"Tentang idemu yang ingin bertukar posisi. Aku minta maaf, aku tidak mau," ucap Elov menanggapi ide Zachira yang bertukar sepakat dengan kakaknya. "Dari awal aku membuat kesepakatan dengan Hanna, kakakmu. Jadi wanita yang akan aku nikahi itu dia, bukan kamu dan itu tidak bisa diganggu gugat!"
Zachira yang mendengar Elov berucap itu mengerucutkan bibirnya. Padahal dia berharap sekali bisa bertukar posisi agar dia bisa bersuamikan Elov yang terbilang pria sempurna.
Elov lalu kembali bersuara, "Lagipula kesalahan itu kamu lakukan secara sadar bukan? kamu sudah tau Alexi bukan orang yang baik tapi masih tetap melakukan kesepakatan itu. Sedangkan Hanna, dia memang melakukan kesalahan, tapi dia tidak tahu kalau Alexi adalah orang yang jahat. Kalau saja dia tau pria itu b******k, jelas dia tidak akan jatuh hati pada pria itu."
Hanna yang mendengar Elov membelanya itu tersenyum. Sedangkan Zachira, kini dia terlihat sangat kesal.
"Oke! Terus bagaimana denganku? Apa jalan keluarnya? Aku juga tidak mau menikah dengan si Alexi! Beri aku solusi!" ucap Zachira.
"Apa keuntungan yang aku dapat jika membantumu hm?" tanya Elov, "Aku membuat kesepakatan dengan kakakmu karena mempunyai tujuan dan punya misi yang sama-sama menguntungkan. Dan aku rasa kamu juga akan menikmatinya nanti. Lalu jika sekarang aku membantumu, apa yang aku dapatkan? Aku rasa tidak ada."
Zachira dan Hanna saling beradu pandang, lalu kembali menatap Elov lagi.
"Tapi aku butuh bantuanmu. Aku juga tidak mungkin membiarkan adikku menikah dengan pria b******k seperti Alexi," ucap Hanna.
"Kalau adikmu belum menandatangani kontrak, aku pasti bisa membantu kalian. Masalahnya dia sudah menandatangani kontrak. Itu akan sangat sulit, Alexi bisa saja menuntut banyak untuk membatalkan kontrak itu. Membatalkan kontrak yang sudah ditandatangani tidak semudah itu!"
Zachira dan Hanna diam tak menjawab lagi karena yang Elov katakan benar juga.
"Maaf, aku tidak bisa membantu karena kesepakatan kalian sudah ditandatangani," ucap Elov.
Zachira mengerucutkan bibirnya semakin kesal.
"Tapi … tadi kamu mengatakan tujuanmu menikah dengan dia karena ingin menjadi musuh dalam selimut bukan? Kalau begitu lakukan saja itu untukku," Elov kembali menatap Zachira lagi.
"Maksudnya?" tanya Zachira.
"Jadi mata-mata di rumah itu untukku," ucap Elov menatap Zachira dengan sangat serius, "Berikan aku informasi apapun yang kamu dapatkan saat sudah tinggal disana, agar aku dan kakakmu mengetahui gerak-gerik dan bahkan mungkin rencana apa yang Alexi siapkan. Dan lagi aku sangat yakin, Alexi pasti punya tujuan membuat kesepakatan dengan kalian."
Zachira dan Hanna menatap Elov dengan serius dan mendengarkan kata demi kata yang terucap dari bibir Elov.
"kamu bilang Alexi sempat ingin membuat kesepakatan denganmu bukan?" tanya Elov pada Hanna.
Hanna mengangguk. "Iya, kemarin lusa saat aku menemuinya dia menawarkan kesepakatan. Lalu kemarin pagi juga seperti itu dan aku dengan tegas menolak.”
Setelah mendengar Hanna berucap, Elov berkata, “Tapi ternyata dia tidak menyerah, dia mendatangi Zachira dan membuat kesepakatan yang sama dengan Zachira. Itu artinya, tujuan dia membuat kesepakatan adalah agar kalian tinggal bersama dengan dia. Dia pasti punya misi juga pada kalian, dia pasti punya alasan kenapa ingin memasukkan kalian ke dalam rumahnya. Dia pasti punya sebuah rencana, bukan semerta-merta hanya ingin menjadikan istri saja."
"Aku juga memang berpikir seperti itu. Dia tidak menyerah ingin membuat kesepakatan, jelas pasti punya tujuan."
"Ya sudah, lanjutkan saja kesepakatan bersama dengan Alexi," ucap Elov lagi.
"Terus apa yang akan aku dapatkan dari kesepakatan itu?" tanya Zachira, "Keuntungan dari kesepakatan kalian adalah kami yang akan mendapatkan lagi hak yang dirampas oleh Alexi. Jelas saham dua puluh persen itu akan sia-sia karena toh nanti akan menjadi milik kami juga. Terus apa yang aku dapatkan jika kesepakatan antara aku dan Alexi berlanjut? Dan lagi, aku menjalani kesepakatan itu untuk menjadi mata-matamu bukan? Harusnya aku mendapat keuntungan darimu juga, Tuan."
Elov berpikir sebentar. "kamu boleh meminta apapun yang kamu mau."
"Apa pun?" tanya Zachira.
"Ya ... apa pun."
"Kamu yakin?"
"Tentu saja aku yakin," jawab Elov.
"Oke, sepakat!" Zachira memberikan telapak tangannya pada Elov.
Elov meraih telapak tangan Zachira menjabat. "Sepakat!" ucap Elov, "Jadi apa yang kamu inginkan?"
"Aku tidak akan mengatakannya sekarang, aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Nanti setelah tahu apa yang aku inginkan, aku akan mengatakannya."
"Oke," jawab Elov, "Sekarang sudah selesai bukan masalah kesepakatan dengan Alexi?"
Zachira mengangguk, begitu juga dengan Hanna, dia mengangguk ragu.
"Sekarang ayo kita bahas kesepakatan kita," ucap Elov menatap Hanna.
Hanna kembali mengangguk lagi. Sedang Elov, dia membuka laci mejanya dan mengambil map berwarna biru gelap dari dalam sana, dia lalu memberikan map itu pada Hanna.
"Ini kesepakatan kita, baca lalu tanda tangani."
Hanna membuka map itu dan membaca lembaran kertas yang berada di map itu.
"Aku harus menuruti semua perkataanmu dan tidak boleh membantah?" Hanna menatap Elov saat setelah membaca salah satu isi dari surat itu.
"Ya! Aku tipe orang yang tidak suka dibantah, jadi saat aku berucap, kamu harus mengikuti apa yang aku katakan. Karena apa yang aku katakan, sudah aku pikirkan matang-matang dan itu tidak mungkin salah."
"Oke, terserah apa katamu," ucap Hanna, dia lalu kembali membacanya lagi. Alisnya bertaut saat kembali membaca isi dari kesepakatan itu. Dia lalu menatap Elov lagi. "Di sini tertulis, setelah misi dan tujuan berhasil, lalu semuanya sudah selesai, aku diperbolehkan memilih antara bertahan atau pergi. Maksudnya bagaimana?" tanya Hanna.
"Kemarin kamu meminta syarat kalau pernikahan itu harus dilakukan tanpa embel-embel kontrak karena pernikahan kontrak itu haram. Pernikahan itu sakral dan kamu tidak mau mempermainkan yang namanya pernikahan, iya kan?"
Hanna mengangguk ragu. Sedang Zachira, dia yang mendengar Elov berucap itu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tersenyum smirk.
'Tidak ingin menikah kontrak karena pernikahan itu sakral, katakan saja kalau kamu ingin menjadi istrinya secara sah dan nanti kamu ingin memiliki dia sepenuhnya, Kak. Tidak usah beralasan pernikahan itu sakral karena aku yakin faktanya kamu suka juga dengan pria ini. Jelaslah, pria ini mendekati sempurna!' batin Zachira berucap.
"Setelah misi berhasil, itu artinya semua sudah selesai, kamu akan mendapatkan hartamu kembali termasuk rumah. Jadi, setelahnya kamu berhak memilih dimana kamu akan tinggal, kembali ke rumahmu atau tetap tinggal di rumahku. Lebih jelasnya, bercerai denganku dan pergi atau bertahan di rumahku dan menjadi istriku. Setelah aku pikir-pikir, sepertinya benar apa katamu, pernikahan itu sakral dan bukan mainan, jadi aku tidak akan menceraikan kamu walau setelah misi itu berhasil."
"Tidak akan menceraikan aku? Terus bagaimana jika nanti kamu ingin menikah dengan wanita pilihanmu? kamu akan menduakan aku dan memberikan aku madu?"
"Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menikah, mungkin tidak akan pernah selamanya karena aku tidak akan pernah lagi menjatuhkan hati pada seorang wanita."
"Hm?"