Bab. 10 Kesepian

2003 Kata
Azura duduk termenung di kamarnya, dia merasa kesepian dan bosan di rumah sebesar ini dengan hanya berdiam diri. Azura dilarang melakukan pekerjaan rumah ataupun memasak, dia hanya duduk diam dan bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Azura mengambil tas lusuhnya, dia melihat uang yang diberikan oleh ibunya. Azura bingung, dia ingin menyimpan uang ini di bank tetapi dia tidak berani keluar rumah tanpa ijin dari Melvin ataupun Adira. "Aku ingin membeli laptop," ucap Azura menghela nafasnya. Uang tabungannya terisi gaji terakhir yang dia dapatkan, gajinya utuh dan bahkan belum dia sentuh sedikitpun. Semua kebutuhannya di penuhi oleh Melvin, untuk makan tempat tinggal dan lainnya. Gaji Azura biasanya sudah dia kirimkan ke kampung, tetapi ibunya mengatakan jika Azura tidak perlu mengirimkan uang lagi pada mereka, Prasasti berjanji akan segera menyusul Azura ke kota agar Azura tidak perlu mengkhawatirkan kondisinya. "Apa aku minta tolong Melvin?" ucap Azura bertanya pada dirinya sendiri. Azura bergegas mengembalikan uangnya ke lemari dan dia segera keluar kamar berharap Melvin dan Adira segera pulang ke rumah. Dia merasa kesepian, Apakah Melvin tidak merasakan hal yang sama? atau hal ini sudah sangat biasa baginya?. "Melvin sudah pulang?" tanya Azura. "Pak Melvin biasanya pulang pukul lima," ucap pelayan. "Nenek?" tanya Azura. "Nyonya sedang beristirahat setelah kembali dari pertemuan," ucap pelayan tersebut dengan sopan. Azura menghela nafasnya, dia menuju dapur dan berada di dapur kotor untuk melihat banyak orang berlalu lalang di dapur untuk memasak. Bagaimana bisa dapur kotor tetapi sangat bersih seperti ini. Tempatnya luas dan banyak pekerja yang berpengalaman yang menjalankan tugasnya dengan baik. "Aku tidak boleh menyentuh apapun?" tanya Azura pada pelayan yang setia menemaninya. Pelayan tersebut sengaja Melvin perintahkan untuk melayani Azura, sejak awal dia tidak boleh banyak bekerja karena Melvin dan neneknya tidak ingin anak yang ada di perut Azura kenapa-kenapa. "Aku ingin memasak," ucap Azura. "Nona tidak boleh melakukan hal itu, saya tidak ingin di pecat jika membiarkan nona melakukan hal yang dilarang oleh Pak Melvin." Pelayan itu bernama Ida. "Aku bosan," ucap Azura. Ida bingung akan melakukan apa, Azura memang tidak bisa diam dan ingin melakukan semua hal yang ada. Semua orang pekerja disini tahu jika Melvin dan neneknya sangat keras dengan semuanya, jika mereka melanggar dan melakukan kesalahan mereka yang bekerja disini harus rela di pecat karena telah melanggar perjanjian. "Apakah aku bisa meminta makanan yang ingin aku makan?" tanya Azura. "Semua menu sudah di buatkan oleh ahli gizi sesuai dengan rekomendasi dokter yang menangani nona," ucap Ida. Azura semakin tidak paham lagi, dia merasa tidak betah hidup di sini. Dia yang terbiasa tidak makan bahkan terkadang makan-makanan yang tidak sehat kini tiba-tiba segala hidupnya di atur oleh seseorang. Azura merasa terkurung tetapi tidak bisa melakukan apapun, percuma saja hidup di rumah tetapi makanan ala rumah sakit. Azura pergi meninggalkan dapur, dia kesal sekali dengan apa yang Ida katakan. Dia tidak ingin diatur terlalu seperti ini, dia ingin menghirup kebebasan karena dia serasa di kurung dalam sangkar emas. "Memang dari awal mereka menggunakan ahli gizi sesuai dengan rekomendasi masing-masing dokter, nyonya juga masih harus tetap kontrol setiap bulannya karena penyakitnya. Pak Melvin harus tetap menjaga kesehatannya, karena permintaan Nyonya." Ida mengatakan hal tanpa Azura memintanya. "Nenek sakit apa?" tanya Azura. "Kami tidak ada yang tahu, Nyonya juga sudah berumur mungkin seperti penyakit tua," ucap Ida. Azura menuju ke ruang keluarga, dia ingin menonton televisi. Lagi pula dia tidak tahu apa fungsi televisi sebesar ini jika hanya untuk pajangan saja. Hidup dalam sangkar emas yang Melvin berikan membuatnya merasa menjadi pemalas. "Ida, apakah aku bisa mendapatkan buah potong?" tanya Azura. "Baik Nona, akan saya minta pelayan lain untuk menyiapkan." Ida bergegas menuju ke dapur dan menyiapkan apa yang memang di butuhkan oleh Azura. Azura melihat jam mewah yang terpajang di dinding dekat ruang keluarga, dia menghela napasnya lelah. Sudah pukul lima tetapi Azura belum melihat Melvin pulang dari kantor, Azura pikir Melvin hidup dengan kebahagiaan karena kaya raya tetapi segala hal baik yang dia pikirkan hilang karena dia melihat sendiri apa yang terjadi di rumah ini. Melvin bahkan tidak sempat menikmati kerja kerasnya, dia hanya sibuk bekerja dan melakukan segala hal yang terbaik demi kemajuan perusahaan yang dia pimpin, Azura tahu hidup dalam dunia bisnis tidak semudah yang di bayangkan, banyak duka dan cobaan yang harus tetap di hadapi dengan penuh semangat. "Kau disini?" tanya Melvin yang membuat Azura terkejut. Azura melihat Melvin yang masih mengenakan pakaian yang sama tetapi bedanya saat ini dasinya sudah berantakan dan kemeja putihnya sudah tergulung sampai siku. Melvin terlihat sangat lelah, Azura tak sampai hati ingin marah karena kesepian yang dia rasakan. "Iya, aku bosan." Azura mengatakan hal itu. Melvin menghampiri Azura dan duduk di sofa yang berada tepat di samping Azura duduk. Melvin menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya seketika. Azura melihat kelelahan di mata Melvin. "Kamu lelah?" tanya Azura yang bahkan diabaikan oleh Melvin. Pada akhirnya Azura ikut diam, dia tidak ingin mengganggu Melvin apalagi lelaki itu baru saja pulang dari bekerja. Azura tahu lelaki arogan ini sangat bekerja keras dalam hidupnya, kesalahan kecil yang ada bahkan selalu di singkirkan dengan cepat beserta orangnya yang pergi. Semakin kesini Azura tahu bahwa Melvin tidak terlalu arogan seperti ketika berada di kantor, Melvin memiliki hati yang lembut tetapi dia penuh misteri. "Eh, kamu bisa anterin tidak? aku ingin membeli laptop. Aku sangat bosan tidak melakukan apapun disini," ucap Azura. "Mau laptop apa?" tanya Melvin. "Yang murah saja, jangan terlalu mahal ya setara dengan gaji satu bulan ku di kantor." Azura tidak ingin terlalu mahal karena dia tidak memiliki uang untuk membelinya. "Besok aku akan membelikannya," ucap Melvin tidak banyak bicara. Azura kembali diam, jika terus seperti ini dia ingin marah rasanya. Azura lebih memilih berada di kos sempitnya, dia bisa berekspresi dengan banyak hal dan tidak terlalu terkekang seperti ini. Sangkar emas memang begitu adanya. "Melvin, apakah boleh aku meminta ibuku untuk tinggal di rumah yang kau katakan kemarin?" tanya Azura. "Ibumu akan ke kota?" tanya Melvin kembali. "Ya, aku tidak ingin ibu mendapatkan banyak luka lagi di sana. Aku tidak ingin ibu semakin menderita," ucap Azura. "Jika kau merasa kesepian, biarkan ibu mu tinggal disini saja. Tapi jika ibumu merasa kurang nyaman, dia bisa tinggal di rumah itu." Melvin membiarkan Prasasti memilih karena dia tidak ingin membuat Prasasti tidak nyaman tinggal di rumah ini. "Terima kasih banyak," ucap Azura. Melvin mengangguk, dia lalu bangkit dari kursi dan menuju kamar yang ada di lantai atas. Walaupun mereka menikah nanti, segalanya tidak akan berubah. Kehidupan Melvin tidak berubah sedikitpun karena kontrak yang Melvin bicarakan benar adanya. Azura kini hanya tinggal menuju hari dimana pernikahan akan di gelar, pernikahan yang mungkin sangat mewah baginya tapi bagi Melvin dan keluarganya itu merupakan pesta yang sederhana dan bahkan sangat tertutup dari media masa. Melvin tetap ingin segalanya berjalan dengan lancar, dia tidak ingin privasi hidupnya semakin di korek oleh orang lain, Melvin ingin hidupnya terasa tenang walaupun hanya sedikit yang dia rasakan. "Ini Nona," ucap Ida yang kembali bersama dengan pelayan yang sudah menyiapkan makanan untuk Azura. "Terima kasih," ujar Azura. Ida menemani Azura, dia tetap berdiri walaupun Azura meminta Ida untuk duduk di sampingnya. Ida hanya tidak ingin kepala pelayan akan marah padanya jika dia melebihi batas, memang Azura sangat ramah dan baik tetapi hal yang seperti itu tidak boleh dilakukan karena akan menyalahi aturan. Ida tidak ingin jika dia di pecat hanya karena melakukan kesalahan yang sepele, banyak hal yang mungkin harus dia koreksi lagi karena dia tidak main-main Bekerja kepada orang berkuasa di negara ini. "Azura, ayo ke ruang makan." Azura langsung menengok ke arah suara. Adira mengajaknya untuk menuju ke ruang makan karena sebentar lagi makan malam akan dilakukan, Ida dengan gerak cepat membawakan tempat buah yang sudah di potong untuk Azura, dia tidak boleh lengah apalagi sampai Azura tergores sedikitpun. Melihat tuannya terlihat nyaman berbicara dengan Azura membuat Ida merasa bahwa Tuannya memiliki perasaan tulus dengan wanita yang ada di depannya ini. "Kamu sedang makan buah?" tanya Adira ketika mereka sudah duduk. "Iya Nek, aku ingin makan buah." Adira mengangguk. Adira tersenyum, dia senang melihat Azura sebentar lagi akan menikah dengan Melvin. Dia tidak pernah memandang bibit bebet bobot karena dia bisa melihat bagaimana karakter orang yang akan dijadikan istri oleh Melvin, memang hidup Azura di bawah rata-rata tapi dia sangat baik dan memiliki kesopanan yang luar biasa. "Azura, jika kamu menginginkan sesuatu kamu boleh mengatakan pada Nenek atau Melvin," ucap Adira mengingatkan. "Baik Nek, Azura hanya merasa bosan tidak melakukan apapun di sini." Azura mengatakan apa yang memang dia rasakan. Dokter meminta Azura untuk tenang dan tidak memikirkan hal yang tidak perlu, jika dia merasa kesepian dan bosan Azura pikir hal ini mampu mempengaruhi kesehatan mentalnya dan bisa saja berpengaruh pada anak yang ada di dalam kandungannya. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Adira. "Aku ingin memasak atau melakukan hal lain yang bisa membuatku tidak bosan," ucap Azura. "Nenek tidak ingin kau kelelahan," ucap Adira terasa sangat tulus di hati Azura. Azura tahu bagaimana khawatirnya Adira pada anak yang ada di dalam kandungan Azura, Adira yang sudah berumur saja melakukan banyak hal demi keluarga lantas dirinya melakukan apa? memikirkan hal ini saja sudah membuat Azura merasa bersalah. "Ikuti apa yang aku katakan, besok aku akan membelikan laptop sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Jangan membantah, tetaplah diam dan jangan melakukan pekerjaan berat." Melvin mengatakan hal itu dan membuat Adira terkejut. Melvin berkata panjang lebar tanpa ada amarah sedikitpun. Adira merasa bahwa Melvin sedikit berubah dalam memperlakukan orang lain, dia pikir Melvin akan sulit menerima Azura karena hal ini dilakukan secara terpaksa, tetapi melihat semua ini secara langsung membuat Adira merasa bahwa keputusan yang dia ambil sangat tepat. Adira merasa jika Amel bukan orang yang tepat untuk Melvin, wanita itu seperti wanita licik yang memiliki tujuan lain ketika bersama dengan Melvin, tidak bisa di percaya dan hanya selalu membuat Adira curiga dengan kedekatan mereka. Berapapun pasti rela Melvin keluarkan demi Amel, apalagi gaya hidup Amel yang sangat luar biasa di atas rata-rata. "Iya aku paham," ucap Azura. "Kamu bisa jalan-jalan dengan Melvin jika merasa bosan," ucap Adira menawarkan. Azura tersenyum tipis, mana mungkin dia berani meminta hal itu pada Melvin? Azura cukup sadar diri bahwa dia hanya melakukan semua ini karena kontrak yang akan di buat oleh Melvin. Berperilaku baik akan membuat Melvin luluh dan kontrak pernikahan akan di buat dengan hal yang sama-sama menguntungkan diantara keduanya. Dia percaya Melvin tidak akan membuat Azura rugi dengan kontrak pernikahan yang sudah di setujui sejak awal tersebut. "Untuk makan apakah aku bisa meminta sesuai dengan yang aku inginkan?" tanya Azura. "Untuk sementara waktu, kau ikuti menu dari ahli gizi sesuai rekomendasi dari dokter. Kau ingat kan bagaimana kondisimu? kau harus pulih terlebih dahulu," ucapan Melvin tidak bisa di bantah oleh Azura. Kesehatan Azura sangat diperhatikan oleh Melvin dan Adira, dia terkadang merasa terharu tinggal di rumah ini tetapi juga terkadang dia merasa bosan karena tidak melakukan aktivitas apapun yang bisa membuat dirinya melupakan segala hal yang dia alami. "Sudah, yang penting kalau ada apapun katakan pada kami." Adira mengatakan hal itu setelah semua makanan sudah di hidangkan di depan mereka semua. Makanan yang sehat dengan gizi yang terpenuhi dengan sangat baik, makanan mereka semuanya berbeda dan kini dia semakin yakin bahwa hidup Melvin selalu tertata sejak dia kecil, nenek Adira memang sangat hebat dalam membesarkan cucunya yang kini menjadi pimpinan perusahaan besar yang sangat berpengaruh di negara ini. "Pernikahan akan dilangsungkan 4 hari lagi, kamu siapkan?" tanya Adira. "Azura siap," ucap Azura walaupun dengan penuh keraguan di hatinya. Azura memikirkan kekasihnya, dia bahkan masih memiliki hubungan dengan lelaki lain tapi kini dia akan menikah dengan Melvin tanpa ada kata-kata sebelumnya. Azura harus bersiap menerima segala caci maki yang Rangga katakan, dia tahu hatinya masih tersimpan untuk lelaki itu tapi melihat keluarganya menolak hubungan ini membuat Azura berpikir dua kali jika Rangga berhak mendapatkan yang lebih baik dari Azura. Azura sudah hilang kesuciannya dan hal itu pasti akan membuat Rangga kecewa, dia hanya mendapatkan bekas yang bahkan dari orang yang mungkin tidak akan Rangga percaya. "Aku tidak tahu apa yang kedepannya terjadi, tetapi aku yakin bahwa Tuhan akan selalu bersamaku dan membimbing setiap langkahku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN