"Kalian merencanakan sesuatu padaku?"
Zachira yang mendengar Alexi berucap itu sontak langsung menelan salivanya.
Alexi lantas meneruskan lagi ucapannya dengan berkata, "Kamu sengaja menerima kesepakatan denganku untuk membalas dendam! Dan dibalik itu, ada Hanna dan Elov yang membantumu dibalik layar. Iya, kan?”
"Mana ada!” jawab Zachira cepat, “Aku baru mengetahui hubungan Hanna dan Elov tadi pagi saat setelah aku mengatakan kalau aku sekarang bersepakat dengan kamu! Tadi pagi, aku mengatakan kalau aku sudah menandatangani kontrak kesepakatan denganmu. Hanna marah padaku karena bersepakat denganmu sampai akhirnya dia mengatakan kalau hutang itu sudah lunas karena dibayar oleh pacarnya. Si Elov itu!"
Alis Alexi mengernyit. Menatap Zachira dengan tatapan yang sangat serius. "Terus?"
“Aku kesal karena baru tahu! Kalau tahu sejak awal kan aku tidak harus bersepakat dengan kamu!” jawab Zachira dengan nada yang penuh emosi. "Tadi pagi setelah berbicara empat mata, aku dan Hanna datang ke Desmond. Bertemu dengan Elov dan meminta bantuan agar kesepakatanku denganmu bisa dibatalkan. Sayang, si Elov sialan itu tidak mau membantu karena dia bilang kesepakatan itu sudah ditandatangani. Akan sangat sulit membatalkannya karena dia takut kamu akan meminta banyak dari dia nantinya."
"Jadi dia tidak mau membantumu?" tanya Alexi.
"Tidak!" jawab Zachira dengan tatapan kesal, dia duduk bersandar kembali dengan kedua tangan yang terlipat di bawah d**a. "Dia bilang dia sudah mengeluarkan banyak uang, membayar hutang pada Pak William dan juga apartemen. Jadi dia tidak mau mengeluarkan banyak uang lagi untuk membatalkan kesepakatanku denganmu."
"Pelit juga ternyata dia," Alexi tersenyum miris.
"Sekarang kamu sudah mengetahui apa yang ingin kamu tahu dan aku sudah menjawabnya. Kamu ingin membatalkan kesepakatan denganku?"
"kamu ingin kesepakatan ini batal?" tanya Alexi.
"Iya lah, perempuan mana yang Sudi menikah dengan kamu!" ucap Zachira, "Kalau saja bukan karena untuk saham, hutang dibayar dan juga kembali hidup enak tanpa beban! Aku mana mau. Aku terlalu bagus untuk pria sialan sepertimu!"
Alexi memasang wajah kesal saat Zachira berbicara. Namun akhirnya ia memasang senyuman smirk kemudian berkata, "Sayangnya aku akan tetap meneruskan kesepakatan, Sayang. Aku akan tetap menikahimu."
"Cih! Sialan!"
Alexi yang mendengar Zachira mengumpat itu tersenyum.
"Kalau begitu tetap bayar uang yang akan kamu bayarkan untuk membayar hutang! Transfer ke rekeningku! Aku akan menggunakannya untuk shopping! Aku sudah lama tidak menikmati hidup!"
"Oke, aku akan tetap membayarkan uang itu nanti," ucap Alexi.
"Aku mau sekarang! Kalau nggak ... aku akan pergi dan kabur dari kehidupanmu agar pernikahan itu tidak terjadi! Aku masih punya sedikit tabungan untuk melarikan diri. Aku akan meminta tambahan dari Hanna nanti."
"Kamu mengancamku?"
"Ya! Aku sedang mengancammu!” ucap Zachira dengan raut wajah yang tegas.
Alexi tersenyum smirk. "kamu memang benar-benar berbeda dengan kakakmu," ucap Alexi, dia lalu mengambil handphone di atas meja dan mengotak-atiknya hendak mentransfer sejumlah uang pada Zachira. Lalu memberikan handphone itu pada Zachira. "Masukkan nomor rekeningmu."
Zachira tersenyum, dia mengambil handphone itu dan memasukan nomor rekeningnya. "Nah begini kan enak," ujar Zachira lalu memberikan lagi handphone itu pada Alexi.
"Hanna begitu polos dan baik, saking baiknya dia begitu bodoh hingga tak menyadari kalau aku ini sebenarnya musuh. Tapi kamu? Sangat berbeda! Yang kamu pikirkan hanya uang, uang dan uang!"
"Nyatanya hidup memang butuh uang, kan?" Zachira menatap Alexi dengan tatapan sinis, "Tapi memang benar, si Hanna itu sangat bodoh! Dia lebih memilih dikejar-kejar dibandingkan meminta tolong pada kekasihnya! Kalau saja dia mau bicara pada kekasihnya sedang terlilit hutang, semua pasti tidak akan seperti sekarang! Entah apa isi otaknya itu, entah bagaimana jalan pikirannya. Padahal dari awal bisa saja dia meminta tolong pada Elov untuk membayar hutang itu! Aku juga jadinya tidak harus bersepakat dengan manusia sepertimu." ucap Zachira.
Zachira menatap Alexi dengan mimik wajah yang terlihat kesal dan marah, berharap Alexi mempercayai semua kata-katanya yang kesal pada Hanna. Agar Alexi tidak mencurigai hubungan antara dirinya, Hanna dan juga Elov.
"Dia terlalu menjunjung tinggi harga dirinya!" ucap Zachira lagi.
Alexi diam sebentar, dia berpikir jika Hanna tetap diam dan tidak meminta tolong pada Elov pasti karena tidak mau merepotkan. Selama berhubungan dengannya, Alexi cukup mengetahui bagaimana sikap mantan kekasihnya itu. Hanna tipe orang yang tidak mau merepotkan orang lain, dia akan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.
'Apa aku sudah menyia-nyiakan orang yang tulus? Kenapa rasanya aku tidak ikhlas mendengar dia bersama dengan yang lain? Apa kebencianku pada dia berubah cinta? Huuuhh! Kenapa dia harus menjadi orang baik? Ck! Enggak, Alexi! kamu tidak boleh lemah hanya karena sebuah rasa! Balaskan dendammu! Tidak boleh luluh apalagi sampai mencintai anak Gibran!' batin Alexi.
"Kenapa diam?" tanya Zachira.
Alexi sontak langsung menatap Zachira. "Hm? Nggak, gak pa-pa.” jawab Alexi.
"BTW, dari mana kamu mengetahui Elov? Aku saja baru tahu hari ini," ucap Zachira bertanya.
"William," jawab Alexi.
"Pak William?"
"Ya! Dari dia," jawab Alexi dengan wajah datar, "William marah padaku karena kontrak kerjasama antar perusahaannya dengan Desmond batal. Elov mengatakan pada anak buah William kalau mau menyalahkan kenapa bisa batal, salahkan saja aku. Anak buahnya juga mengatakan sepertinya wanita yang selama ini dikejar adalah kekasih Elov, karena Elov memanggil wanita itu dengan panggilan sayang."
"Aahhh ...." Zachira mengangguk.
"Aku pikir wanita itu kamu, sama sekali tidak menyangka jika wanita itu ternyata Hanna. Padahal belum lama aku dan dia mengakhiri hubungan, tapi dia sudah berpindah hati. Cih!" Alexi tersenyum smirk. "Dia pasti mengatakan pada si Elov itu untuk menyalahkan aku karena dia dendam padaku."
"Aku juga sama dendamnya padamu! Kamu tidak takut jika suatu saat nanti bisa saja aku membunuhmu. Setelah menikah tentu aku akan tinggal bersama denganmu bukan? Memasukkan musuh ke dalam rumahmu, kamu tidak takut?"
"Pfffttt … untuk apa aku takut pada seorang wanita? Yang benar saja." Alexi terkekeh pelan.
"Jangan meremehkan seorang wanita! Aku bisa melakukan hal yang tidak kamu pikirkan!"
"Membunuhku dengan cara apa hm? Menusukku saat aku sedang tertidur? Meracuni aku? Atau apa? Katakan padaku," Alexi kembali tersenyum lagi. "Membunuhku hanya akan membuat hidupmu berakhir di dalam penjara, lalu apa yang akan kamu dapatkan? Harta? Tidak mungkin! Kan hidupmu berakhir di penjara."
Tangan Zachira mengepal dengan sangat kuat. 'Mati terlalu bagus untukmu, Alexi, akan kubuat kamu kembali pada asalmu nanti!' batin Zachira berucap.
"Kenapa diam? Yang aku katakan benar bukan?" tanya Alexi masih tersenyum.
"Cih!" Zachira mendecih sinis. "Sudah tidak ada yang mau ditanyakan lagi bukan? Kalau begitu aku pulang dulu!" ucap Zachira beranjak dari duduknya.
"Oke," jawab Alexi.
Zachira memutar kedua bola matanya malas, dia lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu.
"Hati-hati, Sayang ... maaf tidak bisa mengantarkanmu pulang, aku sedang sibuk," ucap Alexi setengah berteriak.
Zachira mendelik sinis, tak memperdulikan ucapan pria itu.
Bersambung