21. Kok mereka jadi??

1435 Kata
Bu Ainun berkali-kali minta maaf dan mengucapkan terima kasih. Karena dirinya membuat diriku terlibat dalam situasi yang membahayakan. Setelah memastikan aku baik-baik saja beliau pamit undur diri untuk mengurus anak kelasannya yang dicurigai ikut acara tawuran tadi. Di sini menyisakan aku dan lima orang teman sekelasku yang berjejer di pinggir kasur UKS. Aku duduk memijat tengkuk dan bahu yang tadi terkena lemparan kerikil. Oke, aku setrong gini belum seberapa dibanding kejedot papan mading dan kena bola basket. "Gimana bisa ada Alvin?" tanya Rayn penasaran, dia nyempil di antara Jojo dan Dika yang menatap cewek-cewek serius. “Ngapain heran? Itu  kan memang acara favoritnya,” celetuk Jojo dengan raut sewajarnya. "Dia keluar lewat belakang." Jelasku. "Wah, cie elah, Dea ditolongin. Jangan-jangan Alvin ada rasa—" Dika segera disenggol kasar oleh Jojo dan Rayn. Cowok itu langsung nyengir tak berdosa. "Apaan deh! Wajar kali dia nolongin gue saat dalam bahaya, gue kan teman kelasnya." Aku membela diri. Tidak mau keinginan anak-anak ini untuk menjodohkan aku dengan Alvin makin besar. Maunya dijodohin ke Rafael. Oh ya, tadi aku sempat melihat cowok itu berdiri di koridor dengan Alisha. Dia terlihat sama sekali tidak peduli. "Jangan berkilah, Dea!" celetuk Dika lagi. Aku memberinya tatapan ala Suzana. "Wah, nggak gue sangka." Jojo berdecak mengelus dagunya lalu tersenyum mencurigakan. "Jangan-jangan—" "ENGGAK!" "Nih, lo minum lagi biar bisa tenang." Rina mengambil gelas isi air hangat dan membimbingku. Kalau Rina tidak bertindak menghentikan ini, aku sudah mau mengamuk. "Semoga aja nanti udah aman. Eh, tar kalian ada yang anterin Dea ya. Kita nggak dijemput sama supir soalnya," kata Della menatap tiga cowok itu bergantian. Benar-benar menaruh harap. "Tenang. Gue sih mau aja," kekeh Jojo. "Jangankan nganterin, kita ngarak Dea sampe rumahnya juga mau," tambah Rayn diselingi tawa geli. "Iya, diiringi drum band ekskul sini juga seru." Imajinasinya Dika memang luar biasa. Aku mengibaskan tangan. "Lebay, anjir. Nggak usah repot-repot, gue malu jadinya. Satu orang juga cukup. Makasih ya, tapi gue ngerepotin nggak?" Aku tidak enak hati. "Nggak elah, mereka kan jomblo jadi tenang aja! Banyak waktu luangnya," Rayn yang menjawab mendapat pelototan tajam dari Jojo dan Dika. Sontak aku tertawa kencang sekali puas banget. "Nyarinya yang lama tapi awet, Bro. Daripada cepet tapi ganti mulu." Telak, jawaban dari Jojo membuat Rayn malu dan Dika ngakak hebat. Rayn menonjok lengan Jojo dan Dika ekspresinya masam. Aku tertawa lagi. "Mampus lo!" celetuk Dika ke Rayn. "Alasan kuno buat orang jomblo ngenes, sok selektif padahal emang nggak laku. Nggak ada yang mau. Di sini emang gue yang paling ganteng, terbukti paling cepet laku. Jojo sama Dika aja pacaran baru beberapa kali. Yah, dari sini aja udah ketauan siapa yang paling ganteng." Rayn mulai narsis. Rayn segera ditarik oleh Dika dan didorong ke Jojo. Jojo dengan sigap menangkap tubuh Rayn. Muka Rayn panik takut dikeroyok. "Pegangin, Jo. Pengen gue gebukin nih bocah sembarangan aja," ucap Dika marah tetapi bercanda. Begini saja kok sudah bahagia ya. Aku tertawa melihat kelakuan absurd mereka. Tiba-tiba pintu UKS terbuka, di sana ada seorang cewek berkulit putih dan kurus muncul menatap ke dalam UKS heran. Siapa yang tidak kaget lihat manusia bergerombol gini. "Kak, tawurannya udah selesai. Bisa pulang nih sekarang." Deuh, dasar adik kelas. *** "Lo ngapa bisa masuk UKS? Lebay amat." Aku terlonjak kaget saat di pintu UKS muncul Alvin dengan pakaian berantakan dan di wajahnya ada sedikit luka. Cowok itu masuk dan menutup pintu. Aku masih di UKS untuk mengikat tali sepatu biar rapi. Sementara temanku yang lain naik ke atas mengambil tasku, merapikan barang-barang yang aku tinggal tadi. Melihat Alvin muncul sekarang dan kini kami berdua, aku jadi pusing lagi. "Ngeri tau nggak?" sahutku. Dia pergi ke lemari mencari sesuatu, dia mengeluarkan kotak obat membawanya ke kasur UKS. Dia duduk di sebelahku tanpa kata-kata. "Ngapain?" "Bersihin luka gue lagi dong," ucap Alvin. "Ogah!" sergahku cepat. Aku panik membuang muka saat Alvin minta diobatin. Aneh deh, dia kenapa jadi begitu? Aku melirik kotak obat dan menilai luka di wajah Alvin. Tidak separah saat digebukin preman kemarin. "Kenapa minta ama gue? Selama ini siapa yang ngurusin kalo lo babak belur? Bodo amat ya, ngapa gue jadi direpotin sama lo?" "Paling mujarab kalo lo yang bersihin dan rawat. Buruan," cetusnya tanpa bisa dibantah. Aku mendengkus sebal meraih betadine dan kapas untuk lukanya di pipi. Bagai anak kecil dia menurut dan diam saja saat tanganku mulai menyentuh wajahnya. Aku sengaja menekan lukanya keras sambil menahan agar tidak tertawa geli. Kesal banget sama orang ini. Dia menjerit kesakitan. "SAKIT! GILA! LO KASAR AMAT! ANJIR!" "BODO. SIAPA YANG MINTA DIOBATIN SAMA GUE?" Aku makin getol mencet-mencet lukanya seperti psikopat mendapatkan mainan seru. Alvin meringis gerak-gerak kayak cacing kepanasan. Alvin mendesis namun suara yang keluar kali ini rendah banget. "Jangan bikin berisik di sini, gue lagi sembunyi tauk." Aku mengerutkan kening kemudian memaklumi anak ini kan habis tawuran. Pasti saat masuk kesini lagi lewat tembok belakang. Dasar cowok bandel. "Hm, udah diobatin nih. Mau pake plester apa gitu aja? Oh ya, kata tuh cewek udah boleh pulang, lo mending cepetan kabur daripada ketangkep sama guru nanti." Aku melihat cowok itu baru berkedip setelah melamun sesaat, kemudian dia mengukir senyuman culas. "Boong. Gue yang nyuruh dia biar temen-temen lo keluar," jawab Alvin. Aku melotot tidak percaya. "Sumpah kok lo jadi rese sih? Dia temen-temen lo juga, jadi—" Aku berhenti ngoceh karena Alvin sudah memebri tatapan tidak enak. Di tengah kesunyian yang tercipta, ada suara asing masuk ke telingaku. "Nanti pulang sama gue." Aku mengerutkan kening dan merasa salah dengar. Aku mengedarkan pandangan takut suara itu asalnya dari makhluk gaib. Tidak ada makhluk apapun selain kami di sini. Jadi? "Lo ngomong?" tanyaku kebingungan. "Nggak." "Aneh. Tadi kayak ada suara gitu." "IYA, ITU EMANG SUARA GUE." Aku menepuk jidat tepat di depan wajahnya. "Ampun deh, ada orang yak? Gue nggak tahu, kirain sendirian aja di sini. Arghhh!" Aku berteriak heboh saat tiba-tiba Alvin memegang daguku dan menekan pipiku keras sehingga bibirku maju mirip ikan diangkat dari air. Dia melepaskannya setelah puas menyiksa wajahku. Sakit. Aku mengelus pipiku. Alvin mengerutkan keningnya lalu meringis memegang luka di pipinya. "Lo aneh sekarang," kataku pelan. Ucapanku membuatnya menoleh dengan raut heran. "Aneh?" Aku menggeleng kemudian. "Nggak usah didengerin, hehe. Oh ya, tadi lo ngeluarin apaan sih? Itu apa?" Aku menujuk sesuatu di lehernya. Aku melihat siluet tali hitam di lehernya. Alvin yang melamun tersentak, dia segera menyembunyikan sesuatu itu. Apa aku terlalu sok asyik mengusiknya? "Kepo. Ini jimat. Kalo tawuran pake ini gue menang." Alvin menjelaskan. "Boleh lihat?" Alvin menjauhkan tubuhnya dariku. "Kagak." "Galak lagi, heran deh." Aku meniupkan angin sehingga rambut kecilku terbang ke atas. Alvin menyipitkan matanya padaku seolah aku musuhnya lagi. Aku melirik dari sudut mataku. Alvin yang buang muka, mengangkat kepalanya sedang menerawang sesuatu. Sesuatu yang kita lihat jadi berbeda saat merubah pandangan. Kenapa, Alvin jadi berubah secepat ini di mataku? Mengapa saat melihat dari jauh seolah-olah mengenalnya sekali, namun jika lebih dekat banyak yang asing. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, begitu pun juga dengan Alvin. Blaaaam! Aku dan Alvin sama-sama terkejut saat di pintu UKS muncul Rafael berdiri dengan tampang murka. Begitulah yang aku tangkap dari eskpresi kasar dari wajah pemuda itu. Rafael berjalan mendekat dengan langkah besarnya menuju Alvin. Pemuda itu menarik kerah seragam Alvin menonjok tepat di wajah. Alvin terlempar jatuh di atas kasur UKS, cowok itu menatap tajam ke arah Rafael tidak paham mengapa tiba-tiba diserang. Aku membekap mulut. Rafael kamu ngapain? Ada perasaan takjub aku seperti cewek dalam novel yang direbutin oleh cowok-cowok ganteng membuat mereka sampai ribut. Tapi, aku tidak se-senang itu. Kenapa ada keributan tanpa sebab ini? Rafael menarik tubuhku dan memeriksa diriku. "Dea, lo nggak apa-apa?" Aku mengangguk, bukan main Rafael manis banget saat ini. "Lo! Awas kalo lo bikin masalah dan nyeret Dea lagi!" serunya menunjuk ke arah Alvin yang duduk bergeming dengan tatapan mata aura pembunuh. Aku menyaksikan sendiri dua cowok itu saling melempar tatapan tajam. Aku menatap Alvin dengan tatapan penuh rasa bersalah. Rafael membawaku keluar dari ruang UKS. "Jangan deket-deket sama biang onar itu lagi. Gue nggak suka sama dia," pinta Rafael di depan ruang UKS menatapku dalam. Hatiku berbunga-bunga, hawa panas menyelimuti pipi dan aku tersipu. Ini mimpi bukan ya? Aku mengulum senyuman senang. Tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan bersalah ke Alvin. Aku belum mengucapkan terima kasih karena dia sudah menolongku. Aku mengeyahkan bayangan Alvin lagi, kali ini Rafael yang sedang berdiri di depanku. "Rafa--" Manik mata Rafael lurus memandangiku. " Kamu bikin aku cemas banget. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku sayang sama kamu, Dea. " Berharap ini semua bukan hanya mimpi lagi. Karena, aku juga sayang sama kamu, Rafael. TBC *** 19 Okt 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN