Aku memang tak punya pengalaman, apalagi pembanding. Jadi, bersabarlah karena kita akan menjalaninya dengan perlahan.
[Abella Rasheika Valerian, Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori]
Evano baru selesai mandi saat melihat Bella menaikkan kedua kakinya ke atas tumpukan guling dalam posisi rebahan. Dia duduk di samping istrinya, “Pegel banget ya, Sayang? Sini, Mas pijitin kakinya,” ucap Evano sambil memindahkan kedua kaki jenjang Bella ke pangkuannya. Baru juga Evano menyentuh ringan betis milik istrinya, Abella segera terduduk lalu menarik kedua kakinya tiba-tiba.
Dia terbelalak seketika setelah sempat menjawab pertanyaan suaminya dengan sebuah anggukan kecil sambil menguap dengan satu tangan menutup mulut, “Mas ini ngapain sih? Kenapa kakiku bisa sampai di pangkuannya Mas segala?!” Bella merasa canggung, rasanya sangat salah jika kakinya sampai berada di pangkuan suaminya apalagi untuk dipijit.
“Emang kenapa? Gak ada yang larang juga, ‘kan? Lagian ini kemauan Mas sendiri kok. Ntar kalau kaki Adek bengkak pas lagi hamil pastinya Mas yang bakal pijitin juga, mau dipijit sama siapa lagi emangnya, hm?” tanya Evano santai sambil kembali berusaha menarik kaki Bella, sementara Bella jelas selalu berusaha menghindar hingga dia nyaris terjatuh dari atas ranjang.
Evano panik, dia jantungan melihat istrinya hampir terjengkang di atas kerasnya lantai kayu asli berlapis bahan khusus yang sudah pasti solid dan keras. Jangankan Evano, Bella pun hampir terkena serangan jantung karena ranjang di kamar suaminya lumayan tinggi dengan bentuk klasik empat pilar bertirai tipis di tiap sisinya. Sudah terbayang betapa sakitnya jika dia tadi loncat indah dari atas ranjang. Untung saja Evano sangat sigap ketika menangkap tubuh istrinya di saat yang tepat, “Kan, Kan! Ini jadinya kalau terus ngehindar dan gak mau dengerin perkataan suami. Kalau tadi sampai nyungsep ke kolong ranjang gimana, Sayang?!” geram Evano mulai gemas. Ini bukan soal sopan atau tidak pada suami, Evano hanya ingin mengurus dan memanjakan istrinya dengan perhatian dan kelembutan seperti petuah ibundanya dan saran yang selalu diingatkan kakaknya untuk menaklukan hati istrinya. Lagi pula, apa salahnya jika dia memijit kaki istrinya setelah membuatnya menjadi pria paling beruntung sealam semesta karena berhasil menyunting gadis sejelita istrinya? Rasanya orang yang mencibir pasti tak tahu bagaimana beruntungnya seorang suami yang dihormati dan dilayani sepenuh jiwa karena memperlakukan istrinya selayaknya Ratu. Orang bilang jika kau ingin diperlakukan sebagai Raja dalam rumah tanggamu maka perlakukan istrimu sebagai Ratu. Itulah yang sedang Evano Rafanial Cokroatmojo coba lakukan sejak dirinya bersumpah pada Tuhan melalui sebuah prosesi ijab kabul yang terlontar sakral hampir satu bulan yang lalu.
“Bukannya gitu, Mas. Aku cuma gak biasa naikin kakiku ke pangkuan siapa pun. Astaghfirullah, aku masih deg-degan,” ujar Bella sambil mengelus dadá.
“Mana, coba sini Mas periksa dulu seberapa parah jantungannya,” ucap Evano serius meskipun terdengar seperti candaan yang nakal nan vulgár hingga membuat Bella bergeming saat mencoba menelaahnya. Melihat ekspresi istrinya, Evano seketika tersadar dengan kalimatnya yang bisa saja terdengar ambigu. Dia segera mengisi gelas dengan air mineral di atas nakas di sisi ranjangnya lalu menyodorkannya pada Bella, “Nih, minum dulu pelan-pelan, Dek.”
