Malam Penyergapan
Sudah sepuluh tahun sejak kejadian itu. Kejadian, di mana semua yang dia miliki direnggut secara paksa oleh, orang-orang yang berkuasa di negerinya tinggal.
Antlers merasa tidak bisa fokus, akibat masa lalunya itu. Di saat dirinya sedang mengayunkan pedang, benturan pedang yang diarahkan kepada sebatang pohon yang sudah rapuh, kurang mendapatkan damage.
“Sial!” Antlers bergumam, dengan wajah yang cemberut. “Kenapa masa-masa itu harus datang kembali di dalam ingatanku. Jika bisa otaknya, dia ingin bersihkan bagai cangkir kotor yang harus dirawat. “Huh…!” Antlers, berguling di tanah lapang yang merupakan tempat di atas bukit. Beruntung cuaca saat itu sedang berawan, jadi dirinya tidak mendapatkan panasnya matahari.
“Ketua Antlers!”
Tidak beberapa lama, suara seseorang memanggil namanya. Antlers terlalu malas untuk bangun, dirinya menunggu sang pemilik suara, untuk datang menghampirinya saja.
“Huh! Huh! Huh!”
Dalam jarak, kurang dari 3 meter. Suara napas seorang laki-laki terdengar. Antlers melirik ke arah suara itu, rerumputan menghalangi pandangannya, namun dia sudah tahu siapa pemilik suara tersebut.
“Tuan Antlers!” Kembali, pria itu memanggil namanya. Dan kali ini, pria tersebut sudah berdiri di dekat Antlers. Wajahnya, penuh dengan bulir-bulir keringat.
Antlers bangun. “Apa yang membuatmu menjadi seperti ini. Kouki!”
“Di bawah sedang terjadi berita yang sangat menggemparkan!”
“Berita menggemparkan?” Antlers penasaran, sebenarnya apa yang dimaksud oleh Kouki, hingga dia berbicara dengan nada yang penuh kekhawatiran. “Sebenarnya, apa yang terjadi?”
“Ketua lihat saja di bawah!”
Tidak ingin terlalu dibuat penasaran, Antlers segera pergi menuju lokasi kamp. Antlers mendapatkan firasat buruk, ketika angin kecil berhembus dengan sangat dingin, padahal tubuhnya dipenuhi keringat akibat latihan pedang yang dilakukan olehnya.
Ketika sudah sampai di kamp, para pasukan sedang memasang wajah serius. Semakin, kuat perasaan buruk yang menghinggapi, Antlers.
“Oh… Tuan Antlers!” Salah satu anggota di sana, menoleh ke arah Antlers dan Kouki.
Segera beberapa orang datang menghampiri Antlers.
Benzarah berkata, “Ketua Antlers!” Sambutan dengan mata yang khawatir.
“Ben! Apa yang terjadi?”
Ketika Antlers bertanya, kepada Benzarah. Pria itu langsung menundukkan kepalanya. Begitu juga dengan orang-orang yang ada di belakang Benzarah. Mereka seperti berat sekali untuk, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Huh…!” Antlers tidak mungkin memaksa mereka untuk berbicara. Namun dirinya harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. “Apakah di antara kalian tidak ada yang bisa mengatakannya kepadaku?” tanya Antlers dengan nada tegas.
Semua masih, terdiam mereka bahkan tidak berani menatap wajah Antlers.
“Ketua Antlers!” Namun masih, ada sedikit keberanian di dalam hati Kouki untuk membuka mulutnya. “Anda bisa mengetahuinya, saat masuk ke dalam tenda itu!”
Kouki menunjuk ke arah jam dua. Tanpa banyak bicara, Antlers segera pergi menuju tenda tersebut.
Begitu masuk, Antlers sangat terkejut. Seorang pria sedang terkapar tidak berdaya, dengan wajah yang sangat pucat. Di dadanya, terdapat luka goresan besar, yang sudah diperban.
“Jiang Wan! Apa yang terjadi dengan dirimu!” Antlers langsung duduk, bersila di samping pria itu.
Jiang Wan, yang mendengar suara Antlers perlahan membuka matanya. Sorotan matanya begitu sayu.
“Oh… Antlers, kau sudah datang rupanya!” Senyuman dingin, diberikan Jiang, saat melihat Antlers sosok sahabat yang telah dinanti olehnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Antlers menjadi sangat panik, apa yang bisa membuat kesatria hebat seperti Jiang Wan, terluka seperti itu.
“Antlers, aku akan memberi tahu dirimu sesuatu. Namun kau harus siap untuk mendengarkannya!”
Antlers menyipitkan matanya.
“Antlers, di malam kemarin, kami baru saja mendapatkan penyerangan!”
***
Pada waktu malam, ketika Jiang Wan yang sedang ditugaskan untuk melindungi kereta Raja Ezraf.
Raja Ezraf, ingin melakukan kunjungan ke negeri tetangga untuk hubungan diplomatis. Perjalanan itu sudah dimulai sejak siang tadi, dan mereka masih melanjutkan perjalanan, hingga malam datang.
Sebagai seorang raja dari kerajaan besar, tentunya perjalanan dengan jarak yang cukup jauh akan sangat berbahaya. Raja Ezraf, sangat curiga dengan undangan itu, namun beliau tidak bisa menolaknya.
Lalu Raja Ezraf meminta, salah satu jendral terbaik kerajaannya yaitu Jiang Wan. Jiang Wan juga merupakan orang yang sangat setia.
Kesetiaan pria ini sudah sangat terbukti, selama bertahun-tahun dia bisa membawakan kemenangan bagi kerajaan. Hingga dia menjadi salah satu jendral terbaik milik kerajaan Sherianza.
Sebagai orang yang paling dipercaya, Jiang Wan mendapatkan tugas untuk melindungi sang raja selama perjalanan dimulai. Tentu saja, hal ini merupakan hal yang sangat berat, bagi dirinya.
Bagi Jiang Wan, lebih baik bertempur melawan pasukan musuh yang jumlahnya ada ribuan, daripada disuruh melindungi nyawa seseorang terlebih lagi itu adalah raja yang paling dia hormati.
Saat perjalanan dimulai, pasukan dibagi menjadi dua unit. Unit pertama akan melewati jalan selatan. Jalan itu merupakan jalan yang biasa digunakan untuk jalur perdagangan, dan jalur yang paling umum untuk dilewati oleh setiap orang. Di jalur itu, sebuah pasukan yang bersama dengan kereta yang membawa sebuah umpan.
Umpan digunakan untuk, mengecoh musuh-musuh yang sedang mengincar Raja Ezraf.
Lalu unit kedua yang akan menempuh jalur utara, jalur utara merupakan jalur yang dipenuhi oleh bukit dan hutan yang cukup lebat. Meski harus memakan waktu yang lebih lama, namun jalur tersebut terbilang aman, untuk menghindari sergapan musuh. Karena jarang sekali ada orang yang melewati jalur utara.
Setelah mempertimbangkan segala hal. Raja Ezraf tetap mengambil jalur utara, demi menghindari segala kemungkinan terburuk.
***
Jiang Wan, tetap merasa kalau semua ini adalah ide yang buruk. Di atas kuda miliknya , Jiang Wan terus memperhatikan area sekitar. “Hm… apakah memang benar, kalau jalur ini merupakan tempat yang aman?”
Bulan bersinar dengan sangat terang, hingga mereka tidak perlu menggunakan penerangan tambahan untuk melihat jalan.
Sekitar 3 jam sudah, mereka melintasi wilayah utara yang ditemani oleh rembulan, melintasi hutan lebat yang memberikan kesunyian mengerikan. Jika berjalan sendirian di hutan itu, mungkin bulu kuduk akan merinding.
Semuanya tampak baik-baik saja, sampai…
“Uh!” Jiang Wan yang berada di depan, baru saja mendengar suara teriakan salah satu prajurit yang berjaga di belakang. Kemudian, asap tiba-tiba muncul, hal ini menambah kepanikan yang melanda pikiran Jiang Wan. “Apa yang terjadi? Semuanya, lindungi kereta Yang Mulia!” Jiang Wan dan pasukan segera melingkari kereta sang raja.
“Cih! Apakah ini, adalah ulah musuh?” Jiang Wan, berkeringat dingin. Akibat serangan tersebut.
“Jiang Wan, apa yang terjadi?” Raja Ezraf, menjulurkan kepalanya, karena heran dengan suara gaduh yang terdengar.
“Yang Mulia, kita sedang diserang! Sebaiknya, Anda tetap berada di dalam kereta!” Jiang Wan tidak bisa melepaskan pandangannya ke sekitar, dirinya tidak mengetahui dari mana musuh akan menyerang mereka.
Raja Ezraf segera kembali memasukan, kepalanya ke dalam kereta. Dan berharap kalau penyerangan itu tidak membahayakan dirinya dan seluruh pasukan.
Sebuah api terang muncul di atas, kepala Jiang Wan. Api tersebut merupakan panah yang telah diberi api di ujungnya.
__To Be Continued__