Rumit Part 14

2169 Kata
"Aku cantik gak pakek baju ini." Ara bergaya di hadapan El. Berpose secantik mungkin dengan dres hitamnya. "Sangat cantik," puji El lalu dia tersenyum. Dia tidak berbohong. Kekasihnya memang wanita tercantik menurutnya. Sangat sempurna secara fisik. Kadang kalau pakai daster aja tetap terlihat mempesona. "Baiklah, kalau gitu aku pakai baju ini." El segera berganti pakain. Setelah mereka berdua sudah siap mereka pun berangkat menggunakan mobil. Mereka tidak terlalu menempuh perjalanan jauh karena pusat perbelanjaan di kota ini tidak jauh dari apartemen mereka. "Sayang, papah dan mamah kamu sudah pulang dari Australi?" tanya Ara yang duduk di sebelah kursi El. "Kata mereka besok," jawab El sambil menyetir. "Ohh. Aku jadi pengen deh ketemu mereka. Selama kita pacaran kamu nggak pernah ngenalin aku ke mereka. Kamu takut ya?" El menggenggam tangan Ara. "Nggak ada yang aku takutkan. Aku cuma nggak mau kamu kecewa karena omongan mereka." Ara balik menggenggam tangan El. "Aku gapapa kok. Sekali-kali kamu harus kenalin aku ke mereka. Aku tau mungkin kamu nggak mau aku sakit hati karena papa dan mama kamu, tapi kalau kamu terus sembunyiin aku kapan dong mereka tahu kalau kamu punya aku?" "Mereka nggak perlu tau." "Nggak bisa, Sayanggg. Mereka harus tau. Aku nggak mau nanti mereka jodohin kamu ke orang lain." Apa yang kekasihnya khawatirkan sebenarnya memang sudah terjadi. El bukan terlambat memberitahu orang tuanya tentang Ara. Dia hanya mempersiapkan rencana agar kedua orang tuanya menerima kekasihnya. Namun sayangnya, sebelum sempat dapat rencana kedua orang tuanya lebih dulu menjodohkannya dengan Zahra. Sungguh kesialan untuknya. "Kita ketemu mereka ya besok. Kita jemput papa dan mama kamu di Bandara." El mengerem mobilnya mendadak. "Sayang, kenapa?" "Kamu nggak boleh jemput mereka," cegah El. Dia tidak mau masalah terjadi. "Kamu aneh banget sih, aku maksud baik mau ketemu papa dan mama kamu. Aku ingin kenal mereka. Masa pacaran bertahun-tahun aku nggak pernah ketemu orang tua kamu." "Aku bilang gak ya gak!" tekan El dengan ekspresi marahnya. Ara diam menunduk. El melanjutkan perjalanan. Mereka sampai di mall. El ingin menggandeng tangan Ara, mengajak jalan bersamaan. Tapi perempuan itu menepis tangannya dan jalan lebih dulu. El mengejar perempuan itu. Dia menarik tangan Ara dan menggandengnya erat. "Kita pergi nonton dulu," ajaknya. Ara berusaha melepaskan tangannya dari El, namun susah dan tak bisa. Mereka sampai di bioskop. "Mau nonton apa?" tanya El. Ara membuang muka dengan sinis. "Mau nonton apa?" tanya El lagi. "Terserah!" jawab Ara malas. "Mbak, ada film terserah?" tanya El pada pegawai bioskop. Mbak itu senyum menahan tawa sambil menggelengkan kepala. "Nggak ada film terserah, Sayang." El memberitahu pada kekasihnya yang sedang marah padanya. Dia sengaja mencandai wanita itu agar Ara tidak terus-terusan marah. "Dasar bodoh," ucap Ara dalam hati. "Terserah kamu lah mau nonton apa! Aku nggak peduli!" "Oke, aku yang pilih kalau gitu." El memilih film romantis. Jadwal penayangan satu jam lagi sehingga dia harus menunggu. "Kita makan dulu." El menggandeng tangan Ara. Ara menepis tangan pria itu. "Aku sudah kenyang!" Dia beranjak meninggalkan El. "Astaga, bikin malu saja," gumam El. Banyak orang yang melihat ke arah mereka. Kekasihnya marah tidak melihat kondisi. Dia jadi malu diperhatikan orang-orang. El menyusul Ara. Mereka menuruni eskalator. Ara yang berada di depan, El hampiri wanita itu. Dia menggenggam tangan Ara. "Kita ketempat es cream." Ara yang diajak ke tempat es cream merasa senang. Memang mudah meluluhkan amarahnya. Diajak makan es cream dia langsung bisa luluh. "Ayo." El membawa Ara. Mereka menuju toko es cream. Sampai sana mereka duduk di dekat jendela. Jadi bisa melihat pemandangan luar. El membuka buku menu. "Mau yang mana?" Ara merampas buku menu yang sedang El baca. "Astaga wanita ini," gumam El. Ara memanggil pelayan. "Mas, saya mau yang ini, yang ini, dan yang ini." Dia memesan 3 jenis es cream sekaligus. Pelayan pun mencatat pesanan. "Yakin bisa habis?" tanya El. "Kenapa? Kamu nggak mau bayarin?" Ara balik nanya. Pelayan memandangi El. "Apa pesannya tetap tiga?" tanyanya. Dia ragu. Takutnya yang cowok gak mau bayarin. Nanti ketika es cream datang dan tidak ada yang bayar bisa-bisa kariernya di toko es cream ini melayang. "Pesan 4, saya rasa vanila," jawab El. Pelayan diam tanpa mencatat. "Tenang, saya bayar," tekan El pada pelayan yang tidak percaya padanya itu. "Baik," balas pelayan lalu pergi. El menunjuk Ara. "Hari ini kamu berani mempermalukan aku. Nanti malam kamu akan dapat hukuman." Ara mencebikkan bibirnya lalu bergumam. "Hem, sok-sok'an kasih hukuman. Bilang aja doyan." "Bilang apa kamu?" "Gak ada. Hari mau hujan." El melihat langit. Langit terlihat biasa aja. Tidak ada tanda-tanda mau hujan. "Dasar pembohong." Pesanan datang. Es cream Ara rasa vanila, coklat, dan stroberi sudah di depan matanya. "Hemm, nikmatnya." Ara mencium aroma ec creamnya. Dia sangat tidak sabar. Dia segera mencicipinya. El mamakan es creamnya. Dia sambil melihat Ara yang makan es cream seperti anak kecil. Belepotan. Dia mengambil tisu dan membersihkan bibir Ara. "Makannya pelan-pelan." "Iya bawelll." 1 jam berlalu. Ara menghabiskan 3 mangkuk es cream. Dia merasa sangat kenyang dan puas. Dia salah satu makhluk bumi pecinta es cream. Wajar jika dia bisa makan 3 mangkuk es cream sekaligus tanpa rasa mual. "Udah selesai?" El melirik kekasihnya yang sedang mengelap mulut. Ara mengangguk. "Ayo, film bentar lagi akan dimulai." Ara berdiri. Dia menyusul El yang jalan menuju ke kasir. Selesai melakukan pembayaran El menggenggam tangan Ara. Membawa wanita itu menuju bioskop. Sampai di dalam bioskop mereka mencari kursi dan mereka pun duduk di bagian baris ketika posisi tengah. Di dalam sini lumayan ramai. Kebanyakan para pasangan muda. Umuran remaja gitulah. Film dimulai. Film holliwood bergendre romantis ini banyak adegan dewasa. El melirik kiri kanan dan dia mendapati ada pasangan paling pojok yang ketahuan m***m. Kedua remaja itu sedang ciuman. El membatin. "Astaga anak muda sekarang." Ketika film menayangkan adegan ranjang. Ara meraih tangan El. Dia menggenggamnya sangat erat. El melirik kekasihnya lalu berbisik. "Kenapa? Ingin juga?" Ara menatapnya tajam lalu melepaskan genggamannya. "Otak m***m," gumamnya. El tertawa pelan. Film selesai. Para penonton bubar. El keluar bioskop dengan menggandeng Ara. "Kita mau ngapain lagi?" tanya wanita itu. "Shoping," jawab El. "Oke." Mereka ke toko sepatu. El menemani Ara memilih sepatu. Ara menelusuri toko sampai dia menemukan sepatu yang menarik di matanya. "Wow, ini sangat bagus." Ara mengambil sepatu yang mencuri perhatiannya. Dia terpesona dengan sepatu cantik itu. Tapi ketika tahu harganya dia menyimpan kembali sepatu itu. El menghampiri Ara. "Kenapa disimpan lagi?" "Cari yang lain aja." "Kenapa?" "Gapapa." El menghela napas. Dia mengambil sepatu yang Ara simpan. Dia cek harganya dan ternyata senilai 10 juta. "Apa karena harganya?" "Terlalu mahal. Buat apa juga buang uang 10 juta demi sepatu yang ujungnya keinjek kotoran." "Mbak! Saya ambil yang ini!" teriak El pada karyawan toko yang jaraknya cukup jauh dari mereka. Karyawan itu menghampiri mereka. "Sayang, itu terlalu mahal." Ara merasa berlebihan jika beli sepatu dengan harga 10 juta. Sayang uangnya bisa buat beli yang lain. Lebih baik untuk beli perhiasan misalnya. "Belum bermilyar berarti murah," ujar El. Ara menghela napas berat. Susah kalau punya cowok kaya raya. Terlalu suka menyombongkan diri. Itulah sisi negatif punya pacar yang banyak uang sedangkan diri ini hanya wanita biasa yang kekurangan uang. "Mau ukuran apa, Pak?" tanya mbak karyawan. "39," jawab El. "Baik, tunggu sebentar ya, Pak." Karyawan pergi mengambilkan sepatu yang diinginkan pembeli. Tak lama kemudian karyawan datang dan memberi sepatu yang diinginkan pembeli. "Coba," pinta El sambil memberikan sepatu pada Ara. Ara mengambilnya dan mencobanya. Cocok, sangat pas dikakinya. "Saya ambil," ucap El pada karyawan toko. "Baik, Pak." Ara melepaskan sepatunya dan memberikannya pada mbak karyawan itu. Karyawan membawanya. El dan Ara menunggu di kasir. Setelah mengantri dan membayar mereka pun lanjut berbelanja di toko yang lain. "Mau beli tas?" tanya El. "Terserah kamu." El menggandeng Ara. "Ayo." Mereka sampai di toko tas branded. Ara dan El mencar di toko ini. Ara ke selatan dan El ke barat. Ketika sedang melihat-lihat tas, El dipergoki seseorang yang mengenalnya. Seseorang itu tidak sengaja melihat El. Sedangkan El tidak sadar ada yang memperhatikannya. Seseorang itu menghampiri El dan menepuk pundak pria itu. "Om," kaget El ketika melihat orang yang menepuk pundaknya. "Ngapain kamu di sini?" tanya Arga-Paman El. El gugup sehingga tak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Dia sangat takut pamannya tahu jika dia sedang bersama wanita lain. Dia takut pamannya akan mengadu pada orang tuanya. Matilah dia. Kenapa dia sangat sial sehingga bertemu pamannya di sini? Uh, dia dalam masalah besar. "Kenapa diam? Jawab!" gertak Arga. Pria ini memang tegas sama seperti papa El. Mereka bersaudara jadi wajar sama-sama memiliki watak keras. Selama Dirgantara tidak di Indonesia maka El jadi tanggung jawab Arga. Dia dapat amanah untuk menjaga dan mengawasi ponakannya itu. Walaupun El secara umur sudah dewasa namun pria itu tetap masih dibawah pengawasan orang tua dan pamannya. El mikir keras untuk memberikan alasan namun otaknya buntuh sehingga dia belum bisa memberikan alasan apapun. "Om udah lama curiga sama kamu. Kamu punya simpanan, kan?" tebak Arga. El menggeleng cepat. "Jangan bohong kamu! Om sudah lama ya tau, tapi Om diam aja selama ini. Kamu selingkuhkan dari Zahra!" "Gak!" bantah El. "Terus wanita itu siapa?" Arga menunjuk wanita yang sedang sibuk memilih tas. "Dia..." Arga menarik El. Dia membawa ikut bersamanya ke toilet. Sampai di toilet Arga langsung melayangkan tamparan di wajah ponakannya. PLAK! "Kamu pantas mendapatkannya!" Ucap Arga geram dengan ponakannya yang tega menyelingkuhi istrinya. "APAAN SIH OM!" El sangat marah. Pamannya itu berani sekali memukulnya. "AKU SUDAH DEWASA! OM JANGAN CAMPURI URUSANKU! URUS AJA KELUARGA OM!" PLAK! El mendapat tamparan kembali. "Sudah berani ya kamu ngomong kasar ke Om!" "Aku ini pamanmu! Dan aku tidak mau kamu bertindak bodoh! Jika orang tua kamu tahu, pegang kata-kata Om! Kamu nggak akan dapat apa-apa! Kamu itu sudah punya istri yang baik, sholehah, dan sudah punya anak! Harusnya kamu jadi suami yang baik dan ayah yang baik bukan malah main sama perempuan p*****r itu!" "OM BILANG APA TADI?! COBA BILANG SEKALI LAGI!" "Om tau wanita itu wanita malam! Jangan kira Om bodoh! Om sudah tau semuanya cuma selama ini Om diam karena memberikan kesempatan pada kamu untuk berubah. Om kira harapan Om akan terwujud ternyata Om salah, kamu masih aja sama perempuan itu!" "Dia bukan p*****r!" tekan El. "Terus apa? Dia itu wanita malam EL! Buka dong mata kamu! Kamu itu udah punya anak istri! Sekali-kali dewasa, lah jadi laki-laki! Putuskan wanita itu dan urus anak istri kamu!" "Om gak tau apa-apa! Jangan urus hidup aku!" El beranjak pergi dengan kesal. "Mau jadi apa dia, dia pikir cinta akan membuatnya senang," gumam Arga. Dia beranjak menyusul keponakannya. Ara sadar El tidak ada. Dia segera mencari kekasihnya itu. Dia menebak El ke toilet. Dia kesana dan setengah perjalanan dia bertemu dengan kekasihnya. "Sayang!" panggil Ara. El melihat kekasihnya. Dia hampiri wanita itu. "Sayang kamu darimana?" "Aku kebelet pipis, maaf udah ninggalin kamu." "Gapapa. Ayo." Ara menggandeng tangan El. Ketika mau melangkah tangan El ditarik seseorang. "Ayo pulang!" pinta Arga. Dia harus menjauhkan El dari perempuan itu. El menepis tangan pamannya. "Sayang, dia siapa?" tanya Ara. El menggenggam pergelangan tangan kekasihnya. "Ayo." Dia membawa Ara menjauh dari pamannya. Arga membiarkan El pergi. Dia malas jika harus bertengkar dengan ponakannya itu. El sungguh laki-laki yang bodoh di matanya. Laki-laki itu mau saja mencintai p*****r. Jelas-jelas sudah memiliki istri yang masya allah. Namun, malah tetap bersama seorang pezina. Ara dan El sudah di dalam mobil. Ara begitu sangat penasaran dengan sosok yang mengajak kekasihnya pulang. Melihat El yang buru-buru ingin pergi menambah rasa penasarannya. "Sayang siapa orang tadi?" tanya Ara ketika El memakaikannya sabuk pengaman. "Gak penting," jawab El. Dia menyalakan mesin mobil dan tancap gas meninggalkan mall. Ara memperhatikan El yang tampak sangat gelisah. Tidak biasanya dia lihat pria itu tidak tenang. Sampai keringatan dan kegelisahannya sangat terlihat sekali. "Sayang, kamu gapapa?" tanya Ara. "I'm fine," jawab El sambil mengelap keringatnya di pelipis. "Kamu terlihat gak baik-baik aja. Kamu sakit?" "Aku gapapa." Ara memeriksa jidat kekasihnya. "Kamu yakin gapapa?" "AKU UDAH BILANG GAPAPA!" jawab El kesal sambil menepis tangan kekasihnya. Ara kaget dengan sikap El. Dia tidak menyangka El akan berteriak padanya. El melihat wajah Ara yang tampak ketakutan. Dia meraih wajah wanita itu. "Sayang, maaf. Aku... aku nggak sengaja. Aku minta maaf sama kamu. Aku benar-benar nggak maksud nyakitin kamu." Perlahan air mata Ara menetes. "Aku takut... kamu jangan marah-marah. Aku cuma khawatir sama kamu..." "Sayang, maaf ya..." El menghapus air mata wanita itu sambil sesekali melihat kedepan, ke arah jalan. Takutnya ada kendaraan tiba-tiba. Entah dia ditabrak atau menabrak jadi dia harus tetap fokus menyetir. "Kamu tau aku punya trauma jadi tolong jangan bentak aku kaya tadi." El mengelus kepala Ara lalu mengecup puncak kepala kekasihnya itu. Iya, Ara itu punya trauma. Jadi dulu waktu ketika Ara masih jadi wanita malam. Pernah ada seorang pelanggan yang bersikap kasar dengannya. Dia dibentak-bentak, dipukuli, dan dipaksa untuk berhubungan seksual secara tidak wajar. Kejadian itu membuat Ara trauma dan itu adalah pelanggan terakhir yang Ara layani setelah dia bertemu dengan El. Sejak kenal El dia tidak pernah melayani pria manapun. El selalu membayarnya lebih dan tanpa harus dilayani. El tulus dengannya dan akhirnya dia berenti jadi wanita malam sejak El menjadi kekasihnya dan menanggung kehidupannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN