Kalian Merencanakan Sesuatu? (Alexi)

1153 Kata
"Mem—bunuh?” Hanna dan Zachira menatap Elov dengan tatapan kaget, terlihat pria itu yang melihat lurus dengan tatapan tajam. “Siapa? Kekasihmu?" tanya Hanna. "Ya, Alyssa ... dia kekasihku yang sangat aku cintai," jawab Elov, "Aku baru tahu kalau ternyata kecelakaan yang terjadi pada Alyssa delapan bulan yang lalu itu bukan murni sebuah kecelakaan tetapi karena campur tangan Raya. Wanita sialan itu berhasil membuat kejadian seolah kecelakaan dan dia melakukannya dengan sangat bersih." "Secinta itu dia sama kamu sampai harus menghilangkan nyawa seseorang?" tanya Hanna. "Itu bukan cinta! Tapi obsesi!" jawab Elov menatap Hanna. "Jadi, aku butuh bantuanmu. Bantu aku menghancurkan Raya karena dia sudah membunuh Alyssa dan aku juga akan membantumu mengambil kembali semua hak milik kalian dan bahkan menghancurkan Alexi sekalipun." "Tunggu, berarti alasan Raya membunuh Alyssa karena cemburu dan dia ingin memilikimu sepenuhnya," Zachira yang sejak tadi diam dan hanya mendengar itu mulai bersuara lagi, "Raya menyingkirkan Alyssa karena menurut dia Alyssa adalah sebuah penghalang cintanya. Alyssa baru berstatus sebagai kekasih saja sudah dilenyapkan. Lalu apa kabar dengan kakakku yang nanti akan berstatus sebagai istrimu?" tanya Zachira, “Aku ini memang kesal pada kakakku ini, tapi kalau sampai dia lenyap ya aku tidak mau!” "Benar juga apa kata Chira, apa artinya nanti aku juga akan dalam bahaya? Bisa saja kan Raya akan melenyapkan aku juga setelah tahu kalau aku ini adalah istrimu. Dia pasti akan sangat marah dan memikirkan cara untuk menyingkirkan aku juga," ucap Hanna. Dia dan Zachira menatap Elov dengan tatapan semakin serius. "Tenang saja, semua sudah aku pikirkan baik-baik," jawab Elov, "Setelah menikah, ikutlah bersamaku kemanapun aku pergi, terus berada di sampingku. Aku yakin Raya tidak akan pernah berani menyentuhmu jika berada di sampingku." "Tidak mungkin aku terus bersamamu selama dua puluh empat jam. Aku juga punya kesibukan sendiri," ucap Hanna. "Betul itu!" ucap Zachira, "Bisa saja kan wanita itu mencari celah saat lengah. Jujur saja aku belum siap ya kalau harus melihat jenazah kakakku!" "Heh! kamu mendoakan aku mati huh?" tanya Hanna tidak terima. "Aku tidak bermaksud mendoakanmu mati, Kak. Tapi kan nyawamu sedang dalam bahaya," sahut Zachira. "Sudah! Tidak perlu berdebat, aku sudah memperhitungkan semuanya! Hanna akan tetap aman bersama denganku!" ucap Elov, dia lalu menatap Hanna dengan serius, "kamu mungkin memang akan dalam bahaya saat setelah Raya tahu kalau kamu adalah istriku, tapi aku sudah menyiapkan beberapa bodyguard untukmu. Aku sudah mengetahui kejahatan Raya, mana mungkin aku tidak memikirkan keselamatanmu." "Bodyguard? Wuaahh ...," Zachira menggelengkan kepalanya takjub. "Jadi nanti setelah menjadi istrimu dia akan menjadi nyonya yang mempunyai bodyguard? CK, ck, ck ... sungguh, aku sangat iri!" "Bodyguard juga manusia biasa! Ada kalanya mereka melakukan kesalahan," ucap Hanna mengerucutkan bibirnya kesal. "Iya sih," jawab Zachira, "Ya sudah ... sabar ya." ucap Zachira seraya mengelus punggung Hanna berusaha menenangkan. "Aku pastikan kamu akan aman, percaya padaku," jawab Elov. "Ya! Aku akan berusaha percaya padamu, Bapak Elov Killian," ucap Hanna dengan mata yang memicing. "Ya sudah, tidak ada yang mau ditanyakan lagi bukan? Kalau begitu sudah selesai, besok aku akan memulai rencana awal yaitu pernikahan. Aku akan menghubungimu nanti," ucap Elov pada Hanna, "Sekarang kalian pulanglah dan beristirahat." Hanna menghembuskan napas dengan sangat kasar saat beranjak dari duduknya. "Orangku sudah menunggu di bawah, kalian pulang ke kontrakan kalian sebentar untuk membereskan semua baju-baju kalian, lalu kalian akan diantar ke apartemen." Hanna mengernyitkan dahi. "Apartemen?" Elov mengangguk. "Iya, kamu akan menjadi istriku setelah ini. Mana mungkin aku membiarkan calon istriku dan juga adiknya tinggal di rumah kontrakan sepetak. Tidur hanya beralaskan tikar saja." Zachira yang mendengar sontak langsung tersenyum. "Terima kasih, kamu memang yang terbaik." "Ya sama-sama," jawab Elov, "Jangan lupa, beritahu aku jika kesepakatanmu dengan Alexi sudah berjalan." Zachira mengangguk. "Pasti." *** "Segera kabari aku kalau ada apa-apa," ucap Hanna mengantarkan Zachira sampai ke depan pintu apartemen. Mereka baru saja sampai ke apartemen yang sudah dipersiapkan Elov, tetapi tiba-tiba saja Zachira mendapatkan panggilan masuk dari Alexi. Pria itu menghubunginya dan meminta bertemu. "Ya, aku pasti menghubungimu nanti. Aku pergi dulu," pamit Zachira. Hanna mengangguk. Zachira lalu berbalik dan berjalan ke arah lift hendak ke lantai dasar, hingga tak lama kini dia sudah berada di dalam mobil taksi online yang sebelumnya sudah dia pesan. Tak lama kemudian, mobil itu akhirnya terhenti didepan perusahaan, Zachira keluar dari mobil dan melihat tingginya gedung perusahaan. Neason Company. Perusahaan yang dibesarkan oleh sang ayah, namun kini berada di kekuasaan seorang pria yang tak punya ikatan darah dengannya. Mengambilnya secara licik dari tangan sang ayah, karena berita pemindahan harta itu juga lah sang ayah akhirnya tiada. Tok tok tok. Zachira mengetuk pintu ruangan, dulu ruangan itu adalah ruang kerja sang ayah. Dia hampir tidak pernah mengetuknya jika datang dan sekarang, dia harus mengetuknya terlebih dahulu. Menyebalkan! "Masuk," ucap seseorang dari dalam. Zachira mendorong pintu dan masuk, terlihat seorang pria yang tengah terduduk dengan kaki yang berselonjor di atas meja. Melihat wajahnya membuat Zachira sangat muak. "Kenapa memanggilku?" tanya Zachira saat sudah terduduk di atas kursi. Padahal, pria yang tak lain ialah Alexi itu belum mempersilahkannya duduk. Alexi menurunkan kakinya, dia merapatkan kedua tangannya di atas meja dan menatap Zachira dengan mata yang sedikit menyipit. "Ada hubungan apa antara kamu dan Elov?" tanya Alexi to the point. Zachira yang tadi duduk bersandar itu sontak langsung terduduk tegak dan menatap Alexi dengan tatapan kaget. "Kamu mengenal, Elov?" Bukannya menjawab, Zachira malah balik bertanya. "Dalam dunia bisnis, hampir semua orang mengenal Elov Killian, mustahil orang-orang tidak mengenalnya. Tapi sekarang bukan itu intinya, jawab pertanyaanku, ada hubungan apa antara kamu dengan dia? Kalian berpacaran?" "What? Berpacaran?" Zachira mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tersenyum smirk, lalu kembali menatap Alexi lagi, "Kalau aku berhubungan dengan dia, aku tidak mungkin bersepakat denganmu!" "Lantas? Siapa kekasih si Elov itu kalau bukan kamu!" "Hanna! Mereka berhubungan," jawab Zachira. "Apa?" Alexi menatap Zachira dengan tatapan kaget. "Aku juga baru mengetahuinya hari ini," jawab Zachira dengan nada yang santai agar Alexi tak curiga. "Tidak mungkin! Aku dan Hanna baru saja putus, mana mungkin secepat itu dia berpaling dariku!" Zachira kembali tersenyum smirk. "Kenapa tidak mungkin? Semua mungkin-mungkin saja karena kamu menaruh luka yang sangat dalam pada kakakku! Mengambil semua harta dan juga membunuh kedua orang tuaku—" "Aku tidak membunuh orang tuamu!" sela Alexi. "Tapi secara tidak langsung karenamu, Alexi!" "Sudah! Lupakan! Kembali ke pembicaraan awal!" ucap Alexi sarkas. Gigi Zachira menggertak kesal. "Tanpa membutuhkan waktu pun jelas pasti Hanna akan langsung membencimu dan berpindah hati! Kamu tahu kan? Obat patah hati ialah jatuh cinta kembali," ucapnya kembali meneruskan pembicaraan tadi, "Rasa bencinya lebih besar dibanding rasa cinta. Cintanya padamu tertimbun oleh rasa benci dan kecewa, pasti lebih mudah untuk dia langsung menjatuhkan hati pada pria lain. Aku sudah bertemu satu kali dengan pria bernama Elov dan ternyata dia pria yang bisa dikatakan mendekati sempurna! Siapa yang tidak mau dengan dia!" Tangan Alexi mengepal kuat. "Lantas kenapa akhirnya kamu mau bersepakat denganku huh? Apa kalian merencanakan sesuatu padaku?" tanya Alexi dengan gigi yang menggertak. Zachira menelan salivanya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN