Kisah Dari Kasih

2056 Kata
Seperti yang kubilang, kita bisa mulai semuanya dengan perlahan. Bukankah segala hal butuh proses yang tak mungkin instan? Jika aku tampak berhenti di tengah jalan maka sebaiknya kau menuntunku agar aku tahu ke mana langkahku harus menuju. [Abella Rasheika Valerian,  Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori] Malam itu nyatanya tak ada malam panas di antara Bella dan Evano. Jika pernikahan mereka terjadi karena cinta sedari awal, mungkin saja semuanya akan berjalan lebih cepat. Namun, masih ada banyak misteri yang harus mereka gali jika ingin pernikahan mereka berakhir dengan indah. Sebab baik Evano dan Bella nyatanya memiliki karakter yang hampir mirip, rasa trauma yang belum bisa mereka lepaskan menjadi sebuah batu besar sampai rasanya mereka sulit melihat jalan keluar. Sejak dua hari yang lalu mereka sudah tiba di Jakarta. Hari ini rangkaian resepsi kembali diadakan di Magnífico Boutique Hotel Jakarta. Evano dan Bella sepakat membiarkan sang ayah mengundang seluruh kerabat dan banyak relasi bisnis sebab ini adalah pernikahan yang pertama kali digelar dalam keluarga inti Janu Endrasuta Cokroatmojo. Tak seperti saat di Roma ketika mereka mengadakan resepsi bersamaan dengan perayaan ulang tahun pernikahan kakek dan nenek Bella yang hanya dihadiri keluarga, teman dekat, dan beberapa relasi bisnis yang paling sering berinteraksi dengan keluarga Valerian saja. Nyatanya Evano Rafanial tak ubahnya seorang putra mahkota ahli waris pertama jaringan bisnis Cokroatmojo sekaligus pemimpin Trans Tech Inc. Clemira juga sudah menyadari jika adiknyalah yang seharusnya mengelola bisnis keluarga. Lagi pula pekerjaannya sebagai dokter kandungan sekaligus segala hal terkait kesehatan tubuh dan organ reproduksi wanita membuatnya cukup sibuk dengan antrian panjang para pasien yang belum, sedang, dan sudah menjadi seorang ibu. Wanita yang terkenal galak ini juga tak serakah, lagi pula dia masih memiliki saham besar di Cokroatmojo grup setelah mendiang ibunya memberikan hak bagian ibunya secara diam-diam sebelum kepergian ibunda tercinta mereka. Malah dengan mempercayakan bisnis keluarga di tangan kedua adik lelakinya dia bisa bersantai menerima hasilnya tanpa perlu dipusingkan dengan algoritma, sungguh menyenangkan menjadi Clemira yang bisa melakukan segala hal yang dia suka. Well, itu sih menurut pendapat orang yang hanya bisa menonton dari luar. “Emang, yo, istrinya Rafa itu sama kayak namanya. Ndak dandan aja wis kelihatan ayu, apalagi kalau udah di-make over gini. Manglingi kalau kata orang Jawa,” celetuk Clemira saat menghampiri adik ipar barunya. “Eh, Mbak. Bisa aja Mbak Cle ini, aku kalau dipuji terus bisa mimisan loh, Mbak,” canda Bella dengan senyuman yang membuat wajahnya terlihat semakin berbinar. Sejak pembicaraan menegangkan di Roma tempo hari, dia sudah bisa mengenali watak kakak iparnya. Meskipun cara bicara Clemira cenderung menyebabkan huru-hara, tapi wanita di depannya ini tak pernah berpura-pura. Semuanya serba diperlihatkan dengan jelas sebab dia tak mau mencari banyak alasan untuk sekedar berbasa-basi. Clemira tersenyum, adik iparnya sudah mulai bisa menyesuaikan diri di tengah nama besar Cokroatmojo. Tinggal menunggu misteri terkuak saja sampai Clemira yakin jika Bella bisa menerima takdirnya sebagai istri seorang Evano Rafanial Cokroatmojo. Sebenarnya Clemira berharap dia memiliki adik ipar yang kuat selain tentu saja cerdas. Dalam beberapa hal Bella tentu memenuhi syarat, tapi soal kuat? Sepertinya Bella termasuk kategori wanita lembut yang terlihat sensitif meskipun dia sudah tentu pekerja keras dan bertanggung jawab, sebab tak mungkin seorang ahli waris dari jaringan bisnis keluarga akan tampak lembek dan mudah diintimidasi oleh dunia nyata yang kejamnya luar biasa. Inilah yang membuat Clemira merasa harus turun tangan untuk membuat Bella segera terbiasa mengambil peran besarnya sebagai pendamping adik lelaki pertamanya. Sebab Clemira jelas berharap pernikahan Evano dan Bella bisa langgeng seperti harapan ibunda mereka, menikah hanya sekali seumur hidup. Kini saat sang ibunda tak lagi bersama mereka maka sudah jelas tanggung jawab itu berada pada pundak Clemira, “Wis sejauh mana perkembanganmu sama suamimu, Dek? Kamu udah menang banyak, belum? Mbak yakin kamu ndak akan lupa sama tantangan dari Mbak yang spesial kemarin,” ujar Clemira tak ingin membuang waktu, sebab sebentar lagi sudah waktunya mereka masuk ke ballroom tempat acara dilangsungkan. “Aku tahu Mbak masih belum sepenuhnya percaya sama aku, lagi pula aku juga gak mau terlalu banyak ngumbar janji karena udah jelas kita berdua gak butuh itu. Mbak emang bener, aku harus berusaha lebih keras buat meyakinkan Mas Evan kalau mau mendapatkan hatinya sepenuhnya biar pernikahan kami berhasil. Aku lagi cari cara yang gak terlalu mencolok biar Mas Evan mau cerita lebih banyak lagi seperti saran Mbak tempo hari. Mmm- Mbak, tujuan kita pasti berhasil, ‘kan? Aku beneran pengen Mas Evan sembuh dan bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Aku ...,” Bella memberikan terlihat gamang saat ingin mengucapkan sesuatu. “Kenapa? Aku sekarang juga Mbakmu loh, Dek. Kamu ndak perlu ragu kalau mau bahas apa pun, apalagi kalau itu berhubungan sama keadaan suamimu. Mbak malah berterima kasih banget karena kamu mau berusaha bareng Mbak buat nyembuhin suamimu dan bisa nerima keadaannya meskipun kamu tahu kebenarannya setelah kalian menikah,” terang Clemira tanpa basa-basi. “Aku mau ngaku satu hal sama Mbak’e. Aku ini sebenernya gak punya pembanding soal urusan pria, Mbak. Aku paling payah kalau udah bahas asmara. Mas Evan bisa dikatakan pria pertamaku. Mbak udah aku ceritain soal semua ketakutanku hari itu, ‘kan?” ungkap Bella dengan tangan berkeringat dingin. “Mbak suka sama sifatmu yang begini. Kamu berani mendobrak dinding ketakutanmu dan berubah demi memperbaiki keadaan yang memang kamu sadari bisa kamu ubah asalkan kamu mau. Wis, Dek, kamu ojo kuatir kalau soal ilmu menggoda pria. Ada aku sama Elle yang bakal bantuin kamu buat menaklukan lelakimu itu tanpa dia sadari. Elle kayak’e juga udah sempet ngobrol banyak sama kamu pas dia bantuin buat nyiapin acara kejutan spesial di sini toh? Mbak setuju kalau rasa percaya dirimu emang yang jadi penentu. Kamu harus ingat kalau ini memang wujud baktimu sebagai istri. Lagian ini tuh ibadah, ndak ada satu orang pun di dunia ini yang ngelarang kamu nggodain suamimu lebih dulu, tapi lebih baik kamu tetep nyiapin mental soalnya ini ndak bakal mudah. Bentar lagi bakalan ada banyak hal besar yang akan kamu ketahui selapis demi selapis soal keluarga besar Cokroatmojo,” ujar Clemira memberikan petuah panjang lebar sekali lagi. ✧✧✧ Ballroom Magnífico Boutique Hotel Jakarta berhiaskan nuansa putih seperti dunia dongeng yang indah. Ada banyak lampu gantung berbentuk awan dengan detail kristal, permainan sorot lampu dengan dóminasi warna biru muda di sela helaian kain yang menciptakan siluet seolah acara hari ini sedang dihelat di atas awan. Semua dekorasi dibuat detail, tapi tetap tak menghalangi pandangan para tamu untuk menatap langsung ke arah panggung pelaminan. Tak peduli mereka sedang berdiri di sudut mana pun, sekalipun mereka sedang duduk untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Mereka tetap bisa melihat senyuman bahagia Bella yang tampak memesona dengan gaun berbentuk ballgown berbahan French Lace berdetail renda dengan motif bunga berulir hingga ke arah leher dan pegelangan tangan.Tulle dasarnya senada dengan warna kulit Bella, seolah bunga-bunga itu memang tumbuh hanya untuk menyelimuti tubuh semampai Abella Rasheika saja. Rambut ikal brunette kecokelatannya ditata dengan gaya kepang besar menyamping seperti salah satu putri dari film kartun terkenal favorit anak-anak, diselipi beberapa bunga segar berukuran kecil dan sedang agar tak mendominasi paras jelita Abella yang tampak segar dan natural seolah dia putri dari negeri bunga, hanya sepasang jepit yang dibuat khusus dengan bentuk bunga berulir saja yang menyempurnakan penampilan anggun, elegan, dan polos dari istri Evano Rafanial malam ini. Satu set perhiasan diamond solid yang dia pakai juga tak berbentuk mencolok, tapi tetap saja menjadi bagian yang menarik perhatian karena pendar cahaya pelanginya menyapa halus di permukaan kulit mulus milik Bella. Aura kelembutan Abella benar-benar terpancar sempurna. Semua orang pasti merasa teduh saat menatapnya malam ini. Tak terkecuali suaminya. Evano rasanya betah berlama-lama mengagumi kecantikan pengantinnya yang menenangkan hati meskipun ia berulang kali mendengus melihat tatapan para pria yang ingin menggantikan posisi Evano. Malam semakin larut, banyak tamu undangan yang sudah mulai meninggalkan lokasi acara saat seorang pria tampak tersenyum lebar setelah ia mengamati wajah jelita yang selama ini menjadi temannya berbagi cerita. Ia berjalan tenang saat melewati pintu masuk utama setelah lolos dari pemeriksaan tim keamanan. Karena memang di dalam gedung ini diisi orang-orang penting dari dunia politik dan bisnis. Sudah tentu tempat ini dijaga sangat ketat untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan para tamu undangan dan pemilik acara. “Tama?!” gumam Bella dengan ekspresi kagetnya saat melihat Adhitama Mauza Aryasatya berjalan penuh wibawa ke arahnya. Rafa mendengar gumaman Bella, meneliti bahasa tubuh kedua orang yang masih berpandangan meskipun Mauza berada cukup jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Alam bawah sadar Evano memberikan sinyal jika akhirnya dia bisa bertemu saingan sejatinya. Pria ini pasti memiliki kisah tak biasa dengan sang istri, tapi Evano harap kisah itu sekarang sudah usai atas dasar kesadaran dan kerelaan keduanya. Sebab sudah pasti Evano akan memperjuangkan apa yang menjadi miliknya ketika dia berjanji pada Tuhan semesta alam untuk mengambil alih tanggung jawab dari tangan Alano Valerian dan mendiang Amadeo Valerian untuk menjaga harta terakhir kedua pria yang Evano segani. “Selamat atas pernikahan kalian yang mengejutkan, Sheika dan Rafa. Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada kalian dan keberkahan atas pernikahan kalian, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan,” doa tulus Mauza sambil menatap netra Bella dan Evano bergantian. Dia menatap Evano sambil tersenyum, “Aku nitip Adik kami ini, ya, Raf. Makasih udah menjaga kehormatannya dengan menikahinya terlepas dari alasan nikah kilat kalian. Kami sangat mengenal Rasheika, dia nggak mungkin melemparkan dirinya ke kamu tanpa alasan meskipun di laut anginnya lagi dingin banget atau bahkan ada badai,” canda Mauza. Evano tersenyum menanggapi candaan bernada sindiran saat melihat istrinya mendengus kesal setelah menghapus satu tetes air matanya yang lolos, “Makasih, Pak Adhitama.” “Weits, jangan dibiasain manggil gitu. Kamu sekarang udah resmi jadi bagian dari kerabat Aryasatya juga. Aku tahu kamu ini sahabat baiknya si bungsu Jenna. Sahabat terbaiknya Alister Abimara yang sudah resmi jadi anggota kerabat kami Murakami Saba. Jadi, mulai sekarang biasain manggil aku Mauza kayak yang lain. Lagian kamu juga setahun di atasku, asal jangan panggil Tamara kayak kebiasaan para wanita di keluarga kita ini pas gangguin usahaku buat deketin anak gadisnya orang,” tegur Mauza membuat Bella menyemburkan tawa geli di saat air matanya tak juga berhenti menetes, “Nah, gitu dong ketawa. Jangan cengeng lagi, kamu udah berhasil membuktikan bisa dapetin tangkapan besar. Sekarang karena aku udah lihat sendiri hasil tangkapanmu dari perairan Portofino, sepertinya kalau kamu bilang hari itu kalian lagi khilaf aku sih bakalan percaya aja,” goda Mauza lagi, Bella akhirnya memukul geram lengan Mauza hingga menimbulkan bunyi pukulan yang cukup keras sampai membuat Rafa terkejut, “Lihat, ‘kan? Istrimu yang kelihatan polos bisa segalak ini loh, Raf. Siapin jantung sama mentalmu mulai sekarang kalau mau mengenal lebih jauh tabiatnya istrimu ini,” goda Mauza tak pernah lelah. “Hush! Sana makan yang kenyang terus pulang, jangan bikin aku gak punya muka di depan suamiku!” hardik Bella pada akhirnya. Mauza sontak melihat ke arah Evano sambil menunjuk tengil ke arah Bella seolah mengatakan, ‘Bener ‘kan apa yang kubilang?!’ dengan wajah terkejut yang dibuat-buat. “Kalau kamu sembunyi di keteknya suamimu yang tinggi besar ini sih udah jelas mukamu gak bakal kelihatan, Belle.”   Mendengar kalimat Mauza membuat Bella semakin gemas. Dia ingin menginjak kaki Mauza, tapi malu setelah sadar mereka sedang menjadi pusat perhatian. “Iya, dia mungil banget, ‘kan, Za? Makanya aku gak bisa kelamaan jauh dari dia. Takut ntar keselip, bisa nangis darah nanti kalau istriku ini ngilang,” canda Evano ikut menggoda istrinya. Bella menatap Evano dengan wajah memelas saat tahu suaminya malah ikut menggodanya. Ekspresi memelas Bella membuat Rafa tak tahan untuk memeluknya dan mengecup keningnya, “Maaf, Sayang. Jangan ngambek sama Mas dong. Maaf ya, Dek,” sesal Evano berusaha menjinakkan percikan api kekesalan dalam diri istrinya. Melihat interaksi sepasang pengantin baru di depannya membuat Mauza tersenyum lega. Akhirnya satu-satunya hal yang tak sanggup ia penuhi pada wanita yang ia anggap adik, kini sudah ada yang mengambil alih. Tanpa mereka sadari ada sepasang netra yang mengamati semua kejadian dari awal, bahkan semenjak ia melihat sosok Adhitama Mauza Aryasatya baru saja memasuki ballroom ini. Sorot mata tajamnya yang mengitimidasi jelas menyadari ekspresi mikro yang ditunjukkan Mauza dan Bella, juga Evano. Meskipun ketiga orang itu sangat lihai menutupinya, tapi tak ada yang bisa terlewat dari mata jeli miliknya, “Satu lagi kebenaran baru tentangmu, Abella Rasheika Valerian. Sepertinya aku sudah bisa memulai semuanya sekarang,” gumamnya sambil menandaskan minuman dalam gelas kristalnya dalam sekali teguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN