Rumit Part 13

1662 Kata
El membuka matanya. Dia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan 7 pagi. Dia segera bangun mendudukan diri. Dia melihat kekasihnya yang masih tidur nyenyak. Dia rapikan selimut wanita itu. "I love, Sayang." Dia mengecup pipi kekasihnya. Dia juga mengelus kepala wanita itu. Dia mencintai Ara. Sangat mencintainya. Dia tidak ingin kehilangan kekasihnya. Dia selalu merasa sepi ketika jauh dari perempuan yang memiliki 2 lesung pipi itu. Dan ketika berada di dekatnya dia merasa sangat happy. Selama ini dia memiliki seorang penguat yaitu Ara. Perempuan itulah tempatnya berbagi cerita. Keluh-kesah hidupnya dan segala hal apapun yang ingin dia keluarkan maka tempatnya untuk menceritakan segala permasalahannya, perasaannya, semuanya pada wanita itu. Cuman satu yang tidak bisa dia ceritakan yaitu soal pernikahannya. Jujur ada ketakutan terbesar dirinya. Dia takut Ara tahu tentang Zahra. Dia takut Ara tidak bisa menerima keadaan. Dia takut Ara pergi tak hanya sekedar pergi tapi pergi dengan mengancam nyawanya. Dia sangat bimbang suatu hari nanti semuanya terbongkar. Entah apa yang akan terjadi. Dia sadar posisinya ini salah. Dia memiliki wanita yang terikat dengannya dan dia juga memiliki seorang putra. Namun, sangat-sangat sulit untuk menerima mereka berdua. Sudah bertahun-tahun waktu berlalu tetapi tidak ada sedikitpun rasa yang berubah. Malah dia semakin membenci Zahra dan putranya setiap kali melihat mereka. Iya, dia tahu kedua orang tua itu tidaklah bersalah. Mereka hanya korban. Dan dia juga korban dari permasalahan ini. Andai kedua orang tuanya tidak memintanya menikahi Zahra. Andai orang tuanya bisa menerima jika dia mencintai Ara. Ara bukanlah orang yang terpandang. Ara juga bukan wanita karier yang hebat. Ara bahkan tidak memiliki siapapun di dunia ini. Wanita itu hidup sebatang kara. Pekerjaannya yang lalu juga bukan pekerjaan yang baik. Dia seorang wanita malam. Dia kasihan pada kekasihnya itu. Meski sekarang Ara sudah tidak lagi bekerja di sana, namun masa lalunya tetap tidak akan pernah diterima kedua orangnya. Hubungan yang tersembunyi ini sebenarnya sangat sulit untuk dijalankan. El berangsur turun dari ranjang. Dia langsung ke kamar mandi. Selesai membersihkan tubuhnya dia berpakaian santai. Dia menoleh melihat kekasihnya yang masih tidur pulas. Itulah kebiasaan Ara yang selalu bangun siang. Tidak apa-apa. Dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia benar-benar menerima apapun kekurangan kekasihnya itu. Bukankah memang seperti itulah cinta, dimana kita bisa menerima semua yang ada pada seseorang yang kita cintai. El mengemasi pakaian kotornya. Dia juga merapikan kamar yang bisa dibilang berantakan. Entah Ara tidak pernah berkemas atau memang kamar ini sulit untuk dirapikan. Di sapu, dia tata barang-barang yang berada tidak pada tempatnya, dan dia juga mengumpulkan pakaian kotor kekasihnya. Wanita itu cantik tapi susah sekali untuk bersih-bersih ruangan dan pakaiannya. Hanya wajah saja yang terus dirawat. Dasar. Setelah pakaian kotor terkumpul. El memasukkan ke keranjang pakaian, lalu membawa pakaian itu keluar kamar. Dia pergi ke ruang belakang, tempat cuci baju. Dia memasukkan semua pakaian kotor kedalam pencucian. Lalu dia tinggal. El ke dapur. Dia melihat persediaan makanan. Dia bernapas lega karena melihat isi kulkas yang banyak persediaan. Jika di rumah istrinya dia diperlakukan seperti raja maka di sini posisinya malah benar-benar seperti seorang suami. Dia menyiapkan bahan masakan. Dia memulai memotong-motong sayuran. Ketika semua bahan sudah siap dia pun mulai memasaknya. Agar tidak terasa sepi dia menyalakan musik. Sambil memasak dia pun bernyanyi. Di sini di benar-benar merasa bahagia. Dia merasa hidup dan bebas. Makanan selesai dimasak. Dia menghidangkannya di meja makan. Dia tidak setiap saat memasak seperti ini. Hanya kadang-kadang saja. Ketika dia tidak sibuk dan ketika moodnya sedang baik. Biasanya dia akan menyewa seseorang untuk datang membersihkan rumah dan mencucikan pakaian serta untuk menyediakan makanan. Makanan siap, El pun pergi ke kamar untuk membangunkan kekasihnya. Sampai di kamar dia geleng-geleng kepala melihat kekasihnya yang masih tidur padahal sudah jam 9 pagi. "Sayang, ayo bangun. Kita harus sarapan sama-sama." El mengguncang pelan pundak Ara. Ara juga tidak sadar-sadar. Perempuan itu malah memunggunginya. El mendudukan Ara. "Ayo, kamu harus bangun." Ara membuka matanya malas. "Ahhh, aku masih ngantuk..." "Kamu harus bangun." "Gak mau!" Ara merebahkan tubuhnya lagi. Dia menarik selimut dan lanjut tidur. "Dasarrr," ucap El sembari berkacak pinggang. "Harus dipaksa ini," tambahnya. El mengangkat tubuh kekasihnya. Wanita itu berteriak meminta turun tapi El tetap membawa wanita itu ke kamar mandi. "Sayang, ini masih terlalu pagi," rintih Ara. "Justru mandi pagi itu sehat." El meletakkan tubuh kekasihnya di bathtub. Dia nyalakan keran. Air mulai menyentuh tubuh kekasihnya itu. "Ahh, dingin..." keluh Ara sambil mencubit lengan kekar El. "Ups maaf, aku salah pencet." El menutup keran air dingin dan membuka keran air hangat. "Ayo mandi bareng," ajak Ara. "Aku sudah mandi. Aku tunggu kamu di meja makan. Hari ini aku membuat sarapan kesukaan kamu." El mau beranjak pergi tapi Ara menahan tangannya. "Temani aku mandi. Jangan kemana-mana," pinta Ara. "Baiklah, tapi awas mandinya lama." "Siap, Bos!" El sandaran di tembok sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya yang sependek lutut. Dia setia menunggu kekasihnya. Ara membuka bajunya. Dia mandi busa. Dia menggosok-gosok badannya sambil melirik kekasihnya. Dia menggoda pria itu agar panas melihatnya. "Aku nggak akan terpancing," ucap El. "Aku akan ke sana." Ara mau keluar dari bathtub. "Jangan, tetap di sana. Jangan kemana-mana. Kalau nggak nurut aku akan keluar." Ara cemberut. Dia merasa kesal. "Mandilah dengan cepat, aku sudah sangat lapar." "Iyaaa bawellll." Ara selesai mandi. El memakaikannya handuk kimono. Ah, pria itu sweet sekali. Dia semakin cinta saja. Dia tidak salah jatuh ke pria itu. El pria yang sempurnah. Tampan, tinggi, berotot, suaranya bagus, hidungnya mancung, bibirnya seksi, matanya indah, rambutnya keren, hatinya baik, dan sikapnya sangat romantis dan dewasa. Semua hal dia suka dari pria itu. Cuman kurang satu El belum juga menikahinya. "Nanti kalau kita sudah menjadi suami istri kamu akan tetap romantiskan sama aku?" tanya Ara. "Iyaa," jawab El. "Kamu nggak akan berubah, kan?" "Iyaa." "Kamu tetap sweet kan, ke aku?" "Iyaa." "Iya terus jawabnya." El memencet hidung wanita itu. "Aku akan tetap sama. Kamu nggak usah khawatir." Senyum Ara mengembang. "Senang?" Ara mengangguk. Dia meraih kedua tangan El. "Janji ya?" "Iyaa." El tersenyum. Senyum Ara mengembang lagi. "Makasih." Ara mencium pipi El lalu pergi duluan. Senyum El memudar. Raut wajahnya berubah muram. "Sayang! Sini cepat!" teriak Ara. El segera keluar. "Sini," pinta Ara yang duduk di kursi hias. El menghampiri kekasihnya. "Keringkan rambut aku ya," pinta Ara. "Oke." El mengambil pengering rambut dan mulai memlngeringkan rambut kekasihnya itu. Ara tersenyum senang. Dia diperlakukan seperti ratu oleh kekasihnya. Hal kecil seperti ini benar-benar membuat kesan yang sangat bahagia untuknya. El memperlakukannya dengan sangat baik. Mereka hanya kurang status pernikahan aja. Kalau sudah menikah mereka mungkin masuk kategori pasangan suami-istri yang paling bahagia. "Coba aja kita sudah menikah," ucap Ara. "Tidak ada yang spesial dari pernikahan," ujar El. "Kamu salah. Pernikahan itu sangat istimewa. Kita bisa punya anak, kita bisa selalu bareng-bareng. Kita benar-benar punya ikatan yang sangat kuat. Kita menjadi keluarga kecil yang bahagia." "Di luar sana yang menikah tidak selalu bahagia. Banyak masalah yang terjadi setelah menikah. Akhirnya mereka berpisah. Kamu mau kita berakhir seperti itu?" Ara mengalihkan posisinya menghadap El. "Kamu kenapa sih? Kayanya nggak suka banget sama pernikahan. Katanya kamu janji akan menikahi aku. Tapi kenapa kamu seolah nggak mau kita menikah?" El mencubit kedua pipi kekasihnya. "Dengar ya, pernikahan itu nggak seasik yang kamu pikirkan, Sayang. Percaya sama aku, pernikahan itu hanya akan buat masalah. Pasti selalu ada aja bahan pertengkaran. Apa-apa diributkan. Aku nggak mau kalau nanti kita nikah tiba-tiba hubungan kita yang bahagia ini jadi rusak." "Ah kamu kok mikirnya gitu. Kamu kaya pernah ngalamin aja. Emang kamu tau kalau orang yang sudah punya ikatan pernikahan akan selalu bertengkar soal masalah sepele?" El jadi gugup. "A-aku jelas taulah, karena papah mamah sering sekali bertengkar. Sejak aku kecil selalu ada aja yang mereka ributkan. Padahal masalahnya nggak seberapa. Maka dari itu aku ragu untuk menikah karena aku nggak mau kita berantem lalu pisah hanya karena masalah kecil." "Gak semua orang yang menikah itu akan seperti mamah papah kamu. Banyak juga kok yang bahagis setelah menikah. Apa jangan-jangan kamu ngomong gini gara-gara nggak mau nikahin aku? Jadi yang tadi malam itu kamu janji nikahin aku cuma untuk meluluhkan aku agar aku mau melayani kamu? Iya begitu?" Ara memasang raut wajah kesal. Dia menatap nanar kekasihnya. "Enggaklah, Sayang. Kamu jangan mikir yang aneh begitu." El memeluk Ara. "Aku pasti menikahi kamu. Beri aku waktu ya." "Awas kalau kamu bohong." "Aku nggak bohong. Aku janji akan menikahi kamu." "Aku tunggu lamarannya." El mengangkat kedua sudut bibirnya. *** "Makan yang banyak, udah ini kita jalan-jalan ya," ajak El. "Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Ara. "Habiskan dulu aja makanan kamu nanti aku kasih tau." Ara cepat menghabiskan sarapannya. Ketika selesai dia mencuci piringnya dan mencuci piring El juga. Dia juga merapikan meja makan dan menyimpan makanan sisa di kedalam kulkas. "Jadi kita akan kemana?" tanya Ara sambil duduk di samping kekasihnya setelah dia selesai mengemasi makanan. "Aku akan ajak kamu shoping, nonton, dan makan malam di restoran. Mau, kan?" "Serius?" El mengangguk. "Yeehhh." Ara memeluk El. Dia sudah lama sekali tidak pergi jalan keluar bersama El. Terakhir kali 2 bulan lalu. Dia tidak sabar untuk segera berangkat. "Kita berangkat jam berapa?" tanyanya. "Bentar lagi. Kamu sebaiknya siap-siap." "Oke, aku siap-siap. Makasih Sayang sudah mau luangkan waktu buat aku." Ara mencium bibir El. El tersenyum lebar. "Dah." Ara beranjak ke kamar untuk berganti pakain bagus. Dia akan pergi jalan bareng pacar hari ini. Rasanya senang sekali. El berdiri. Dia membuatkan Ara s**u. Setelah s**u jadi dia mencampurkan sesuatu kedalam gelas s**u itu. Lalu dia ke kamar mengantarkan s**u yang dia buat untuk kekasihnya. "Sayang, aku buatkan s**u untuk kamu." El masuk kedalam kamar. Ara menghampiri kekasihnya. Dia meraih s**u yang El berikan. Dia meneguknya sampai tetesan terakhir. "Enak, makasih Sayang." El tersenyum lega. Dengan Ara meminum s**u itu maka obat yang tercampur di dalamnya akan bereaksi. Obat itu bulan racun tapi ramuan pencegah kehamilan. Dia memang sudah siap sedia. Ramuan itu selalu dia berikan pada Ara secara diam-diam. Dia tidak ingin hubungan mereka jadi kacau hanya karena kehadiran seorang anak yang tidak diinginkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN