2

1662 Kata
Setelah Rini meninggalkan rumah, suasana di dalam rumah tampak canggung. Tino duduk di ruang tamu, menatap ke luar jendela sejenak, berpikir tentang pekerjaannya yang menunggu. Di meja makan, Tia duduk dengan gelas kosong di depannya, mencoba mengalihkan perhatian dengan bermain-main dengan ujung sendok, tapi pikirannya terasa kacau. Intan yang sudah selesai sarapan berlari ke arah Tino. "Papa, aku siap-siap sekolah ya," kata Intan ceria. Tino tersenyum, meskipun pikirannya masih sedikit terombang-ambing. "Iya, sayang. Cepat siap, biar nggak terlambat," jawabnya sambil memandang anaknya. Intan berlari menuju kamar tidur, meninggalkan Tino dan Tia yang kini berada di ruang tamu. Tia menggigit bibir bawahnya, tak tahu harus berkata apa. Ia merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul antara dirinya dan kakak iparnya. Tino merasa ada yang aneh, tapi ia tak tahu bagaimana harus memulai percakapan. Beberapa detik berlalu dalam diam, keduanya hanya saling mencuri pandang sesekali, tapi tak ada satu pun yang mengucapkan kata-kata. Akhirnya, Tino memecah keheningan. "Tia..." Tia menoleh, sedikit terkejut mendengar suaranya. "Iya, Mas?" Tino menghela napas, berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Kamu baik-baik aja, kan?" Tia terdiam sejenak, menatap Tino dengan pandangan yang sulit dibaca. "Iya, Mas. Aku cuma... kaget sedikit tadi." "Kaget?" Tino menatap Tia dengan ragu. "Maksudnya?" Tia menunduk, memutar sendok di piringnya yang kosong. "Aku nggak tahu... merasa canggung saja, setelah kejadian semalam." Tino menatapnya tajam, menahan napas. "Tia..." Suaranya sedikit tegang. "Kita nggak boleh salah paham, paham?" Tia mengangguk perlahan, wajahnya memerah. "Aku tahu, Mas. Aku juga nggak tahu kenapa itu bisa terjadi." Suasana di antara mereka kembali hening. Tino merasa cemas, sementara Tia berusaha menenangkan dirinya. "Sudahlah," kata Tino akhirnya, suara lebih lembut. "Kita coba untuk tetap biasa aja, oke? Jangan ada yang aneh." Tia mengangguk, meskipun hatinya tidak sepenuhnya yakin bisa menenangkan pikirannya. "Iya, Mas. Aku... aku akan berusaha." Keduanya diam lagi, saling melirik tapi tidak ada yang berani mengucapkan lebih banyak kata-kata. Semua terasa semakin canggung setelah Rini pergi. Intan turun dari tangga dengan tas pink bergambar kelinci yang lucu. Matanya cerah, penuh semangat untuk memulai hari. "Papa!" serunya dengan gembira. Tino yang sedang duduk di ruang tamu, menatap ke arah putrinya. "Ada apa, sayang?" Intan berjalan mendekat dan meletakkan tasnya di meja. "Papa antar aku ke sekolah, ya? Aku kangen dianter Papa ke sekolah." Tino tersenyum, bangkit dari kursi. "Tentu, Papa antar. Tunggu sebentar, ya." Ia mengambil ponsel dan mulai menelepon dokter junior di rumah sakit untuk menggantikan jadwal operasinya. Intan duduk di sofa, menunggu dengan sabar. Namun tiba-tiba, ia melirik ke arah Tia yang sedang duduk di meja makan. "Tante, nggak mau ikut antar aku ke sekolah?" Tia yang sedang bermain hp sedikit terkejut dengan pertanyaan Intan. "Tante?" "Iya, Tante. Temani kami. Ayo, kan seru!" Intan tersenyum lebar. Tia ragu, memandang Tino sejenak. "Aku nggak enak sama Papa, nanti malah ganggu." "Jangan begitu, Tante. Papa juga nggak masalah kok, iya kan Pa?" kata Intan dengan senyum meyakinkan. Tia mengusap wajahnya, merasa canggung. "Tapi..." Tino yang baru selesai menelepon melihat kebingungannya. "Iya. Tante Tia, ikut saja. Kita antar Intan bersama-sama," Tia menghela napas, masih ragu. "Kalau gitu... yaudah deh, Tante akan ikut." Intan melompat kegirangan. "Yay, terima kasih, Tante!" Tino tersenyum, merasa lega. "Ayo, kita berangkat sekarang. Nanti telat loh." Tia berdiri, sedikit kikuk. "Ya, ayo..." Mereka keluar bersama-sama, Tino mengendarai mobil dengan Intan duduk di kursi depan dan Tia di belakang. Suasana di dalam mobil terasa agak canggung, namun Intan berusaha mencairkan suasana dengan berbicara ceria tentang sekolahnya. "Papa, kemarin ada pelajaran seni, aku gambar kelinci lho!" Intan bercerita. "Oh iya? Kelinci seperti apa?" tanya Tino, terlihat tertarik. "Kelinci yang lucu banget! Kecil, telinganya panjang, dan ada pita pink di lehernya!" Intan menggerakkan tangannya menggambarkan bentuk kelinci tersebut. Tia tersenyum tipis, meskipun ia masih merasa canggung. "Itu pasti lucu." Intan memutar badannya ke belakang, tersenyum lebar ke arah Tia. "Tante, nanti aku kasih gambar kelinci itu, ya!" Tia tertawa kecil. "Boleh, Sayang. Tante suka gambar kelinci." Tino melihat ke arah jalan, senang mendengar percakapan ringan di dalam mobil. Meski canggung di awal, suasana mulai sedikit lebih santai. Setelah Tino mengantarkan Intan sampai di depan kelas, Intan menatap ayahnya dengan senyum cerah. "Pa, nanti jemput aku ya, bersama Tante Tia!" ujarnya dengan penuh harap. Tino tersenyum tipis, mengangguk. "Iya, sayang, Papa pasti jemput kamu nanti." Intan mencium pipi ayahnya dengan lembut, lalu berlari menuju kelasnya. Tino memandangi putrinya masuk ke dalam kelas, lalu berbalik dan menuju mobil, diikuti Tia yang berjalan di belakangnya. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, suasana kembali terasa canggung. Tino menghidupkan mesin mobil, fokus pada jalan, sementara Tia duduk dengan tenang di kursi penumpang, merasa canggung dengan ketegangan yang mengisi ruang di antara mereka. Tino akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar tenang dan serius. "Aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku antar kamu pulang dulu," katanya singkat. Tia mengangguk, tak berani berkata banyak. "Terima kasih, Mas," jawabnya pelan, merasakan atmosfer yang tegang. Tino mengendarai mobil dengan sikap yang lebih tertutup, tetap menjaga jarak meskipun ada banyak hal yang seharusnya ingin dibicarakan. Mereka hanya duduk dalam keheningan, hanya terdengar suara mesin mobil dan desiran angin yang mengalir masuk melalui jendela. Tia merasakan kecanggungan itu semakin dalam, namun ia memilih untuk tetap diam, tidak ingin memperburuk suasana. Tino tetap fokus pada jalan, menatap lurus ke depan, seakan menjaga jarak dan batas antara mereka. Perjalanan terasa sangat lama, namun akhirnya mereka sampai di rumah Tino. Mobil berhenti di depan pintu rumah, dan Tino menepikan kendaraan dengan perlahan. "Mas langsung berangkat sekarang?" ucap Tia pelan, masih menjaga jarak, menatap ke luar jendela dan tidak berani menatap Tino langsung. Tino mengangguk singkat. "Iya," jawabnya dengan nada datar, masih menjaga sikap yang sama, tidak banyak bicara. Tia membuka pintu mobil dan keluar dengan hati-hati, berusaha untuk tidak menunjukkan kecanggungan yang terasa. "Terima kasih, Mas," katanya pelan sebelum menutup pintu dengan lembut. Tino mengangguk lagi, memperhatikan Tia yang melangkah menuju pintu rumah. Ia tidak langsung pergi, menunggu beberapa detik hingga Tia sudah masuk ke dalam rumah. Setelah itu, Tino kembali menghidupkan mesin mobil, melaju perlahan meninggalkan rumah Tia. Ketegangan masih terasa, tidak ada percakapan lebih lanjut antara mereka. Tino tetap menjaga jarak, menjalani hari dengan pikiran yang penuh. ** Siang itu, sudah jamnya Intan pulang sekolah Tino berdiri di depan pintu kamar Tia, mengetuknya beberapa kali. Tak ada jawaban. Ia mengernyitkan kening dan memanggil, "Tia, kamu di dalam?" Namun tetap hening. Dengan sedikit rasa ragu, Tino membuka pintu kamar Tia, berniat untuk mengajak Tia menjemput Intan di sekolah. Begitu pintu terbuka, Tino terkejut melihat Tia sedang tengkurap di tempat tidur, mengenakan hotpants dan kaos singlet tali kecil, sambil asyik membaca novel f***o dan mendengarkan lagu dengan headset. Tino tertegun di depan pintu. Pandangannya terfokus pada Tia, dan entah mengapa, kakinya terasa berat untuk melangkah pergi. Namun, saat Tia mendengar langkah kaki Tino dan menoleh, ia langsung terkejut. "Mas!" serunya, segera bangkit dari tempat tidur dan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Wajahnya langsung memerah, merasa canggung. Tino tetap berdiri di depan pintu, matanya tidak sengaja terfokus pada Tia. Namun, ia segera menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara lebih pelan. "Aku... cuma mau ngajak kamu jemput Intan," katanya cepat, seolah ingin mengalihkan perhatian. Tia mengangguk, merasa agak lega karena Tino langsung mengalihkan topik. "Iya, Mas. Aku siap-siap dulu," jawabnya dengan suara agak gemetar, lalu buru-buru berjalan menuju lemari untuk mengganti pakaian. Tino berdiri di depan pintu, tidak bisa menghindari rasa canggung yang kini menyelimuti suasana. Ia mencoba untuk tidak menatap Tia lebih lama dan memilih untuk menunggu di luar kamar. Jeritan Tia menggema di kamar, membuat Tino yang hampir keluar dari kamar langsung berlari kembali ke arah suara. "Mas! Tolong!" Tia berteriak panik dari dalam kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, Tino membuka pintu kamar mandi. "Tia! Ada apa?" serunya keras, matanya langsung menangkap pemandangan air yang menyembur deras dari wastafel, membasahi ruangan dan tubuh Tia yang sudah kuyup. "Kran ini rusak, Mas! Airnya nggak berhenti!" Tia berteriak, mencoba menutupi tubuhnya yang basah dengan kedua tangannya, merasa pakaian tipisnya semakin menjiplak. Tino melangkah cepat, air membasahi tubuhnya juga. "Minggir, aku coba matikan!" Tia bergeser, tetapi terpeleset sedikit, membuatnya memegang lengan Tino untuk menahan keseimbangan. "Cepat, Mas! Airnya kayak mau bikin banjir!" Tino mendekat ke wastafel, berjongkok, tangannya berusaha meraih kran yang patah. Namun air terus menyembur, membuat pandangannya terhalang. "Aduh, ini susah banget!" desisnya kesal. "Mas, gimana? Cepetan dong!" suara Tia semakin panik. "Diam dulu, Tia! Aku butuh konsentrasi!" Tino membentak pelan, frustasi dengan semburan air. Akhirnya, dengan sekali hentakan, ia menyumpel lubang kran itu menggunakan handuk kecil. Air berhenti menyembur, tetapi keheningan yang menyusul justru membuat suasana terasa semakin aneh. Tino berdiri perlahan, tubuhnya kuyup, kaos yang ia pakai kini melekat sempurna di badannya. Tia berdiri beberapa langkah darinya, sama basahnya, dengan kaos inglet tali kecil dan hotpants yang kini menjiplak tubuhnya dengan jelas. Tino berusaha memalingkan pandangan, tetapi matanya tetap terpaku sesaat. "Kamu nggak apa-apa?" suaranya rendah, terdengar serak. Tia hanya mengangguk, menggigit bibir bawahnya, mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan. "Aku... nggak apa-apa, Mas," jawabnya pelan, wajahnya mulai memerah. Tiba-tiba, Tia mengaduh pelan. "Aduh..." "Ada apa lagi?" Tino langsung mendekat, melihat Tia memegang jarinya. Darah mengalir pelan dari luka kecil di tangannya. "Tanganku kena patahan kran, Mas," bisik Tia, wajahnya menahan sakit. Tanpa berkata apa-apa, Tino meraih tangan Tia. "Sini, aku lihat." "Mas... nggak perlu, cuma luka kecil," Tia mencoba menarik tangannya, tetapi Tino menahannya. "Diam," ujarnya tegas, lalu tanpa ragu, ia membawa jari Tia ke mulutnya, mengisap darah yang mengalir dari luka itu. Tia membelalak, tubuhnya menegang. "Mas... apa yang..." suaranya tertahan, dadanya terasa sesak oleh suasana yang mendadak berubah. Tino melepaskan jari Tia setelah beberapa saat, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Aku nggak mau kamu infeksi," katanya pelan, nadanya serius, namun ada sesuatu yang lebih dalam yang tidak ia katakan. Tia hanya terdiam, tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena tatapan Tino yang terasa menusuk. Ia merasa seperti terjebak di antara ketegangan dan rasa yang sulit ia pahami. Tino akhirnya menarik napas panjang, mengalihkan pandangan. "Ganti baju dulu. Jangan sampai sakit," katanya, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang, meski ketegangan di antara mereka belum hilang. Tiba-tiba...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN