Corkscrew

2104 Kata
Sentuh aku dengan kelembutan, agar aku selalu bisa mengingat rasa manisnya dan tak pernah sanggup berhenti mendamba serta menginginkanmu sepanjang waktu. [Abella Rasheika Valerian,  Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori] Kedua tangan juga mulut Evano tak bisa berhenti bermain-main pada bagian tubuh Abella yang terasa paling menyenangkan untuk dia hisap, cecap, sekaligus remas secara bersamaan. Laksana angin surga yang berembus membelai egonya, ia terus menginginkan agar istrinya tak berhenti mendesahkan namanya saat Bella terombang-ambing dalam gelombang kenikmatan yang sengaja Evano ciptakan untuk mengawali sesuatu yang intim bagi keduanya. Dia berusaha memperlakukan si kembar membal dengan cara yang sama seolah suami Bella ini khawatir jika salah satunya akan merasa iri saat tak mendapatkan perlakuan yang sama persis. Untuk kesekian kalinya puncak berukuran besar milik Bella selalu bisa membuatnya gemas, terasa menantangnya untuk ia buat merekah, memerah, dan basah. Sedari awal kedua netra cokelat gelapnya dimanjakan dengan kemolekan nan sintal dari tubuh istrinya. Seakan sangat penasaran dan tak sabar untuk segera memiliki Abella Rasheika hanya untuk dirinya sendiri maka tatkala melihat setiap jengkal tubuh penuh peluh yang terengah pasrah di bawah kungkungannya kini berusaha menatapnya dengan sorot mata sayu juga suara yang parau malah membuat Evano Rafanial tak sadar menindih sebagian tubuh Abella. Membuat pergerakan pinggang ke pergelangan kaki Bella menjadi terbatas. Bella hanya bisa membelai frustasi tubuh kekar Evano pada bagian manapun yang kedua tangannya bisa jangkau untuk menyalurkan rasa nikmat yang perlahan menyiksanya dengan rasa intens yang kian melecutkan hasratnya. Bagaimana tak menyiksa jika ia bisa merasakan denyutannya dengan jelas, seirama degup jantungnya yang berdetak ugal-ugalan akibat perlakuan suaminya. Apalagi ketika sang suami dengan rakusnya terus menggunakan bibir juga mulutnya untuk berlama-lama melukiskan tanda kepemilikan dengan lidah yang kian bebas menari seolah Evano adalah seorang pengembara yang sedang memuaskan dahaganya di mana itu seperti tak berujung. Apalagi suara parau Bella terdengar begitu merdu di telinganya dari jarak sedekat ini. Evano menjadi tertantang untuk memuaskan insting primitifnya, menggunakan sisi mulut yang paling sesuai untuk menjepit lalu dengan segera memberikan satu tarikan kuat seakan mengoyak gemas hingga membuat tubuh Abella berusaha melenting dalam lenguhan erotisnya, dan ketika satu sisi lain yang mereka berdua sadari ternyata jauh lebih sensitif mendapat perlakuan yang sama segera setelahnya maka rintihan Abella tak lagi terelakkan. Tubuh istrinya melenting, mengejang, terdongak ketika gelombang kenikmatan menghempaskannya menuju puncak kelegaan. Evano bertumpu pada kedua tangannya hanya untuk memanjakan sepasang netra cokelat gelap miliknya yang sedang menatap rona kepuasan sang istri di balik tatapan memujanya. Mengamati mahakarya Sang Maha Sempurna yang begitu bermurah hati padanya dengan mengirimkan bidadari berwujud manusia untuk menjadi kekasih hatinya. Saat deru napas Abella berangsur normal, kelopak mata besarnya terbuka untuk membalas tatapan sang suami. Tatapan Abella berangsur melirik ke bawah, seketika Evano tersadar jika sejak tadi dia menahan kedua kaki jenjang milik istrinya tetap merapat, “Eh, Sayang. Mas beneran gak sengaja, tadi terhipnotis sama desahan Adek tuh sampai jadi asyik sendiri. Sakit ya, Mas tindihin gini kakinya, hm?” tanya Evano panik, Bella pasti merasa kram pikirnya. Dengan inisiatifnya sendiri tanpa tanya dia memijit pinggul hingga kedua paha Abella. “Astaghfirullah! Mas juga lupa lepasin celana Adek. Duh! Kena banjir deh ini celananya,” celetuk Evano sambil membebaskan tubuh Bella dari sisa kain terakhir yang berlumuran cairan cinta milik istrinya. Tanpa menunggu respon Bella kedua tangan besar Evano kembali memberikan pijatan pada kaki Bella, kembali berlama-lama memijat kedua paha yang perlahan kian terbuka karena refleks rasa geli berpadu gelenyar yang melecutkan kembali hasrat istrinya tanpa Evano sadari. Hingga jemari panjang milik Evano tak sengaja mengusap titik sensitif di paha dalam istrinya. Dia mengerjap saat mendengar deru napas istrinya yang terdengar berat dengan desisan tipis dari cela bibir istrinya. Ketika ia perlahan mendongak maka satu ekspresi yang sungguh familiar membuat jiwa Evano berdansa bersama insting primitifnya. Bella menggigit punggung tangan kanannya dengan tangan kiri yang meremas seprai hingga kusut. Dadanya bergerak naik turun selaras dengan deru napas yang kian berat. Melihat tatapan mata istrinya kembali menggelap dengan kabut hasrat, ditambah sorot permohonan yang menagih kepuasan sekali lagi maka dengan satu seringaian berbahaya ditambah mata berkilat nakal membuat Evano mengabulkan apa yang istrinya inginkan. Tanpa perlu diperintah Evano beranjak untuk mendorong kedua kaki Bella agar terbuka kian lebar. Dengan segera satu gerakan dari jemari panjang Evano menggoda, menyelusuri setiap sisi tirai surga dunia yang kembali terasa basah di indra perabanya. Bella menarik satu napas tajam hingga ia mendongak terpejam saat satu jari Evano mencoba menginvansi pintu surga dunia yang masih tersegel sempurna. Bella mengernyit merasakan rasa mengganjal begitu asing yang berusaha merenggangkan pintu surga miliknya. Terus mendesak, melesak hingga pinggulnya ikut terangkat saat jemari Evano membuai setiap sisi pintu juga dinding surga milik istrinya hingga sejauh yang jarinya bisa jangkau. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, berusaha membuat Abella segera terbiasa sebelum pada akhirnya ia memberikan kecepatan konstan yang membuat Bella kembali pasrah dan memberikan respon seperti apa yang suaminya inginkan, “Hnnhh! Aaah- sshhh, Maasshh!” rintih Bella pada akhirnya saat rasa yang begitu asing kian mendominasi setelah jari Evano berhasil bertambah satu. Bella hanya bisa terpejam sambil meliukkan tubuhnya mengikuti irama yang diciptakan Evano. Tarian yang sungguh erotis dan sangat memanjakan mata serta egonya sebagai seorang pria. Evano mengeraskan rahangnya merasakan reaksi kenikmatan yang ditunjukkan Abella dengan seluruh tubuh molek yang begitu memanjakan netra cokelat gelapnya. Bibir yang masih merekah merah itu bergetar dengan suara kian parau, kembali berusaha memanggil namanya dengan penuh damba, seakan apa yang istrinya lakukan saat ini memang ditujukan untuk kepuasan egonya sebagai seorang suami dan pria, juga untuk kepuasan istrinya sendiri tentunya. Apalagi ketika pandangannya terus tertuju pada kedua puncak milik istrinya yang kini sudah merekah sempurna dengan nuansa merah itu terus saja terlihat membusung mencoba kembali menantang indra perasanya untuk kembali mencicipi rasa yang sungguh candu pada pencecapnya maka sekali lagi dengan senang hati Evano segera meraupnya dengan rakus. Rintihan Bella terdengar kian sering, terutama ketika Evano membuat ibu jarinya ikut serta membelai titik tersensitif di puncak tirai pintu surga yang pasti menjadi favoritnya. “Ah, Mas! Aah, eunghh!” racau Bella frustasi merasakan kehadiran gelombang familiar yang berusaha menyeretnya kian jauh ke tengah pusaran kenikmatan. Kepala Bella berdenyut-denyut merasakan semakin banyak denyutan sekaligus yang bersumber dari titik paling sensitif yang tersebar di tubuhnya. Bella nyaris tak bisa bertahan maka dengan satu rintihan keputus asaan ia memberikan rengekan kecil yang segera disadari oleh sang suami. Evano sekali lagi mengoyak kedua puncak pongah milik istrinya yang seolah tak pernah berhenti menggoda insting primitifnya sejak semula. Tubuh Bella sontak bergetar dengan jemari kaki yang menekuk bersamaan sebuah lentingan yang membuatnya nyaris terbangun, akan tetapi tubuhnya kembali terhempas saat Evano melesakkan tangannya hanya untuk mempercepat gerakan tangan lincahnya di dalam sana sampai pada akhirnya membuat tubuh Abella mengejang kala ledakan kenikmatan itu datang lagi. Merasa semakin jumawa, Evano segera merunduk setelah menjilat dua jarinya lalu menahan kedua paha Bella tetap terbuka lebar saat lidahnya mengambil alih tugas jemarinya. Lebih tepatnya jemari panjang miliknya kini sudah bertukar tempat dengan lidahnya, memastikan semua titik paling sensitif di tubuh istrinya terjamah bersamaan dengan sempurna. Mencecap rasa yang membuatnya penasaran, tapi efeknya mampu membuat Bella nyaris terduduk dan kian lantang meracau tanpa mampu menyebut nama Evano dengan benar di tengah racauan bernada staccato. Merasa sudah memenuhi standar untuk memberikan kepuasan dengan dua cara berbeda membuat Evano terobsesi untuk mendapatkan nilai sempurna maka dengan satu tekad untuk kembali membuat istrinya merasakan sensasi kepuasan yang berbeda berturut-turut, Evano tak ingin menjeda sensasi intens yang dirasakan istrinya. Egonya sebagai pria harus dipuaskan lebih dahulu malam ini, membuat istrinya merasakan sensasi yang baru pertama kali diberikan Evano setelah keduanya menunggu sekian lama. Sebab pada dasarnya Evano adalah murid yang pintar dan cepat belajar maka ia hampir selalu mendapatkan nilai sempurna dalam setiap pelajaran, kali ini adalah soal pelajaran hidup yang membuatnya terobsesi untuk mengalahkan dirinya sendiri. Seolah ia ingin istrinya merasakan candu akan sentuhan dan eksistensinya maka tak akan heran jika Evano mendapatkan apa yang menjadi tujuannya sejak semula. Kepala Abella kembali berdenyut, seperti apa yang dirasakan lidah Evano saat ini yang tak henti-hentinya menggoda habis-habisan setiap sisi surga dunia favorit prianya bahkan ujung hidung Evano juga turut serta memberikan sensasi lain di bawah sana. Sudah Evano duga jika dia pasti akan menyukai sensasi ini maka dengan penuh tuntutan dia ingin mereguk bukti hasrat milik istrinya, ia menyelaraskan gerakan kedua indranya hanya untuk melambungkan Abella dalam sensasi puncak kepuasan yang membuat wanitanya meledak berkeping-keping, berulang kali karena pengantinnya sudah dibuat menahan sensasi kepuasan itu terlampau lama. Evano beranjak dengan seringaian kepuasan sambil menjilat tepi bibirnya karena berhasil membuat istrinya tampak tak berdaya dengan cara yang paling elegan. Masih mengamati reaksi Abella yang belum sanggup membuka matanya, ia mengusap peluh di pelipis istrinya. Bulu mata lentik milik Abella bergetar, kelopak matanya perlahan terbuka. Evano merunduk untuk mencuri sebuah kecupan dari celah bibir pengantinnya yang masih terbuka, berusaha membuat sengal napas Bella cepat mereda. Evano tersenyum, “Hey, Jelita. Udah puas atau masih mau lagi? Masa belum lemes juga udah meledak tiga kali berturut-turut gini?” tanya Evano dengan nada jahilnya. Bella tak sanggup mendebatnya, istrinya hanya bisa mendecih kesal. Bagaimana bisa Evano securang ini? Pikir Bella yang segera ia lontarkan tanpa perlu pikir panjang, “Mas masih kesel rupanya gara-gara pekara pijat-memijat tadi, ya?” tukas Bella. Evano mengernyit, lalu terbahak, “Kok mikirnya gitu? Oh, jadi gini toh caranya berterima kasih sama suami yang udah ngasih klimaks tiga kali atau sebenernya Adek lagi nantangin buat dibikin pingsan malam ini juga?” goda Evano terdengar sangat nakal dan menggoda. Bella berusaha memukul bahu suaminya yang kini kembali mengungkungnya, tapi pukulan tak bertenaga itu mendarat lemah di lengan Evano. Suami Bella terkekeh melihat istrinya benar-benar tak bisa fokus, “Ada yang udah gak berdaya rupanya? Ini kalau dilanjutin bisa pingsan nanti istrinya Mas. Ya udah, Adek boleh tidur dulu sekarang. Mas izinin buat ngumpulin tenaga sebelum mas unboxing buat lepas segel terakhir,” ujar Evano santai, tapi aura yang terlihat di mata Bella benar-benar seperti predator yang siap menerkamnya kapan saja ketika ia lengah sedikit saja, meskipun Bella masih bisa mengetahui ekspresi mikro yang coba disembunyikan suaminya. “Awas, ya. Jangan curang lagi loh, Mas! Aku aja sampai gak bisa bedain mana yang lidahnya Mas, mana corkscrew,” tegur Abella dengan nada suara manja yang sangat menggemaskan di telinga Evano. Evano terkekeh geli sambil menarik quilt untuk menutupi tubuh letih milik istrinya yang belum kering dari sisa peluh beraroma manis di indra penciuman Evano, “Gitu, ya? Eh, tapi emang bener sih, Dek. Rasa Adek tuh terlalu memabukkan, ya emang butuh corkscrew biar bisa 'menikmati' rasanya Adek yang bikin candu. Makanya Mas tadi sampai gak sadar pas nindih Adek, ’kan?” goda Evano terdengar nakal nan sensual. Saat Evano akan beranjak untuk mengambil gaun tidur istrinya, Bella malah menahan pergerakannya seolah tak rela jika tubuh hangat Evano meninggalkannya, “Mas mau ambilin baju buat Adek, Sayang. Bentar, ya?” pinta Evano merayu istrinya. Bella menggeleng lemah, ia sudah sangat mengantuk sekarang. Tak ada pilihan lain maka Evano segera melepas kaosnya dan memakaikannya pada Bella agar istrinya tak kedinginan. Evano kembali berbaring sambil mendekap tubuh istrinya yang kini mengernyit heran, “Mas gak kedinginan kalau gak pakai kaos gini?” tanya Bella heran dengan apa yang Evano lakukan. “Enggak, Mas malah kegerahan. Udah, kita tidur sebentar sekarang, tapi jangan jauh-jauh dari Mas biar Mas gak kedinginan, oke, Istriku yang seksi?” goda Evano membuat Bella tersipu sekali lagi sambil mengangguk, kembali merapatkan tubuhnya pada sang suami, ia sudah tak kuat lagi membuka matanya. Terpuaskan tiga kali berturut-turut membuat Bella dengan mudah merasa lelah karena dia sudah lama tak berolahraga. Mulai besok dia harus benar-benar meluangkan waktu untuk kembali berolahraga. Sekarang dia sudah tak perlu lagi sengaja memenuhi jadwal kegiatannya dalam sehari hanya untuk mencoba lari dari ketakutannya dengan menyibukkan diri, dan Evano Rafanial Cokroatmojo sekarang menjadi prioritas utamanya karena ia sudah menyadari apa pun yang terjadi padanya di masa depan pasti prianya adalah orang pertama yang akan menggenggam tangannya tanpa ragu, seharusnya begitu, ‘kan? Bella pasrah saat Evano memeluknya posesif sambil bertelanjang dadá, dengan keinginannya sendiri Bella membalas pelukan posesif Evano sebelum rasa kantuk benar-benar merengkuh tubuh yang masih menyisakan peluh. Aroma Evano membuat Bella tertidur pulas. Ah, sepertinya apa pun yang berhubungan dan dilakukan oleh Evano Rafanial hari ini bisa membuatnya betah berada di alam mimpi. Bukankah apa yang dialami Bella sejauh ini memang tak ubahnya seperti mimpi indah? Evano merasakan napas teratur yang terasa menggelitik dadánya, ‘Sabar, Van. Kamu udah sampai sejauh ini, dikit lagi. Semuanya udah makin jelas sekarang. Berjuang dikit lagi biar kamu bisa melindungi apa yang seharusnya kamu lindungi, Evano Rafanial Cokroatmojo,’ batin Evano menemukan kembali logikanya setelah sempat terkunci sebab mendengar alunan desah kenikmatan dari bibir pengantinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN