Rumit Part 9

2034 Kata
Zahra memanaskan makanan. Lalu menghidangkannnya di meja makan. Dia tata dengan rapi. Dia juga meletakkan tiga piring kosong. Duanya untuk dia dan Zidan. Satunya untuk suaminya walaupun belum tentu suaminya ikut makan bersama mereka. Setelah selesai menyiapkan makanan Zahra pergi menemui suaminya terlebih dahulu. Ia akan mendahulukan suaminya. Zahra sampai di kamar. Dia membuka pintu. "Mas..." "Apa?" tanya El malas yang sedang duduk di atas ranjang. Zahra melangkah masuk dengan beberapa langkah. "Ayo makan malam sama aku dan Zidan." "Makan aja kalian. Saya udah pesan makanan." "Gitu ya Mas, ya udah." Zahra berbalik dan melangkah keluar kamar dengan rasa sedih. Siapa yang tidak sedih punya suami yang tidak mau menyentuh masakan istri. 7 tahun malah hampir 8 tahun sudah suaminya tidak pernah menyentuh masakannya. Zahra pergi ke kamar putranya. Zahra mengetuk pintu kamar sambil memanggil anaknya. "Zidan, ayo makan dulu!" Zidan menutup bukunya. "Baik, Bun!" Dia beranjak membuka pintu kamar. "Ayo Bun." Dia menggandeng tangan bundanya. Sampai di meja makan. Zidan duduk di samping kursi Zahra. "Bunda, papa mana?" tanya Zidan. Di meja makan hanya ada mereka berdua. "Kita makan berdua aja ya." Zahra mengambilkan nasi untuk putranya itu. "Papa nggak pernah mau makan bareng kita ya, Bun?" tanya Zidan lagi. "Gak gitu Sayang, Papa kamu masih kenyang makannya gak makan bareng kita." Sejelek-jeleknya sikap El, Zahra tidak ingin putranya itu membenci papahnya. Maka ia tidak pernah menjelekkan suaminya di depan anaknya. Ia ingin Zidan menjadi anak baik yang sayang kedua orang tua. Jauh dari kebencian apapun walau pada kenyataannya El tidak menerima kehadiran anak mereka. Zidan menghela napas. "Tadi aku nunjukin nilai ulangan aku ke papa. Aku dapat seratus," ceritanya. "Kamu dapat seratus? Masyaallah... hebat banget. Bunda bangga." Zahra mengelus kepala Zidan. Bahagiannya dia mempunyai anak yang pintar. "Tapi Papa nggak senang." Anak itu menunduk sedih mengingat kejadian tadi sore. "Papa senang kok." "Tapi Papah nggak ngomong kaya bunda." "Emang papah bilang apa ke kamu?" "Papah nggak bilang apa-apa. Papa malah buang hasil ulangan aku." Hati Zahra sedih mendengar curhatan sang putra. Tetapi ia tetap berusaha ngomong hal yang baik mengenai suaminya."Mungkin Papah gak sengaja." "Papah buang ke lantai. Papah sengaja." "Enggak, pasti papah nggak sengaja. Kamu jangan berkecil hati ya. Kamu itu anak kebanggan papah dan bunda." "I'm not ok, Bun. Aku sedih Papah nggak seperti papah teman-teman aku." Mata Zidan berkaca-kaca. "Papah nggak sayang aku. Papah nggak pernah ajak aku main, ajak aku jalan-jalan. Papah gak pernah ada untuk aku. Papah bahkan nggak pernah sholat bareng kita. Kenapa Bun? Kenapa papah nggak sayang aku...?" Tetesan air matanya jatuh. "Hiks..." Zahra turun dari kursi. Dia memeluk putranya dengan erat. "Maafin Bunda Sayang." "Bunda gak salah." Zidan menghampus air matanya. "Kenapa Bunda selalu minta maaf? Bunda nggak salah apa-apa. Justru papah yang harusnya minta maaf." Zahra melepaskan pelukannya. Dia tidak mengatakan apapun. Hanya menghapus air mata putranya itu. Zidan memegangi kedua tangan bunda. "Bunda... papah nggak sayang kita, kan?" Zahra menggeleng. Kedua mata perempuan ini berkaca-kaca. "Papah sayang kita, Nak. Kamu yang sabar aja ya." Sesak di hati Zahra. Dia berusaha kuat untuk menabahkan hatinya. Dia harus kuat demi putranya. Zidan menundukkan wajahnya. Anak itu memurung. Zahra mengangkat kedua sudut bibirnya. Ketika air matanya ingin meleleh jatuh dia cepat mengusapnya. Zidan tidak boleh melihanya menangis. Zahra mengelus kepala putranya itu. "Kita makan aja yuk. Kamu pasti sudah laper." Dia kembali ke kursinya. "Ayo pimpin doanya." Zidan menggelengkan kepalanya. "Loh, kenapa?" Zidan diam saja. Wajahnya terlihat dingin dan tampak kesal. "Ya udah, bunda aja ya kalau gitu." Zahra pun memimpin doa. Setelah itu dia makan bersama Zidan. Putranya itu hanya makan sedikit saja setelah itu langsung pergi tanpa pamit dulu kepadanya. "Sayang!" Zahra memanggilnya. "Zidan!" "Nak!!" Anak itu mengacuhkannya. Zidan tetap pergi meninggalkannya. Zahra menghela napas panjang. Dia berhenti makan. Dia terdiam lama dengan raut wajah sedih. Tak lama kemudian air matanya meleleh jatuh membasahi wajahnya. Dia memegangi kepalanya. Dia memejamkan mata. "Ya Allah... aku mohon tolong aku... harus berapa lama lagi aku harus terus berbohong pada anakku. Aku tidak tega melihatnya ya Allah... aku ingin dia bahagia. Jika kebahagiannya adalah papahnya, aku mohon bukakan pintu hati suamiku ya Allah agar dia menerimanya..." "Itu tidak akan terjadi," ucap seorang pria yang berdiri di belakang Zahra. Zahra bangkit dan melihat sosok itu. El tersenyum miring. "Percuma kamu memohon kepada Tuhan. Tuhan nggak akan mendengarkan. Buktinya sudah beberapa tahun pernikahan kita saya juga tidak menginginkan anak itu." El beranjak ke meja makan. Dia meletakkan makanan yang dia beli. Zahra menunduk dan kembali duduk. El memakan makanannya. Sesekali dia melihat Zahra. Wanita itu cuma menunduk diam tidak melakukan apa-apa. "Tuhan itu jahat. Buat apa kamu merengek-rengek minta bantuannya," ucap El lalu menyendokkan makanan kedalam mulutnya. Zahra mengangkat wajahnya. Dia menatap mata suaminya. "Yang jahat itu kamu, Mas." El mengembangkan senyumnya sampai deratan giginya terlihat dengan jelas. "Saya nggak jahat. Saya hanya nggak bisa menerima kamu dan anak itu. Kalian bukan orang-orang yang saya inginkan dalam hidup ini." Zahra berdiri. "Jika kamu tidak menginginkan aku dan Zidan kenapa kamu tidak meninggalkan kami?!" teriaknya karena sudah kehilangan kesabaran. El memukul meja. Suara yang dihasilkan akibat itu membuat Zahra terlonjak kaget. "JIKA AKU BISA AKU AKAN MELAKUKANNYA!" gertak El. Suara pria itu terdengar sampai di telinga Zidan. "Bunda..." Dia jadi memikirkan bundanya. Dia takut bundanya kenapa-napa. Dia cepat meninggalkan kamarnya. Dia turun ke lantai bawah. Sampai di bawah Zidan bersembunyi melihat bunda dan papahnya di meja makan. Dia tidak berani ke sana karena wajah papahnya terlihat mengerikan. "Hiks..." Tangis Zahra. "Kalau aku bisa akan aku lakukan sejak lama," ucap El. Zahra kembali duduk. "Allah memberikan kita kesempatan untuk bersama. Aku yakin selalu ada alasan dibalik Allah mempersatuka kita," ucapnya. "Alasan saya dan kamu bersama hanya satu. Yaitu hutang BAPAK KAMU!" Zahra mengepal tangannya. Dia sakit sekali saat pria itu menyalahkan orang tuanya. "Gara-gara hutang Bapak kamu, saya jadi korbannya!" Zidan berbalik membelangi orang tuanya. Dia menyederkan punggungnya di tembok. Perlahan tubuhnya melorot ke bawah. Dia menekuk kedua kakinya. Ini pertama kalinya dia mendenger pertengkaran orang tuanya setelah sekian lama. "Apa karena itu papah tidak suka aku?" Lirihnya. "Apa selama ini bunda berbohong pada aku? Tapi kenapa bunda tidak mau jujur?" Zidan meneteskan air matanya. Dia menangis tapi dia meredam suara tangisannya. Zahra tidak tahan mendengar perkataan suaminya. Dia beranjak pergi. Dia pergi ke toilet. Di dalam toilet dia menangis sejadi-jadinya sampai air matanya kering. Tangisnya mereda. Dia berusaha menangkan diri. Dia berusaha tidak mengambil hati omongan suaminya. Dia berusaha untuk sabar. Dia berusaha untuk tidak membenci. Dia berusaha untuk melupakan perkataan suaminya. Ketika sudah merasa lebih baik dia keluar dari toilet. Ketika membuka pintu putranya berdiri di hadapannya. Anak itu menatapnya lalu memeluk dirinya. "Sayang, kamu sejak kapan di sini?" tanya Zahra. Dia khawatir anak itu mendengar tangisannya dan tahu pertengkaran yang terjadi. Zidan mendongakan kepalanya. "Baru aja, Bun," jawabnya. "Syukurlah," ucap Zahra dalam hati. Untung putranya itu baru tiba sehingga kekhawatirannya tidak terjadi. "Bunda, temani aku tidur," pinta Zidan. Zahra tersenyum. "Ayo." Dia menggandeng tangan Zidan. Dia membawa anak itu ke kamar. Sampai di kamar Zahra menuntun putranya berbaring di kasur. "Bunda, bacakan aku dongeng ya?" Zidan tersenyum lebar. Zahra mengangguk. Dia mengambil buku dongeng di atas meja belajar putranya. Kemudian dia naik ke atas tempat tidur putranya. Dia meletakkan kepala anak semata wayangnya itu di perutnya. Lalu dia pun mulai membacakan dongeng. Zidan mendengarkan dengan antusias sambil menatap wajah bundanya itu. Kemudian dia menggenggam tangan wanita yang melahirkannya itu. "Bunda..." "Iya, Sayang." "I want to say, you still have me." Zahra tidak mengerti perkataan putranya itu. Dia tidak bisa bahasa inggris. "Kamu ngomong apa? Bunda nggak ngerti." Zidan menggeleng. "Lanjut baca lagi, Bun." "Oke." Zahra lanjut membaca sampai cerita yang dia bacakan untuk putranya tamat. "Tamat." Dia menutup buku. Dia lihat putranya sudah tidur dengan pulas. Dia tersenyum melihatnya. Dia perlahan turun dari tempat tidur. Dia menyelimuti putranya dan mencium keningnya. Setelah itu dia beranjak keluar kamar. Zahra menghela napas panjang. Dia mengelus dadanya. Dia beranjak ke kamarnya. Langkah demi langkah dengan wajah tertunduk akhirnya dia sampai di depan pintu kamar. Tangannya memegang gagang pintu. Perlahan dia dorong ke depan. Pintu kamar terbuka. Dia mendapati suaminya di dalam sedang memakai dasi. Dia tidak menyapa. Dia menutup pintu lalu menghampiri suaminya. Dia ingin membantu pria itu yang sepertinya kesulitan memakai dasi. Namun tangannya malah ditepis dengan kasar. "Saya bisa sendiri!" ucap El. Zahra tidak merespon. Dia mendaratkan bokongnya ke tepi ranjang. "Kamu mau kemana, Mas?" tanyanya. "Saya pulang malam ini," jawab El yang sudah rapi dengan pakaian formalnya. Terlihat seperti pria tampan dengan pakaian mahal. Tampak bos muda yang gagah. Zahra melarikan pandangannya pada jendela. Dia melihat rintikan hujan di luar. "Di luar hujan. Kamu masih tetap mau pulang?" "Saya pakai mobil jadi apa yang harus dicemaskan," jawab El ketus. "Kamu udah mau pulang ke Jakarta aja, padahal belum beberapa hari di sini. Zidan juga masih kangen sama kamu." El tidak menanggapi omongan istrinya itu. Dia memakai sepatunya dan mengabaikan Zahra. "Apa kamu nggak ada waktu untuk mengajak Zidan pergi ke suatu tempat? Dia ingin sekali berlibur dengan kamu," lanjut Zahra. "Saya tidak peduli!" balas El. "Setidaknya berpura-pura lah peduli," pinta Zahra. "Buat apa? Saya tidak suka bermuka dua di depan orang!" "Lalu kenapa kamu bermuka dua di depan papa dan mama kamu?" "Saya tidak bermuka dua! Saya hanya tidak mau kehilangan hak yang harus jadi milik saya! Jelas?" Zahra kalah. Dia diam. "Kapan pulang ke sini lagi?" tanya Zahra setelah cukup lama diam. "Tidak tau," jawab El. "Kalau boleh aku tau kamu di Jakarta tinggal dimana, Mas? Apa di rumah papa dan mama?" "Ya dimana lagi." "Mungkin saja di rumah wanita lain. Kamu mungkin saja bohongin aku kan, Mas?" El selesai memakai sepatunya. Dia berdiri menatap Zahra. "Kamu ini curiga mulu ya ke saya! Makin lama makin berani ke saya! Kamu tinggal diam di sini dan nggak usah tau semua urusan saya! Bisa, kan?" Zahra menunduk sambil memilan bajunya. "Aku cemburu Mas, aku sering melihat kamu ngobrol asik dengan seseorang di telfon. Dia siapa kamu? Dia bukan wanita simpanan kamu, kan?" El memegang dagu Zahra. Dia mengangkatnya sehingg mata mereka berdua bertemu. "Sudah pernah saya jelaskan! Saya tidak memiliki wanita manapun! Saya hanya capek hidup sama kamu! Orang yang sering saya ajak bicara itu adalah rekan kerja saya! Jadi kamu jangan menuduh saya yang macam-macam!" Dia melepaskan dagu wanita itu. "Saya sudah mau berangkat. Saya juga udah transfer uang buat kebutuhan kamu. Kalau nggak ada urusan yang penting jangan hubungi saya!" tekan El lalu melenggang pergi. Zahra berdiri. "Kamu nggak pamitan dulu ke Zidan?" "Saya buru-buru," ujar El kemudian meninggalkan kamar. Zahra mengontrol dirinya untuk tidak terbawa emosi. Dia menenangkan pikiran dan hatinya. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ketika sudah tenang dia keluar kamar menyusul suaminya sampai di teras rumah. "Kamu yakin Mas mau pulang? Hujannya deras loh, gunturnya juga gede, kamu gak takut?" tanya Zahra. "Kamu meremehkan saya?" El berkacak pinggang sambil menatap istrinya. "Bukan Mas, aku khawatir sama kamu. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan," jelas Zahra. "Ohh, kamu doain saya celaka!?" "Astagfirullah Mas, aku ini istri kamu. Aku sayang sama kamu. Aku nggak mau kamu kena masalah di jalan." "Alah, omongan negatif kamu itu yang justru mendoakan saja celaka!" Zahra kehabisan kata-kata, dia menghela napas saja. "Saya permisi." El melenggang ke garasi. "Tunggu Mas." Zahra menghampiri El. "Hati-hati, Mas." Dia mencium punggung tangan suaminya lalu memeluk pria itu. "Sering-sering pulang ke sini," pintanya. El melepaskan pelukan Zahra. "Saya akan pulang jika nggak ada pekerjaan!" ucapnya. Pria itu masuk mobil, memanaskannya sebentar lalu meninggalkan kediaman istrinya. Zahra menghela napas. Kebersamaannya dengan pria itu terasa sangat singkat. Hanya beberapa hari. Entah kapan dia merasa hidup berumah tangga seperti orang-orang. Yang selalu bersama setiap hari. Rumah yang penuh dengan kehangatan. Dicintai dan diperlakukan dengan baik. Hidup rukun tanpa tekanan batin. "Semoga kamu sampai dengan selamat, mas." Zahra masuk kedalam rumah. Dia menutup pintu dan menguncinya. Dia beranjak ke sofa. Dia mendaratkan bokongnya sambil menghembuskan napas berat. Dia capek sekali. Sangat lelah. Bukan kehabisan tenaga tapi rasa sakit di dadanya menyiksa dirinya. Hatinya sangat sakit ketika suaminya ada di rumah. Namun, ketika pria itu pergi dia tidak menginginkannya. Dia ingin pria itu tetap di sisinya meski dia tahu semakin dekat dengan pria itu semakin sering dia melukai perasaannya. Jauh membuatnya rindu. Ketika ada membuatnya menderita. Serba salah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN