pun yang ingin bergabung menunaikan sholat berjamaah di sini. Para anak muda tak lagi mengganggu pasangan pengantin baru yang sedang menikmati brunch mereka karena keluarga Bella harus bersiap untuk merapikan barang bawaan yang tersisa. Memastikan sekali lagi agar jangan sampai ada yang tertinggal. Jika tidak, pasti akan sangat merepotkan kalau Bella harus membawakan atau mengirimkan barang yang penting. Sebab kalau tidak penting pasti mereka tak akan repot-repot menanyakannya pada Bella karena itu berarti mereka bisa mendapatkan penggantinya saat tiba di rumah masing-masing. Setelah selesai makan, Bella dan Evano kembali ke kamar mereka. Keduanya baru sempat memeriksa ponsel mereka yang memang tak memiliki notifikasi apa pun karena mereka terbiasa mengaktifkan mode pesawat setelah masuk ke kamar selepas makan malam. Tadinya Bella hanya mengaktifkan mode pesawat saat akan tidur, tapi dengan kebiasaan barunya mengobrol dengan sang suami setelah masuk ke kamar maka keduanya jadi terbiasa tak ingin diganggu pekerjaan jika hari sudah larut. Karena kebetulan selama beberapa minggu ini mereka masih dikelilingi anggota keluarga mereka. Jadi, pesan yang masuk sudah bisa dipastikan tentang bisnis yang mereka kelola. Jika itu sangat mendesak pasti asisten pribadi mereka akan menelepon ke telepon rumah. Suara ketukan terdengar di pintu kamar Evano yang sekarang menjadi milik Bella juga. Saat Evano membuka pintu, terlihat Humira berdiri di ambang pintu. Evano mempersilakan kakak iparnya untuk masuk, tapi Humira mengatakan jika mereka akan segera pergi ke bandara siang ini sebab keberangkatan mereka dipercepat menjadi setelah makan siang. “Sayang, Kakak mau balik sekarang katanya,” teriak Evano memanggil istrinya dari ambang pintu karena Bella belum keluar dari kamar mandi. Evano kembali menoleh ke arah kakak iparnya, “Kok buru-buru banget, Kak? Katanya masih nanti sore?” sambung Evano lagi. “Iya, khawatir si bocil ntar rewel kalau tahu kami mau ninggalin Zia-nya di sini. Lagian kapten pilot kami udah ngabarin cuacanya mendukung selama kita berangkatnya gak kesorean banget. Jadi, ya gitu deh, Dek,” ungkap Humira berbicara panjang lebar. Sepertinya ini perbincangan pertamanya tanpa ditemani pasangan mereka, “Dek, Kakak nitip Bella, ya. Dia cenderung suka mendem semuanya sendirian, enggak kayak Kakakmu ini yang suka langsung nyeplos kalau udah gak bisa menolerir sesuatu yang salah apalagi fatal atau kayak Zamina yang lebih suka langsung bertindak tanpa repot-repot menjelaskan lebih dulu apalagi mendebat. Kami percayakan Bella sama kamu, termasuk ngasih PR soal mengubah sifatnya yang meresahkan satu itu. Kami percaya kalau sama kamu pasti dia bakalan nurut dan mau terbuka,” pesan Humira pada adik ipar barunya. “Iya, Kak. InsyaAllah aku bakal bimbing Bella dan bisa jadi tempatnya bersandar. Sebenernya aku udah tahu kalian semua mengkhawatirkan soal ini karena semuanya juga bilang persis seperti yang Kak Mira sampein barusan,” aku Evano membuka sedikit rahasia umum. Mereka berdua saling melempar senyum. Humira tersenyum lega, sedangkan Evano memberikan senyuman yang menenangkan seolah mengatakan dia pasti bertanggung jawab sepenuhnya sejak resmi memiliki hak atas Abella Rasheika Cokroatmojo. Setelah mengantarkan anggota keluarga Valerian, Abella bergegas masuk kembali. Ia terburu-buru membawa cucian yang sudah ia bersihkan dari jejak kepuasan yang ia rasakan semalam dan bermaksud mencucinya sendiri di area servis halaman belakang karena memang itu sudah menjadi kewajibannya, tak mungkin ia membiarkan orang lain membersihkan bukti kenikmatan sisa semalam meskipun si mbok dan anaknya sempat berniat mengambil alih. Mereka padahal tak mempermasalahkan jika tinggal mencucinya saja, toh bekas jejaknya sudah jelas hilang sepenuhnya dari sekeranjang barang bukti di tangan Bella. Akhirnya dengan rasa sungkan yang masih tersisa, Bella terpaksa membiarkan si mbok dan anaknya menjemur cucian dari kamar pengantin sebab Bella jadi merasa tak enak sendiri setelah mendengar segudang pembelaan dari anak si mbok yang tak ingin dianggap tak tanggap dengan keperluan nyonya muda mereka. Tepat saat Bella melewati ruang kerja ayah mertuanya, ada suara perdebatan kecil yang terdengar dari celah pintu. Evano sedang menjawab semua cecaran sang ayah yang intinya menagih cucu secepatnya. Tubuh Bella menegang seketika saat ia mendengar Evano berkata jika istrinya bukanlah pabrik pembuat anak. Rasanya kalimat familiar itu mampu membuat tubuhnya seolah tersengat ribuan ubur-ubur saat memorinya terlempar ke beberapa tahun silam, juga ketika menyadari kondisi suaminya yang baru dia ketahui setelah mereka menikah. Dadanya terasa sesak seakan seluruh organ vitalnya diremas secara bersamaan. Bella berjalan tertatih dengan tangan bertumpu pada dinding di sepanjang ruangan yang mengarah ke kamar pengantin mereka. Tanpa ia sadari ada sepasang netra yang mengamatinya sejak ia kembali dari area servis halaman belakang. “Mbak, gak apa-apa?” sapa suara bariton menghentikan langkah Bella. Dia berdehem saat mengubah air mukanya sebelum menanggapi pertanyaan adik iparnya, “Loh, katanya tadi mau janjian sama temen-temenmu, Dek. Gak jadi pergi?” tanya Bella berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Jarvish menyodorkan lengannya, “Ayo, aku temenin Mbak jalan. Mau balik ke kamar, ‘kan?” tanya Jarvish sekali lagi bersikeras untuk tetap berada di topik bahasan yang sama. Bella tersenyum saat tahu adik iparnya tipe orang yang tak mudah menyerah. Seketika Bella mengingat sesuatu, “Oh, iya. Soal apa yang kita bahas waktu itu. Emang apa yang salah sama cabin cruiser punya, Mbak? Kenapa fungsi pemanasnya mendadak mati, Dek?” tanya Bella penasaran. “Yah, namanya juga built-up emang biasa begitu, Mbak. Cuman masalah teknis biasa. Aku udah langsung benerin sendiri kok, habis Mbak ceritain soal kejadian manis yang bisa bikin Mbak nyaris diterkam sama Masku yang haus belaian wanita itu. Sebenernya Alberto bantuin aku juga buat dapetin beberapa suku cadang yang aku perluin, makanya waktu itu kami berdua bisa selesain tanpa kendala sebelum kita balik ke sini. Sekarang kapalnya udah layak jalan dan siap di dermaga rumah Nonni,” terang Jarvish panjang lebar, membuat Bella mengembuskan napas lega sebab dia ternyata hanya khawatir berlebihan saja. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN