Bab 5: kebenaran di atas selembar kertas

1107 Kata
"Aku menggendongnya setiap hari. Tapi selembar kertas mengatakan... aku orang asing baginya.” --- Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Dina duduk di sudut kamar, memandangi ponselnya yang menunjukkan satu email masuk dari laboratorium. Sementara dari luar kamar, suara langkah kaki suaminya terdengar. Abiyan Reza masuk dengan senyum lega. “Sayang… hasil DNA Arga sudah keluar.” Dina menahan napas. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya. Abiyan Reza duduk di sampingnya. “Buka bareng, ya?” Dina hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia merasa gemetar hebat. --- Beberapa menit kemudian, hasil tes terbuka di layar laptop. > Nama Anak: Arga Pradipta Ayah Biologis: Abiyan Reza (99,9% cocok) Ibu Biologis: Data tidak tersedia Dina mematung. Abiyan Reza memeluknya erat, bahagia. “Sayang… lihat, dia memang benar-benar darah dagingku! Kita nggak perlu khawatir lagi.” Dina tak bisa berkata apa-apa. Air matanya menetes diam-diam di balik pelukan itu. Baginya, justru hasil tes itu seperti pisau yang menancap di dadanya. > Anak itu... anak siapa? Malamnya Abiyan Reza sudah terlelap, sementara Arga Pradipta tertidur di pelukannya. Dina tetap terjaga. Perlahan ia buka ulang file hasil DNA di laptop. Matanya menatap lama bagian nama: > Abiyan Reza (99,9% cocok). Tangannya gemetar saat menyentuh layar. > Kalau Arga anak biologis suamiku… siapa ibunya? Nama yang selama ini berusaha ia kubur muncul begitu saja. Dini. > Apa mungkin...? Dina menangis dalam diam. Ia memeluk Arga erat, seolah takut dunia merebut anak itu darinya. > “Meski darah kita berbeda... kamu tetap anakku, Nak. Sampai mati.” --- Esok Paginya Hari-hari Dina berubah. Ia jadi pendiam. Sering termenung. Jauh dari senyum yang dulu selalu merekah. Abiyan Reza mulai curiga. “Sayang, kamu kenapa? Ada yang kamu sembunyikan?” tanyanya lembut. Dina menggeleng. “Enggak.” “Din… aku ini suamimu. Kamu bisa cerita apapun.” Tapi Dina hanya diam. > Kalau aku bilang Arga bukan anakku… apa dia akan meminggalkanku? Dalam diam, Dina menangis di balik punggung suaminya, setiap malamnya. Malam itu, Dina membuka file data pasien bersalin di rumah sakit tempat ia keguguran dua tahun lalu. Tangannya bergetar saat menelusuri daftar nama. Lalu ia berhenti. Satu nama yang tak pernah ia duga muncul di sana. Dini Permata. Nama yang seharusnya tak berada di hari yang sama dengannya. Dina jatuh terduduk di lantai. > Kamu... kenapa di hari itu, Din? Apakah?? ? ? Terbesit dalam fikirannya "Apa mungkin Dini datang diam-diam ke rumahku? " Apa yang di inginkan nya? Aku harus ke rumah sakit juga menemui ayah. " "Pagi sayang, , " Kata Reza kemudian dia datang sambil mencium pipi Dina. "Pagi juga, Oh ya sebelum penerbangan aku ingin bertemu dengan ayah. "Katanya meminta ijin. " Baiklah aku ijinkan, tapi jangan sampai penerbangan kita nanti telat." "Sepertinya tidak akan semuanya telah ku siapkan. " Dina mengantarkan Reza ke depan pintu rumah. Ia membawakan tas suaminya. Namun dari kejauhan terlihat pergerakan seseorang yang tengah mengamatinya.Dina sadar akan hal itu, itu pasti Dini. "Selamat jalan jalan suamiku. " Kata Dina sambil mencium lembut pipi suaminya. Ia sengaja melakukannya untuk memancing reaksi Dini. "Terimakasih Istriku. " Ucapnya lembut sambil berlalu. Reza merasa bahagia, sebab malam- malam sebelumnya ia merasa Dina begitu dingin dan membantu. Dina tersenyum "Rupanya ada yang ingin bermain-main denganku" _ "Ayah,, , ternyata sesuai dengan apa yang ku duga. " Tiba-tiba Dina datang dengan expresi mengejutkan. "Ada apa anak Ayah datang-datang heboh sekali tanpa permisi. " Kata pak gunawan menyambutnya, tidak lupa kaca mata andalan ia kenakan. "Dini ayah,, , , " "Apakah dia datang ke rumah mu lagi"._ " Maksud Ayah sejak kapan? Pasti dini pernah berkunjung kesini, Bahkan mungkin sering?. " Beragam pertanyaan ber loncatan dari mulutnya. "Tidak nak hanya satu kali menemui ayah, anak menyebalkan itu tiba-tiba minta hak waris. " "Lalu? " "Tentu tak sepeserpu aku beri, " "Kenapa? bukankah dia juga sama ank ayah". " Tidak nak, hanya kamu anak Ayah satu-satunya.Dini,, bukanlah anak Ayh. "Pak gunawan menghela nafas,ruang d**a nya terasa sesak di penuhi rahasia yang selama ini ia pendam sendiri. Puluh tahun pak gunawan menguburnya menyimpan rapat kisah lamanya. Tapi pada hari ini ia mungkin harus memberi tahunya. " Dini adiku kan yah?sekian lama aku merindukannya dan ingin bertemu. Tapi sepertinya dia datang mengacau yah. "Ini kisah yang rumit nak, seharusnya kamu tak tahu masalah ini. " "Tapi yah aku tidaak mengerti kenapa dia mbenciku. Pada hari yang sama Dini melahirkan di rumah sakit yang sama juga. Aku takut yah,, anak yang ku rawat adalah anak nya. Dan hasil hubungan gelap dengan Reza. " Sejenak pak Gunawan merenung, masalah yang di hadapi anak nya ia takut kejadian ini terulang kembali seperti kedua orangtuanya. "Ayah tidak yakin Reza berbuat demikian. Kecuali Dini menyusup dan berperan sepertimu. Sepintas orang akan sulit membedakan mana dirimu dan adimu. Katakan nak terakhir kapan datang ke rumahmu? " byar,,, , , , entah itu seperti letusan gunung berapi entah bom atom yang meluluh lantahkan hatinya. "kerumahku yah?selama 20 tahun ini pernah bertemu dengannya." Dina terbengong mendengarnya. "Gawat kalau begitu Kamu harus berhati-hati jika saja dini menyusup ke rumah mu. Dan ia berganti peran dengan mu. ",, , ,, Takut, kecewa dan hancur hati Dina mendengar kata-kata ayahnya.Ia bingung dari mana ia harus menatanya kembali jika benar kehidupannya di ambil alih Dini. Saat Dini datang kesini ia datang penuh amarah. Amarah yang ia pendam sejak puluhan tahun. Ia datang tanpa permisi jauh dari kata sopan santun. " Ayah keluar lah! jangan terus menyayangi Dina aku juga punya hak atas apa yang di miliki Dina. ". "Apa maksudmu kau datang lantas marah-marah dasar tidak punya etika. ",, , " Dengar ayah! seandainya waktu itu ayah tidak menyuruh pergi dengan ibuku. Mungkin nasibku tidak seburuk ini.Dina ayah sekolahkan tinggi sedangkan aku mengenakan seragam putih abu-abu pun tak pernah. " Pak gunawan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Dina. "Kamu tidak tahu apa-apa waktu itu. Dan asalkan kamu tahu aku bukan,, , , ayah,, , mu. " _"Tidak mungkin wajah kita serupa mana mungkin aku bukan anakmu? " "Tanya ibumu apakah sejak kecil mukamu sama, dan pernah kamu membaca akta kelahiran mu. " Dini tidak percaya dengan perkataan ayahnya. Mata hatinya telah di tutupi hawa nafsu dan emosi. "Baiklah jika ayah tidak maau mengakui ku, aku rebut semua yang jadi miliku"Kata Dini berlalu tanpa menoleh lagi ke arah nya lagi. Dina menutup mulutnya, tangisnya pecah rasa takutnya menjalar ke seluruh tubuhnya. Takut akan kehilangan suami juga anaknya."Astagfirullah ayah lihat ini". Ada story ig Reza" Terbang bersama keluarga".Banyak komenan di anak. "Semoga kalian bahagia di rumah baru di sana. " "Dina terlihat berbeda tapi tetap cantik. " jeb!! ! Seperti busur panah yang melesat ke jantung pak gunawan.Saat melihat Dini bersama Reza juga Arga cucunya. "Kapan wanita licik itu datang,?? "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN