Asa Kita

1923 Kata
Meskipun pada awalnya bukanlah karena cinta, tapi salahkah jika aku berharap ini bisa berjalan dengan sebuah rasa yang bermuara pada kehendak Sang Pencipta? [Abella Rasheika Valerian,  Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori] Pesta resepsi sudah selesai sejak satu jam lalu. Ada untungnya membuat acara dengan tujuan mengejar waktu senja yang romantis, karena diselenggarakan dari siang menjelang sore membuat semua rangkaian acara bisa selesai tepat setelah jam makan malam. Sekarang anggota keluarga Cokroatmojo sedang bersantai di kediaman utama milik keluarga Valerian. Ayah Evano, Janu Cokroatmojo terlibat perbincangan seru bersama kakek Bella, Alano Valerian. Bella mengamati anggota keluarga dan keluarga barunya dari balkon kamarnya. Tadi, sepasang pengantin baru ini memutuskan kembali ke kamar lebih dulu karena Bella menyadari gelagat Evano terlihat lain setelah selesai bicara berdua dengan Clemira saat mereka baru saja kembali dari Magnífico. Jadi, dia beralasan ingin istirahat lebih dulu sebab merasa letih. Itu memang hanya sebuah alasan karena dia merasa penasaran. Siapa tahu saja Evano mau berbagi cerita atau beban dengannya, bukankah mereka sekarang sepasang suami istri? Meskipun Bella berhak bertanya, tapi dia ingin jika Evano yang mengawalinya. Sebab bagi Bella mereka belum benar-benar saling mengenal dan dia tak tahu hal apa saja yang bisa membuat Evano merasa tak nyaman. Semuanya selalu butuh proses, begitulah pikir Abella. Setidaknya selama seminggu ini Bella sudah mengetahui beberapa kebiasaan Evano baik yang prianya ceritakan atau tunjukkan secara tak sadar. Lebih tepatnya semua kecanggungan sudah menghilang setelah ‘test drive’ sore itu, di mana mereka hampir melakukannya untuk pertama kali sebelum terinterupsi pertengkaran konyol dari para bungsu. “Sayang, tadi katanya capek, tapi kok malah bengong di sini? Mana nyender di pintu balkon gini. Mas ‘kan jadi iri sama pintunya, Dek,” tegur Evano menggoda. Dia baru saja selesai mandi ketika mendapati istrinya menatap anggota keluarga mereka yang sedang bercengkrama di bawah sana. Melihat Bella tersenyum geli membuat Evano tak ragu untuk memeluk tubuh yang terasa mungil dalam dekapannya. Bella menyandarkan tubuhnya di pelukan hangat yang terasa kokoh untuknya, “Aku gak pernah nyangka bisa lihat anggota keluargaku bisa tertawa selepas itu lagi. Coba lihat deh, Mas. Bahkan Zaidan sekarang gak bisa lepas dari Euno. Eh, kalian panggil dia siapa sih, Mas? Euno atau Jarvish?” “Terserah Adek aja, kalau kami sih biasanya sesuai sama mood aja. Kalau pas kesel manggilnya pakai Euno, ntar pas dia jadi anak penurut manggilnya pakai Jarvish. Dia juga udah biasa dipanggil pakai dua nama gitu,” ujar Evano sembari mempererat pelukannya, “Adek tadi katanya capek. Mau tidur jam berapa, Sayang, hm?” sambung Evano dengan suara hangat dan nada lembutnya yang menggelitik di telinga Bella, seperti embusan napas yang juga turut menggelitiknya luar dalam. Bella segera berbalik, lalu memeluk tubuh Evano erat-erat. Tingginya yang sebatas dagu Evano membuat suaminya sangat suka menciumi puncak kepala Bella. Dengan perlahan Evano menarik tubuh istrinya, tubuh mereka menempel erat saat berjalan masuk. Dia mengunci pintu balkon sebelum membopong istrinya, merebahkan Bella lalu menarik quilt untuk menghalau rasa dingin di sekitar mereka. Evano berbaring miring agar bisa mendekap kembali istrinya yang terlihat ingin bermanja-manja dengannya. “Adek kenapa, Sayang? Lagi mikirin apa, mau cerita sama Mas, hm?” Evano terus saja berusaha memecahkan kode rahasia paling rumit sealam semesta. Diamnya wanita sangatlah berbahaya sebab hal tak terduga bisa terjadi kapan saja. Begitulah pelajaran bertahan hidup paling dasar yang harus dikuasai setiap pria. Bella menggeleng dalam dekapan hangat suaminya. Tak lama dia mendongak, mereka saling bertatapan dan tangan Bella perlahan terulur untuk menyentuh cambang tipis milik suaminya, jemari lentik itu terus menari saat tatapan Bella perlahan menjadi kosong. Evano menunduk untuk mengecup kening, lalu berangsur turun ke arah kedua kelopak mata besar milik istrinya, “Malah ngelamun. Oh, Mas tahu, Adek lagi pengen manja-manja sama Mas, ya?” tebak Evano retoris. “Gak tahu kenapa pas lihat mereka tadi, aku jadi kangen banget sama mendiang Papa, Mas. Rasanya masih ada yang sesak di dalam sini. Kerasa ada yang mengganjal, tapi aku udah gak punya alasan buat nangis lagi setelah perlahan bisa mulai ikhlas dan Allah ganti rasa sakitnya dengan kebahagiaan tak terduga,” jawab Bella masih dengan tatapan dan ekspresi yang sama ketika dia menunjuk dadánya. “Nangis itu gak perlu cari alasan dulu, Sayang. Lagi pula wajar kalau Adek keinget almarhum Papa pas kita lagi ngumpul gini kok. Mas juga seminggu ini keinget Bunda terus, lebih kangen lagi maksudnya. Jadi, istriku yang jelita ini boleh nangis kapan aja selama yang Adek mau asal nangisnya di depan Mas aja. Meskipun Mas gak yakin sekarang udah bisa nenangin wanita yang lagi nangis atau belum, tapi seengaknya Mas mau Adek tahu kalau sekarang Adek gak sendirian lagi. Bersandarlah sama Mas kalau Adek mau, kapan pun,” ucap Evano sambil membelai pipi tirus istrinya, “Mas siap menjadi tempat Adek bersandar atau pulang?” sambung Evano dalam gumaman bernada tanya. Evano kira Bella tak sadar dengan kalimat super lirihnya, nyatanya Bella tiba-tiba mendongak, lalu mengernyit. “Kok Mas kayaknya gak yakin gitu sama perkataannya Mas sendiri? Apa aku harus kelihatan banget udah bergantung sepenuhnya sama Mas baru Mas yakin udah bisa menjadi tempat bersandar dan ‘rumah’ buatku? Apa Mas baru mau berbagi segala hal sama aku pas aku udah melakukannya lebih dulu? Cerita duluan tanpa diminta misalnya. Oh, jangan bilang Mas mulai nyesel udah dipaksa nikah sama aku dan sekarang baru tahu kalau ternyata hidupku rumit, iya?” cecar Bella dengan tatapan rumit, serumit jalan pikirannya yang sedang bercabang ke mana-mana saat ini. Tuh, ‘kan! Apa kata alam bawah sadar Evano barusan, wanita itu memang luar biasa dan karena itu pula perlu pendekatan yang tak biasa untuk bisa meluluhkan hatinya. Evano tersenyum saat Bella tiba-tiba tersadar dia sedang berbicara ngawur, “Eh, maaf, Mas. Tadinya aku tuh bayangin kalau kita bisa hidup berdampingan sampai usia senja kayak Nonni, tapi ujungnya malah aku keinget almarhum Papa terus termasuk petuah-petuahnya pas sebelum Papa meninggal. Seandainya aku tahu hari itu adalah hari terakhir kami bisa ngobrol panjang lebar seperti layaknya ayah dan anak gadisnya pasti aku bakalan luangin waktu lebih lama buat nemenin Papa, makanya aku jadi ngelantur gini ngomongnya,” sesal Bella dengan wajah kembali mendung. “Yah, beginilah wanita. Alhamdulillah, berarti Mas beneran menikahi manusia, bukan jelmaan malaikat. Adek gak ada salah tiba-tiba ngerasa gak enak sendiri sampai minta maaf, padahal Mas gak merasa tersinggung sedikit pun sama ucapan Adek. Memang ada banyak hal yang masih membuat Mas ragu karena tiba-tiba status lajang Mas udah lenyap, tapi tidak dengan keputusan untuk menikahi Abella Rasheika Cokroatmojo. Ini adalah salah satu keputusan paling benar dalam hidup Mas, dan Mas juga ingin bisa bergandengan tangan sampai maut memisahkan sama istri kesayangan Mas satu-satunya, yaitu kamu, Sayang. Mau berusaha bareng Mas?” tanya Evano sambil menatap lekat netra cantik istrinya yang kembali berkaca-kaca. Bella lantas mengangguk sambil mengusap kedua matanya agar tak menghalangi penglihatannya saat ia merasakan debaran halus tiap kali melihat suaminya. Evano mengecup kening Bella sekali lagi, “Mas gak akan janjiin hidup bareng Mas akan selalu bahagia, indah atau hal-hal yang kelihatannya manis banget gitu. Suamimu ini juga manusia biasa yang banyak kurangnya, tapi Adek bisa pegang omongannya Mas. Selamanya Mas akan berusaha untuk selalu menggenggam tangan Adek, berada di sisi Adek untuk mewujudkan pernikahan yang kita impikan. Jangan ragu buat ngingetin Mas kalau ada sesuatu yang gak bener, karena Mas juga bisa aja khilaf,” sambung Evano mencoba menenangkan hati pengantinnya. Bella tersenyum mendengar kata-kata logis yang terdengar sangat manis dari bibir suaminya, “Semoga kita bisa samaraba kayak Nonni ya, Mas.” Evano mengernyit, istilah baru apa lagi ini? “Samaraba tuh apa ya, Dek?” “Sakinah Mawaddah wa Rahmah Barakah,” jawab Bella singkat, padat, dan teramat jelas. Evano tersenyum geli saat menyadari arti kata panjang yang diucapkan istrinya, “Aamiin ya Rab. Semoga doa calon ibu bisa langsung menembus langit.” Wajah Bella mendadak merona, “Ish! Padahal belum juga bikin adonannya, udah pakai sebutan calon ibu aja,” lirih Bella sambil mengulum senyum. “Mas mau ajakin Adek ngadon sekarang, tapi keinget kalau tadi ada yang bilang lagi capek, mana tega Mas maksa-maksa? Kata si Profesor tengil itu gak akan enak kalau main paksa, apalagi pas pertama,” ceplos Evano membocorkan bahasan rahasianya dengan Alister beberapa hari lalu saat pria itu juga sedang butuh bertukar pikiran tentang keadaannya yang terancam tak bisa kembali ke abad dua puluh satu. “..., tapi ‘kan itu haknya Mas. Kalau Mas mau, ya Adek harus kasih, ‘kan?” pancing Bella, dia sudah mendapatkan sebuah sinyal untuk melempar kailnya. “Mas tadi udah bilang, ‘kan? Mas gak mau main paksa atau kasar karena kayaknya emang itu gak bakal nikmat. Kalau bisa menikmati dengan lembut sampai nambah berulang kali kenapa kudu main paksa kayak bukan ngadon sama istrinya aja? Mas aslinya maruk banget kalau udah cocok, Dek. Gak bakal rela berhenti, asal Adek tahu aja nih,” ujar Evano tak sadar karena sudah mulai mengendus umpan. “Iya sih, tapi kok agak serem, ya? Pas Mas bilang gak rela berhenti tadi itu. Ntar Adek gak dikasih keluar kamar seharian, terus besoknya beneran gak bisa turun dari ranjang dong? Wih, ngeriii,” ujar Bella mendadak pias. “Sepertinya itu ide yang layak dicoba, katanya kudu dibikin terbiasa secepat mungkin. Coba aja tanya Mbak ‘e. Jadi gimana, mau coba sekarang?” pancing Evano. “Adek sih mau aja, asal Mas gak jadiin Adek pelarian atau pelampiasan atau semacamnya,” ujar Bella ambigu. “Maksudnya gimana tuh, Dek?” Alarm tanda bahaya di otak Evano kembali menyala, kali ini jauh lebih nyaring. “Ya, contohnya Mas lagi kepikiran soal apa gitu, terus ngerasa stres, dan akhirnya sebagai pelampiasan Mas ngajakin ngadon karena gak mau berbagi cerita. Pas udah puas, eh aku ditinggal tidur kayak gak pernah ada apa-apa. Padahal ada banyak hal yang lagi Mas sembunyiin.” Bingo! Abella sudah menarik kail dalam sekali sentakan. Semoga kali ini pancingnya mendapatkan tangkapan besar. Lidah Evano langsung kelu. Apakah sekarang sudah saatnya bagi Abella untuk mengetahui semua rahasianya terutama rahasia terbesarnya? Istrinya yang jelita ini tak akan lari jika dia sudah tahu permasalahan yang membuat tingkat stres Evano Rafanial bertambah berkali-kali lipat, ‘kan? Kalau sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk berbagi cerita, lalu harus dengan kalimat yang bagaimana dia mengawalinya? Bella menatap bola mata suaminya yang bergerak gelisah, “..., tapi Mas juga harus tahu, sama seperti Mas yang gak suka main paksa, aku juga gitu. Kalau Mas mau cerita, aku pasti siapin telinga. Kalau Mas butuh saran, aku bisa kasih solusi. Kalau Mas mau lanjut yang lain setelah lega habis cerita, ya, gak masalah. Toh itu emang udah kewajibanku dan aku juga mau. Seperti yang Mas bilang tadi, ada saatnya Mas bisa bersandar sama aku setiap kali Mas butuhkan.” Evano merengkuh tubuh wanitanya lalu menghadiahkan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Abella. Inilah yang dia impikan sejak lama sampai dia terlihat begitu iri ketika Alister menceritakan hal yang sama. Sekarang apa yang dialami Alister akhirnya bisa dia rasakan juga. Perlahan dan tanpa dia sadari ternyata hanya seorang Abella Rasheika Cokroatmojo, istrinyalah yang bisa mengeluarkan Evano Rafanial Cokrotamojo dari cangkang pelindungnya. Menuntunnya menjauh dari kegelapan yang selama ini setia menemaninya. Memang benar saran Clemira selama beberapa hari ini setelah Evano menceritakan detail kejadian hingga takdir mempertemukannya dengan sang istri. Dia sudah bertekad untuk menuruti kata-kata kakak sulungnya setelah perbincangan serius terkait kegelisahannya, meskipun lagi-lagi dia belum sanggup mengatakan rahasia besarnya pada Clemira. Setidaknya Clemira memberinya saran yang sangat berguna. Mencoba mendekati sang istri dan menunggu reaksi tubuh Evano, dan jika dia sudah menemukan waktu yang tepat maka Evano akan membuka semua kartunya di hadapan istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN