Hujan semakin deras. Angin semakin kencang. Guntur semakin menggelegar. Petir tiba-tiba menyambar pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Seketika angin kencang menggoyang pohon itu dan tiba-tiba tumbang menutupi jalan.
El yang kaget langsung cepat mengerem. Hampir saja dia mati ditimpan pohon besar yang tumbang di jalan.
"Sialan," makinya.
Dia melihat tidak ada celah untuk melewatinya. Dia sepertinya tidak dapat melanjutkan perjalanan gara-gara pohon tumbang itu.
"Ah! Ini pasti gara-gara Zahra! Dia pasti doa yang jelek sehingga aku celaka di jalan!"
Terpaksa dia putar balik. Tidak ada jalan lain untuk lewat sehingga dia kembali pulang ke rumah.
Sepanjang jalan dia bergumam kesal karena tidak jadi pulang menemui kekasihnya. Dia cemas kekasihnya semakin marah. Beberapa hari ini wanita yang dia cintai tidak membalas pesannya. Bahkan ketika dihubungi tidak mau bicara. Perempuan itu sepertinya sangat kesal dengannya karena perihal waktu itu.
Dia takut kekasihnya benar-benar ingin putus darinya. Sedangkan dia sangat mencintai wanita itu. Meski terhalang restu dan tersembunyi, dia tidak ingin meninggalkan wanita itu. Apapun yang kelak terjadi dari hubungan mereka dia akan tetap mempertahankan kekasihnya. Saat ini dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa pergi dari sisi Zahra. Dengan begitu dia memiliki alasan untuk bisa menikahi wanita yang dia cintai. Walaupun dia tidak tahu pasti kapan hal yang dia mau itu bisa terjadi.
Sampai di rumah pintu terkunci. Untung dia punya kunci cadangan. Dia masuk kedalam rumah yang gelap hanya ada sedikit cahaya. Dia pergi ke kamar. Ketika berada di depan pintu dia samar-samar mendengar suara tangisan. Dia mendekatkan kupingnya ke pintu. Suara tangisan dari dalam kamar terdengar sangat jelas.
Dia penasaran. Perlahan dia membuka pintu yang tidak terkunci. Dia mengintip dan melihat Zahra yang menangis di pinggir ranjang.
Dia perlahan menutup pintu kembali. Dia mematung beberapa menit di depan pintu memikirkan alasan kenapa wanita itu malah menangis. Setelahnya dia pergi ke lantai bawah. Dia pergi ke kamar tamu.
El duduk di pinggir ranjang setelah melepaskan jasnya. Dia membuka sepatunya. Sebelum berbaring dia menepas-nepas kasur agar debunya hilang. Dia kemudian merebahkan diri. Dia memandangi langit-langit kamar. Rasa kesalnya yang tadi sangat membara karena tidak jadi pulang ke Jakarta, tidak jadi bertemu kekasihnya, tiba-tiba rasa kesal itu reda ketika melihat Zahra yang menangis di kamar. Dia jadi kepikiran wanita itu.
"Apa aku sejahat itu?"
"Apa aku sudah kelewat batas?"
"Apa aku sangat egois?"
"Apakah aku sudah sangat-sangat menyakiti perasaannya?"
Dia bicara pada dirinya sendiri. Lalu dia diam.
Dia mendudukan dirinya. "Ah! Dia saja yang terlalu cengeng!"
"Siapa suruh dia menjadi istriku!"
Dia berbaring lagi. Dia memiringkan posisinya. Dia memejamkan mata berharap bisa tertidur tapi tidak bisa. Pikirannya terus tertuju pada Zahra. Dia sudah berusaha untuk tidak memikirkan wanita itu tapi wanita itu tidak hilang juga dari pikirannya.
"Arh!" Dia merugas bangun.
El keluar kamar. Dia pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas. Dia membuka pintu kamar dan Zahra langsung melihat ke arahnya.
Zahra melihat suaminya, dia cepat menghapus air matanya.
"Mas..." lirih Zahra.
"Apa yang kamu tangiskan?" tanya El yang berdiri di hadapan Zahra.
"Kamu kenapa pulang lagi, Mas?" tanya Zahra.
"Jawab aja pertanyaa saya!" bentak El.
Zahra menundukkan wajahnya. "Aku gapapa, Mas."
El mengangkat dagu istrinya. "Gapapa! Terus kenapa kamu nangis dan tangisan kamu itu memenuhi isi kepala saya!"
"Kamu memikirkan aku?" tanya Zahra.
El berkacak pinggang sambil membuang muka. Dia gengsi untuk mengiyakan.
Zahra berdiri. "Aku sedih karena kamu belum juga menganggap aku istri kamu. Hampir 8 tahun pernikahan kita, selama itu kamu bahkan nggak mau menyentuh masakan aku. Kamu nggak pernah perhatian sama aku, mengkhawatirkan aku, nggak pernah sedikitpun kamu peduli dengan aku. Sekedar menghargai saja enggak. Kamu hanya menyentuh aku dengan nafsu. Bahkan hadirnya Zidan karena kamu terpaksa melakukannya demi uang..." Dia meneteskan air mata.
El mengepal tangannya.
"Apa aku juga gak boleh menangisi nasib aku yang menyedihkan karena tidak dicintai oleh kamu?" tanya Zahra dengan tetesan air mata yang membanjiri wajahnya.
El duduk di tepi ranjang. Dia mengusap wajahnya frustasi.
"Mas, aku meminta sedikit aja perhatian kamu. Apa bisa?" tanya Zahra.
"Bisa!" jawab El. Dia berdiri. "Kita bercerai! Dengan begitu kamu nggak akan sakit dan kamu nggak perlu perhatian aku!" tekannya di hadapan sang istri.
Zahra tidak lagi berkata-kata. Dia diam. Dia mendaratkan bokongnya di pinggir ranjang. Dia menundukkan kepala. Dia memegangi dadanya yang terasa sangat-sangat sakit. Seperti ditusuk-tusuk benda-benda tajam. Dia hanya menahan perihnya dan menahan isak tangis agar tidak keluar dari mulutnya. Namun, air matanya tidak mampu dia tahan sehingga kini wajahnya dibanjiri air mata. Meski sudah menghapusnya beberapa kali. Namun, air matanya tak henti mengalir dan membasahi kedua belah pipinya. Sudah berulang kali bahkan jika dihitung mungkin sudah ratusan kali suaminya meminta pisah darinya. Namun, tidak dia setujui keinginan menyakitkan itu. Dia masih memilih bertahan meski sakit. Semua tentu saja beralasan.
El mengangkat dagu istrinya. Mata mereka berdua saling bertemu. "Lakukan demi kebahagian kamu," ucapnya lalu melepaskan pegangannya pada dagu wanita itu.
Zahra menunduk. Perlahan dia menggelengkan kepalanya.
"KENAPA HAH!? KENAPA?!" teriak El. Dia kesal sekali pada wanita itu. Apa susahnya menggugat cerainya. Dengan begitu mereka sama-sama tidak tersakiti di posisi ini.
Zahra meraih tangan suaminya. Dia menggenggamnya. Dia mengangkat pandangannya. "Karena aku nggak mau kehilangan kamu, Mas ..." jawabnya lirih.
El menepis tangannya dari Zahra. "Kamu memang bodoh! Saya ini tidak mencintai kamu! Kenapa kamu masih saja mau sama saya!"
"Hiks ... iya Mas, aku memang bodoh..." Zahra menundukkan wajahnya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis.
"Harusnya aku tidak mencintai kamu... harusnya aku membenci kamu... kamu sudah menyia-nyiakan aku... kamu juga tidak mau menerima anak kita... kamu laki-laki jahat! Kamu jahat Mas! Hiks..."
El menghela napas kasar. "Sampai kapan pun saya nggak akan menerima kamu!" Kecamnya lalu beranjak pergi dari kamar.
Sepeninggalan El, Zahra membuka wajahnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia mengadu rasa sakitnya kepada yang Maha Kuasa. Dia luapkan semua rasa sakit hatinya. Dia mengeluh atas apa yang terjadi pada hidupnya.
"Ya Allah... kenapa Ya Allah... kenapa Kau beri aku cobaan seberat ini... aku tidak sekuat itu ya Allah... Ya Allah jika memang cobaan ini karena dosa-dosaku tolong ampuni aku ya Allah... tolong ampuni aku... aku capek ya Allah... aku capek harus terus seperti ini... aku benar-benar nggak sanggup ya Allah... aku mohon... beri aku jalan yang terbaik... aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana..."
***
Pagi
Zahra bangun dari tidurnya. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.
"Astagfirullah..."
Dia kesiangan. Dia tidak bangun subuh untuk sholat. Dia cepat merugas bangun dan melaksanakan sholat subuh. Karena meski kesingan sholat subuh tetap harus dikerjakan. Sebab dia tidak sengaja meninggalkannya jadi tetap wajib untuknya mengerjakan sholat subuh 2 rakaat. Setelah selesai sholat dan berdoa. Zahra bangkit dan membereskan sajadah dan mukenahnya.
Dia tidak sengaja melintasi cermin dan melihat wajahnya sekilas. Ada yang berbeda dari wajahnya. Dia lebih mendekatkan dirinya ke cermin. Dia melihat wajahnya dengan saksama. Matanya sembab dan wajahnya pucat. Tangisannya semalam pasti penyebabnya.
Zahra beranjak mandi. Setelah mandi dan berpakaian rapi dia beranjak ke kamar putranya. Sampai di sana dia mengetuk pintu.
"Zidan, berangkat sekolah yuk," ajaknya sambil mengetuk pintu kamar anak semata wayangnya.
Zidan yang sudah siap beranjak membuka pintu kamar.
Zahra melempar senyum pada putranya itu. Dia menyamakan tinggingnya dengan sang anak. Dia merapikan seragam putranya yang belum cukup rapi.
"Wajah Bunda kenapa?" tanya Zidan.
"Gak kenapa-napa," jawab Zahra.
Zidan menyentuh wajah Zahra. "Mata Bunda bengkak, Bunda habis nangis ya?"
Zahra meraih tangan anaknya itu. "Ah, enggak. Bunda tidurnya kelamaan makanya jadi tembem deh matanya. Kamu sih nggak bangunin Bunda."
"Kenapa Bunda bohong?" tanya Zidan.
Zahra menggeleng. "Bunda nggak bohong kok."
Zidan memeluk bundanya. Dia ingin menangis tapi dia tahan agar air matanya tidak keluar.
"Udah manja-manjanya, nanti kita kesingan."
Zidan melepaskan pelukannya. "Kita nggak sarapan dulu?"
"Kita makan di luar aja."
"Kenapa?"
"Bunda nggak sempat masak. Gapapa, kan?"
Zidan mengangguk.
"Ayo." Zahra menggandeng Zidan. Dia berdiri dan membawa anak itu bersamanya.
Sampai di ruang tengah.
"Mas, aku mau ngantar Zidan sekolah dulu," pamit Zahra pada suaminya.
El cuma mengangguk.
"Mungkin aku pulangnya telat soalnya aku mau ketemu temanku." Dia ada janji hari ini jadi tidak bisa pulang cepat seperti biasanya.
"Sejak kapan kamu punya teman?" tanya El.
"Sayang, kamu tunggu di mobil ya," pinta Zahra.
Zidan mengangguk. Sebelum pergi dia bersalaman dengan papahnya. Walau pria itu tidak mengulurkan tangan tapi Zidan tetap meraih tangan papahnya dan mencium punggung tangan pria itu. Lalu dia melenggang pergi.
Zahra takut pembicaraannya dengan sang suami berujung pertengkaran. Maka dari itu dia menyuruh putranya itu untuk menunggunya di mobil.
"Aku punya teman, Mas. Ya walaupun tidak seberapa."
"Jangan bawa-bawa saya. Anak itu hanya anak kamu."
Zahra menelan pahitnya ucapan suaminya pagi ini. Tapi tak apa dia bisa menahan kepahitan itu. Sudah biasa. Sudah seperti makanan sehari-hari.
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku berangkat dulu." Zahra meraih tangan El dan menciumnya. "Assalamualaikum, Mas." Dia beranjak meninggalkan El.
"Jam berapa pulang?!" teriak El.
Zahra berhenti. Dia memutar tubuhnya menghadap El. "Mungkin sore karena aku akan ajak Zidan ke toko mainan. Dia dapat nilai bagus jadi aku akan memberinya hadiah."
"Saya akan pulang sebentar lagi," ujar El. Dia yakin pohon yang tumbang semalam sudah dibereskan oleh warga. Maka dia harus secepatnya pergi dari rumah ini. Lebih cepat lebih baik. Itulah yang ada di pikirannya.
Zahra menghela napas. Dia hampiri suaminya. "Apa seburu-buru itu kamu mau pulang? Apa kamu nggak mau nunggu aku dan Zidan dulu?"
"Untuk apa," balas El ketus.
"Untuk pamitan pada keluarga kamu, Mas," terang Zahra.
"Alah, kalian tidak sepenting itu bagi saya."
Kembali Zahra menghela napasnya. "Ya udah, gapapa." Zahra mengusap pelan pundak suaminya. "Hati-hati di jalan Mas, semoga perjalanan kamu menyenangkan. Semoga kerjaan kamu di sana lancar. Jaga kesehatan dan jangan lupa pulang," ucapnya panjang lebar.
Zahra tersenyum lalu pergi meninggalkan suaminya.
El memandangi punggung istrinya yang menjauh. "Aku tidak perlu perhatian wanita itu," ujarnya dalam hati.
***
"Bunda, aku kan, dapat nilai bagus. Apa aku akan dapat hadiah?" tanya Zidan ketika Zahra masuk kedalam mobil.
"Iya, Sayang," jawab Zahra. Dia memakai sabuk pengaman lalu memakaikan ke putranya juga.
"Asikkk, makasih ya Bunda." Zidan memeluk Zahra.
"Iya, sama-sama sayang."
Zahra menyalakan mesin mobil. Memanaskan mesin sebentar lalu beranjak pergi. Di perjalanan tidak ada perbincangan antara ibu dan anak. Zahra fokus menyetir dan Zidan fokus melihat pemandangan di jalan.
Sampai di sekolah. Zahra dan Zidan keluar dari mobil. Mereka kemudian berjalan menuju kantin. Sesuai janji mereka sarapan di luar.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Zahra ketika mereka sudah duduk di kursi kantin.
"Aku mau bubur aja, Bun."
"Oke."
Pelayan datang dan mencatat pesanan mereka. Sambil menunggu Zidan membaca buku pelajarannya dan Zahra melihat sekeliling kantin. Pemandangan bagus. Kantinnya juga bersih. Tapi pengunjungnya tidak ramai. Mungkin karena masih awal jadi kantinnya tidak terlalu ramai.
Pesanan datang. Mereka makan bersama. Setelah selesai makan Zahra membayar tagihan.
"Bunda ngantar aku sampai sini aja," ucap Zidan setelah bundanya kembali dari kasir.
"Yakin mau sampai sini aja?" tanya Zahra.
"Iya Bunda gapapa."
"Ya udah."
Zidan salim ke Zahra. "Aku sekolah dulu Bun," pamitnya.
"Belajar yang pintar ya."
"Siap Bunda!" Balas Zidan sambil hormat. Dia pun melenggang pergi meninggalkan bundanya.
Zahra meninggalkan kantin. Dia berjalan menuju parkiran tampat mobilnya berada. Di tengah perjalanan dia tidak sengaja berpapasan dengan seseorang. Dia merasa mengenal seseorang itu begitupun yang dirasakan oleh orang itu. Ketika jarak mereka cukup jauh mereka saling menoleh melihat satu sama lain.
"Apa dia..." lirih Zahra.
"Dia..." lirih Rehan yang mengenali wajah wanita yang mau dia tolong kemarin.
"Ah, nggak mungkin." Zahra mengalihkan pandangannya ke depan. Dia melanjutkan perjalanannya menuju parkiran.
"Ayah, kenapa?" tanya anak perempuan yang Rehan gandeng.
"Gak ada apa-apa, Sayang," jawab Rehan. Dia melanjutkan mengantar anaknya ke kelas.
Zahra sampai di mobilnya. Dia masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi dia kepikiran dengan laki-laki yang dilihatnya tadi. Wajah pria itu tidak asing. Seperti orang yang mau menolongnya kemarin. Tapi dia tidak yakin.
Dia menyalakan mesin mobil dan beranjak meninggalkan tempat sekolah putranya.
***
"Hai, Rehan!" Sapa Qila yang baru tiba di kelas bersama ayahnya.
"Hai," balas Zidan yang di mejanya.
"Zidan, kenalin ini ayah aku." Qila memperkenalkan pria yang bersamanya.
"Hai anak ganteng," sapa Rehan.
"Halo Om." Zidan bersalaman pada ayahnya Qila.
"Masya Allah," puji Rehan.
Qila mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Taraaa! Ini buat kamu dari aku dan ayah," ucapnya sambil memberikan Zidan hadiah yang sudah dia janjikan pada temannya itu.
Zidan menerima hadiah itu. Dia mendapatkan robot. "Wahhhh," ujarnya terkesima.
"Robotnya bisa jadi mobil. Kamu suka kan?" tanya Qila.
Zidan mengangguk-nganggukkan kepalanya. Dia bukan suka lagi tapi sangat-sangat suka."
"Itu ayah aku yang pilihkan, katanya itu bagus. Anak laki-laki akan suka."
Zidan memandang ayah Qila. Matanya berkaca-kaca melihat pria yang mungkin seumuran dengan papahnya itu.
"Kamu senang?" tanya Rehan.
"Aku senang Om. Makasih ya Om." Setetes air mata Zidan jatuh karena dia merasa bahagia bercampur sedih. Senang karena dapat mainan dan sedihnya karena orang lain lebih peduli padanya daripada papahnya sendiri.
"Loh, kok nangis?" tanya Rehan. Dia menghapus air mata anak itu. "Kamu harus rajin lagi ya belajarnya biar tambah pintar. Kalau pintar Qila pasti suka," candanya.
Zidan jadi senyum-senyum malu.
"Ah Ayah apaan sih..." Qila ikutan malu.
"Qila, Ayah harus pulang ya. Ayah ada kerjaan. Kamu belajarnya yang rajin," pamit Rehan.
"Iya, Ayah." Qila salim ke ayahnya.
"Om pamit ya Zidan."
Zidan mengangguk dan mencium tangan pria itu. "Makasih Om."
"Sama-sama anak ganteng."
Rehan berlalu pergi.
"Qila, ayah kamu baik ya," ucap Zidan sepeninggalan Rehan.
"Iya dong, ayah aku itu ayah terbaikkk di dunia."
Zidan senyum tak nyaman. Dia merasa sedih karena papahnya tidak sebaik ayahnya Qila.
"Kalau ayah kamu?" Qila melontarkan pertanyaan.
"Emmm, baik juga," jawab Zidan.
Qila tersenyum. "Kamu dikasih hadiah apa sama ayah kamu kalau dapat nilai bagus? Kalau aku biasanya diajak jalan-jalan dan dibeliin mainan banyakkk banget."
"Aku...."
Ting! Ting! Ting! Bel masuk sekolah bunyi.
"Aku balik ke meja aku ya, bye." Qila berlari ke bangkunya.
Zidan menghela napas panjang sambil duduk. Dia memperhatikan mainan di tangannya. Dia tersenyum senang melihat hadiah dari temannya itu.
***