Awalnya, Erina tidak begitu menganggap serius rencana pernikahan Shana dan Ndaru. Bahkan dia bersikap tidak peduli dan menunjukkan rasa enggannya. Namun setelah bertemu dengan Ndaru, semua berubah. Bahkan dia kembali mengosongkan jadwalnya hari ini demi menyiapkan keperluan untuk makan malam bersama keluarga Atmadjiwo.
Erina dengan semangat membawa Shana ke salon untuk merapikan potongan rambut mereka. Bukan hanya rambut, mereka juga mempercantik kuku mereka. Selain itu, Erina juga rela mengeluarkan tabungan mereka dan memaksa Shana membeli tas serta pakaian baru. Merek ternama yang terkenal dengan kotak berwarna orange-nya. Sebenarnya Erina dan Shana bukanlah orang yang kekurangan. Dengan profesinya, mereka sangat mampu untuk membeli barang-barang mewah tersebut. Hanya saja tentu tidak setiap saat. Jika dibandingkan dengan keluarga Atmadjiwo, mereka tentu masih kalah jauh.
Tidak, Erina melakukan hal ini bukan untuk menyambut antusias undangan makan malam Ndaru. Dia hanya tidak ingin direndahkan oleh keluarga pria itu. Meski sejak awal semua memang salah adiknya, harga diri mereka tetap nomor satu.
"Kamu yakin bisa sendiri? Nggak mau aku temenin?" tanya Fathur saat mobilnya sudah sampai di Atma Hotel, tempat makan malam berlangsung.
"Sebenernya aku mau kamu ikut, Yang. Tapi kayanya ini khusus keluarga aja," jawab Erina.
Shana yang tengah meneteskan cairan lensa ke matanya mulai menoleh. "Makanya nikah. Mau tunggu apa lagi? Jadi keduluan gue, kan?"
Jika tidak mengingat rambut Shana yang sudah cantik, Erina tidak ragu untuk menjambaknya.
"Gara-gara lo! Rencana gue sama Mas Fathur jadi mundur," geram Erina.
"Kok salah gue, sih? Kalau mau nikah ya nikah aja kali. Atau mau barengan sama gue?"
Fathur mengangkat kedua tangannya cepat, bermaksud menahan kedua gadis itu untuk berdebat. Jika tidak dihentikan, penampilan Erina dan Shana yang sudah cantik akan hancur dalam hitungan detik.
"Sekarang kalian masuk. Aku akan tunggu di sini. Langsung telepon kalau ada apa-apa," jelas Fathur.
Erina dan Shana kompak mengangguk. Mereka keluar dari mobil dan mulai masuk ke area hotel. Sebenarnya Shana tidak tahu apa tujuan Ndaru membuat acara makan malam di hotel ini. Apa pria itu sengaja ingin membuatnya ingat akan kesalahannya? Oh, atau justru mengingatkannya dengan pengkhianatan Dito?
Sialan.
"Selamat malam, Mbak Erina dan Mbak Shana. Silakan, Bapak Handaru dan keluarga sudah berada di dalam."
Bagus, pelayanan yang cukup bagus. Baru satu langkah masuk mereka langsung dihampiri oleh beberapa pegawai hotel.
Benar-benar profesional.
Shana yang bersikap tenang hanyalah topeng belaka. Justru jantungnya berdetak dengan kencang saat ini. Masih dengan berjalan, sesekali dia menarik napas dalam dan memejamkan matanya. Entah kenapa di saat seperti ini Shana menginginkan kacamatanya. Benda itu terpaksa tidak ia gunakan malam ini. Diganti dengan lensa minus berwarna coklat. Sebenarnya membuat penampilannya semakin cantik, hanya saja Shana merasa tidak terlindungi.
"Silakan masuk."
Shana kembali menarik napas untuk yang kesekian kali. Kali ini bukan hanya Handaru Atmadjiwo yang menyambutnya, tetapi seluruh keluarganya.
Seperti yang sudah Shana tebak, begitu ia masuk semua mata langsung tertuju pada mereka. Ada beragam tatapan, tetapi sebisa mungkin Shana tetap bersikap tenang.
"Maaf, kami sedikit terlambat," ucap Erina mengawali pembicaraan. Sebagai seorang Kakak, tentu dia harus menjadi benteng pertama untuk adiknya.
"Tidak masalah. Silakan duduk." Ndaru yang berbicara.
Erina dan Shana pun duduk di kursi yang telah disediakan. Beruntung Shana duduk di samping Ndaru. Setidaknya ada seseorang yang ia kenal di tempat ini.
"Selamat datang," ucap seorang pria tua yang sedari tadi menatap Shana lekat. "Perkenalkan, saya Harris, Ayah Handaru."
"Salam kenal, Pak. Saya Erina, Kakak Shana."
Pria itu mengangguk dan menoleh pada sisi kanannya. "Dan dia Adhiguna Amir, anak sulung saya. Di sampingnya, Dayanti istrinya. Kamu pasti sudah tau, Dayanti adalah keponakan dari presiden kita sebelumnya."
Erina mendengkus dalam hati.
"Lalu di sampingnya, menantu kedua saya. Istri almarhum Haryadi, Putri Asmadi. Anak dari pembisnis hebat dari Kalimantan Timur. Kamu juga pasti tau."
Shana menelan ludahnya susah payah saat mendengar ucapan Harris. Sepertinya pria itu sengaja memamerkan para menantunya.
"Sebenarnya ada lagi menantu saya yang ketiga, almarhum istrinya Ndaru. Namanya Farah Marissa, anak dari mantan menteri. Kamu juga tau, kan?"
Benar. Ternyata tujuan Harris memang ingin membanggakan keluarganya.
Tanpa disangka Erina tersenyum tenang mendengar itu. "Saya tau, Pak. Kalau begitu izinkan saya memperkenalkan adik saya juga. Namanya Shana Arkadewi, seorang penulis fantasi hebat. Di mana novelnya best seller dan berhasil diangkat menjadi film. Mendapatkan dua juta penonton di hari pertama tayang. Saat ini, Shana juga sedang menyiapkan untuk sequel-nya. Hebat, kan, Pak? Tanpa privilege orang tua, loh."
Shana menunduk saat mendengar kalimat terakhir Erina. Bukan karena segan, melainkan ia menahan tawa. Jangan pernah lawan Erina. Gadis itu tidak takut akan apapun. Salah satu kesamaan yang mereka miliki adalah sama-sama nekat.
Bukannya merasa tersindir, Harris justru ikut tersenyum. Dia seolah mendapat lawan yang sepadan.
"Hebat." Harris mengangguk setuju. "Hanya saja saya lebih suka jika nama baik orang tua ikut berperan."
"Kebetulan orang tua kami sudah meninggal, Pak."
Harris mengangguk. "Saya tau, saya juga tau kalau ayah kalian mantan narapidana."
Sejak awal semua orang memang membiarkan Harris dan Erina berbicara. Namun saat Harris mengatakan kalimat yang seharusnya tidak perlu, keadaan mendadak semakin menegangkan.
Bahkan Ndaru memejamkan matanya sebentar. Tahu jika sebentar lagi akan terjadi perdebatan.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, Pak. Bedanya, orang lain punya uang, sedangkan Ayah kami tidak. Lagi pula itu juga tuduhan palsu." Kali ini bukan Erina yang menjawab, melainkan Shana.
Gadis itu tidak marah, malah terkesan santai dalam menanggapi. Toh, dia memang telah berdamai dengan keadaan.
"Cukup." Ndaru membuyarkan suasana tegang. "Kita harus membahas pernikahan."
"Papa mau dua minggu lagi." Harris berucap cepat. "Persiapan pernikahan satu minggu, setelah itu sebar undangan."
"Apa nggak terlalu cepat, Pa? Belum satu bulan Mas Arya pergi," tanya Putri.
"Maaf, Put. Lebih cepat lebih baik. Semua harus segera diselesaikan."
"Bagaimana?" tanya Ndaru pada Shana.
"Saya ikut aja, Pak. Lebih cepat maka lebih cepat juga kita berpisah," jawab Shana mantap.
"Oke," Ndaru mengangguk setuju. Dia menatap semua orang yang ada di sini satu-persatu. Bahkan dia juga ikut menatap dua keponakannya yang sedari tadi memilih diam melihat permasalahan orang dewasa. "Tujuan saya mempertemukan dua keluarga ini bukan tanpa maksud. Saya harap selama pernikahan, tidak ada konflik yang terjadi."
"Seharusnya kamu ingatkan calon istri kamu itu. Jangan suka buat ulah," ceteluk Harris sambil memotong dagingnya.
"Saya pastikan adik saya tidak akan membuat ulah. Bapak jangan terlalu fokus pada adik saya. Fokus saja dengan kepentingan Bapak sendiri." Lalu Erina menatap Guna lekat. "Saya dengar Pak Guna maju sebagai calon DPR RI. Saya kasih saran, jangan sering buat ulah dan suap media. Kalau netizen tau kan jadi rame lagi."
"Apa maksud Anda?" tanya Guna m tidak suka.
Erina tersenyum polos. "Kebetulan pacar saya pemilik Ranjana Media, Pak. Jadi saya sedikit tau tentang kebiasaan Bapak kalau main golf."
Shana menghela napas dalam diam. "Kayaknya keluarga kita nggak akur, Pak," bisiknya pada Ndaru.
Ndaru mengangguk. "Apa yang kamu harapkan? Pertemuan ini terjadi juga karena skandal kita."
Shana meringis. Benar juga. Namun tidak masalah. Mereka hanya akan menjadi keluarga di depan kamera. Selebihnya, mereka akan hidup masing-masing.
"Besok pagi Gilang akan jemput kamu."
"Ke mana, Pak?" Shana menoleh.
"Butik."
Ah, gaun pernikahan.
"Tapi saya ada perlu ke penerbit," jawab Shana.
Ndaru terlihat berpikir. "Kalau begitu Gilang akan jemput kamu dari sana. Hubungi Gilang kalau sudah selesai."
Shana mengangguk. Beruntung berdebatan tidak lagi terjadi. Semua orang sibuk dengan makanan masing-masing, dengan wajah masam dan kecut tentu saja. Pertikaian yang saling sindir-menyindir tentu membuat hati tidak enak.
"Mbak Shana?" bisikan dari belakang membuat Shana terlonjak. Dia menoleh dan mendapati seorang remaja yang tersenyum lebar padanya.
"Ya?" Shana terlihat canggung. Dia melirik Ndaru meminta penjelasan.
"Mala, keponakan saya," jelas Ndaru.
"Ah, hai?" Shana menyapa dengan senyum tipis.
"Cantik banget!" Mala tampak bersemangat. "Ternyata Mbak Shana lebih cantik aslinya."
Senyum canggung Shana langsung berubah menjadi senyum malu.
"Boleh foto nggak, Mbak? Aku nge-fans banget sama Mbak Shana. Aku udah punya semua buku Mbak Shana pakai tanda tangan asli. Pas film pertama rilis aku juga tiap hari nonton selama satu minggu. Jadi nggak sabar film kedua rilis. Udah fix bakal rilis, kan, Mbak?"
Shana tidak bisa lagi menahan senyumnya. Deretan gigi putihnya ia perlihatkan dengan jelas. Dia tidak menyangka jika ada salah satu keluarga Atmadjiwo yang menyukainya.
Well, makan malam ini tidak begitu buruk.
***
TBC