"Assalamualaikum," ucap Zahra sambil mengetuk pintu rumah temannya.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam rumah.
Pintu rumah terbuka. Zahra tersenyum pada seorang wanita yang berambut lurus panjang sampai ke d**a. Wanita itu pemilik rumah ini sekaligus teman dekatnya yang dia kenal sejak 1 tahun lalu lewat sosial media.
"Wah Bu ustadzah udah dateng," ucap wanita bernama Laras ini. Dia memang suka mencandai Zahra. Soalnya cara berpakaian Zahra serta tutur kata wanita itu seperti wanita muslimah yang sangt sholehah. Sudah seperti ustadzah atau istri ulama dan ustad.
Mereka cepika-cepiki lalu Zahra memeluk Laras. "Apa kabar?" tanya Zahra.
"Aku baik, kamu?" tanya Laras sambil membalas pelukan teman baiknnya.
"Alhamdulillah, aku baik-baik aja," jawab Zahra.
"Ayo masuk," ajak Laras.
Zahra mengangguk. Dia pun masuk ke dalam rumah wanita cantik itu. Rumah Laras tidak terlalu besar tapi sangat rapi dan bersih.
"Dinda belum datang?" tanya Zahra setelah mendaratkan bokongnya ke sofa.
"Belum. Biasalah dia mah selalu datang telat," jawab Laras.
Mereka punya teman satu lagi yang namanya Dinda. Wanita itu memang selalu telat setiap janjian karena Dinda memiliki anak yang cukup banyak sehingga banyak hal yang harus wanita itu urus terlebih dulu sebelum pergi jalan.
"Assalamualaikum!" suara wanita memberi salam.
Zahra dan Laras melihat ke arah pintu. Rupanya teman mereka yang namanya Dinda sudah datang.
"Waalaikumsalam," jawab Laras dan Zahra serempak.
"Masuk aja, Din," ucap Laras.
Wanita hijab dengan model kekinian melangkah masuk. Dia langsung memeluk kedua temannya, Laras dan Zahra. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan teman baiknya itu. Sudah beberapa bulan yang lalu belum ketemu.
"Apa kabar, Zah?" tanya Dinda sambil duduk.
"Aku baik, kalau kamu?" tanya Zahra. Beda dengan Laras yang dia kenal lewat sosial media. Namun dia kenal dengan Dinda karena Laras yang memperkenalkannya. Jadi Dinda itu teman sekolahnya Laras. Bisa dibilang Laras dan Dinda sahabatan sejak lama.
"Aku sih selalu baik. Lihat," Laras memperlihatkan perutnya pada kedua temannya.
"Ya Allah, kamu hamil lagi Din?" tanya Laras yang melihat perut Dinda yang agak membusung kedepan.
"Iya, aku hamil lagi," jawab Dinda sambil mengelus perutnya.
"Alhamdulillah..." ucap Zahra sambil menyentuh perut Dinda.
"Luar biasa, bukannya baru tahun lalu kamu melahirkan Din, sekarang kamu hamil lagi. Astaga..." Laras terheran-heran. Setaunya Dinda sudah punya 6 anak. Dan sekarang malah hamil lagi. Luar biasa.
"Biasalah, macam kamu nggak tau suamiku aja. Dia larang aku buat KB. Dia suruh aku hamil terus tiap tahun. Katanya mau punya anak 11 biar bisa punya tim bola sendiri. Mana setiap malam aku diminta melayani dia terus. Dia bilang biar aku cepat hamil. Dan sekarang ni aku hamil lagi. Udah 3 bulan," jelas Dinda.
"Suamimu itu keterlaluan," balas Laras. "Kamu juga kenapa malah diturutin sih."
"Gimana nggak diturutin, kalau aku nolak dia marah. Ngambek sampai 3 hari gak tegur-teguran. Dia itu kayak anak kecil. Salah sikit ngediamin. Ah, pusing aku."
"Gapapa, bagus punya banyak anak. Banyak anak banyak rezeki," timbal Zahra.
"Iya sih, Zah. Tapi biayanya itu loh," keluh Dinda. "Kamu taulah suamiku nggak seperti suami kamu yang kaya. Suamiku cuma pegawai biasa tapi mau punya anak banyak. Dan sekarang dia kualahan juga biayainnya. Mana gajinya gak seberapa. Beli popok, s**u, biaya sekolah anak, belum lagi buat makan, dan kebutuhan lainnya. Sekarang baru dia ngeluh. Terus nyalahin aku lagi. Padahal dia yang salah. Benar-benar pusing jadi istrinya," ujar Dinda panjang lebar.
