Luna saat itu baru selesai operasi, setelah perjuangan panjang selama hampir satu setengah jam dia berdiri di depan meja operasi, kini akhirnya dia memiliki waktu untuk mengisi kembali tenaganya dengan makan. Dia pergi bersama dokter lainnya untuk makan di kantin, tapi pemandangan menarik penglihatannya. "Dokter Fikar cukup menarik bukan? Tapi sayang, dia dikenal sering patah hati!" ujar dokter lain, saat melihat arah pandangan dokter Luna. "Patah hati?" Dokter Luna tidak paham, dia bahkan langsung membayangkan wajah ramah dokter Fikar berganti dengan wajah sedih. "Iya, dia sering mendekati perawat cantik atau dokter di sini. Tapi berakhir tidak baik. Katanya sih, karena Dokter Fikar tidak serius. Tidak tahu juga sih, karena aku tidak mengenalnya secara pribadi!" Dokter Luna dan tem

