Axeline’s POV
Memang ini kesalahanku yang dengan lancangnya mengatakan kalimat seperti itu. Belum pernah aku membantah orang yang lebih tua, apalagi di depan ayahku sendiri. Tapi aku sudah muak dengan segala peraturan bahwa sesama penyihir mutan dilarang jatuh cinta. Siapa yang membuat peraturan bodoh seperti itu?
“Kali ini aku akan memaafkanmu,” tukas Dad setelah menghilangkan kontak matanya dariku. Dia berjalan menjauh, membelakangiku untuk memandang foto Mom dalam bingkai besar. “Tapi aku tidak akan memberikan kesempatan lagi jika kau tetap membangkang. Apa kata dunia kalau tahu kau mencoba melanggar aturan yang sudah dibuat sejak zaman Frederick Cavren, My dear.”
Keheningan menyergap di antara kami sebab aku tidak mau membalas ucapannya. Takut-takut kalau ada kesalahan fatal lagi dalam balasanku.
“Kau boleh tidur sekarang,” lanjutnya.
Masih dalam keadaan membisu, aku melenggang pergi menuju kamarku. Bahkan ketika aku menghilang di balik tembok, Dad masih memandangi foto itu tanpa membalas pandanganku.
Libur seperti ini kugunakan untuk mengembangkan kemampuanku. Berkali-kali Alvero melatihku di pekarangan belakang. Dia mencoba-coba untuk mengajariku bagaimana caranya agar aku bisa mencuri kemampuan penyihir lain. Alvero bisa diandalkan untuk mengasah kemampuan penyihir. Meskipun dia hanya bisa membaca pikiran melalui kontan fisik, dia dipercaya mampu melatih penyihir pemula untuk pengembangan bakat mereka.
Beberapa pelayan di sini adalah Mutant Wizards, jadi tiga orang dari mereka menjadi bahan percobaan, termasuk di antaranya Cecille. Ketiga penyihir itu tidak memiliki kemampuan komplek. Meskipun begitu, mereka bisa membantuku sedikit.
Dari ketiga pelayan itu, aku hanya bisa mencuri kemampuan Cecille. Selama beberapa jam ini Alvero memberikan instruksi padaku, bagaimana caranya mencuri setiap kemampuan mereka. Payahnya, hanya satu saja yang berhasil kudapatkan. Cecille adalah detektor kemampuan lain. Dia bisa melihat kemampuan seperti apa yang dimiliki oleh penyihir lainnya. Setidaknya dengan kemampuannya, aku bisa tahu segala jenis kemampuan penyihir di dekatku sehingga tidak menyulitkanku ketika mencurinya.
“Baiklah, latihan hari ini selesai,” kata Alvero memberikan senyuman simpul. “Anda belajar sangat cepat, Young lady.”
Hanya seringaian yang kuberikan sebagai balasan. Sangat cepat apanya? Aku hanya bisa mencuri satu kemampuan dalam waktu empat jam. Kata Dad, kalau aku berhasil mencuri sebanyak mungkin kemampuan penyihir lain, dia akan membawaku ke tempat di mana terdapat Mutant Wizards lainnya sehingga aku bisa mengambil seluruh kemampuan penyihir yang akan diperkenalkan padaku.
***
Justin’s POV
Sejak kutampar, Jazmyn tidak bersedia bicara padaku, walaupun tiap kali kami berpapasan. Ketika Mom pulang, sebisa mungkin dia bersikap wajar, namun tetap tidak menegurku sama sekali. Ini pertama kalinya Mom memanggilku untuk bicara empat mata. Bisa kutebak apa yang akan dikatakannya kali ini. Kalau tidak masalah Axeline, pasti Jazmyn.
“Aku sangat kecewa. Aku membesarkanmu untuk menjadi orang yang berguna, kenapa kau selalu mengecewakanku, Justin?” tanya Mom sambil menuangkan tiga sendok penuh gula ke dalam cangkir tehnya.
Meskipun aku mendengarkan, tidak kuberikan respon lainnya kecuali suara jari-jariku yang terketuk di atas meja. Mom memandangku lekat, menunggu jawabanku. Pada akhirnya, aku menghela napas panjang dan membalas tatapan itu.
“Sudah kubilang kalau aku ingin menghapus peraturan t***l itu, kan?” balasku sarkastis. “Dan tidak akan ada yang bisa menghalangiku untuk menghilangkan segala peraturan bodoh, menghambat jalan orang yang saling jatuh cinta.”