"Sama Din, aku juga pusing. Suamiku cuma satpam. Gajinya gak gedek. Anak walaupun baru 2 tapi udah banyak aja pengeluarannya. Mana biaya sekolah mahal, belum lagi kebutuhan rumah. Benar-benar nggak cukup. Aku biasa sampai ngutang di warung," curhat Laras.
Zahra yang mendengar keluhan kedua temannya cuma bisa diam saja mendengarkan. Jujur masalahnya memang tidak seperti kedua temannya. Segala kebutuhan memang tercukupi tapi tidak dengan kasih sayang, perhatian, dan pengertian dari suaminya.
"Kalau kamu sih enak, Zah," ucap Laras. "Suamimu kaya. Kamu nggak akan ngerasain susahnya jadi kami. Apa-apa yang kamu mau pasti dibelikan. Anak kamu juga nggak akan ngerasa susahnya hidup. Masa depan udah terjamin. Kamu tinggal santai-santai aja di rumah."
"Iya, nggak kayak kami," sahut Dinda.
Zahra hanya senyum. Dia memang tidak perlu menceritakan masalah apa yang ada di rumahnya. Dia tidak akan mau membeberkan aib rumah tangganya. Biarlah orang mengira dia bahagia meski kenyataan tidak sama sekali.
"Enak jadi kamu, Zah," puji Laras.
"Hidup kalian sudah menyenangkan kok. Nggak ada bedanya. Suami kalian baik. Kebahagiaan kan, nggak selalu dari materi. Kalian coba ingat-ingat, suami kalian banyak sekali menyenangkan kalian. Sering aku liat kalian liburan bareng anak-anak. Aku biasa liat di i********: kalian. Hidup kalian itu sudah bahagia. Kalau masalah uang kan, bisa dicari," ujar Zahra.
"Iya sih, suamiku walaupun sering marah tapi dia perhatian. Kalau gajian selalu ngajak jalan, ngajak anak-anak belanja, dan kadang kalau aku capek suka gantiin jagain anak dan masak juga." Dinda baru menyadari suaminya juga punya sisi yang membuatnya bangga.
"Benar juga. Suamiku juga suka ngajakin nonton. Suka bantuin masak kalau aku lagi gak enak badan. Dia juga nganter anak-anak ke sekolah. Dia juga suka beliin hadiah setiap gajian." Laras pun jadi mengingat sisi baik suaminya ya walaupun suaminya cuma satpam tapi perhatiannya sungguh membuatnya senang.
"Zah, kamu nggak pernah cerita tentang rumah tangga kamu. Ayolah cerita sesekali. Aku juga nggak pernah melihat kamu memposting kebersamaan kamu sama suami kamu. Apa suami kamu nggak suka fotonya dipublikasikan? Apa El orangnya tertutup banget?" tanya Dinda penasaran.
"Iya, Zah." Laras ikut penasaran juga. "Ayo cerita, aku penasaran dengan suami kamu itu. Dia juga jarang di rumah kan, soalnya super sibuk. Jadi kalau dia pulang kalian biasanya ngapain aja? Pasti liburan ke hotel ya? Atau... pergi keluar negeri."
Zahra menghela napas. "Iya, suamiku memang orangnya tertutup. Dia tidak suka jika aku memamerkan kemesraan kami. Biasanya kalau dia pulang kami nggak kemana-mana. Kami hanya menghabiskan waktu di rumah. Dia lebih suka mengajak Zidan main di rumah ketimbang berpergian di luar. Biasa kita main di luar tapi sangat jarang," jelas Zahra.
Apa yang bisa dipamerkan. Kenyataannya mana ada kebersamaannya dengan sang suami. Mereka tidak pernah liburan. El juga tidak pernah mengajak Zidan jalan-jalan. Setiap datang pria itu hanya di rumah. Sibuk sendiri dengan urusannya dan menyentuhnya karena sedang nafsu saja. Tidak ada cinta sama sekali dalam rumah tangganya. Jadi apa yang bisa diperlihatkan dan diceritakan soal rumah tangganya yang tidak ada kebahagiannya sama sekali. Hanya rasa sakit yang ada dan rasa ingin mengakhirnya.
"Ya Allah, maaf aku harus berbohong," batin Zahra.
"Wah, romantis sekali," puji Dinda.
"Kamu nggak ada niatan nambah anak, Zah?" tanya Laras.
"Sedang aku usahakan," jawab Zahra mengada-ada. Boro-boro mau punya anak lagi. Anak satu saja El tidak mau menganggapnya anak. Pria itu juga melarangnya untuk hamil padahal dia sangat ingin memberi Zidan adik perempuan. Tapi mustahil dia bisa hamil karena jarang digauli suaminya. Dan pria itu sangat pintar, dia tidak mau berhubungan tanpa alat pelindung. Sehingga tentu saja tidak ada kemungkinan untuknya hamil.
"Semoga secepatnya ya," ucap Dinda.
"Aamiin," balas Zahra.
"Kamu pernah diajak El ke Jakarta, Zah?" tanya Laras.
"Pernah," jawab Zahra. Memang pernah dia ke Jakarta. Tapi El tidak benar-benar mengajaknya. Pria itu hanya datang menjemputnya karena disuruh mama papahnya.
"Aku jadi iri sama kamu, Zah." Laras menghela napas berat. "Andai aku punya suami kaya kamu. Kaya, baik, tampan, dan romantis. Hidup aku benar-benar bewarna. Beruntung banget jadi kamu."
"Sama, coba aja suamiku Direktur," ujar Dinda.
"Andai kalian tau yang sebenarnya, mungkin kalian tidak akan tahan jika berada di posisiku. El tidak sebaik yang kalian kira. Tapi aku tidak ingin orang lain tau kejelekannya. Dia tetap suamiku dan aku tidak ingin dia dicaci orang lain apalagi temanku sendiri," ucap Zahra dalam hati.
***
"Zidan, bareng aku aja yuk," ajak Qila yang sudah dijemput oleh Rehan.
"Aku dijemput Bunda. Kamu duluan aja," tolak Zidan.
"Kamu yakin gak mau pulang bareng kami?" tanya Rehan.
"Gak usah Om, aku udah ada janji sama bunda."
"Lain kali mau ya boncengan sama ayah aku," pinta Qila yang saat ini sedang memeluk ayahnya di atas motor.
"Iya."
"Kami pulang dulu ya," pamit Rehan.
"Iya Om."
Rehan menyalakan motornya lalu beranjak meninggalkan Zidan. Qila melambaikan tangan dan Zidan membalas lambaian gadis cantik itu.
Zidan mengeluarkan hadiah yang diberi Qila dari tasnya. Sambil menunggu bundanya menjemput dia melihat mainan yang diberikan Qila. Dia sangat menyukainya. Andai aja robot itu dari papahnya. Dia jauh lebih bahagia.
"Mana boleh bawa mainan ke sekolah," ucap security menghampiri Zidan.
"Aku nggak bawa mainan kok, Pak," sanggah Zidan.
"Kalau nggak bawa, terus itu apa?" Pak security menunjuk robot yang di tangan Zidan.
"Ini aku dikasih sama teman kelasku."
"Cieee, dikasih sama pacarnya."
"Ah enggak! Dia itu temanku bukan pacar aku."
"Dia pasti suka sama kamu."
"Bapak apaan sih, kami itu teman."
"Nanti kalau udah gedek jangan lupa dinikahin." Pak security tertawa.
Raut wajah Zidan berubah masam. Dia tidak suka dengan candaan Pak security hari ini.
Beberapa detik kemudian. Senyum Zidan mengembang saat mobil bundanya stop di hadapannya. Akhirnya bundanya datang juga. Dia segera membuka pintu mobil.
"Maaf Sayang, kamu nunggu lama ya," ujar Zahra.
"Enggak kok Bunda." Zidan duduk di kursi depan bersama bundanya. Dia menutup pintu dan memakai sabuk pengaman.
"Duluan ya Pak," pamit Zahra dan diangguki Pak security.
Mobil menyala dan meninggalkan sekolah.
"Bunda, liat aku dikasih hadiah sama Qila." Zidan menunjukkan robot yang diberikan teman sekelasnya.
Zahra menoleh. "Wah bagus banget. Udah bilang makasih belum?"
"Udah Bun. Oh ya Bun, ini itu robot yang dipilihkan ayah Qila. Ayah Qila baik banget ya, Bun. Padahal aku cuma temannya Qila. Coba aja aku punya papah kayak ayah Qila." Raut wajah Zidan berubah sedih.
"Papah juga baik kok." Zahra tidak ingin Zidan merasa sedih karena memiliki ayah yang tidak seperti temannya. Dia harus berusaha agar Zidan tidak merasa diabaikan oleh papahnya.
Zidan diam saja. Dia memasukkan hadiahnya kedalam tas. Dia tidak bicara lagi. Dia cuma memandangi jalanan.
***
Mobil Zahra berhenti di parkiran pusat perbelanjaan. Sesuai janjinya dia akan membelikan putranya mainan sebagai apresiasi karena putranya sudah mendapatkan nilai yang bagus berkat belajarnya yang giat.
Zahra melepaskan sabuk pengamannya lalu sabuk pengaman Zidan juga.
"Ayo turun," ajak Zahra.
Zidan tetap diam di kursinya.
"Kenapa lagi? Katanya mau beli mainan tadi pagi kok sekarang mukanya sedih."
"Akan menyenangkan jika papah juga ikut." Zidan lalu keluar dari mobil dengan wajah yang masam.
Zahra menggeleng-gelengkan kepalanya. Biasalah anak-anak selalu suka begitu. Dia maklumi. Dia keluar mobil. Dia hampiri putranya dan menggandeng tangan anak itu. Mereka berjalan bersama munuju pintu masuk.
Sampai di dalam Zahra langsung menuju toko mainan. Ketika sudah sampai dia melepaskan gandengannya.
"Terserah kamu mau pilih apa. Ambil aja apa yang kamu suka," ucap Zahra.
"Oke," balas Zidan dengan tidak semangat. Dia berjalan seorang diri menelusuri toko.
Zahra menghela napas panjang. Dia beranjak pergi ke toko mainan lain yang berada tidak jauh dari toko yang tadi. Ketika sampai dia langsung melihat-lihat mainan yang paling bagus. Putranya suka mobil maka dia mencari mainan mobil. Ada satu mobil yang menurutnya bagus. Itu mobil remot kontrol sehingga harganya lumayan mahal. Namun, dia tetap membelinya. Justru mainan dengan kualitas baguslah yang dia cari karena akan membuat sang anak lebih bahagia.
Di kasir Zahra meminta mainan yang dia beli dibukus dengan kertas kado. Sehingga seperti hadiah. Ketika sudah membayar dan mendapatkan barang yang dia beli, dia pun buru-buru keluar dari mall. Dia ke parkiran dan menyimpan hadiah yang dia beli ke bagasi. Agar putranya tidak tahu dengan hadiah itu. Ketika sudah menyimpannya dengan aman dia kembali lagi ke dalam mall dan pergi menemui putranya.
"Bunda kemana aja?" tanya Zidan ketika bundanya datang menghampirinya.
"Bunda dari toilet. Kamu udah dapat mainan yang kamu mau?" tanya Zahra.
Zidan mengangguk.
"Mana?"
"Ini." Zidan menunjukkan mobil yang dia beli. Ukurannya sangat kecil, kira-kira sekecil korek api.
Zahra mengambilnya. Dia melihat harga mobil yang dipilih putranya itu. "Kok kamu ambil yang murah Nak?"
"Gapapa Bun, mainan aku udah banyak di rumah. Lebih baik uangnya disimpan aja. Aku takut papah marahin bunda gara-gara beliin aku mainan."
Zahra menyamakan tingginya dengan sang anak. "Ya Allah Sayang, kamu gak boleh mikir gitu. Papah gak marah kok."
"Aku beli yang ini aja, Bun." Zidan mengambil mainan di tangan bundanya. "Ayo bun kita bayar. Udah itu kita pulang."
Zahra berdiri normal. "Kamu yakin mau beli itu?"
"Iya gapapa."
"Ya udah kalau gitu."
Zahra dan Zidan ke kasir. Setelah membayar mereka langsung pulang. Tiba di rumah Zidan tidak melihat mobil papahnya lagi.
"Bun, mobil Papah mana?" tanya Zidan.
Zahra melihat garasi dan halaman rumah. Dia tidak mendapati mobil suaminya. Berarti pria itu benar-benar pulang ke Jakarta. "Papah sudah pulang," jawab Zahra.
Zidan menunduk sedih. Papahnya pulang tidak pamit padanya. Apa dia tidak sebegitu pentingkah?
Zahra menggandeng Zidan. "Ayo kita masuk."
Sampai di dalam rumah Zidan langsung melepaskan gandengan Zahra. Dia pun berlari pergi meninggalkan bundanya.
"Zidan!" Panggil Zahra.
"Zidan!" Panggilnya lagi.
"Zidan!" Panggilnya kembali tapi anak itu tetap mengabaikannya.
"Dia pasti marah."
Zahra beranjak ke kamarnya. Dia membersihkan diri. Selesai mandi dan berpakaian dia pergi ke dapur. Dia masak untuk makan malam. Setelah selesai masak dan sudah menghidangkan makanan di meja makan. Dia duduk termenung dengan pikiran di kepala yang membuatnya hampir menyerah dan gila. Jika dia tidak melibatkan Allah dalam hidupnya mungkin dia sudah berakhir di RSJ (Rumah Sakit Jiwa).
***