Beberapa hari kemudian.
Hanna dan Zachira masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan apartemen. Orang suruhan Elov menjemput mereka dan meminta mereka untuk segera datang ke perusahaan.
"Ada apa, ya? Menurut kamu ada apa ya calon suamimu itu memanggil kita." tanya Zachira pada Hanna yang terduduk di sampingnya.
"Paling ngomongin nikahan, mau apa lagi." jawab Hanna dengan nada santai. Dia menoleh melihat ke arah samping dan melihat jalanan yang terlihat sangat ramai padahal ini sudah jam kerja.
"Kamu sama sekali gak seneng bisa nikah Elov, Kak?" tanya Zachira saat melihat mimik wajah dan sikap Hanna yang biasa saja tak terlihat senang sama sekali.
Hanna yang mendengar sang adik berucap sontak langsung menoleh melihat ke arah Zachira. "Aku akan menikah dengan pria yang baru aku temui kurang dari dua pekan, mau senang dari mananya, hah? Aku sama sekali gak cinta sama dia, terus bagian mana yang patut aku senangi? Bagian mana yang bisa bikin aku bahagia? Aku bahkan tidak pernah membayangkan sama sekali akan menikah dengan seorang pria dengan cara yang seperti ini," ujar Hanna membuang napas dengan sangat kasar.
"Si Elov itu bisa dikatakan sempurna sebagai seorang pria. Masa kamu sebagai perempuan sama sekali gak tertarik sih, Kak. Masa sama si Alexi yang modelannya minus kek begitu kamu bisa cinta, lah sama Elov enggak. Aneh kamu!”
"Dia masih terjebak dalam rasanya pada kekasihnya, tujuannya bersepakat denganku untuk membalas dendam karena kekasihnya dibunuh. Dia bilang kalau Alyssa adalah wanita yang sangat dia cintai dan dia sayangi. Dia juga bilang kalau dia gak akan pernah jatuh cinta sama perempuan lain. Dia bahkan gak masalah kalau hubungan pernikahan denganku tidak berakhir walau misi dan tujuan ini sudah selesai. Itu artinya dia memang tidak berniat sama sekali untuk jatuh cinta, Zachira! Dia udah masa bodo dengan yang namanya pernikahan dan pasangan hidup."
Zachira yang mendengarkan Hanna berucap itu duduk bersandar, karena yang Hanna katakan juga memang ada benarnya.
"Cinta dia pada Alyssa begitu besar dan kuat, sampai membuat dia enggan bersama dengan perempuan lain. Terus kalau misalnya aku coba tertarik dengan dia sampai akhirnya jatuh hati, ya masa nanti aku harus cemburu pada orang yang sudah mati! Yang benar aja Zachira! Orangnya sudah tidak ada tapi aku cemburui, bagaimana cara aku menghadapinya? Itu akan sangat sulit!"
"Iya sih, betul juga apa katamu. Cemburu pada orang yang sudah mati memang pasti akan sangat menyebalkan!"
"Ya udah makanya, jangan aneh-aneh!" sahut Hanna, dia kembali duduk bersandar lagi dan menoleh melihat ke arah samping. Melihat jalanan yang semakin ramai.
Tak lama kemudian, mobil yang membawa Hanna dan juga Zachira akhirnya terhenti di depan teras pintu utama Desmond Company.
Mereka dengan segera keluar dari mobil dan disambut hangat oleh satpam yang menjaga pintu utama. Hanna dan Zachira tersenyum ramah lalu setelah itu mereka masuk. Berjalan ke arah lift hendak ke lantai atas.
Beberapa menit kemudian.
Hanna dan Zachira sudah berdiri di depan pintu ruangan Elov. Hanna mengetuk pintu dan mendengar suara seorang pria dari dalam.
"Masuk."
Hanna langsung memegang handle pintu dan mendorongnya. Matanya dan juga mata Zachira terbelalak kaget saat melihat yang berada di dalam ruangan itu bukan hanya ada Elov saja tetapi juga ada Gavin Keandre, kakak tertua mereka yang selama ini berada di Jepang.
"Kak Gavin ...." Hanna dan Zachira langsung berjalan cepat menghampiri Gavin dan memeluk pria itu.
Pria bernama Gavin itu balas melingkarkan tangan memeluk kedua adiknya. Lalu tak lama melepaskannya.
"Kenapa kalian gak kasih Kakak tau semua yang terjadi di sini?" tanya Gavin.
"Aku sudah menceritakan semua yang terjadi pada keluarga kalian dan juga Alexi pada Gavin," sahut Elov bersuara.
"Kenapa?" tanya Hanna pada Elov, "Harusnya Kamu meminta izin dulu!"
"Jika aku izin pada kalian, apa kalian akan mengizinkan aku mengatakannya? Dan jika aku bicara terlebih dahulu pada kalian kalau aku akan membawa kakak kalian ini pulang, apa kalian akan mengizinkan? Tentu enggak, kan!" jawab Elov, "Lagipula kalian ini sangat aneh! Masalah sebesar itu tetapi Kakak tertua kalian sama sekali tidak mengetahuinya dan lagi, mau sampai menyembunyikannya, hah?"
"Aku sudah akan menelfonmu, Kak. Tapi Si Hanna ini nih yang selalu melarangku untuk menghubungimu," Zachira bersuara.
"Kenapa?" tanya Gavin pada Hanna.
"Karena aku takut Kakak marah sama aku, Zachira saja yang selama ini masa bodo dan tak pernah bersuara selalu menyalahkan aku, apalagi Kakak! Aku takut dan belum siap menghadapi kemarahanmu!"
"Tapi tidak seperti ini juga Hanna! Mama dan Papa meninggal, masa aku sebagai anak tidak diberitahu sama sekali! Kamu ini keterlaluan!"
"A—aku minta maaf, aku mengaku salah," jawab Hanna menunduk tak berani menatap sang kakak.
"Huuuhhh ...." Gavin menghembuskan napasnya dengan sangat kasar.
"Marah pun percuma, semua sudah terjadi," ucap Elov merapatkan kedua tangannya di bawah d**a.
Gavin lalu menatap Zachira dengan tatapan sinis.
"Ke—kenapa menatapku seperti itu? A—aku tidak melakukan kesalahan apapun. Yang salah itu Papa dan Hanna! Mereka terlalu percaya pada si Alexi sialan itu!"
"Tidak melakukan kesalahan katamu? Terus kesepakatan yang kamu buat dengan pria itu, apa itu bukan kesalahan huh?" tanya Gavin dengan nada suara yang tinggi dan dagu yang terangkat.
Zachira menelan salivanya.
"Elov juga sudah menceritakan semuanya sama Kakak termasuk kesepakatanmu dengan Alexi!” ucapnya pada Hanna. Pandangan matanya lantas beralih pada Zachira, “Dan kamu, kenapa langsung menandatangani kontrak kesepakatan dengan Alexi? Apa yang kamu pikirkan Zachira!" pekik Gavin hingga membuat Zachira memejamkan mata.
"Tau! Sudah jelas pria itu b******k, dia malah bersepakat," sahut Hanna.
"Itu semua aku lakukan agar aku bisa menjadi musuh dalam selimut," ucap Zachira membela diri.
"Sudah," Elov menengahi, "Aku membawamu pulang kemari bukan untuk memarahi adik-adikmu, tetapi untuk memulai rencana," ucap Elov lagi. Dia lalu berjalan ke arah sofa yang jaraknya sekitar 3 meter di depan meja kerjanya. Dia terduduk di sofa utama yang hanya bisa di duduki oleh 1 orang.
"Huuhhh ...." Gavin ikut berjalan ke arah sofa itu dan ikut terduduk juga di sofa lain yang lebih panjang.
Hanna dan Zachira juga ikut terduduk di samping Gavin.
"Kedua adikmu sama-sama membuat kesepakatan. Hanna bersepakat denganku dan Zachira, bersepakat dengan Alexi. Aku sudah menceritakan semuanya dengan jelas tadi bukan." ucap Elov.
Hanna yang mendengar Elov berucap itu memutar kedua bola matanya karena kesal. Pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun kalau akan membawa pulang kakaknya dan akan menceritakan semuanya.
Seharusnya pria itu mengatakannya dulu padanya bukan? Bukankah dirinya ini adalah calon istri? Harusnya semua dikatakan secara terbuka terlebih dahulu. Bukan malah mengambil keputusan secara sepihak.
'Ehh ... tunggu sebentar? Kenapa aku berpikir kalau aku ini beneran calon istrinya? Haisshh ... pernikahan ini hanya kesepakatan, Hanna. Kenapa dia harus terbuka segala?' batin Hanna berucap, 'Ck! Tapi kan ini berhubungan denganku, harusnya dia bilang dulu kalau mau mengambil keputusan seperti ini.'
"Oke, lalu apa rencanamu?" tanya Gavin.
"Besok, nikahkan aku dengan Hanna," jawab Elov.
"Apa? Besok? Secepat itu?" tanya Hanna menatap Elov dengan tatapan kaget.
Bersambung