Ucapanku tadi dibalas Mom dengan tawa sarkastis yang pendek. Dia meletakkan cangkir tehnya sebelum memandangku sangat tajam. “Cinta sejati itu tidak ada. Kau banyak menelan omong kosong dari buku-buku cerita.”
Aku mengernyit tidak suka. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu? “Terserahlah.”
Mungkin ini tidak sopan, tapi aku hanya ingin menghindari situasi yang memanas. Kulenggangkan kaki menjauhi ruang santai, mengabaikan tatapan fluktuatif Mom di sofa itu. Aku tahu, dia tak akan pernah berhenti sampai aku menyatakan mundur. Tapi mereka yang berpikiran sama sepertinya, tidak tahu seberapa besar keinginanku untuk menghapus peraturan t***l itu. Walau harus ada pertumpahan darah sekalipun.
Awalnya aku tidak ingin menanggapi omong kosong Wendy dalam telepon, andai saja dia tidak mengancam untuk bunuh diri jika aku tidak mengangkat teleponnya. Kubiarkan dia berkoar-koar dalam telepon tanpa membalas sedikit pun. Inilah jadinya kalau aku belum sempat meminta Alli untuk menghapus sebagian ingatannya tentang segala hal yang kujanjikan pada gadis jalang ini. Dia terus-menerus menggangguku.
“Sudah?” tanyaku malas saat dia mengambil jeda dengan menarik napas panjang.
“Ah ada satu lagi! Bagaimana harimu bersama… eww.. Axeline Robbespierre itu? Dia masih selamat di tangan Liam? Haha pasti kekacauannya sangat parah. Sepertinya Liam sangat berambisi untuk membunuhnya, tiap berbicara tentang gadis itu, dia tak bisa mengendalikan nada berangnya.”
Sudut bibirku terangkat mendengar kalimat itu. Bagaimana bisa dia tahu Liam mengacaukan hari natal malam lalu? “Dari mana kau tahu Liam mengacaukan hariku bersama Axeline?” Kucoba meredakan nada geramanku dari sana.
“Dia sendiri yang memintaku untuk bertanya padamu. Ya kuberitahu saja kalau kau dan Axeline pergi ke festival natal itu.”
Brengsek, ternyata gadis jalang ini yang memberitahu Liam keberadaanku?! Aku bahkan menampar Jazmyn, menuduhnya sesuatu yang bahkan tidak dilakukannya. “Apa-apaan kau, Jalang?!”
“Itu kasar sekali.”
“Kau hampir membunuh kami!”
“Memangnya apa yang dilakukan Liam pada kalian? Paling-paling hanya…”
Segera kuputuskan sambungan telepon, melempar ponselku ke atas ranjang. Sial! Gadis itu memang perlu diberi sedikit pelajaran. Lancang sekali dia memberitahu Liam. Aku ingat detik-detik sebelum pergi ke festival itu, Wendy memang sempat meneleponku dan memaksaku untuk pergi ke rumahnya. Tapi aku memberitahunya bahwa aku dan Axeline akan pergi ke festival. Mana kutahu gadis sialan itu justru memberitahukannya pada Liam. Sekarang, aku benar-benar merasa bersalah telah menuduh dan menampar Jazmyn. Aku memang kelewatan.
Sebaiknya aku meminta maaf padanya. Tapi, apakah dia bersedia memaafkanku setelah kutampar dan kumaki sedemikian rupa? Jazmyn paling susah memaafkan orang lain, meskipun itu adalah kakaknya sendiri.
Aku melihat Jazmyn tengah duduk di teras sambil menikmati panekuk dan secangkir coklat panas. Sekilas dia menoleh ke arahku sebelum membuang muka. Yang kulakukan saat itu memang keterlaluan. Aku sudah menuduhnya, padahal belum mendengarkan penjelasan darinya.
“Aku minta maaf,” kataku akhirnya.
Permintaan maafku dibalas dengan senyum miringnya. “Jadi, sudah tahu kalau bukan aku yang melakukan itu?” Dia bahkan tidak mau membalas pandanganku. Diseruputnya coklat panas itu perlahan, tanpa mengalihkan perhatian dari rintik hujan di depannya.
“Maaf, aku terbawa emosi.”
Terjadi keheningan di antara kami. Hanya ada bunyi rintik hujan yang menetes membasahi bumi, meninggalkan sebagian bau tanah dan hawa dingin yang seolah membakar kulit.
“Asal kautahu saja. Meskipun aku tidak menyukai Axeline dan sikap kurang ajarmu, aku masih punya hati. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu, yang kutahu akan membahayakan nyawa kalian.” Dan dia memalingkan pandangan menuju ke arahku. “Cobalah sekali-kali berpikiran baik padaku.” Lantas melenggang begitu saja meninggalkan aku yang berdiri terpaku.
Ucapannya baru saja seperti menekan makna, bahwa selama ini aku memang keterlaluan pada adikku.
***
Axeline’s POV
Terdengar ketukan dari kaca jendelaku hingga membuatku terperanjat kaget. Suara ketukan itu semakin terdengar keras. Aku beranjak dari ranjang—padahal baru saja berniat untuk tidur siang—dan melangkah menuju jendela. Lagi-lagi Justin berusaha menyusup kemari. Dia mengetuk kaca jendelaku; bibirnya bergerak membentuk kalimat ‘buka pintunya’. Secepatnya kubuka jendela kamarku sebelum para ajudan melihatnya di sini.
“Apa yang kaulakukan?” tanyaku setengah berbisik.
“Ingin meluangkan hari libur bersamamu.” Dia menyeringai lebar.
Ya ampun, tidakkah dia kapok? Baru beberapa hari yang lalu dia hampir mendapatkan hukuman. Sekarang mencoba-coba untuk melanggar peraturan lagi. Tapi aku juga tidak mau pasif di dalam rumah. Aku juga membutuhkan sedikit udara luar. Nah, kurasa ini kesempatan yang bagus. Dad tidak ada di rumah; dia memiliki janji untuk rapat di luar kota sampai besok sore.
Justin mengulurkan tangan menungguku balasanku. Sampai akhirnya kuraih tangannya, lantas mengikutinya keluar. Kami melihat keadaan di bawah balkon dulu, memastikan apakah ada ajudan yang berlalu-lalang. Ada dua ajudan berjalan di bawah balkon. Tinggal menunggu beberapa menit saja sampai Justin membantuku turun ke bawah.
Setelah dirasa cukup aman, kami bergegas meninggalkan rumah. Seperti biasanya, harus melewati pagar beton baru bisa keluar dari sini. Kepalaku bergerak menoleh ke belakang, merasa ada yang mengawasi kami. Namun tidak ada apa-apa kecuali pekarangan luas yang sepi.
Tempat persembunyian bangsa peri adalah tempat biasa Justin mengajakku. Tak hanya dia, terkadang fighters lainnya pergi kemari untuk membantu para peri membuat pagar perlindungan. Sungguh pemandangan di depanku begitu indah. Beberapa peri yang terbang di sekitar kami tampak saling bercandaan satu sama lain, menimbulkan bunyi tidak jelas, melesat melewatiku dengan serbuk peri yang berterbangan. Makhluk indah seperti itu mengapa harus diburu untuk keabadian seorang penyihir?
Bukit ini memiliki tebing yang curam. Bila ada hujan turun, bisa saja orang yang lewat terpeleset dan masuk ke dalamnya. Aku bergidik sendiri membayangkan jika terpeleset dan masuk ke jurang.
“You can fly like a bird. Free to go wherever you want,” ujarnya seraya mendekapku, memandang lurus ke depan; pohon-pohon berbaris rapi tampak kehijauan di depan kami, kelihatan kecil dan rimbun. “Di luar sana, banyak hal-hal indah yang mungkin belum kauketahui.”
“Seperti apa misalnya?” aku menatapnya penasaran.
Justin mengulurkan sebelah tangannya yang bebas, menunjuk ke arah bentangan alam yang kehijauan itu. “Taj Mahal. Bangunan yang dibangun oleh Kaisar Shah Jahan sebagai bukti cintanya pada istri ketiganya yang meninggal usai melahirkan Gauhara Begum.” Ujung bibirnya ditarik ke atas membentuk senyuman indah. “Lalu menara Eiffel sebagai jantung kehidupan Paris.” Jarinya kembali bergerak menunjuk potongan awan yang berarak bak parade kecil. “Dan juga surga.”
Otomatis aku mengalihkan pandangan ke arahnya. “Bagaimana bentuk surga itu?”
Dia membalas tatapanku teduh. “Coba lihat mataku. Apa yang kau lihat dari sana?”
Manik mataku beradu pandang dengan mata hazelnya. Tak ada yang lain kecuali bayanganku yang terpantul dari dua lensa mata itu. “Entahlah. Pantulan bayanganku?”
“Itulah surga bagiku.”
Aku menyunggingkan senyuman mendengarnya. Sayup-sayup kudengar suara nyanyian peri itu lagi, walaupun seperti biasa, aku tidak memahami apa yang mereka maksud. Sesungguhnya aku penasaran, ingin rasanya mendengar nyanyian peri di malam hari. Seindah apa yang dikatakan Justin tempo lalu.
“Apa kau tahu mengapa sesama penyihir mutan dilarang saling jatuh cinta?” tanyaku sambil menengadah memandangnya.
Menautkan kedua alisnya, Justin menatapku keheranan. “Kau sungguh ingin tahu?”
Aku mengangguk.
“Well,” Justin mengambil napas sejenak sebelum mulai bercerita. “Dulu, pada masa pemerintahan Frederick Cavren, terjadi pertarungan antar sahabat. Salah seorang penyihir mutan bernama Arthur O’Claff jatuh cinta pada putri Frederick Cavren, Young lady Rosemary Cavren. Mereka berdua saling jatuh cinta, akan tetapi menimbulkan kecemburuan bagi penyihir mutan lainnya, sahabat Arthur, Oliver Turner. Kecemburuan membutakan mata hati Oliver sehingga berusaha keras untuk membunuh Arthur. Terjadi pertumpahan darah antar sahabat yang otomatis menyebabkan kerusuhan di dalam kelompok. Tidak ada yang menang di antara mereka berdua. Keduanya terbunuh. Mendengar informasi bahwa kekasihnya tewas, Rosemary menusuk jantungnya sendiri dengan sebilah pisau miliknya. Sejak saat itulah Lord Cavren melarang siapapun penyihir mutan untuk saling jatuh cinta. Dia benar-benar terpukul atas tewasnya Rosemary.”
Aku menggigit bibir mendengar cerita itu. Terbayang dengan jelas cerita yang diantar oleh Justin seolah aku adalah Rosemary. Jika aku adalah Rosemary, aku pasti terpukul mendengar berita itu. Dan, aku tidak mau membayangkan Justin seperti Arthur. Aku tidak bisa kehilangan dia.
“Cinta memang membutakan mata hati manusia,” celetukku tiba-tiba.
“Kau takut?”
Aku menaikkan sebelah alisku tidak mengerti. “Takut? Takut apa?”
“Takut mengambil resiko.” Justin berhenti sebentar, mengalihkan pandangan dariku. Lantas, ditumbukkan tatapannya pada sekelompok burung yang terbang melintasi cakrawala. “Aku akan mempertaruhkan apapun demi menghapus peraturan t***l itu.”
Keberaniannya bisa saja membahayakan nyawanya sendiri. Bisa kubayangkan apa yang akan dilakukan oleh Dad jika hal itu sampai terjadi. Tapi, aku tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang peraturan. Sudah kubilang kalau aku paling anti mentaati peraturan dalam bentuk apapun. Tapi mengambil resiko itu…
“Tidak,” balasku mengenyahkan segala ketakutan yang ada di benakku. “Aku tidak takut. Romeo rela meminum racun demi Juliet, sama halnya dengan Juliet yang menusukkan belati pada jantungnya sendiri demi Romeo. Mengapa aku tidak bisa seberani mereka?”
Terdengar tawa pelan di sebelahku. Justin menggeleng-gelengkan kepalanya seakan mencemooh. Karena tidak suka dengan balasan itu, aku mengerucutkan bibir kesal.
“Terlalu dramatis,” ujarnya. Lantas diraihnya aku ke dalam pelukannya.
Andai saja hal seperti ini berlangsung selamanya. Tapi, bisakah? Bisakah dia menghapus peraturan itu? Jika dia tetap bersikeras untuk menghapus peraturan itu, artinya harus ada pertumpahan darah. Entah itu di dalam kelompok, maupun di luar kelompok.
Matahari mulai terbenam di balik cakrawala, meninggalkan jejak berwarna oranye pucat dengan arak-arakan burung yang berterbangan mencari jalan pulang. Waktu berlalu begitu cepat. Tapi sungguh, aku tidak mau waktu terlewati begitu saja.
***
Zach’s POV
Brengsek. Mereka berhasil mengendus bau rencana yang akan kulakukan bersama ibuku. Melindungi musuh dianggap sebagai pengkhianatan terburuk di lingkungan kami. Karena ulahku memisahkan diri dari destroyers, mereka harus menyeret ibuku juga, untuk diadili.
Tanganku diseret oleh dua orang ajudan menuju ruang pengadilan. Di sana akan diadakan eksekusi besar-besaran atas tuduhan pengkhianatan itu. Tentu saja hukumannya lebih mengerikan dari hukuman pancung. Mereka akan membunuh orang yang berkhianat. Eksekusi itu lebih kejam daripada seratus kali cambukan sekali pun. Lebih kejam dari hukuman guillotine.
Aku berusaha meminta belas kasihan pada Lord Goldsher. Namun pria kejam itu tidak main-main dengan hukumannya. Pernah sekali, seseorang yang bahkan sangat dekat dengannya juga mendapatkan hukuman seperti ini. Siapa lagi kalau bukan ibu Axeline, Audrey Goldsher. Peperangan yang pecah beberapa tahun lalu berhasil membuat para ajudan menangkap Audrey, kemudian dieksekusi secara ramai. Seperti itulah yang kudengar dari ibuku.
“Kuberikan kau kesempatan hidup, tapi kau menyia-nyiakan kesempatan itu,” tukas Lord Goldsher dingin. “Dan kau, Zach.” Jari telunjuknya teracung ke arahku. “Kau adalah salah satu destroyer yang kubanggakan. Di antara saudara destroyersmu yang lain, kau paling cerdas. Mengapa kau berkhianat?!”
Terdengar desisan di antara perkumpulan destroyers yang saling berjejer. Aku yakin datangnya dari Liam. Dia begitu dengki dengan semua pujian dan kepercayaan Lord Goldsher padaku selama ini. Mungkin sekarang dia berseru kegirangan karena aku akan mati dieksekusi.
“Lebih baik aku mati daripada hidup bersama sekumpulan penyihir picik seperti kalian,” sinis Mom sambil meludah tepat di wajah Lord Goldsher.
Aku memejamkan mata sejenak. Yang kudengar hanya suara gemuruh penyihir lainnya yang menghadiri eksekusi ini.
“Dulu aku pernah mengeksekusi adikku sendiri. Untuk orang macam kalian, tentunya aku tidak akan memberi toleransi.”
Saat kubuka mataku, Lord Goldsher memberi kode pada seorang penyihir berjubah gelap, dengan tudung lebar yang menutupi wajahnya sampai batas hidung. Hanya bibirnya yang mengulaskan senyuman miring terlihat di depan mataku kini. Jantungku berdebaran melihat Mom diseret oleh dua ajudan, melemparnya di bawah kaki penyihir berjubah lebar itu. Cahaya gelap berpusar dari kedua telapak tangan penyihir berjubah itu. Aku menggeleng-gelengkan kepala, ingin rasanya berontak dari pegangan kedua ajudan yang mencengkeramku.
“Jangan!” seruku lantang.
Namun cahaya hitam pekat itu terlanjur terlempar ke arah Mom. Yang terakhir kalinya kulihat adalah senyuman penuh arti dari bibir Mom yang pucat. Dalam sekejap saja tubuhnya hancur, meninggalkan abu di atas lantai porselen. Aku terkesiap, seolah-olah semua yang kuhadapi saat ini hanyalah salah satu fantasiku.
Kini giliran aku yang diseret menghadap penyihir berjubah hitam itu. Napasku terengah-engah dan keringat mulai bercucuran membasahi tubuhku. Aku menengadah melihat penyihir berjubah itu kembali membuat sebuah cahaya hitam pekat melalui dua telapak tangannya. Kuedarkan tatapan ke seantero ruangan ini, mendapati barisan obor yang memang dipasang di beberapa tiang sebagai alat penerangan. Sebelum cahaya hitam pekat tersebut menghancurkanku, segera kukendalikan api-api dari obor itu. Hal itu membuat penyihir berjubah di depanku mengalihkan perhatiannya.
Dengan sekuat tenaga akhir yang tersisa, kubuat api-api dari obor itu bergerak, terjalin menjadi satu, meluncur sesuai gerakan tanganku. Terdengar gemuruh kerumunan orang di ruangan ini. Api-api itu melesat, menjilat-jilat seperti ular, bersiap membakar apapun yang dilewatinya. Di tengah keributan dan kebakaran yang kutimbulkan, segera kugunakan sebagian api itu untuk membuatku pergi dari sini.
Lamat-lamat aku berdiri dari atas lantai, memandang lekat Lord Goldsher yang menggeram kesal sambil berusaha menghalau api yang berniat membakarnya. Lantas dalam hitungan detik, sebagian api itu menyelimutiku. Dan aku menghilang detik itu juga.