Suasana tampak lengang di gedung tempat biasanya Lord Robbespierre mengadakan pertemuan antar penyihir. Belum lama ini dia sengaja memanggil seluruh penyihir mutan yang memiliki kedudukan penting untuk membicarakan masalah yang sering mengganggu benaknya. Selama ini Lord Robbespierre tahu segala sesuatu yang bersangkutan dengan Axeline. Namun, dia belum mau mengambil tindakan apapun untuk mencegah terjadinya pelanggaran peraturan seperti dulu. Di dalam kepananya, sekelebatan bayangan akan masa lalu mulai mengganggu lagi. Sebagian kecil hatinya mengatakan bahwa dia telah jahat mengkhianati Patricia dan memilih musuh untuk dijadikan pendamping.
Lord Robbespierre memang sangat mencintai mendiang istrinya. Tak lain halnya dengan perasaan yang dipendam untuk orang lain. Nama Patricia tetap berada di urutan teratas, walaupun bisa dikatakan porsi rasa itu seama adil. Benaknya bertanya-tanya, mengapa dia tidak menggunakan kedudukannya sebagai seorang pemimpin untuk menghapus peraturan tersebut?
“Tidak,” bisiknya meyakinkan dirinya sendiri, menjawab segala pertanyaan yang terlempar begitu saja dalam rongga kepalanya. “Seorang pemimpin yang adil tidak boleh melakukan itu.”
Peraturan yang lebih rumit, lebih dari rumit ketimbang jatuh cinta pada musuh. Itu masih bisa ditolerir jika sang musuh memilih mengkhianati kelompoknya demi hidup dengan kelompok lain, seperti yang dilakukan oleh Audrey. Namun akibat pengkhianatan itu pun, harga yang harus dibayar Audrey sama rata. Yakni mati di bawah eksekusi kelompok yang dikhianatinya.
Di sisi lain, Lord Robbespierre ingin tahu seberapa besar perjuangan pemuda yang mencintai dan dicintai oleh putrinya. Dia bertanya-tanya, apakah pemuda itu mampu melewati segala tantangan dan berhasil mendapatkan putrinya. Sebab di dasar hatinya, dia berharap tak ada lagi kejadian yang terulang seperti dulu. Di samping itu, Lord Robbespierre tidak mau anak semata wayangnya ikut diadili lantaran melanggar peraturan yang telah terukir di dalam undang-undang penyihir itu.
Ketika Lord Robbespierre membalikkan badan, muncul beberapa orang dengan langkah seirama memasuki ruangan rapat. Semuanya telah memosisikan diri di kursi masing-masing, menunggu dimulainya rapat malam itu. Melenggang meninggalkan jendela, Lord Robbespierre duduk di kursinya, memimpin berjalannya rapat seperti biasa.
“Nah, kita mulai rapat ini dengan satu pokok permasalahan,” ujar Lord Robbespierre seraya bertopang dagu. “Destroyers mulai berani menampakkan diri di depan publik dan membahayakan eksistensi seluruh penyihir. Terlebih lagi… mengancam nyawa Axeline.”
“Kenapa anak tidak berguna itu selalu menyusahkan,” celetuk sebuah suara, datangnya tak lain dari Patricia. “Anak itu tidak membahayakan mereka. Kekuatannya nol.”
Wanita di sebelahnya, Jacqueline, menyikut pelan siku Patricia sambil menggerakkan bibirnya membentuk kalimat ‘jaga bicaramu’.
“Bahaya atau tidaknya, Axeline adalah aset kita yang ditakuti oleh Exterminators. Jika kita melatihnya dengan baik, dia bisa sangat berguna,” balas Lord Robbespierre, mencoba menenangkan nadanya meskipun dia sangat tidak suka mendengar kalimat Patricia. “Lagipula dia putriku dan aku berkewajiban untuk melindunginya.”
Patricia membuang muka mendengar balasan itu. Terjadi kesenyapan sejena di antara mereka, sampai akhirnya Lord Robbespierre berdehem dan meneruskan kembali ucapannya.
“Aku akan memperkenalkan kalian pada sekutu baru kita,” ujarnya pelan. Pertanyaan berkelebatan tengah peserta rapat, menimbulkan bunyi bisikan gaduh dan saling bertukar pandang.
Jari Lord Robbespierre dijentik satu kali. Dari arah pintu masuk, muncullah seorang anak laki-laki yang sontak menghebohkan ruang rapat.
“Dia musuh!” seru salah seorang dari mereka.
“Tenanglah. Sekarang dia ada di pihak kita.” Lord Robbespierre mengulum senyum misterius yang masih dibalas peserta rapat lainnya dengan gumaman bingung. Dia menoleh ke arah pemuda tersebut, sambil tak menghilangkan senyum yang merekah di bibirnya. “Zach, silakan bergabung di sini.”
Dan silakan coba pisahkan Justin dengan Axeline, tambahnya dalam hati, sengaja ditujukan pada Zach agar dia bisa membacanya. Menanggapi pikiran Lord Robbespierre yang dilempar hanya untuknya, Zach menghela napas pendek.
***
Axeline’s POV
Ini sekian kalinya aku berhasil mengembangkan kemampuanku. Berkat bantuan Alvero yang dengan sabar membimbingku sekaligus mengantarkanku pada beberapa penyihir yang dikenalnya. Sekarang sekitar sepuluh kemampuan yang telah berhasil kucuri tanpa sepengetahuan mereka.
“Alvero, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku di tengah perjalanan untuk pulang.
Alvero membalas pandanganku melalui kaca spion. “Tentu saja, Young lady.”
“Menurutmu, apakah ibuku baik?”
Alvero terkekeh pelan mendengar pertanyaanku. Kupastikan tidak ada yang lucu dari pertanyaanku, well, tapi dia benar-benar terkekeh. Aku mencibir kesal.
“Mengapa Anda bertanya seperti itu? Tentu saja mendiang ibu Anda sangat baik.”
“Aku hanya takut. Dia berasal dari kelompok musuh.”
“Jika dia tidak cukup baik, dia tidak akan mengkhianati kelompoknya dan berkorban demi Anda.” Tampak senyum kecil dari bibir Alvero. “Lady Audrey adalah wanita paling baik yang pernah saya temui. Dia senang membantu orang lain, membantu membangun perlindungan di tempat persembunyian peri, dan masih banyak kebaikan yang tak bisa diukur begitu saja.” Dahi Alvero berkerut tipis seolah tengah memikirkan sesuatu. “Malam itu pasukan destroyers mengepung kediaman Lord Robbespierre. Terjadi kerusuhan yang menyebabkan kehancuran di mana-mana. Mengetahui situasi yang pelik, Lord Robbespierre menitipkan Anda pada Dorothy dan wanita itu membawa Anda pergi tanpa sepengetahuan musuh. Akibat kerusuhan yang tak terduga itu, Lord Robbespierre yang disibukkan dengan pertarungannya harus dipisahkan dengan istrinya. Lady Audrey dibawa oleh Lord Goldsher. Dan yang saya tahu, dia dieksekusi mati.”
Aku menggigit bibir mendengar cerita itu. Perasaan bersalah dan rindu menghantam kuat di dadaku, meskipun aku belum pernah melihat bagaimana potretnya secara langsung.
“Jangan bersedih, Young lady. Lady Audrey pasti melihat keberadaan wajah sedih itu.”
Aku hanya tersenyum kecut. Kualihkan pandangan ke luar jendela, memandang padang rumput luas yang dilewati mobil ini. Padang rumput menjulang tinggi, warna hijaunya terkontaminasi oleh tumpukan salju putih di sana-sini. Belum-belum saat kubuka jendela mobil, bisa kurasakan bau kedamaian dari aroma bentang alam sekitarku. Aku jadi merindukan Bibi Dorothy. Rumahnya terletak di bentang alam pedesaan. Setiap pagi aku bisa mencium bau embun segar yang menetes di deaunan. Tak hanya ada danau kecil dan ayunan, Bibi Dorothy memiliki peternakan kuda. Biasanya aku yang memberi makan kuda-kuda. Menunggang adalah aktifitas rutinku di sana. Kini semua itu hanya ada dalam kenanganku.
Tapi, kalau aku pergi ke sana suatu saat tanpa sepengetahuan Dad, bisa saja kan? Dan, tentunya ditemani oleh Justin. Mmm…
Ini tidak seperti biasanya Dad pulag sesiang ini. Di pekarangan, dia tengah meminum kopi bersama seseorang. Menurut para pelayan di sini, rumah ini kedatangan tamu yang belum mereka kenal. Tampaknya dari gerak-gerik mereka di kejauhan, mereka membicarakan sesuatu yang serius.
Baru beberapa langkah mendekat, jantungku mendadak seolah berhenti berdetak. Keningku berkerut heran menyadari tamu yang menemani Dad saat ini.
“Ah, My dear. Kau sudah datang rupanya,” ujar Dad seraya menaruh cangkirnya. “Baru saja kami bicara empat mata.”
Kulangkahkan kakiku lebih mendekati meja. Tatapan Zach tampak seperti biasa, sangat ramah dan teduh dengan senyuman manis.
“Bagaimana bisa…” Aku menunjuk Zach yang memandangku tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Dad beranjak dari kursinya, lantas mendekat dan mendekapku untuk ikut bergabung. Aku masih bertanya-tanya, mana mungkin musuh diundang masuk ke dalam rumah ini seperti mengundang kelinci dan memberinya makan. Walaupun Zach sangat baik, Dad paling tidak bisa menolerir sesuatu yang dianggapnya salah.
“Beberapa hari yang lalu Zach hampir mati dieksekusi,” kata Dad mulai menjelaskan. “Dia harus kehilangan ibunya, namun berhasil melarikan diri dari tempat eksekusi.”
Aku mengerjapkan mataku mendengar kenyataan itu. Ya ampun, aku jadi merasa bersalah atas kejadian itu. Zach berkhianat untuk melindungiku.
“Jadi, Dad memberi dia kesempatan masuk,” lanjut Dad.
Kupandang Zach sekali lagi, tapi dia tetap tidak mau membuka mulut untuk bicara padaku. Dahiku berkerut keheranan. Sepertinya aku mencium bau sesuatu yang janggal. Mana mungkin dengan mudahnya Dad menerima seseorang yang dianggapnya musuh, seperti membawa masuk kucing liar dan memeliharanya dengan tulus. Karena tidak mau terlalu mempermasalahkan itu dulu, aku hanya memberikan balasan dengan senyum simpul.
Justin’s POV
“Malam tahun baru besok kau harus pergi ke rumah Bibi Charlotte.”
Aku mengangkat kepala mendengar ucapan Mom secara tiba-tiba. Dia masuk ke dalam ruang santai, menyandarkan jaketnya pada tiang, sebelum akhirnya duduk bersebelahan denganku.
“Kenapa Mom memutuskannya sebilah pihak?” sinisku seraya mengernyit tidak suka. “Aku—”
“Kali ini tidak ada bantahan, Justin.” Mom memijit dahinya sebentar, tanpa mengalihkan pandangan ke arahku seolah dia enggan menatapku saat ini. “Bibi Charlotte sangat merindukanmu. Dan nanti malam, kau harus berangkat ke New Hampshire.”
Aku mendesah frustrasi. Mana mungkin aku pergi ke New Hampshire dan menghabiskan malam tahun baru di sana tanpa Axeline? Ini pasti sebagian dari renana Mom. Yakinlah, dia dan Lord Robbespierre pasti bersekutu untuk menjauhkan aku dengan Axeline. Kuhempaskan buku yang tengah k****a tadi, sangat kasar lantaran kekesalan mengalir dalam darahku.
“Aku tidak bisa.”
“Kau berani membantah. Sudah berkali-kali aku mencoba menyelamatkanmu dari hukuman. Kuminta untuk menghabiskan malam tahun baru bersama bibimu saja kau tidak mau?” Suara Mom mendadak meninggi penuh amarah.
“Alright!” Aku beranjak berdiri dari sofa sambil memberikan tatapan kesal. “Aku akan pergi ke New Hampshire.”
Tanpa menunggu balasannya, kuhentakkan kaki gusar, pergi dari ruang santai menghindari suasana panas seperti tadi. Mungkin kali ini kuturuti saja perintahnya. Lagipula aku berhutang banyak nyawa padanya. Selama ini yang kulakukan hanya menyusahkan, membuat kekacauan, melanggar peraturan, dan lainnya sampai mengancam Mom dihukum oleh Dewan Keamanan Penyihir. Walau di sisi lain, aku masih mengerang kesal tidak bisa menepati janjiku pada Axeline.
Axeline memang tidak keberatan jika aku membatalkan acara kami di malam tahun baru. Memang dia tidak keberatan—malah menceramahiku bermacam-macam kalau aku harus menuruti perintah ibuku—tapi tetap saja ini tidak adil.
“Kita masih punya banyak hari, kan? Tenang saja, kapan-kapan bisa pergi lagi,” ujarnya di dalam telepon.
Aku mendesah pelan. “Malam ini aku akan berangkat ke New Hampshire.”
“Tenang saja, aku pasti baik-baik saja di sini.”
“Tapi pengawasanmu bisa saja longgar.”
“Tidak kok. Ada Zach yang menjagaku di sini. Dad yang memintanya.”
“Tunggu. Apa?” Aku menaikkan nadaku tiga oktaf mendengar nama Zach disebut. Bagaimana mungkin Zach yang notabenenya seorang Exterminators sekaligus destroyer justru mendapatkan wewenang oleh Lord Robbespierre untuk melindunginya?! Apakah pria itu berubah menjadi orang t***l?!
“Rileks. Dia ada di pihak kita.”
“But he’s a destroyer, Axel!” seruku lebih lantang, mendekati geraman marah. “Dia bisa saja membunuhmu kapan pun dengan leluasa!”
Bisa kudengar suara helaan napas pendek dalam telepon. Sementara itu, aku menahan sedikit amarah yang mendadak mengalir deras dalam darahku. Tentu saja bagiku, keberadaan Zach bisa mengancam nyawanya. Meski dia pernah menolong kami, tidak mengurangi kemungkinan terburuknya kalau saja dia bisa menjadi ular yang berbisa.
“I believe him. Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Awalnya aku juga bingung dan bertanya-tanya bagaimana mungkin Dad dengan mudahnya menerima Zach, bahkan menyuruhnya mengawasiku. Jika Dad saja bisa lunak dan percaya, maka mengapa aku tidak?”
“Terserahlah. Tapi ingat, jika dia berani menyentuhmu sedikit saja, akan kupatahkan lehernya.” Kuberikan penekanan pada tiap nada di sana, tak peduli bagaimana Axeline menanggapi nada kebencian itu. Bahkan aku meremas jinsku menahan kesal.
“Jangan khawatir. Kau harus cepat bersiap untuk pergi ke New Hampshire.”
Axeline yang memutuskan sambungan lebih dulu. Lagi-lagi aku mengerang kesal mengingat lagi ucapannya, bahwa Zach ada di dekatnya untuk melindungi. Apa maksudnya Lord Robbespierre melakukan itu?! Rupa-rupanya dia ingin sekali memisahkan jarak antara aku dengan putrinya, bahkan memasrahkan nyawa putrinya berada di tangan seorang destroyer. Jika dibiarkan seperti itu, bisa-bisa keberadaan Zach mengancam banyak hal. Tak hanya keselamatan Axeline, bahkan hatinya juga.
Axeline’s POV
Ini pertama kalinya aku pergi berdua bersama seorang destroyer. Dan juga pertama kalinya kami saling bercandaan satu sama lain. Suasana di kota tengah ramai. Pasalnya, beberapa orang sibuk mempersiapkan acara besar penyambutan tahun baru yang digelar besok malam. Awalnya aku dan Justin memiliki janji untuk menghabiskan waktu bersama, melihat kembang api, dan mengucapkan permohonan masing-masing. Ya, dia menganggapnya sebagai waktu pengganti yang dihancurkan Liam dan lainnya.
Tapi aku tidak mungkin membuatnya menentang perintah ibunya sendiri. Kubiarkan dia pergi ke New Hampshire sesuai perintah ibunya, sedangkan aku tetap di sini. Entahlah, mungkin malam tahun baru akan kuhabiskan dengan duduk bengong di rumah.
“Wow, aku jadi tidak sabar melihat perayaan orang-orang di Los Angeles,” kata Zach saat kami berjalan di sepanjang lampion yang digantungkan oleh warga Los Angeles sebagai perayaan penyambutan malam tahun baru. Dia mengalihkan pandangannya ke arahku. “Sepertinya kau kesal karena tidak bisa ditemani Justin?”
Aku tertawa pelan mendengarnya. “Tidak. Justru aku akan terlihat sangat jahat membuat Justin tak mengindahkan perintah ibunya.” Aku menghela napas pendek.
Kami saling berdiaman lagi. Aku menengadah melihat awan mendung yang menyembunyikan pendaran bintang di atas sana. Kugosokkan telapak tanganku karena mulai merasa kedinginan. Padahal mantel ini sudah sangat tebal, belum lagi beanie dan syal yang kupakai. Lagi-lagi udara dingin menyergap tubuhku. Angin malam yang membawanya sampai di tempat aku berjalan, hingga secara tiba-tiba aku bersin.
“Kau pasti kedinginan,” kata Zach sambil tertawa pelan. “Kemarikan tanganmu.”
“Untuk apa?”
“Berikan saja.”
Aku mengindahkan perintahnya. Kuulurkan kedua tanganku yang terbungkus sarung tangan ke depan.
“Sarung tanganmu basah, pantas saja kau kedinginan,” lanjutnya, lantas melepas sarung tanganku. Aku meraih sarung tangan itu dan memasukkannya ke dalam saku mantel. Hm, benar saja. Mungkin akibat salju yang tadi jatuh dan merembes, sehingga sarung tangan yang kukenakan menjadi dingin dan lembab.
Zach kembali meraih kedua tanganku, menggenggamnya lembut. Aku menaikkan sebelah alis merasakan kehangatan yang tiba-tiba saja muncul seperti sulap. Senyum lebar terulas dari bibirku menyadari bahwa dia yang menghangatkan tanganku dengan sedikit kemampuannya.
“Jadi, bagaimana kau bisa membuatnya hangat?” tanyaku penasaran.
“Lampion-lampion di sekitar kita, aku mencuri kehangatan dari sana dan memberikannya padamu.”
Tawa berkumandang dariku diikuti oleh Zach. Aku mendengar sekelebat pikiran dan melihat semua hal yang ada di kepala Zach. Bayangan tentang kematian ibunya di ruang eksekusi paling jelas dan diputar berulang-ulang. Aku yakin dia sangat sedih atas kepergian ibunya.
“Dia pasti sudah senang bisa dipertemukan ibuku,” kataku pelan yang kontan membuat Zach memalingkah perhatiannya padaku.
“Lebih tepatnya, juga dipertemukan oleh ayahku.” Zach menyeringai lebar. “Sekarang tinggal aku yang hidup sebatang kara.”
Ada raut wajah kesedihan yang tampak di sana, meskipun dia berusaha keras menutupi kepedihan itu. Bahkan sekarang pikirannya diblokir sehingga aku tidak bisa melihat atau membaca pikirannya. Bagaimana dia bisa melakukan itu?
“Kenapa kau memblokir pikiranmu? Biarkan aku melihat dan merasakan apa yang kaurasakan,” kataku lagi. “Bukankah kita ada di posisi yang sama? Kehilangan orang yang kita cintai.”
“Kami dibekali ilmu untuk melakukan pemblokiran pikiran. Aku hanya tidak mau terbuai dalam kenangan mengerikan yang pernah terjadi dalam hidupku.” Dia mengubah ekspresinya menjadi lebih ceria. “Untuk saat ini, jangan mengingat kesedihan, bisa? Kita pergi untuk bersenang-senang, kan?”
Aku mengerucutkan bibir miring. “Oke.”
Kami lanjutkan lagi perjalanan, dengan tangan Zach yang masih menggandengku, begitu erat seolah tak ingin melepasnya sedetik pun. Aku hanya meliriknya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mungkin dia hanya berniat untuk membantuku agar tidak kedinginan.
“Axel," sapanya lagi yang membuatku mengalihkan pandanganku padanya.
“Hm?”
“Kalau kau bersahabat dengan seorang musuh sekaligus orang yang pernah berniat mencelakakanmu, apakah itu mengganggu?”
Aku tertawa pelan. Kupikirkan sejenak ucapannya. kalimat seperti itu mengandung arti bahwa dia benar-benar ingin menjadi sahabatku. Secara tidak langsung. “Tentu saja tidak. Mulai sekarang, kau sahabatku.”
“Sungguh?” Ditampilkannya ekspresi ragu.
“Ya ampun, sungguh. Ini buktinya.” Aku berhenti diikuti olehnya. Kuulurkan jari kelingkngku di depannya. “Nah, ini tanda bahwa aku sungguh-sungguh dengan perkataanku. Kaitkan saja kelingkingmu.”
Mengindahkan ucapanku, Zach mengaitkan jari kelingkingnya dengan jariku. Lantas kami berdua saling bertukar senyuman lebar. Beberapa detik selanjutnya, aku bersin lagi. Duh, sudah kukatakan kalau aku membenci musim dingin.
“Ayo pulang, daripada kau sakit dan merepotkan banyak orang,” gurau Zach sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku menanggapi gurauannya dengan pukulan pelan. Kemudian kami melanjutkan langkah kami hendak pulang sambil saling melemparkan cemoohan.
***
Justin’s POV
Baru saja aku sampai, menginjakkan kakiku di atas lantai rumah bergaya ala mediteranian, sebuah suara sopran melengking dari dalam menyebut namaku.
“Justin! Ah sayangku, aku merindukanmu!”
Seorang wanita bertubuh gemuk muncul menyambut kedatanganku. Tangannya terentang seolah menunggu balasanku untuk memeluknya. Dengan senyum setengah paksa, aku merentangkan tanganku dan menyambut pelukannya. Wanita besar yang tak lain adalah Bibi Charlotte memeluk tubuhku begitu kuat, hampir seperti meremukkan tulang-tulangku sampai membuatku memekik tertahan. Aku bahkan nyaris tak bisa bernapas dalam pelukannya.
“Senang rasanya kau mau datang kemari!” serunya masih histeris. “Bibi sudah membuatkan makanan kesukaanmu! Ayo masuk!”
Bisakah dia berbicara tanpa meninggikan nadanya setengah oktaf tiap kalimat? Ya begitulah bibiku. Dia tak pernah mau merendahkan nadanya ketika berbicara dengan orang, seolah lawan bicaranya adalah penderita tuli.
Bibi Charlotte membawaku masuk ke dalam rumah. Bau lilac menyeruak masuk ke dalam indera penciumanku. Rumah Bibi Charlotte memang sangat luas dan tertata rapi. Dia adik ibuku, tentu saja dia adalah seorang penyihir.
Setiap perjalanan menuju ke dalam, Bibi Charlotte tak henti-hentinya bercerita. Mulai dari bunga petunia yang baru diberi pupuk, sampai kucing-kucingnya yang beranak. Aku memutar bola mata jengah mendengar cerita-cerita tak pentingnya.
“Hai, Bibi. Aku kehilangan sebelah antingku.”
Seseorang mengagetkanku. Kedua alisku tertaut penuh tanda tanya melihat keberadaan seorang gadis berambut coklat terang tengah menunduk mencari-cari sesuatu. Setahuku, Bibi Charlotte tinggal sendirian.
“Nanti Bibi bantu cari ya,” balas Bibi Charlotte seraya mendekati gadis itu.
Sontak, gadis tadi mengangkat kepalanya dan menumbukkan pandangan heran ke arahku. Kepalanya terteleng ke satu sisi dengan menilik penampilanku dari ke atas hingga ke bawah.
“Siapa dia?” tanyanya.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu,” sinisku.
“Kasar sekali kau.” Dahinya berkerut tidak suka.
Bibir Charlotte menarik napas dalam-dalam sebelum membalas. “Justin, ini Hillary. Hillary, ini Justin.”
Kami berdua saling bertukar pandang sebentar sampai akhirnya Hillary merekahkan senyuman lebar. “Oh! Jadi ini Justin putra sulung Bibi Patricia? Wow, kelihatan berandal sekali dia.”
Jariku teracung tepat di depan wajahnya. “Jaga ucapanmu.”
“Like I care?”
Makhluk macam apa dia? Bukannya minta maaf, dia justru membuang muka tidak sopan. Kurasa dia tidak ada hubungan dengan Bibi Charlotte, maupun keluargaku. Selama ini juga aku belum pernah bertemu dengannya.
“Kalian harus akur di sini, oke?” Bibi Charlotte menyibakkan rambutnya. “Justin, Hillary ini adalah anak temanku. Sudah setahun dia tinggal di sini setelah keluarganya tewas dalam kebakaran.”
“Oh,” balasku singkat.
“Hillary, bantu aku membawakan kopor Justin dan kau bisa mencari antingmu setelah ini.”
“Baiklah,” Hillary menjawab setengah hati seraya menyambar satu koporku.
Tanpa banyak bicara lagi, Bibi Charlotte dan Hillary berjalan menaiki tangga. Di lantai atas ada sebuah kamar, kalau sesuai dengan ingatanku adalah kamar yang sering digunakan Mom ketika menginap di sini.
Tatanan ruangan rumah ini tak berubah sedikit pun. Hanya saja lukisan-lukisan yang dipajang sedikit bertambah. Hillary menaruh koporku begitu kasar sampai membuatku terpekik kaget.
“Hati-hati, Bodoh!” makiku kesal.
“Sama-sama.” Dia tersenyum lebih lebar seperti mencemooh. Aku mendengus melihat tingkahnya seperti itu. Kurasa dia lebih menyebalkan dan sangat mengganggu daripada Axeline waktu pertama kami bertemu.
Dibukanya pintu kamarku, lantas Bibi Charlotte menarik napas dalam-dalam mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar ini. “Kalau kau butuh bantuan, bisa panggil Hllary yang letak kamarnya bersebelahan denganmu.”
“Apa?” ulangku seolah ada yang dengan sengaja membuatku tulis sebentar.
“Ya, gudang di sebelah kamarmu sudah beralih fungsi jadi kamar Hillary. Jadi, kalau kau butuh sesuatu kau bisa meminta bantuannya. Ya, kan sayang?” Bibi Charlotte menoleh ke belakang dan dibalas Hillary dengan desahan frustrasi.
“Ya.” Lagi-lagi dia membalasnya dengan setengah hati.
Sungguh, rasanya aku ingin secepatnya melewati sisa liburanku di sini dan segera pergi. Bisa-bisa aku mati berdiri jika kelamaan berada di sini, bersama wanita gemuk yang hobinya berteriak histeris dan makhluk aneh bernama Hillary.