bc

Gairah Liar Iparku

book_age18+
3
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
love-triangle
BE
family
time-travel
friends to lovers
badboy
stepfather
drama
kicking
city
high-tech world
affair
like
intro-logo
Uraian

Awas 21+"Ahh... Pelan-pelan Raka, nanti kakakmu dengar," Bagaimana jadinya jika seorang istri malah bermain gila dengan iparnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
1
Tino baru saja pulang dari rumah sakit setelah shift panjang yang melelahkan. Rumah terasa sunyi. Sepi. Hanya suara jam dinding yang samar terdengar. Tapi, ada suara lain. Berasal dari dapur. Dia mengernyit, merasa aneh. Rini, istrinya, biasanya sudah tidur pada jam seperti ini. Dengan langkah perlahan, Tino berjalan menuju dapur, rasa penasarannya mengalahkan kelelahan. Di sana, di depan wastafel, berdiri seorang wanita dengan rambut terurai. Tanpa pikir panjang, Tino mendekatinya dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. "Kamu nggak tidur, Sayang?" bisiknya lembut sambil mengecup tengkuk wanita itu. Wanita itu tersentak. "Mas, ini aku!" Tino terdiam, mendadak dingin. Ia segera melepaskan pelukan itu, wajahnya pucat saat wanita itu berbalik. "Tia?!" Tia, adik ipar Tino, menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan gugup. Ia memegang lengan Tino, mencoba menjelaskan. "Aku... aku cuma ambil air, Mas. Aku nggak sengaja bikin keributan." Tino mengalihkan pandangannya, kedua tangannya gemetar. "Kenapa kamu nggak bilang kalau itu kamu? Aku pikir... Aku pikir kamu Rini." Tia mengangguk pelan, wajahnya ikut memerah. "Aku nggak tahu, Mas... aku kaget banget." Hening meliputi mereka, hanya suara detak jam yang mengisi ruang. Tino melangkah mundur, mengusap wajahnya dengan kasar. "Tia, ini nggak boleh terulang lagi," katanya dengan suara serak. Tia mengangguk, suaranya hampir tak terdengar. "Aku ngerti, Mas." Namun, jauh di dalam benaknya, Tino tak bisa melupakan detik-detik canggung itu. Dan Tia... ia juga tak bisa mengabaikan rasa aneh yang menyelinap ke dalam hatinya. Suasana di dapur itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar salah paham. * Tino membuka pintu kamar dengan perlahan. Di atas ranjang, Rini tampak terlelap dengan posisi menyamping, wajahnya teduh di bawah selimut tebal. Tapi suara pintu yang terbuka membuatnya menggeliat pelan. "Mas," panggil Rini sambil tersenyum hangat. Matanya setengah terbuka, tapi rasa bahagia menyambut suaminya jelas terpancar di wajahnya. Tino membalas senyum itu, meski ada kegelisahan yang ia sembunyikan. "Belum tidur nyenyak, Rin?" "Baru aja... Aku nungguin Mas tadi, tapi ketiduran," jawab Rini seraya bangkit duduk, rambutnya sedikit acak-acakan namun tetap terlihat cantik. Tino melangkah masuk, meletakkan tas kerjanya di meja dekat tempat tidur. "Aku mandi dulu, ya. Kamu tahu kan, protokolnya begini. Nggak mau bawa kuman dari rumah sakit ke rumah." Rini mengangguk paham. "Iya, Mas. Mau aku siapkan baju gantinya?" Tino tersenyum kecil, menggeleng. "Nggak usah. Kamu istirahat aja." Rini menatap suaminya dengan penuh kasih, namun tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Mas kelihatan capek banget. Kamu makan dulu, gimana?" Tino melambaikan tangan. "Nanti aja, habis mandi." Ia berjalan menuju kamar mandi, pintu tertutup perlahan di belakangnya. Saat air shower mulai mengalir di atas tubuhnya, Tino menatap ke cermin kecil di sudut dinding. Di sana, ia menatap bayangannya sendiri. "Kenapa aku bisa sebodoh itu tadi?" gumamnya pelan, suara air nyaris menenggelamkan kekesalannya. Ia memejamkan mata, berusaha mengusir ingatan canggung di dapur beberapa menit yang lalu. Namun bayangan Tia dan momen itu terus membayang, menyusup tanpa ampun ke dalam pikirannya. * Tino keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di lehernya. Rambutnya masih basah, meneteskan sisa air yang belum sempat ia lap. Ia duduk di sisi ranjang, memandangi Rini yang sedang membenahi selimut. "Rin," Tino memulai, suaranya pelan namun serius, "sejak kapan Tia ada di rumah kita?" Rini menoleh, wajahnya bingung. "Baru dua hari yang lalu, Mas. Aku udah cerita, kan?" Tino mengernyit, berusaha mengingat. "Cerita? Kapan?" Rini tertawa kecil. "Mungkin Mas terlalu sibuk. Tia udah lulus kuliah perawat, dan dia bilang mau cari kerja di kota. Aku pikir daripada dia ngekos, mending tinggal di sini aja. Lagian, rumah kita masih banyak kamar kosong." Tino terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan istrinya. "Jadi... kamu yang ajak dia tinggal di sini?" "Iya, Mas," jawab Rini santai. "Aku juga udah bilang ke kamu waktu itu. Mas nggak setuju, ya?" Tino cepat-cepat menggeleng, meskipun hatinya merasa sedikit gelisah. "Bukan gitu, Rin. Aku cuma... kaget aja. Biasanya kamu selalu diskusi dulu soal hal kayak gini." Rini menyentuh tangan Tino, menatapnya lembut. "Maaf kalau aku nggak terlalu jelas waktu itu. Tapi aku yakin, Mas nggak keberatan, kan? Tia juga nggak bakal ngerepotin." Tino memaksakan senyum. "Nggak apa-apa. Kalau kamu udah bilang, ya aku ikut aja." Rini tersenyum lega. "Aku tahu Mas pasti ngerti. Lagian, Tia itu adik aku. Dia cuma butuh waktu sebentar sampai dapat kerja." Tino mengangguk pelan. Tapi pikirannya kembali terlempar ke kejadian di dapur tadi. Bayangan Tia dan situasi canggung itu membuat hatinya tak tenang. Namun, ia memilih untuk tidak berkata apa-apa. "Ya udah, Rin. Aku mau istirahat. Capek banget hari ini." "Iya, Mas. Tidur yang nyenyak, ya." Tino merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Hatinya penuh kegelisahan, namun ia tahu, ada hal-hal yang lebih baik disimpan sendiri. Untuk saat ini. * Pagi itu, aroma roti panggang dan kopi memenuhi ruang makan rumah mewah milik Tino. Di meja makan, Rini sibuk menuangkan s**u ke gelas kecil milik Intan, putrinya yang masih berusia lima tahun. Tia duduk di sebelah mereka, mengenakan pakaian kasual yang rapi. "Intan, habiskan rotinya, ya," ujar Rini sambil tersenyum. "Iya, Mama," jawab Intan ceria sambil mengunyah pelan. Dari kejauhan, langkah kaki Tino terdengar menuruni tangga. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Tia mencuri pandang ke arah kakak iparnya yang mengenakan kemeja biru muda dan dasi abu-abu. Pandangan Tia tertahan sejenak, mengamati sosok Tino yang terlihat rapi dan gagah pagi itu. Tino sampai di meja makan, melirik sekilas ke arah Tia yang tampak gugup dan segera mengalihkan pandangannya ke piring di depannya. "Pagi, semuanya," sapa Tino, suaranya tegas namun lembut. "Pagi, Mas," balas Rini dengan senyum hangat. "Kamu mau sarapan apa? Aku bikin roti panggang dan telur, atau mau cereal aja?" "Roti panggang aja, Rin. Aku nggak bisa lama-lama. Ada operasi pagi ini," jawab Tino sambil duduk. Rini segera berdiri untuk mengambilkan sarapan suaminya, sementara Tia tetap fokus pada piringnya, berusaha terlihat biasa saja meskipun jantungnya berdebar kencang. "Papa, nanti kalo besar Intan mau jadi dokter kayak Papa? Jadi bisa nolongin orang yang sakit," ucap Intan dengan polos. Tino tersenyum, menatap putrinya. "Iya, Sayang. Anak Papa kan baik hati, jadi ingin membantu orang ya," "Iya Pa, aku ingin bantu orang yang sakit!" seru Intan sambil tersenyum lebar. Tino terkekeh kecil, sementara Tia mencuri pandang lagi ke arah Tino. Kali ini, tatapan mereka bertemu sejenak. Tino segera mengalihkan pandangan, menyadari ketegangan aneh yang mulai terasa di ruangan itu. "Tia," panggil Tino, berusaha mengatasi suasana. "Sudah mulai cari kerja?" Tia tersentak kecil, tapi segera menjawab dengan tenang. "Iya, Mas. Aku udah kirim beberapa lamaran, tinggal tunggu panggilan." "Bagus," ujar Tino sambil mengangguk pelan. "Semoga cepat dapat kerja." "Iya, Mas. Terima kasih," balas Tia dengan senyum tipis. Rini kembali membawa roti panggang ke meja, tampak tak menyadari ketegangan kecil yang terjadi di antara mereka. "Ini sarapannya, Mas. Cepat habiskan, biar nggak terlambat." Tino tersenyum kecil ke arah istrinya. "Iya, Rin. Makasih." Namun, meski mulutnya mengunyah roti, pikirannya terusik oleh tatapan Tia yang barusan. Di sisi lain, Tia menunduk, mencoba menenangkan gejolak aneh yang mulai tumbuh di hatinya. Tia menundukkan kepala, matanya masih menatap piring di depannya, tetapi pikirannya melayang jauh. Saat Tino duduk di meja makan, ia tidak bisa menghindari bayangan kejadian semalam yang masih terpatri jelas dalam ingatannya. Keheningan seolah membungkusnya, sementara suara Intan yang ceria dan tawa Rini di sekitarnya seakan tidak terdengar. Tia kembali mencuri pandang ke arah Tino, yang sedang memotong roti panggangnya dengan hati-hati. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya, mengingat detik-detik canggung yang tak bisa ia lupakan. Semalam... Tia masih bisa merasakan hangat tubuh Tino saat mereka berdiri begitu dekat di dapur, bagaimana tangan Tino melingkar di pinggangnya, dan deru nafas Tino yang mengendus tengkuknya, bagaimana perasaan aneh yang melesat begitu cepat. Ia tak tahu mengapa, tapi tubuhnya masih meresapi momen itu, dan kini setiap kali ia menatap kakak iparnya, rasa itu kembali muncul. Tia mencoba menepis perasaan itu, namun saat tatapan mereka bertemu lagi di meja makan, hatinya berdebar kencang. Tino merasa ada yang berbeda dengan tatapan Tia. Ada ketegangan yang tak biasa, dan meskipun ia berusaha berfokus pada sarapannya, pikirannya tak bisa sepenuhnya tenang. Ia tahu, Tia seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri, dan dia... entah mengapa, merasa ikut terjebak dalam kebingungannya. Tia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan dirinya. "Aku harus fokus, tidak boleh terjebak dalam perasaan ini," pikirnya, meskipun hatinya tak bisa berkata demikian. Rini sedang menghabiskan sarapan di meja makan, terlihat siap dengan penampilannya yang rapi. Tino menatap istrinya dengan bangga. "Mas, aku hari ini harus ke luar kota," kata Rini dengan nada ringan, namun ada keseriusan di balik ucapannya. Tino mengangkat alis, menatapnya penuh perhatian. "Ke luar kota? Ada urusan apa?" Rini tersenyum dan mengangkat secangkir kopi. "Aku diundang sebagai pembicara di seminar tentang perselingkuhan. Isu yang semakin marak, kan. Aku rasa aku bisa berbagi banyak di acara itu." Tino tersenyum lebar, mata penuh kekaguman. "Aku bangga banget sama kamu, Rin. Kamu memang hebat." Rini membalas senyum itu, merasa hangat dengan dukungan suaminya. "Terima kasih, Mas. Aku juga merasa penting banget bisa berbicara tentang hal ini. Banyak orang yang perlu tahu dampak buruknya." Tino meraih tangan Rini, menggenggamnya erat. "Kamu harus fokus di seminar itu, ya. Aku akan urus Intan di rumah. Jangan khawatir, aku akan pastikan semuanya berjalan lancar. Setelah pekerjaan selesai, aku pulang cepat." Rini merasakan ketenangan mendalam, mendengar suaminya berbicara begitu percaya diri. "Kamu selalu mendukung aku, Mas. Aku merasa nggak pernah sendiri." Tino menyentuh pipi Rini lembut, matanya penuh cinta. "Kamu nggak akan pernah sendiri, Rin. Aku ada di sini, selalu." Rini menatap Tino dengan penuh rasa sayang. "Aku juga akan selalu ada untuk kamu, Mas." Mereka saling tersenyum, suasana hangat memenuhi ruang makan. Tino memberikan ciuman lembut di dahinya. "Semangat ya, sayang. Semoga acaranya sukses." "Semoga," jawab Rini, wajahnya semakin berseri. "Dan kamu jangan lupa makan siang, ya. Nanti aku telpon kalau udah sampai." Tino mengangguk, senyum masih terukir di wajahnya. "Iya, pasti. Hati-hati di perjalanan, Rin. Aku tunggu kabarmu." Rini berdiri, melangkah menuju pintu dengan keyakinan. Tino menatapnya dengan bangga, merasa semakin dekat dengan istrinya. Kompak dan romantis, mereka adalah pasangan yang tak terpisahkan. Rini berjalan ke arah Intan yang sedang duduk di meja makan, menikmati sarapannya. Intan tampak sedang mengunyah roti dengan serius, namun matanya tetap melirik ke arah ibunya. "Mama mau pergi, ya?" tanya Intan dengan suara kecil, sedikit melongo. Rini tersenyum lembut, merapikan rambut putrinya. "Iya, sayang. Mama pergi ke luar kota untuk seminar. Tapi jangan khawatir, Mama cuma beberapa hari kok." Intan menatap ibunya dengan pandangan mengerti. "Semoga seminar-nya lancar, Mama." Rini membalas senyum manis putrinya. "Terima kasih, sayang. Mama pasti bawa oleh-oleh buat kamu." Intan mengangguk sambil melanjutkan sarapannya, meski di wajahnya terlihat sedikit kesedihan. "Papa kan di rumah Ma. Aku nggak apa-apa." "Betul," jawab Rini dengan lembut, mengelus kepala Intan. "Papa pasti jaga kamu. Kalau ada apa-apa, telepon Mama ya." Intan tersenyum, meskipun terlihat ragu. "Iya, Mama." Rini duduk di sampingnya, mendekatkan dirinya. "Jaga diri baik-baik, ya. Jangan lupa sarapan dan siap-siap untuk sekolah." Intan menatap ibunya dengan penuh pengertian. "Iya, Mama. Semoga Mama cepat pulang." Rini memeluk Intan erat, mencium keningnya dengan penuh kasih. "Mama sayang kamu, Intan. Nanti kita ngobrol lagi, ya." "Intan juga sayang Mama. Hati-hati di jalan Mama," jawab Intan dengan suara pelan, senyumnya kembali muncul meskipun matanya sedikit berkaca. Rini berdiri dan melangkah menuju pintu, memberi pandangan terakhir yang penuh kasih pada putrinya. "Oke, Mama berangkat sekarang. Jangan telat makan ya Sayang," "Aku berangkat semua," ucapnya dengan senyuman. Setelah itu, Rini keluar dari rumah, meninggalkan Intan yang masih menikmati sarapan, tapi hatinya penuh dengan harapan untuk segera kembali bersama keluarganya. Edit naskah ini menjadi lebih greget dan hidup min

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

WAKTU YANG HILANG

read
43.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.3K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Rebirth : Aku Kembali, Sayang

read
1.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook