Manusia memang tidak ada yang sempurna. Kemarahan seolah menjadi hal yang biasa rasanya. Mengabaikan kata-kata mutiara yang seharusnya tak tercipta. Namun manusia tetaplah manusia. Makhluk yang mengedepankan ego tanpa melihat keadaan lawan bicara.
Sedari tadi telinga Shana terus berdengung. Bukan karena seseorang tengah membicarakannya di belakang, melainkan gerutuan Erina yang tak kunjung usai. Sepanjang perjalanan, kakaknya itu terus merutuk. Sumpah serapah lolos beberapa kali dari mulut indahnya. Lupakan fakta jika ada Fathur di sisinya, Erina benar-benar tidak bisa lagi menahannya.
Pertemuan dengan keluarga Atmadjiwo berlangsung dengan menegangkan. Terjadi adu mulut dengan kalimat yang saling sindir-menyindir. Takut? Erina tidak merasakannya. Justru dia kesal dengan keluarga Atmadjiwo yang jauh dari kata elegan.
Apa lagi si Tua Harris, Erina kembali merutuk pria tua itu. Menyombongkan semua anggota keluarga seolah tidak memiliki celah. Padahal jika orang-orang mau membuka mata, tentu keluarga konglomerat seperti mereka tak lepas dari prahara masalah.
"Pokoknya kalau lo udah nikah sama Ndaru, jangan mau ditindas. Jangan jadi Shana yang lemah. Kalau lo disenggol? Senggol balik. Apa lagi sama bapaknya."
Shana mengangguk pasrah. "Iya, kalau bapaknya bikin ulah ntar gue umpetin tongkat jalannya."
Fathur yang tengah menyetir pun tertawa. Terkadang pembicaraan Erina dan Shana bisa menghiburnya.
"Gue serius!" Erina menarik rambut Shana, kali ini dia tidak menahannya. Toh, acara makan malam telah selesai.
"Gue juga serius. Lo tenang aja, Mbak. Lo pikir gue masuk keluarga mereka tanpa persiapan?"
"Bagus. Pokoknya jangan mau ditindas."
Shana kembali mengangguk pasrah. Tanpa Erina mengingatkan, dia juga akan melakukannya. Apa yang ia lakukan hanya terikat dengan Handaru, bukan yang lain. Jadi, jika ada anggota keluarga yang mengganggunya maka Shana tidak akan tinggal diam.
"Sudah sampai," ucap Fathur saat mobil berhenti di depan lobi apartemen Shana.
"Lo yakin nggak mau tidur di rumah aja?" Erina menoleh pada adiknya.
Shana menggeleng. "Keadaan udah mulai kondusif. Kalau ada wartawan pun gue udah bisa jawab pertanyaan mereka."
Erina mengangguk pelan. "Kalau gitu hati-hati. Langsung telepon kalau ada apa-apa."
Shana mulai bersiap. Dia mencium tangan Erina dan Fathur sebelum keluar dari mobil. Tangannya melambai saat mobil BMW keluaran terbaru itu melaju pergi.
"Shana!"
Suara itu membuat tubuh Shana menegang. Dari jauh dia bisa melihat Dito yang berlari menghampirinya. Dengan cepat Shana masuk ke dalam gedung menuju pusat keamanan.
"Pak, tolong saya, jangan biarin dia masuk," ucap Shana dengan terengah.
Dua pria yang tengah menjaga keamanan malam ini pun berdiri. Mereka langsung tanggap begitu melihat siapa yang meminta bantuan. Shana Arkadewi, salah satu orang penting yang menjadi penghuni apartemen mereka.
"Baik, Mbak. Akan kami amankan."
"Terima kasih, Pak." Shana menghela napas lega.
Beruntung Dito belum sempat masuk. Dua pihak keamanan tadi langsung menghalangi langkahnya. Dari dinding kaca, Shana menatap Dito datar. Setelah itu dia berlalu santai menuju lift.
Rasa sakit itu masih Shana rasakan. Sekarang dia mencoba untuk menyembuhkan.
Di dalam lift, ponsel Shana berbunyi. Dia mengambilnya dari tas dan melihat nomor yang tidak ia kenal. Dengan dengkusan keras, Shana mematikan panggilan itu dan memblokir nomornya. Shana tahu jika Dito pelakunya. Pria itu masih tidak menyerah. Shana mulai muak dengan apa yang pria itu lalukan.
Sebenarnya apa yang diinginkan Dito Alamsyah?
Meminta maaf?
Jangan harap Shana memaafkannya. Stok maaf untuk Dito Alamsyah sudah tidak ada. Toh, Shana sudah mendapatkan penggantinya. Pengganti yang jauh lebih berkuasa. Dia adalah Handaru Atmadjiwo, Duda Incaran Satu Indonesia.
***
Sering bertemu tidak lagi membuat Shana gugup. Dia tersenyum pada Gilang yang menjemputnya. Ternyata Ndaru tidak main-main dengan ucapannya. Pria itu merencanakan pernikahan dengan begitu cepat. Sedikit membuat Shana panik karena masa lajangnya akan segera berakhir.
"Kita ke mana, Mas?" tanya Shana pada Gilang.
"Kita ke butik Amora, Bu."
Kening Shana berkerut, "Bu?"
Gilang yang duduk di samping sopir mengangguk. "Sebentar lagi Bu Shana akan jadi istri Pak Ndaru."
Shana menggeleng. "Panggil kayak biasa aja, Mas." Jujur, Shana bukan orang yang gila hormat.
Lagi-lagi Gilang hanya tersenyum tipis. "Tidak bisa, Bu. Sudah seharusnya begitu."
Shana memilih pasrah. Berdebat tidak akan memberikan akhir yang ia harapkan.
"Pak Ndaru juga ada di sana, Mas?"
"Pak Ndaru ada di kantor, Bu. Saya diminta untuk menemani Ibu memilih gaun pernikahan. Untuk pakaian, Bapak akan mengikuti saja."
Shana kembali mengangguk. Dia memaklumi ketiadaan Ndaru di sini. Memang apa yang ia harapkan? Pernikahan mereka berawal dari sebuah skandal lalu berakhir menjadi kesepakatan. Tidak ada perasaan yang terlibat. Jangan harap akan ada acara tukar pikiran untuk acara pernikahan yang diimpikan.
Bahkan Shana harus rela mengubur pernikahan impiannya yang sederhana. Bertema garden wedding di tepi danau bersama orang-orang terdekat.
Sederhana? Itu tidak mungkin terjadi di keluarga Atmadjiwo. Shana masih ingat betapa hebohnya pernikahan dua saudara Handaru lainnya. Bahkan pernikahan Ndaru yang pertama juga tak kalah mewahnya.
"Kita sudah sampai, Bu."
Shana menatap butik besar nan mewah di hadapannya dengan gugup. Dia tahu siapa pemilik dari butik ini. Desainer terkenal dan handal dari Indonesia yang karyanya sudah mendunia. Bahkan ini pertama kalinya Shana menginjakkan kaki di tempat ini. Bukan karena tidak mampu. Shana dididik dengan lingkungan yang sederhana. Jadi dia bukan penggila barang-barang mewah. Meskipun dia memiliki uang, tetapi dia lebih suka menyimpannya.
"Karena pernikahan sudah dekat, saya sarankan untuk membeli gaun yang sudah jadi, Bu. Tidak ada waktu untuk menjahitnya terlebih dahulu," jelas Gilang saat mereka sudah masuk ke dalam butik.
"Saya paham, Mas."
Shana tidak akan banyak membantah. Dia meyakinkan diri jika pernikahan ini tidaklah serius. Setidaknya dengan pernikahan ini Shana bisa menyelamatkan nasib sequel film yang tengah ia persiapkan.
"Perkenalkan nama saya Sinta, Bu. Mari, ikut saya," ucap seorang pramuniaga yang disiapkan khusus untuk melayaninya. "Kami punya beberapa koleksi yang bagus dan cocok untuk Ibu. Ibu Shana bisa mencobanya dulu."
Di sebuah ruangan privat itu, mulut Shana terbuka dengan sendirinya karena melihat beberapa gaun yang terpasang sempurna di sebuah patung. Sekilas, Shana bisa menebak jika ada belasan gaun pernikahan di sana.
"Semua ini koleksi unggulan dari Butik Amora, Bu," jelas Sinta. "Sebelumnya saya ingin menyampaikan pesan permintaan maaf dari Gadis Amora. Ibu Mora tidak bisa mendampingi Ibu Shana secara langsung karena ada fashion show di Paris, tapi Ibu Mora berjanji akan menangani gaun yang Ibu Shana pilih secara langsung nanti."
Shana tersenyum mendengarnya. "Nggak apa-apa, Mbak."
Shana mulai melihat satu-persatu gaun yang terpajang. Kakinya berjalan dengan natural, membawanya berkeliling dengan wajah yang terpesona.
Gila!
Shana masih tidak menyangka jika akan menyentuh karya dari Gadis Amora. Keluarga Atmadjiwo memang tidak main-main jika untuk standar kemewahan.
"Kalau boleh saya tau, tema apa yang Ibu Shana inginkan? Atau warna apa yang Ibu inginkan?"
"Saya mau kebaya, Mbak. Saya nggak mau gaun modern."
Benar, itu yang Shana inginkan. Lalu matanya langsung tertuju pada kebaya putih yang sangat-sangat indah. Terlihat begitu mewah dengan payet-payet rumit yang Shana yakini sangat mahal.
"Kita punya pendapat yang sama, Bu. Badan Ibu cocok untuk setelan kebaya. Sebelumnya, istri Pak Guna dan almarhum Pak Haryadi juga memilih kebaya untuk pernikahan, Bu."
Shana mendengkus dalam hati. Sedikit tidak suka karena selera mereka ternyata hampir sama.
"Saya mau yang warna putih, Mbak."
Sinta tersenyum. "Kita ada lima koleksi. Seharusnya belum rilis, tapi khusus untuk calon istri Pak Handaru, Ibu Mora mau mengeluarkannya terlebih dahulu."
"Kalau gitu saya mau coba."
"Baik, Bu. Mari saya bantu."
Shana tidak perlu bertanya lagi tentang pendapat Ndaru. Pria itu tidak memiliki permintaan khusus. Maka Shana akan memilih kebaya yang ia sukai. Kali ini dia juga tidak akan melihat harga. Toh, calon suamiamya yang akan menanggung semuanya.
Calon suami palsu maksudnya.
Shana menatap pantulan dirinya di depam cermin. Bukan bermaksud memuji diri sendiri. Namun benar kata Sinta. Tubuhnya memang cocok dengan balutan kebaya. Memperlihatkan lekuk tubuh yang jarang ia perlihatkan karena sweater kebanggan yang selalu ia pakai.
Ini sudah kebaya ketiga dan Shana langsung jatuh hati. Bahkan senyum tak hilang barang satu detik pun dari wajahnya. Sayang sekali, jika kebaya cantik ini hanya bertahan untuk satu tahun saja.
"Sempurna. Seperti yang sudah saya bilang. Badan Ibu Shana pasti cocok kalau pakai kebaya."
"Bagus, Mbak?" Shana memastikan, tidak mau jika hanya dirinya saja yang terlalu percaya diri.
"Bagus banget." Sinta memberikan senyum tulus. "Apa korsetnya terlalu ketat, Bu?"
Shana menggeleng. "Cukup."
"Tidak banyak yang perlu dirombak. Kayaknya kebaya ini memang jodohnya Bu Shana," kikik Sinta.
"Saya mau yang ini, Mbak." Shana berucap mantap. Tidak perlu lagi membuang banyak waktu.
"Kalau begitu Ibu Shana bisa keluar sebentar, biar Pak Ndaru bisa liat secara langsung."
"Pak Ndaru?" tanya Shana dengan mata membulat.
Pria itu berada di sini?
***
TBC