Misi Yang Lain

1254 Kata
"Secepat itu?" tanya Hanna menatap Elov dengan tatapan kaget. Elov memberikan anggukan kepala mengiyakan ucapan Hanna. "Kamu ingin misi ini cepat selesai, kan? Itu artinya semakin cepat kita melakukan pernikahan ini, maka semakin cepat juga misi ini selesai," jawab Elov. "Tapi ini besok, mana bisa semudah itu," ucap Hanna pelan, “Pernikahan membutuhkan beberapa syarat.” "Tidak ada yang sulit untukku, semua mudah-mudah saja, apalagi uang berkuasa di atas segalanya," jawab Elov berbangga diri. "Iya juga sih," gumam Hanna. "Tujuanku membawa kakakmu kemari pun itu karenamu." "Karenaku?" Hanna menunjuk dirinya sendiri pada Elov. "Ya, karenamu," jawab Elov. "Bukankah kamu menginginkan pernikahan yang sakral tanpa embel-embel kontrak? Itu artinya kamu membutuhkan wali nikah untuk menikah. Ayahmu tidak mungkin menjadi wali karena sudah tiada, satu-satunya wali yang bisa menikahkan kita adalah kakakmu." "Aaahh ... oke," jawab Hanna mengangguk mengerti, dia tak lagi menjawab ucapan Elov karena yang dikatakan oleh Elov ada benarnya. Ia masih mempunyai kakak kandung laki-laki yang harus menjadi wali nikahnya. "Sudah? Tidak ada lagi pertanyaan?" sahut Elov lagi bertanya. Hanna menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawab Hanna. Elov lalu menatap Zachira. "Ada kemajuan dari kesepakatanmu bersama dengan Alexi?" tanya Elov. "Sejauh ini belum," jawab Zachira, "Dia masih belum membicarakan perihal pernikahan, dia hanya mengatakan akan segera mempersiapkannya. Kemarin siang, saat setelah aku pulang dari sini dan baru saja sampai ke apartemen, Alexi meminta bertemu. Aku pikir ingin membicarakan perihal kesepakatan itu atau pernikahan, tapi ternyata bukan." "Apa yang dia bicarakan?" tanya Elov. "Hubunganmu dengan Hanna," jawab Zachira hingga membuat semua orang yang berada di ruangan itu langsung melihat ke arahnya. "Dia mengetahui kita berhubungan dari Pak William. Pak William menyalahkannya karena kontrak kerjasamanya dengan Desmond batal." "Aaahh ... aku memang mengatakan pada anak buah William jika mau menyalahkan, salahkan saja Alexi. Dan kenapa Alexi bisa tahu hubunganku dengan Hanna, itu karena waktu itu aku mengatakan kata-kata seperti orang yang sedang kesal pada kekasihnya. Aku sengaja berbicara seperti itu agar terdengar oleh mereka." "Huuhh ... kamu ceroboh. Alexi sempat mencurigai kita," ucap Zachira. "Mencurigai kita?" tanya Elov dengan dahi yang mengernyit. Zachira mengangguk. "Dia mengatakan kalau Hanna berhubungan denganmu, lantas kenapa aku mau bersepakat dengan dia. Dia curiga aku ini memang sengaja menerima kesepakatan agar bisa balas dendam.” ucap Zachira. "Aku mengatakan seperti itu pada anak buah William karena tidak tahu kalau kamu dan Alexi sudah bersepakat. Kalau saja tahu, aku juga tidak akan mengatakannya," ucap Elov membela diri. "Ya. Sudahlah, ujungnya pasti aku yang salah lagi," Zachira memutar kedua bola matanya malas. "Lalu bagaimana?" "Tenang saja, aman. Aku berhasil mengelabui dia dan dia udah gak lagi curiga, aku malah mendapatkan sejumlah uang dari dia," ucap Zachira. "Uang? Uang apa?" tanya Hanna dan Gavin bersamaan. "Uang untuk bayar hutang pada William, aku menagihnya walau hutang itu sudah dibayar," ucap Zachira menatap Hanna dan juga Gavin. "Kan salah satu keuntungan yang aku dapatkan dari kesepakatan itu adalah hutang yang dibayar lunas dan juga saham. Untuk meyakinkan dia kalau aku tidak tahu menahu tentang hubunganmu dengan Elov, jadi aku ...." Zachira lalu menjelaskan maksudnya. Semua orang yang berada di ruangan itu mengangguk paham. "Oke kalau begitu, persiapkan diri kalian untuk hari esok," ucap Elov. *** "I—ini rumahmu?" tanya Hanna saat memasuki rumah mewah milik Elov. Pagi tadi, dirinya dan juga Elov baru saja meresmikan hubungan dengan pernikahan. Walau pernikahan itu terjadi bukan atas dasar cinta, tetapi untuk kesepakatan yang saling menguntungkan. Hanna langsung dibawa oleh Elov untuk tinggal bersamanya di komplek perumahan elit milik Elov. Sedang Gavin dan juga Zachira, kembali tinggal di apartemen. Elov tidak terlalu suka keramaian, bukan tak ingin membawa Zachira dan juga Gavin untuk tinggal bersamanya juga. Tapi baginya, rumah adalah privacy-nya, tempatnya untuk beristirahat dalam ketenangan, dia tidak terlalu menyukai banyak orang berada di rumahnya. Jadi dia tetap meminta Zachira dan juga Gavin untuk tetap tinggal di apartemen miliknya. Gavin dan Zachira setuju, lebih baik tinggal di apartemen daripada harus tinggal di kontrakan petak. Lagipula Elov juga memberikan fasilitas yang membuat apartemen itu sangat nyaman. Jika biasanya rumah mewah milik Elov itu hanya ada dirinya, asisten rumah tangga yang usianya sekitar 50-an dan juga penjaga rumah yang usianya sekitar 40 tahunan, kini bertambah satu nyawa. Rumah itu bertambah satu orang, yakni Hanna. Tapi mungkin nanti, setelah Raya mengetahui hubungannya dengan Hanna, dia akan menambah orang untuk berjaga di sekitar rumahnya agar keselamatan Hanna terjaga. Ketenangan Elov mungkin untuk sementara akan terganggu karena banyaknya penghuni baru, tapi tidak masalah. Yang terpenting, dendamnya pada Raya karena sudah membunuh Alyssa terbalaskan. "Ya, ini rumahku," jawab Elov, "Sebelum Raya mengetahui hubungan kita, kita hanya akan tinggal berempat. Aku, kamu, Mbok Lis dan juga Pak Dani, mereka asisten rumah tangga dan juga penjaga rumah yang mengurus rumah ini," jelas Elov. Hanna mengangguk paham. "Kamar kita ada di lantai atas," ucap Elov. "Hah? Ka—kamar kita?" tanya Hanna menatap Elov dengan tatapan kaget. "Ma-maksudnya kamarku dan juga kamarmu, ada di lantai atas dan bersebelahan." "Huuhh ...." Hanna menghembuskan nafasnya lega. "Tenang saja, aku tidak semesum itu!" ucap Elov cepat. "Bukankah semua pria sama saja?" tanya Hanna menelisik wajah Elov dengan seksama. "Tidak semua! Aku tidak akan melakukannya kalau tidak saling sama-sama suka!" jawab Elov. "Cih! Tunggu, kamu ... gak akan minta hakmu sebagai seorang suami bukan?" Elov menatap Hanna dengan mata yang memicing. "Enggak!" jawab Elov cepat. "Syukurlah," jawab Hanna. "Kenapa? kamu mengharapkan lebih dariku?" tanya Elov. Hanna langsung menyilangkan tangannya menutup d**a. "Walaupun kita sudah berstatus sebagai suami dan juga istri, pernikahan kita juga sah secara hukum dan juga agama, tapi aku bukan perempuan murahan yang mau saja di sentuh oleh pria yang tidak aku cintai," ucap Hanna. "Jadi ... kamu ... masih virgin?" tanya Elov. "Ya iyalah! Aku masih virgin! Jangankan berhubungan intim dengan seorang pria, berciuman bibir saja belum pernah aku lakukan sama sekali!" "kamu ... serius?" tanya Elov menatap Hanna dengan tatapan tak percaya. "Iyalah," jawab Hanna, "Dan kamu? Sudah ... melakukannya dengan para kekasihmu?" "Para kekasihku? Heiii ... kamu pikir aku ini pria murahan huh?" "Oke, oke ... dengan Alyssa," ucap Hanna lagi dengan nada yang malas. "Sudah ataupun belum itu bukan urusanmu, itu privacy-ku. kamu tidak perlu tahu karena aku rasa itu tidak penting untukmu, kamu kan hanya istri diatas kesepakatan, bukan istri atas dasar cinta." Elov melangkahkan kaki masuk ke rumahnya dan berjalan ke arah tangga. Hanna yang mendengar Elov berucap itu memejamkan mata dan mendengus kesal. Dia juga ikut melangkahkan kaki mengikuti langkah kaki Elov. "Ingat, jangan berharap lebih padaku. Hatiku ini sudah mati rasa, jatuh cinta padaku hanya akan membuatmu sakit nantinya. Jadi lebih baik jaga hatimu dan jangan sampai jatuh hati padaku." ucap Elov nada yang ketus seraya menaiki anak tangga. Hanna mengangkat sedikit bibir bagian atasnya dan menatap punggung Elov yang berjalan di hadapannya itu dengan mata yang memicing. 'Haruskah aku membuat misi yang lain? Yakni membuatmu jatuh hati padaku! Lalu setelah itu aku akan menolakmu mentah-mentah! Agar kamu menjilat ludahmu sendiri!' batin Hanna berucap. "Ini kamarmu," ucap Elov saat sudah berada di lantai atas dan berdiri di depan pintu kamar, "Dan yang di sebelah kamarku," ucap Elov lagi seraya mengarahkan dagunya ke arah pintu yang berada di sebelah kamar Hanna. Hanna mengangguk, dia lalu memegang handle pintu dan mendorongnya. "Sepertinya yang harusnya hati-hati itu anda Bapak Elov Killian! Aku tidak mungkin jatuh hati padamu karena trauma menjalin hubungan dengan seorang pria. Aku takut ketulusanku di sia-siakan kembali, tapi kamu? Alasan apa yang membuatmu mati rasa hm? Apa karena Alyssa? Ck! Aku rasa Alyssa pun di sana malah akan mengasihanimu." Hanna langsung masuk ke dalam kamar itu dan menutupnya setelah bicara pada Elov. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN