Zahra menghentikan angkot yang lewat. "Pak!" Angkot berhenti. Dia segera naik bersama suami dan putranya. Di dalam angkot hanya ada mereka. Kali ini angkotnya sepi, untunglah. El mendaratkan bokongnya di tempat duduk yang sangat tipis, tidak empuk dan ruangannya tidak nyaman. Baunya apek serta mobilnya butut, seperti tak layak pakai namun dipaksakan untuk mengais rezeki. "Kamu rupanya, Zah," ucap supir angkot yang mengenal penumpangnya. Wanita itu langganannya selalu setiap pulang kampung. "Iya, Pak," balas Zahra. "Kali ini pulangnya bertiga. Satunya siapa? Suami kamu, kah?" Zahra memandangi El. Dia tersenyum. "Iya Pak, dia suami saya." "Wah, hebat kamu Zah. Suami kamu orang kota dan wajahnya sangat tampan. Pantas anakmu ganteng." "Alhamdulillah, Pak." "Dia Papah saya, Pak," tamba

