Bab. 11 Kaburnya Prasasti

2318 Kata
Tubuh ringkih nya terasa menggigil, dia mendapatkan demam tinggi setelah penganiayaan yang dilakukan oleh Linda padanya. Prasasti mencoba bertahan, dia mencoba kabur dari sini karena dia sudah tidak sanggup lagi menerima segala kekerasan yang mertuanya lakukan kepada dirinya. "Aku sudah tidak sanggup lagi, segala pengorbanan yang sudah bertahun-tahun aku lakukan tidak ada harganya di mata suamiku." Batin Prasasti menangis. Prasasti membawa tas kecilnya, dia hanya memasukkan sedikit pakaian dan barang penting termasuk semua dokumen miliknya dan Azura. Prasasti harap setelah hari ini dia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, Prasasti akan mencoba melupakan semua rasa sakitnya dan memulai kehidupan baru bersama anak semata wayangnya. Pukul dua pagi, dia melihat suaminya masih tertidur dengan tenang di ranjang yang sudah bertahun-tahun mereka tempati, Prasasti mencintai suaminya tetapi dia tidak akan sanggup jika menerima semua ini dalam waktu yang lama. Tubuh Prasasti sudah tidak sekuat waktu dirinya muda, dia mudah sakit-sakitan apalagi kekerasan selalu dia dapatkan setiap hari tanpa ada pembelaan dari suaminya. "Maafkan aku Mas, aku harus pergi. Aku tidak sanggup lagi berada di sini," Prasasti segera pergi melewati pintu belakang yang tidak mungkin diketahui oleh mertuanya. Air mata mengalir di pipinya, dia menahan rasa sakit di tubuh serta hatinya yang bahkan sulit untuk di sembuhkan. Pengorbanan yang dia berikan pada keluarga suaminya sungguh tidak pernah dibalas dengan kebaikan sedikitpun, mereka hanya terus mencaci dan memanfaatkan tenaga Prasasti demi kepentingan mereka sendiri. "Aku akan menyusul mu, Nak." *** Pagi pukul lima Azura sudah terbangun dari tidurnya, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak walaupun di ranjang empuk yang 180 derajat berbanding terbalik dengan busa tipis di kos miliknya. Pikiran Azura tidak fokus, dia terus memikirkan bagaimana kondisi ibunya setelah neneknya tahu bahwa uang 100 juta itu tidak ada pada Sasti. "Aku harap Ibu baik-baik saja," Azura hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk ibunya, karena saat ini dia tidak bisa pergi kemanapun tanpa ijin Melvin untuk dirinya. Azura bergegas membersihkan dirinya, dia tidak ingin bermalas-malasan walau Melvin sudah menjamin hidupnya. Azura hanya takut, ketika Melvin membuangnya dia tidak berdaya dan hanya mendapatkan luka dalam di hatinya. Azura sadar diri bahwa tanpa keturunan Abraham yang ada di perutnya, dia tidak akan diperlakukan dengan baik seperti saat ini. Semua fasilitas ini adalah untuk calon penerus keluarga Abraham, Azura harus menahan dirinya agar dia tidak jatuh dalam pelukan Melvin yang jelas-jelas pesonanya tidak bisa di tolak oleh siapapun yang melihatnya. "Sadarkan dirimu, Azura." Azura mengatakan hal itu dengan jelas kepada dirinya sendiri ketika sedang bercermin. Azura takut dia jatuh hati kepada Melvin di saat hubungannya bersama Rangga tidak ada kejelasan sama sekali. Mereka berdua masih memiliki ikatan sebagai pasangan tetapi Azura merasa menyerah akibat penolakan dari keluarga Rangga yang tidak menyerah membuatnya pergi dari hidupnya. "Rangga, apa kabar kamu disana? aku tahu bahwa keputusan yang aku ambil akan menyakiti dirimu. Tetapi aku tidak memiliki pilihan lain, karena penolakan yang orang tua kamu berikan kepada ku." Batin Azura terus menangis memikirkan hubungan yang sudah terjalin lama harus kandas begitu saja. Azura berusaha melupakan Rangga, tetapi dia tidak akan bisa dengan mudah melupakan kekasihnya, waktu yang mereka lalui terlalu lama untuk di lupakan begitu saja. Ketukan pintu menyadarkan Azura dari lamunannya, dia berdiri dari kursi rias dan langsung menuju pintu untuk membukanya. "Bagaimana, Ida?" tanya Azura. "Nona sudah di tunggu Tuan di ruang makan." Ida memberitahu agar Azura segera bersiap dan menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Azura menengok jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih pukul setengah enam dan ini sangat pagi untuk waktu sarapan. Azura tidak terbiasa sarapan terlalu pagi seperti ini, tetapi mendengar nada bicara Ida yang takut dia tidak ingin membuat Melvin marah jika dia tidak segera datang ke ruang makan tersebut. "Baik, aku juga sudah mandi." Azura menutup pintu kamarnya dan langsung berjalan mengikuti Ida yang memandu dirinya. Semakin dekat dengan ruang makan, perut Azura terasa bergejolak. Dia ingin muntah karena mencium bau makanan yang entah kenapa sangat menusuk hidungnya. Azura menutup mulutnya, dia sudah tidak tahan lagi dan berlari menuju kamar mandi terdekat yang dia lihat. "Melvin, susul Azura." Perintah Adira yang tidak bisa Melvin tolak. Melvin segera menyusul Azura dan melihat kondisinya, dia tahu kehamilan muda ada peluang yang menjalaninya mengalami morning sickness seperti ini, dia tidak akan menyalahkan Azura karena hal ini adalah akibat dari mengandung keturunan keluarga Abraham. "Kau tidak apa?" tanya Melvin yang memijat tengkuk Azura dengan perlahan. Azura tidak berbicara, dia menekan tombol agar semua isi perutnya tersiram dan masuk kedalam closet. Azura tidak ingin membuat nafsu makan Melvin menghilang karena hal ini. "Seharusnya kamu tidak disini, ini kotor." Azura melarang Melvin melihatnya dalam kondisi ini. Melvin melihat wajah Azura yang pucat, dia mengambil tisu dan mengusap air yang masih berada di sekitar mulut wanita ini. Melvin tidak sejahat itu membiarkan ibu dari anaknya mengalami hal yang tidak menyenangkan selama kehamilan. "Kau bisa berjalan?" tanya Melvin. Azura mengangguk, tetapi dirinya sangat lemas hingga hampir saja terjatuh jika Melvin tidak menopangnya. "Aku benci orang yang sok kuat," ucap Melvin pada Azura dan langsung membopongnya. Ida mengikuti mereka, Melvin sengaja membawa Azura ke kamar karena dia mengantisipasi agar Azura tidak kembali muntah karena mencium bau makanan yang sudah berada meja makan. "Tolong siapkan pereda mual, seperti apa yang di katakan oleh dokter." Melvin meminta Ida agar segera menyiapkan apa yang dia katakan. Mereka hanya berdua, Azura terlihat sangat lemas dan berbeda dari sebelumnya. "Kau tidak boleh banyak pikiran, harus tidur dengan cukup dan tidak begadang." Melvin mengomel pada Azura seperti ayah yang menasehati anak kecilnya. "Kamu sangat cerewet," ucap Azura yang bahkan tidak peduli dengan siapa orang yang ada di depannya ini. "Aku akan memaafkan mu, untuk kali ini." Melvin mengatakan hal itu pada Azura. Selama ini tidak pernah ada yang berani membantah ucapannya, hanya neneknya yang berani membantah Melvin dan kini Azura berani membantah di saat Melvin menasehati hal baik untuk Azura dan anak yang ada di dalam kandungannya. "Ini tuan," ucap Ida membawa minuman pereda mual untuk Azura. "Jaga Azura, aku harus pergi." Melvin mengatakan hal itu dan pergi dari kamar ini. Melvin kembali menuju ruang makan menemani Adira sarapan, Melvin tidak pernah absen menemani neneknya karena di pagi hari adalah waktu yang tepat untuk bersama sebelum mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. "Bagaimana Azura?" tanya Adira. "Morning sickness sesuai dengan apa yang dokter katakan, Aku sudah meminta agar Azura mendapatkan minuman pereda mual. Tetapi dia harus makan apa? sepertinya dia sangat sensitif." Melvin mengatakan segalanya pada Adira. "Nanti Nenek yang akan mengurusnya, kamu fokus saja bekerja." Adira mengatakan hal itu pada Melvin, dia tidak ingin Melvin khawatir akan keadaan Azura yang terlihat tidak baik. "Nenek tidak ada pertemuan?" tanya Melvin. "Tidak, hari ini nenek akan di rumah bersama dengan Azura." Adira mengatakan hal yang sangat jarang Melvin dengar. Adira sangat jarang absen dalam pertemuan, dia hanya absen ketika sakit. Tapi setelah adanya Azura dan calon anak yang ada di dalam perutnya kini Adira dengan senang hati menemani Azura tanpa paksaan sedikit pun. "Baik Nek," ucap Melvin. Pukul setengah tujuh pagi Melvin sudah menyelesaikan sarapan dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia menyempatkan diri untuk melihat kondisi Azura pasca morning sickness yang dia alami saat ini. "Kondisimu sudah lebih membaik?" tanya Melvin. Azura menganggukkan kepalanya tanpa mau repot menjawab pertanyaan Melvin. Wanita ini tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan menyebalkan, Melvin tidak suka melihat Azura yang seperti ini karena hal ini tidak seperti dirinya sendiri. "Melvin, aku tiba-tiba ingin makan Empek-empek Palembang. Apakah aku boleh memakannya?" tanya Azura dengan tatapan berharap. "Ini masih pagi, lebih baik kau makan bubur saja." Melvin tidak ingin mengambil resiko dengan apa yang terjadi pada anak yang ada di dalam kandungan Azura. "Kau memang menyebalkan," Azura menarik selimutnya dan menutupi wajahnya dengan hal itu. Melvin hanya bisa menggelengkan kepalanya, Azura berubah seperti anak kecil yang menyebalkan seperti ini. Bagaimana dia bisa berangkat kerja dengan tenang jika Azura bertingkah menyebalkan seperti ini? Melvin tidak akan tenang dalam bekerja jika Azura masih seperti ini. "Kau sudah mulai melonjak, sudah berani denganku. Ini masih pagi, tidak baik makan itu di pagi hari seperti ini." Melvin membuka selimut tebal itu dan memarahi Azura. "Kau jahat," ucap Azura yang tingkat perubahan emosinya berubah-ubah. Ida tidak nyaman berada di tengah-tengah calon suami istri seperti ini, dia dengan perlahan keluar dari kamar dan tidak sengaja bertemu dengan Adira yang ingin melihat kondisi Azura. "Ada apa?" tanya Adira. "Nona tidak mau makan bubur Bu, dia mengatakan ingin makan Empek-empek Palembang." Ida mengatakan hal itu pada Adira. Adira lalu masuk ke dalam dan membuat Melvin berhenti mengomel pada Azura, dia tahu terkadang hal random seperti ini akan terjadi pada ibu hamil, ngidam adalah suatu hal biasa dan mungkin Melvin harus tahu akan hal itu. "Kamu ingin Empek-empek Palembang?" tanya Adira pada Azura. "Iya Nek," ucap Azura. "Ini masih pagi, Melvin tidak setuju." Melvin mengatakan apa yang ada di pikirannya. Adira memberikan nasehat panjang lebar, mengenai ibu hamil. Hal seperti ini dinamakan Ngidam, percaya tidak percaya tapi banyak ibu hamil yang mengalaminya. Terkadang tingkah random seperti itu harus di penuhi agar mood ibu hamil terjaga dengan sangat baik. "Dia ngidam, Nenek akan meminta orang untuk membelikannya. Kamu berangkat ke kantor saja sekarang, " ucap Adira pada Melvin. "Nenek, pagi-pagi tidak baik makan itu." Melvin tetap dengan pendiriannya, dia hanya tidak ingin jika Azura mengalami hal yang tidak baik dengan perut nya yang kosong setelah memuntahkan semuanya. "Nenek akan mengurusnya Melvin, kau harus pergi sekarang agar tidak terjebak macet." Melvin tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang neneknya katakan. Setelah kepergian Melvin, kini Adira duduk di dekat Azura yang masih terbaring di ranjangnya dengan kondisi yang masih pucat. "Udah mendingan?" tanya Adira. "Sudah Nek, tapi cium bau nasi Azura jadi mual." Azura mengatakan apa yang menjadi penyebab bahwa dirinya tidak ingin memakan segala hal yang berkaitan dengan nasi. "Untuk sementara mau makan roti dulu? dengan sup? setelah itu baru makan Empek-empek seperti yang kamu inginkan." Adira memberikan negosiasi pada Azura. "Azura bisa mencobanya," ucap Azura dengan senyumannya. Melvin memang kaku, dirinya selalu seperti itu. Jika dia melarang maka seorangpun tidak boleh membantahnya, Adira tahu bahwa maksud Melvin sangat baik tetapi dia juga harus melihat situasi dan kondisi karena selalu ada alasan kenapa penolakan itu dilakukan. "Siapkan makanan untuk Azura," ucap Adira dan pelayan mulai menyiapkan seperti apa yang dikatakan olehnya. Di balik sikap Adira yang tegas dan menakutkan, dia adalah seorang nenek yang sangat baik hati. Azura tahu bahwa dia tidak setara dengan keluarga ini, seujung kuku pun dia tidak akan bisa jika dibandingkan tetapi tanpa melihat latar belakang atau apapun itu, Adira meminta Melvin menikah dengan dirinya. "Terima kasih Nek," ucap Azura. Andaikan Azura memiliki nenek seperti ini dia pasti akan menyayanginya dengan sepenuh hati, Adira dan Linda sikapnya sangat berbeda. Bagaikan bumi dan langit, Adira dengan sikap lembut dan baik ya dan Linda dengan sikapnya yang kasar dan menyakiti hati Azura. "Nek, kemarin Azura sudah ijin dengan Mas Melvin. Ibu Azura akan datang ke kota, apakah tidak masalah Nek?" tanya Azura. "Tidak apa, dia bisa tinggal disini. Kalau tidak nyaman bisa tinggal di rumah atau apartemen Melvin," ucap Adira dengan entengnya. Adira tidak pernah mempermasalahkan hal itu, dia tahu bahwa ibu Azura mendapatkan perlakuan yang sama seperti Azura. Dia mendapat banyak luka memar karena tinggal di keluarga yang bahkan tidak pantas untuk di sebut keluarga. Mereka adalah sampah masyarakat yang bahkan di sebut manusia saja tidak pantas, orang yang hanya mementingkan uang dan menyakiti hati keluarganya sendiri tanpa ada alasan yang pasti. "Nenek tidak suka melihat kekerasan, Nenek tahu semua tentang keluarga mu." Adira mengatakan hal itu dan terlihat ikut sedih melihatnya. Azura terdiam, dia tahu bahwa keluarganya adalah keluarga yang cacat. Tidak ada kebahagiaan dan suka cita di dalamnya, mereka selalu saja menuntut Azura akan banyak hal, tetapi mereka membalasnya dengan luka di hati yang tak akan pernah padam. Adira tidak pernah membayangkan bagaimana Azura bisa tahan hidup dalam kondisi keluarga yang menyedihkan. "Terima kasih Nek, sudah mengijinkan ibu tinggal." Azura menggenggam tangan Adira untuk menyalurkan kebahagiaan yang dia rasakan. *** Melvin bekerja dengan semangat seperti biasanya, banyak hal yang harus dia urus sebelum pernikahannya berlangsung. Ponselnya berdering, dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Nama Amel tertera di sana, Melvin sengaja merubah nama kekasihnya menjadi nama biasa karena dia terlalu kecewa dengan sikap Amel yang mengabaikan semua pesannya. Melvin kali ini akan mengabaikan telpon Amel, dia pikir Amel bisa melakukan segala hal dengan seenaknya sendiri tetapi kali ini tidak. Melvin tidak akan bisa di setir oleh Amel, terlebih dia akan menikah sebentar lagi. "Apa yang kau inginkan? Dasar Sialan!" Umpat Melvin dan langsung menutup ponselnya. Melvin bergegas membawa tas dan dokumen yang perlu dia bawa untuk rapat di luar kantor, Regi sudah bersiap dan mereka langsung berangkat saat ini juga. Rasa kecewa yang ada di dalam hati Melvin tidak akan dengan mudahnya terobati, Amel tidak sepenting itu di hidup Melvin hingga dirinya bisa mempermainkan Melvin dengan seenaknya sendiri. "Rapat di dua tempat?" tanya Melvin mengecek jadwalnya kembali. "Iya Pak, untuk rapat kedua membahas pengambil alihan hotel yang dekat dengan apartemen milik bapak." Regi berusaha profesional dalam bekerja walaupun hanya berdua dengan Melvin. Melvin mengangguk dia paham, dia tahu bahwa dia akan mengakuisisi hotel yang ada di dekat apartemen miliknya, ada suatu hal yang dia rencanakan dan kini rencananya akan segera berjalan dengan baik setelah pembicaraan ini berhasil. Regi tahu bahwa Melvin akan menikah sebentar lagi, tetapi dirinya tidak ingin bertanya banyak hal karena kini fokus Melvin bisa terpecah jika dia memikirkan hal lain yang seharusnya di sisihkan terlebih dahulu. *** Pukul setengah lima sore, semua pembicaraan berjalan dengan lancar. Melvin dan Regi berniat langsung pulang sesuai rencana, tetapi Melvin meminta Regi untuk mengecek kondisi Apartemen milik Melvin yang sudah tidak pernah di tempati. "Apa itu ramai-ramai?" tanya Regi. Melvin hanya mengabaikan apa yang Regi katakan, dia terus berjalan tetapi Regi yang penasaran langsung menghampiri pusat kerumunan. Regi berteriak karena terkejut dengan apa yang dia lihat, dia bahkan mengucek matanya dua kali dan setelah memastikan dia langsung memanggil Melvin saat ini. "Melvin, dia ibu Azura."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN