Alasan Utama Bersepakat

1167 Kata
"Hm?" Hanna menatap Elov dengan alis yang bertaut saat pria itu mengatakan tak akan pernah menjatuhkan hati pada seorang wanita dan tidak akan pernah menikah. "Setelah misi berhasil kamu bebas memilih pilihan, kembali ke rumahmu atau tetap tinggal di rumahku. Aku mengizinkan kamu tinggal di rumahku dan menikmati semua fasilitas yang ada asalkan kamu tidak mengganggu apa yang aku lakukan." Hanna mengangguk paham. "Karena itu terjadi di masa yang akan datang, kita lihat saja nanti akan bagaimana," jawab Hanna. "Satu lagi," ucap Elov. "Apa?" "Jangan berharap lebih padaku, jangan menaruh hati padaku dan jangan pernah melibatkan cinta." Hanna mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tersenyum miris. Dia lalu kembali menatap Elov lagi. "Kamu sudah mati rasa, kan? Kalau begitu sama! Alexi membuatku enggan jatuh cinta lagi pada seorang pria, karena bagiku semua pria itu b******k! Kecuali ayah dan kakakku." "Jadi kamu mengatai aku b******k?" tanya Elov dengan mata yang memicing. Hanna menelan salivanya. "Aku masukkan dalam daftar pengecualian," ucap Hanna tersenyum menyeringai. Elov masih memicingkan mata dan mendelik sinis. Sedang Hanna, dia kembali membaca isi surat kesepakatan itu, lalu setelah selesai dia kembali menatap Elov lagi. "Bagaimana? Ada yang mau kamu ubah? Atau mau kamu tambahkan?" tanya Elov. Hanna menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sudah membacanya dengan tuntas dan aku tidak masalah dengan isinya. Tapi, kenapa tidak ada tanggal yang tertera? Bukannya kemarin mengatakan akan ada tanggal kapan misi akan selesai. Kalau dalam batas waktu itu misi belum juga berhasil, tanggal kontrak itu akan diperpanjang, terus kenapa di sini tidak ada tanggalnya?" tanya Hanna. Elov duduk bersandar pada kursi yang sedang dia duduki seraya menghembuskan napas dengan sangat kasar dan menatap Hanna dengan tatapan malas. "Kenapa?" tanya Hanna lagi. "Aku pikir kamu ini betulan pintar, tapi ternyata hal seperti itu saja masih dipertanyakan. Padahal ketiadaan tanggal di surat itu karenamu sendiri." Hanna mengerutkan alis. "Tanggalnya tidak ada karena kamu menginginkan pernikahan yang sesuai dengan syarat pernikahan pada umumnya. Tujuan kita menikah memang untuk kesepakatan itu, tapi kan pernikahan tetap sah dimata agama dan juga hukum nantinya. Artinya tidak akan ada tanggal kapan semuanya selesai, mau misi itu berhasil dalam satu tahun pun, setelahnya kamu tetap berstatus sebagai istriku. Makanya tadi aku katakan kalau setelah misi selesai, kamu berhak memilih antara bertahan atau pergi." "Aaahh ... iya ya, benar juga apa katamu," ucap Hanna. "Huuhh ...." Elov menghembuskan nafasnya lagi dengan sangat kasar. Sedang Zachira yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain dan memutar kedua bola matanya malas. Dia ingin sekali berada di posisi Hanna. "Sudah tidak ada yang mau ditanyakan lagi kan? Sekarang cepat tanda tangani," ucap Elov. "Oke." jawab Hanna, dia lalu mengambil bolpoin dan langsung menandatangani surat itu. Setelah selesai, dia menggeser map itu ke arah Elov. "Oke, terima kasih," jawab Elov seraya mengambil surat itu dan kembali memasukkannya lagi ke dalam laci dimana tadi dia mengambil map itu. "Sudah selesai bukan? Kalau begitu sudah boleh pulang?" tanya Zachira. Elov mengangguk. Saat setelah melihat Elov mengangguk, Zachira langsung beranjak dari duduknya. "Memang sudah selesai, tapi aku belum selesai bicara," ucap Hanna. Zachira yang baru setengah berdiri itu menatap Hanna. "Apalagi sih, Kak?" tanya Zachira yang sudah berdiri sempurna. "Kita belum tahu tujuan pria ini membuat kesepakatan dengan kita itu apa," ucap Hanna pada Zachira, dia lalu kembali menatap Elov lagi. "Kamu sudah tau dengan jelas kenapa aku mau membuat kesepakatan seperti ini, terus alasanmu sendiri membuat kesepakatan ini apa? Tujuan melakukan kesepakatan ini apa? Keuntungannya juga apa?" tanya Hanna. Zachira yang mendengar pertanyaan Hanna itu kembali terduduk lagi dan menatap Elov, dia juga penasaran apa tujuan Elov membuat kesepakatan. "Sebenarnya aku tidak punya tujuan apapun pada Alexi karena aku sama sekali tidak punya masalah dengan dia," jawab Elov. "Kalau tidak punya masalah, lantas kenapa membuat kesepakatan seperti ini? Tidak mungkin hanya sekedar ingin membantuku bukan? Kita sama sekali tidak mengenal satu sama lain sebelumnya," ujar Hanna. "Keuntungan yang aku dapatkan adalah kepuasan hati!" jawab Elov. Matanya menatap lurus dengan tatapan tajam. "Maksudnya?" tanya Hanna. "Sebenarnya aku sudah mempunyai tunangan," ucap Elov menatap Hanna. "Hah?" "Ibuku yang memaksaku menerima perempuan itu," ucap Elov, "Namanya Raya. Kenapa aku membantumu, karena Raya berhubungan dengan Alexi, mereka menjalin hubungan. Raya berselingkuh dengan Alexi." "Apa?" Zachira menatap Elov dengan tatapan kaget, "Jadi pria b******k itu berhubungan dengan wanita lain bernama Raya? Cih! Sialan!" "Kenapa marah? kamu tidak menyukai Alexi bukan? Mau dia berhubungan dengan seribu wanita pun harusnya tidak masalah kan?" sahut Hanna bersuara saat melihat sang adik yang terlihat naik pitam. "Hah? Ya ... iya sih," jawab Zachira menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Hanna memutar kedua bola matanya, lalu kembali menatap Elov lagi. "Terus?" tanya Hanna lagi. "Kamu ingin balas dendam karena sakit hati sudah diselingkuhi?" "Cih!" Elov mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mendecih sinis saat mendengar pertanyaan Hanna, dia lalu kembali menatap Hanna lagi dengan senyuman. "Kalau aku sakit hati karena mereka berselingkuh, aku tidak akan melakukan hal yang seperti ini. Hal seperti ini membuang-buang waktu! Aku bisa menyuruh orang-orangku untuk langsung membunuh si Alexi!" "Kalau bukan karena sakit hati, terus karena apa?" tanya Hanna. "Sudah kubilang tujuan utamaku bukan pada Alexi, tetapi Raya! Sebenarnya aku bisa saja mencari wanita lain untuk bersepakat denganku. Tapi karena berhubung si Raya ini berhubungan dengan Alexi dan ternyata kalian juga mempunyai dendam pada Alexi, jadi aku bersepakat denganmu, Hanna. Aku menghancurkan Raya dan kamu menghancurkan Alexi. Aku membantumu dan kamu bantu aku. Jadi sama-sama menguntungkan dan hasrat balas dendam juga sama-sama besar." Dahi Hanna mengernyit. "Aku ingin lepas dari wanita itu, sayang begitu sulit karena ibuku selalu berpihak pada dia. Aku sudah berusaha sendiri mengatakan pada ibuku untuk mengakhiri hubungan dengan Raya karena aku tidak suka pada dia, tapi tidak berhasil sama sekali. Raya perempuan yang sangat licik! Dia selalu berhasil menghasut ibuku agar tetap merestui hubungan denganku." "Sekarang kamu pasti sudah mempunyai bukti kalau Raya berhubungan dengan pria lain bukan? Berikan saja bukti itu pada ibumu," ucap Hanna. "Sudah kubilang kalau Raya adalah perempuan yang licik! Dia pasti sudah mempersiapkan alasan yang jitu pada ibuku dan endingnya akan tetap sama," ucap Elov. "Terus? Apa yang akan kamu lakukan? Bantuan apa yang kamu butuhkan dariku?" "Aku akan membuat dia sendiri yang mengakhiri hubungan. Jika Raya tahu aku ini sudah beristri, jelas dia akan marah bukan? Tapi dia tidak bisa melakukan apapun karena nyatanya status wanita yang bersamaku adalah seorang istri dan dia hanya seorang tunangan. Katanya dia sangat mencintaiku, dia melakukan apapun agar bisa bersama denganku. Jadi aku akan membuat hatinya hancur saat melihatku bersama dengan wanita lain. Akan kubuat dia kelelahan mengejarku dan akhirnya memilih melepaskan." Hanna dan Zachira menatap Elov yang tengah berbicara serius. "Dan lagi, aku punya alasan lain kenapa ingin menghancurkan dia. Dan ini alasan utama kenapa aku ingin menghancurkan dia." "Apa?" tanya Hanna. "Dia sudah membunuh orang yang sangat berarti untuk hidupku," ucap Elov. "Hah?" Hanna dan Zachira menatap Elov dengan tatapan kaget. "Ya! Dia membunuh orang yang sangat aku sayangi!" "Mem—bunuh?” Hanna dan Zachira menatap Elov dengan tatapan kaget, “Siapa?" tanya Hanna. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN