“Orang yang namanya Elov itu harusnya bisa menolong kita kan?” tanya Zachira.
“Entahlah, aku gak tau,” jawab Hanna yang tengah memakai kaos kakinya. Dia hendak bersiap untuk datang menemui Elov membicarakan kesepakatan mereka. “Lagian dia mau bersepakat denganku karena ada keuntungan untuk dia. Lah kalau dia nolong kamu, apa keuntungan yang dia dapet hm? Aku rasa tidak ada.”
Zachira menghembuskan napas dengan sangat kasar.
“Tapi gak ada salahnya mencoba, kamu ikut denganku bertemu dengan Elov dan ayo kita coba bicara pada dia. Siapa tau dia mau menolong kan?”
“Walau aku gak yakin karena memang gak ada keuntungan juga untuk dia kalau nolongin aku, tapi ya sudahlah. Gak ada salahnya coba dulu, setidaknya kita sudah berusaha.”
Hanna mengangguk, dia lalu beranjak dari posisinya begitu juga dengan Zachira. Mereka lalu keluar dari rumah kontrakan dan berjalan pergi hendak ke Desmond Company.
30 menit kemudian.
Hanna dan Zachira keluar dari mobil taksi yang sudah mereka pesan online sebelumnya. Mereka lalu berdiri di depan perusahaan.
“Wuaahh ... ini sih lebih besar dari Neason, Kak.”
“Gak penting mau besar atau kecil. Yang penting kita keluar dari masalah! Ayo ....” ajak Hanna, dia lalu kembali melangkahkan kaki lagi dan masuk. Lalu berjalan ke arah resepsionis.
“Saya sudah membuat janji dengan Bapak Elov, dia ada di ruangannya?” tanya Hanna.
“Mbaknya, Mbak Hanna?” tanyanya.
Hanna mengangguk.
“Pak Elov sudah ada di ruangan dan menunggu anda. Mari, saya antar ke ruangannya,” ucapnya lagi.
“Gak usah, Mbak, saya bisa sendiri,” ucap Hanna tersenyum ramah.
“Baik kalau begitu.”
Hanna dan Zachira lalu kembali melangkahkan kaki lagi dan berjalan ke arah lift.
Hingga tak berselang lama kemudian, lift dimana mereka berada itu akhirnya terbuka dan mereka segera keluar dari sana. Hanna kembali melangkahkan kaki lagi hendak ke ruangan Elov. Walau baru sekali dia masuk ke ruangan Elov, namun dia masih mengingat dengan jelas dimana ruangan itu berada.
Tok tok tok.
“Masuk,” ucap seorang pria dari dalam.
Hanna memegang handle pintu, dia mendorong pintu perlahan dan menyembulkan kepalanya.
“Masuk,” ucap Elov.
Hanna tersenyum, dia dan Zachira masuk dan berjalan ke arah meja kerja yang berada di tengah ruangan.
Elov mengernyitkan dahi saat melihat Hanna yang tak datang sendirian, tetapi bersama dengan seorang wanita yang berada di belakangnya.
Mata Zachira terus menatap Elov, dia terpana dengan ketampanan pria berusia 27 tahun itu. ‘Bisa-bisanya kemarin Kak Hanna mikir dulu untuk nikah sama dia. Kalau aku jadi dia, tanpa berpikir panjang pasti sudah langsung aku terima tawarannya. Dia punya wajah yang sempurna!’ batin Zachira.
“Ini adikku,” ucap Hanna setelah terduduk di kursi yang berhadapan dengan Elov. Zachira juga sudah terduduk di sampingnya.
“Aaahh ....” Elov mengangguk. “Oke, kemarin kamu sudah menyetujui kesepakatan kita, jadi sekarang mari kita bahas apa saja—“
“Tunggu sebentar,” sela Hanna memotong ucapan Elov.
“Sekarang apa lagi? Mau meminta syarat lagi?” tanya Elov.
“Enggak, bukan itu,” ucap Hanna.
“Terus?”
“Sebelum kita membahas kesepakatan kita, aku mau minta tolong sama kamu.”
Elov yang mendengar Hanna berucap itu mengernyitkan dahi.
Hanna menatap Elov dengan sangat serius. Sedangkan Zachira, dia menundukkan kepala seraya menggigit bibir bawahnya setelah Hanna mengatakan tujuannya ikut ke Desmond. Tangannya juga memainkan kain roknya tak tenang, berharap pria di hadapannya bisa membantunya.
“Minta tolong apa?” tanya Elov.
“Adikku ... kemarin ... dia juga membuat kesepakatan dengan Alexi,” ucap Hanna.
Elov mengerutkan alis. “Membuat kesepakatan dengan Alexi?” tanya Elov.
Hanna mengangguk. “Kamu ingat saat kamu pikir aku ini mengataimu lalu setelah itu keluar dari mobilmu, itu aku bukan mengatai kamu tapi Alexi dan saat itu aku langsung menghampiri dia. Saat bicara dengan dia, dia menawarkan kesepakatan denganku. Aku harus mau menikah dengan dia dan dia akan memberikan aku beberapa persen saham perusahaan, tapi aku langsung menolaknya detik juga. Ternyata itu tidak membuat Alexi menyerah, dia malah menemui adikku dan membuat kesepakatan dengan adikku ini.”
Hanna menoleh menatap Zachira yang terduduk di sampingnya, mereka saling beradu pandang. “Dan bodohnya lagi adikku ini malah menyanggupi kesepakatan itu tanpa bicara dulu padaku! Dia bahkan sampai langsung menandatangani kontrak kesepakatan mereka.”
“Aku langsung mengiyakan kesepakatan itu karena aku pikir aku dan kakakku akan mendapatkan banyak keuntungan,” ucap Zachira menatap Elov, “Aku juga berpikir kalau aku bisa menjadi musuh dalam selimut.”
“Tapi Alexi tidak sebodoh itu!” sahut Hanna cepat. “Alasan lain karena kamu tidak mau terus hidup susah seperti ini! Jadi kamu melakukan apapun tanpa pikir panjang yang penting hidupmu enak!”
“Kenapa kamu terus menyalahkan aku huh? Semua ini juga terjadi karena kamu! Jika saja kamu tidak berhubungan dengan laki-laki b******k itu, Mama dan Papa pasti masih hidup dan kita tidak mungkin hidup sengsara kayak begini!” ucap Hanna.
“Sekarang kamu malah menyalahkan aku?
“Ya karena faktanya juga kan memang seperti itu! Ini semua terjadi karena kamu!” jawab Zachira tidak mau disalahkan.
“Sudah! Kenapa kalian malah bertengkar! Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar perdebatan kalian!” Elov bersuara menghentikan perdebatan.
Hanna dan Zachira duduk bersandar dengan kedua tangan yang merapat di bawah d**a terlipat.
Zachira menatap Elov, sebuah ide tiba-tiba saja terlintas di pikiran Zachira saat menatap Elov. Dia lalu menoleh menatap Hanna.
“Kak?”
“Apa!” jawab Hanna ketus.
“Bukankah kamu merasa kalau dirimu ini pintar dan aku ini bodoh, bagaimana kalau kita bertukar posisi saja? Itung-itung menebus kesalahan yang sudah kamu lakukan karena sudah memasukan si Alexi ke kehidupan kita.”
“Tukar posisi? Maksudnya?” Hanna menatap Zachira dengan sangat serius. Begitu juga dengan Elov, pandangannya juga kini melihat ke arah Zachira.
“Kamu kan selalu merasa pintar, jadi bagaimana kalau kita bertukar kesepakatan. Kamu ambil kesepakatan menikah dengan si Alexi dan aku menikah dengan Pak Elov.”
“Apa?” Elov dan Hanna sontak langsung menatap Zachira dengan tatapan kaget.
“Iya, bertukar posisi,” ucap Zachira lagi, “Bukannya dulu kamu sangat mencintai si Alexi itu kan? Dulu sempat ingin menikah dengan dia juga kan? Jadi ya sudah kalian menikah aja ... belum lagi kamu selalu merasa dirimu ini pintar bukan? Aku rasa nanti kamu akan lebih pintar menghadapi si Alexi itu dibandingkan aku yang bodoh ini!”
“Tidak! Aku tidak sudi menikah dengan dia!” jawab Hanna cepat. “Dulu aku memang mencintai dia, tapi tidak dengan sekarang! Lagipula kamu yang membuat kesalahan, kenapa aku yang harus menanggung?”
“Karena kamu yang membuat kesalahan dengan memasukkan si Alexi sialan itu ke keluarga kita! Sekarang yang menanggung akibatnya siapa huh? Aku, Mama dan Papa!”
Hanna menatap Zachira dengan tatapan kesal. “Kamu—“
“Sudah! Cukup!” sela Elov memotong lagi. “Sudah aku bilang jangan berdebat!” Elov lalu menatap Zachira, “Tentang idemu yang bertukar posisi. Aku ....”
Bersambung