Abella seketika tersadar saat merasakan belaian lembut di pipinya, “Eh, i-iya, Mas,” respon Bella gugup. Meskipun sudah mencecap minuman menyegarkan itu dengan perlahan, tapi Bella masih terbatuk kecil saat air minumnya tandas. Secara refleks Evano segera menepuk lembut punggung Bella dan ketika batuk istrinya sudah mulai reda tangan besar Evano masih setia mengelus punggung Abella.
Ini aneh, jantung Bella terus saja berdetak ugal-ugalan padahal dia sudah menghabiskan segelas air mineral dan berusaha menormalkan detak jantungnya, tapi yang ada malah sekarang dia mulai merasakan tubuhnya menghangat. Tak mungkin Evano memasukkan sesuatu pada minumannya, Bella sangat yakin dengan hal ini. Abella masih larut dengan pikirannya sendiri yang sedang menebak-nebak kenapa tubuhnya memiliki reaksi sedemikian rupa, mungkinkah karena efek adrenalin yang sempat terpacu beberapa saat lalu? Ah, dia sepertinya mendapatkan setitik pencerahan sekarang. Selain adrenalin, usapan lembut di punggungnya juga sudah berhasil menghantarkan sesuatu yang terasa manis dan membuatnya nyaman, ditambah dengan bagaimana cara Evano menatapnya saat ini maka sudah jelas inilah penyebab huru-hara di seluruh syaraf Bella. Semuanya serba pas, meskipun tatapan lapar dari suaminya belumlah tampak, tapi sorot mata hangat penuh kepedulian dengan kilatan memuja ketika memandangi tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki sudah jelas mengirimkan sinyal-sinyal yang membuat Abella memikirkan hal yang bisa saja selaras dengan pikiran suaminya. Apakah akhirnya malam ini dia dan Evano memiliki kesempatan untuk merasakan malam pertama yang sebenarnya? Akibat prosesi nikah kilat kemarin membuat mereka berdua cukup sibuk menyiapkan banyak hal meskipun banyak pihak sudah membantu kelancaran acara, tapi tetap saja euforia dan ketegangan pasangan pengantin dalam menghadapi pernikahan masih sempat mereka alami.
Evano menyadari bahasa tubuh istrinya yang serupa dengan dirinya. Apa malam ini adalah saat yang tepat? Sebaiknya dia mulai menciptakan suasana yang mendukung jika ingin mencoba membuka kado istimewanya lagi malam ini, dan semoga malam ini mereka bisa membuat kado yang jauh lebih istimewa lagi, semoga saja. Otak cerdas Evano memikirkan sebuah ide yang bisa memuluskan apa yang memang sudah selayaknya terjadi bagi pasangan pengantin baru. Seperti angin surga, dia tiba-tiba mendapatkan sebuah ide cemerlang yang pastinya manis dan romantis untuk mengawali usahanya, “Sayang, Adek halangan gak?” tanya Evano hati-hati.
“Hah? Oh, eng-enggak, Mas. kemarin ‘kan udah bersih.” Bella kembali dilanda gugup. Pasti Evano akan menagih haknya sekarang juga, begitulah pikir Abella.
“Bagus deh, Mas itu baru inget kalau tadi mau ajakin Adek sholat isya berjamaah habis mandi. Eh, belum juga sempet tanya malah ada adegan menegangkan yang bikin jantungan. Kalau gitu sekarang kita sholat isya sekalian sunah pengantin, ya? Kita kayaknya kelewatan habis akad kemarin.” Mungkin karena melewatkan sunah yang satu itu makanya percobaan unboxing mereka selalu saja ada halangan tak terduga. Begitulah ucap Evano pada akhirnya yang membuat Bella tertawa geli sebab memang tak berselang lama dari adegan gagal unboxing pertama kali dirinya ternyata datang bulan, lalu mereka mulai sibuk menyiapkan resepsi di Roma dan Jakarta.
Ah, rupanya Evano ingin merangkum segalanya semanis mungkin. Bella tersenyum manis, prianya ini selalu saja bisa mengejutkannya dengan hal-hal kecil, sederhana, tapi rasa tulusnya selalu melekat untuk waktu yang lama. Mereka berdua sholat isya berjamaah dilanjutkan dengan sholat sunah pengantin. Tepat setelah Bella mencium punggung tangan Evano, suaminya segera mencium kening Bella. Dengan harapan mencari keberkahan dalam rumah tangga mereka, keduanya mulai memantapkan hati jika sebentar lagi mereka bisa menjadi pasangan yang saling memiliki dalam arti yang seutuhnya. Bella merapikan kembali alat sholat milik mereka berdua dan saat berbalik Evano ternyata masih berdiri tepat di belakangnya.
“Mas udah kunci pintunya, jadi kali ini Zaidan atau para bungsu gak akan bisa gangguin lagi,” lirih Evano sambil membelai pipi Bella yang mulai merona.
“Mm, kalau lampunya masih terang mereka bakal tahu kita belum tidur, Mas. Iya, ‘kan?” cicit Bella masih menunduk.
“Oh, jadi maunya lampunya dimatikan atau diredupin, hm?”
“Redupin aja deh. Mas ‘kan udah tahu aku takut gelap,” ucap Bella sambil mengerjapkan matanya, ia seketika begidik ngeri saat membayangkan jika kamar luas dengan perabotan antik ini tak memiliki penerangan sama sekali. Memang kediaman utama keluarga Cokroatmojo sangat kental dengan nuansa khas Jawa mulai dari eksterior berbentuk joglo, unsur kayu yang mendominási, pemilihan perabotan dan hiasan antik ditambah detail ornamen perpaduan ciri khas yang menunjukkan ‘akar’ dari sang tuan rumah. Apalagi sekarang sang rembulan juga tak tampak menemani mereka di kegelapan malam. Ini bukan soal takut melihat golongan makhluk yang membuat beberapa orang mendadak semriwing, tapi saat gelap rasanya ingatan yang menyakitkan dan memicu traumanya selalu saja berusaha menyapanya untuk kembali ‘bernostalgia’, inilah yang Abella Rasheika hindari saat dia seharusnya mulai menjalankan misi khususnya.
“Kalau gitu biar terang aja deh. Mas takut ntar malah salah sasaran kalau gak kelihatan,” canda Evano mencairkan suasana, dan terbukti istri jelitanya terkekeh geli membayangkan jika akan ada adegan konyol lain saat mereka sudah memulai acara unboxing spesial seperti yang sudah-sudah.
Menggunakan dua jarinya Evano menjepit dagu istrinya yang masih saja suka menunduk malu tiap kali menyadari suaminya sedang berusaha mendekatkan diri secara intím, bukan hanya sekedar berbincang untuk saling mengenal seperti hampir satu bulan ini. Kedua mata Abella terpejam saat tahu suaminya memangkas jarak di antara mereka. Bahkan sekarang dengan inisiatifnya sendiri seolah dia sudah hafal di luar kepala, Abella segera membuat celah pada bibir kemerahan menggodanya agar Evano bisa memagutnya dengan cara yang prianya suka, mengecupi bibir ranumnya yang siap dibuat bengkak mengkilap di setiap sisi yang Evano inginkan karena pasti efeknya akan membuat Bella serasa dibuai sampai ke awan, bagian yang selalu Abella nantikan.
Maka itulah yang terjadi, tatkala Evano terus memberikan pagutan lembut penyebar candu seraya merengkuh tubuh istrinya hingga membuat sepasang kaki jenjang milik Bella benar-benar tak lagi memijak tanah, sebab suaminya menahan tubuh Bella tetap tinggi agar Evano tak perlu lagi membungkuk ketika melesakkan lidahnya untuk menyapa lidah istrinya. Entah atas inisiatif siapa, nyatanya kedua kaki jenjang Abella sudah melingkar nyaman di pinggang prianya. Kedua tangan Evano kian leluasa berada di tempat paling tepat untuk menahan berat tubuh istrinya, berulang kali meremas gemas pada bagian yang terasa sintal dan menyenangkan untuk dia remas di kedua telapak tangannya.
Bahkan kain sifon sutra warna hijau olive yang membungkus tubuh indah Abella tak mampu menyamarkan gerakan tangan kekar yang kian lama menghantarkan rasa panas dengan pasti, menjalar melalui urat nadi hingga Abella menjadi lebih berani untuk membalas ajakan adu bibir suaminya. Membuatnya tak ragu menirukan apa yang seolah Evano ajarkan padanya. Suara cecapan dan desahan tertahan saling bersahutan, sungguh menggelitik telinga sepasang sejoli yang berusaha mengawali kisah menuju kasih mulai malam ini.
Saat Abella merasakan punggungnya menyentuh empuknya ranjang, kedua tangan Evano merayap naik bergantian hingga membuat tubuh istrinya menggeliat seketika. Terutama saat gerakan Bella makin lama membuat rok selututnya terangkat semakin tinggi dengan sendirinya. Evano masih menikmati adu bibir mereka, memastikan bibir menggoda istrinya merekah sempurna seperti kelopak mawar merah yang terkena tetesan embun pagi berkat salivanya. Mulai memindahkan kecupannya pada bagian lain di sekitar rahang dan leher jenjang milik istrinya hanya untuk memanjakan telinganya dengan suara desahan tipis yang membuat Evano tak sabar untuk segera membuat istrinya terlihat puas tak berdaya, sungguh pikiran yang sangat menggoda fantasi dan egonya. Evano mendekatkan bibir di telinga kanan istrinya, memanjatkan doa untuk meminta yang terbaik sekali lagi, dan ketika Abella menanggapinya dengan sebuah kata, ‘Aamiin’ maka Evano seolah mendapatkan kekuatan tak kasat mata untuk berperang melawan dirinya sendiri.
Bagai sebuah kado istimewa di hari spesial yang harus ia buka dengan penuh kehati-hatian maka dengan perlahan Evano melepas semua kain yang berusaha menyembunyikan kemolekan tubuh istri jelitanya. Memberikan kecupan ringan cenderung basah setiap kali kain sifon sutra itu berhasil membuat kulit mulus Abella terekspos sejengkal demi sejengkal. Dengan mudahnya Evano meloloskan lembaran kain yang masih kalah lembut dari kulit istrinya setelah membuat tubuh Bella meliuk indah kala merespon kecupan basah darinya. Tak lupa meninggalkan jejak kemerahan di beberapa tempat yang ia suka, sesuai dengan tingkat kenyaringan desahan dari bibir istrinya maka di situlah Evano memberikan tanda yang terlampau kentara. Hingga ia tak akan pernah lupa jika nanti ingin kembali memuja ciptaan terindah Sang Maha Kuasa yang dititipkan padanya untuk ia bimbing hingga ke surga-Nya kelak.
Evano kembali memandangi wajah merona milik istrinya, ‘Cantik, sangat cantik,’ pujinya dalam hati serupa mantra. Seolah tahu jika sang suami sedang menatapnya penuh damba, mata Abella perlahan mengerjap lalu membalas tatapan Evano dengan sorot mata berkabut hasrat. Namun, tak lama kedua mata besar dengan iris cokelat yang menggelap itu kembali terpejam saat merasakan ujung jari telunjuk Evano mulai kembali menyelusuri tepian kain penghalang lain yang menyembunyikan bagian paling menggoda bagi indra pengecapnya. Hanya butuh satu gerakan lembut untuk mengeluarkan kedua bagian yang tampak berebut ingin dimanjakan oleh indra peraba dan seluruh mulut Evano maka itu yang dia lakukan, membuat istrinya kembali memanggil lirih namanya seolah sedang merapalkan sebuah mantra yang mulai membuat Evano tak berhenti membuat kedua puncak tersensitif milik istrinya turut merona bahkan dia berencana membuatnya merekah persis seperti bibir ranum Abella yang tak kunjung berhenti mendesahkan namanya berulang kali. Membuat Bella tak kuasa untuk menyelipkan kesepuluh jemari lentiknya pada surai tebal kecokelatan milik sang suami. Membagi indra perabanya di dua tempat agar ia bisa lebih leluasa meraba hanya untuk memberikan remasan dan belaian lembut pada tengkuk dan helaian halus yang terasa ikut menggelitik telapak tangannya. Bergerak seirama dengan cecapan, hisapan, sekaligus remasan lembut yang membuat tubuh Bella tak lelah meliuk menandakan jika dia sangat menyukai apa yang seorang Evano Rafanial lakukan pada tubuhnya saat ini. Terutama dengan kelihaian lidah yang terasa panas milik suaminya di permukaan kulitnya yang sekarang mengkilap antara jejak saliva dan peluhnya sendiri. Lidah bersihir itu tak henti mengajak tubuhnya menarikan tarian yang begitu erotis diiringi desahan parau yang mengalun merdu dari celah bibir merekah merah si Jelita pujaan Evano Rafanial Cokroatmojo.