Raksa terbangun dengan napas sesak, dia bahkan merasakan sangat sakit pada dadanya. Air matanya menetes, bukan karena rasa sakit tersebut, tapi karena dia kembali melihat Zoya dalam mimpi. Gadis itu, tidak! Kakaknya itu sedang duduk diam di kegelapan. Sekuat apapun dia mencoba berteriak memanggilnya, Zoya tidak bisa mendengarnya. Saat dia berlari untuk menghampirinya, semakin kuat larinya, malah jaraknya juga menjadi semakin jauh. "Hei, ada apa? Bernapas dengan mulutmu. Jangan panik!" Perawat itu baru kembali setelah memeriksa pasien lainnnya, tapi saat kembali lagi, Raksa sudah bangun dengan kondisi kesulitan bernapas. "Apa yang sakit?" tanya perawat setelah melihat Raksa kembali bernapas seperti biasa. Tidak menjawab, Raksa hanya terus menangis. Bahkan sampai terisak. Perawat jadi

