Hari Berat

1076 Kata
Salah satu hal yang membuat Ndaru enggan memimpin kerajaan bisnis Atmadjiwo adalah waktu. Dia seolah tidak memiliki waktu lagi selain untuk bekerja. Ndaru pernah menjadi wakil direktur Guna sebelum pindah ke Surabaya, dan itu cukup menguras waktu dan tenaganya. Bahkan beberapa kali Ndaru harus berdebat dengan mendiang istrinya karena kesibukannya. Semenjak Farah meninggal, akhirnya Ndaru memutuskan untuk melepas semuanya. Dia rela melepas jabatan pentingnya untuk memimpin anak perusahaan Atmadjiwo Grup di Surabaya. Ndaru hanya ingin mengganti waktu yang tak pernah istrinya dapatkan agar lebih fokus mengurus Juna. Namun ternyata itu tidak berlangsung lama. Haryadi meninggal dan membuatnya mau tidak mau kembali ke Jakarta. Bukan lagi untuk menduduki posisi wakil direktur, melainkan menjadi direktur utama, memimpin semua kerajaan bisnis Atmadjiwo Grup. Terpaksa? Awalnya iya. Namun Ndaru berusaha untuk berpikir realistis. Lahir dengan darah Atmadjiwo tentu tidak bisa membuatnya bersantai. Ada tanggung jawab besar yang ia pikul. Apa lagi untuk masa depan keturunan Atmadjiwo lainnya. Seperti saat ini. Lagi-lagi Ndaru pulang larut. Setelah makan malam bersama Shana dan Erina, dia kembali bekerja sebentar. Meski belum resmi menjadi pemimpin, tetapi Ndaru mulai sedikit demi sedikit mengambil alih pekerjaan Adhiguna Amir. Kakak pertamanya itu masih fokus melakukan kampanye. Tidak masalah, jika Guna menang tentu mereka akan mendapat banyak keuntungan. "Lang?" panggil Ndaru tiba-tiba. "Menurut kamu apa yang saya lakukan sudah benar?" Gilang yang duduk di sampingnya pun menoleh. "Mengenai pernikahan, Pak?" Ndaru mengangguk. "Saya nggak pernah berpikir akan melangkah sejauh ini." "Demi nama baik Bapak dan keluarga, cara ini bisa dilakukan, Pak." Ah, nama baik. Tentu saja. Semua ini Ndaru lakukan demi reputasi dirinya dan keluarganya. Tertangkap basah berciuman dengan seorang gadis adalah perbuatan tercela dan tak wajar di negara ini. Apa lagi ia berasal dari keluarga yang terpandang. Tentu pernikahan akan menjadi akhir dari bentuk pertanggung-jawaban. Meski semua ini terjadi bukan karena dirinya. Tetap saja Ndaru harus ikut serta membersihkan namanya. Kepentingan Guna masih menjadi yang utama. Jangan sampai ada manusia tak bermoral dalam keluarga yang menodai langkahnya maju ke dunia politik. "Ada kabar dari perusahaan?" Gilang mengangguk. "Saya sempat bertemu Pak Darma tadi pagi saat mengambil beberapa berkas di kantor. Beliau berkata tidak bisa menahan para pemilik saham lebih lama. Ada beberapa dari mereka yang kurang yakin dengan kinerja Pak Ndaru. Mereka beranggapan Bapak masih terlalu muda dan masih suka bersenang-senang." Gilang sedikit meringis mengatakan kalimat akhirnya. Ndaru tahu apa yang mereka maksud. Apa lagi jika bukan skandal yang menimpanya? "Saya semakin yakin untuk maju." Ndaru menoleh. "Mulut mereka butuh dibungkam dengan fakta, kan?" tanyanya dengan senyuman miring. Gilang mengangguk. "Benar, Pak. Buktikan kalau Bapak memang bisa. Toh, selama ini tiga anak perusahaan yang Bapak pimpin berhasil berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir ini." Pada akhirnya Ndaru akan kembali berpikir realistis. Jika bukan dirinya maka siapa yang akan mengambil alih perusahaan? Ayahnya sudah terlalu tua sehingga beliau hanya menjabat sebagai komisaris utama. Saat ini usia Ndaru juga sudah 38 tahun. Tidak ada kata muda untuk memimpin perusahaan. Yang terpenting bukanlah umur, melainkan otak dan pengalaman. Mobil yang mereka naiki perlahan memasuki pekarangan rumah. Dahi Ndaru berkerut melihat mobil asing yang terparkir. "Ada yang datang?" tanya Ndaru pada Gilang. "Ah, tadi Suster Nur kasih tau saya kalau Mbak Shella datang untuk bertemu Mas Juna. Saya nggak tau kalau Mbak Shella belum pulang." Ndaru mengangguk dan mulai turun dari mobil. "Kamu bisa langsung pulang, Lang." Gilang mengangguk. "Baik, Pak. Bapak juga harus istirahat yang cukup. Besok jadwal kita padat." Ndaru mengangguk dan berlalu masuk ke dalam rumah. Dari ruang tamu dia bisa mendengar suara tawa dari anaknya. Seperti yang ia duga, Juna tampak bermain lego bersama Shella. "Mas Ndaru udah pulang?" sapa wanita itu. Ndaru mengangguk. Dia mendekat dan meletakkan tasnya begitu saja di atas sofa. Setelah itu dia menggendong Juna dan mencium pipinya gemas. Meskipun lelah, tetapi sebisa mungkin Ndaru tetap memberikan perhatian di tengah kesibukannya. "Dari jam berapa?" tanya Ndaru tanpa menatap Shella. "Jam empat sore, Mas." Ndaru melirik jam tangannya sebentar. Sudah pukul 9 malam. "Kamu nggak kerja?" Shella tersenyum manis. "Aku sengaja kosongin jadwal buat main sama Juna." "Sudah malam. Waktunya Mas Juna istirahat." Ndaru mulai menatap Shella. "Kamu bisa main lagi nanti." Shella dengan cepat berdiri. "Sebenarnya aku sengaja nunggu Mas Ndaru pulang." "Kenapa?" "Ada yang mau aku bicarain." Melihat Shella yang begitu kikuk. Akhirnya Ndaru memberikan Juna pada Suster Nur. "Antar Mas Juna ke kamar, Sus." "Baik, Pak." "Mas Juna sama Sus dulu, ya. Banti Papa nyusul." Setelah Juna pergi. Ndaru duduk di sofa sambil merenggangkan dasinya. "Apa yang mau kamu bicarakan?" Shella ikut duduk sambil memainkan tangannya gelisah. "Maaf kalau aku lancang, Mas. Tapi apa bener Mas Ndaru pacaran sama Shana Arkadewi?" Ah, tentang itu lagi. Ndaru mengangguk santai. "Seperti yang kamu lihat di berita dan sosial media." "Aku nggak tau kalau Mas Ndaru kenal Shana." "Hubungan kita memang cukup... privat." "Kenapa harus Shana Arkadewi, Mas?" tanya Shella terlihat tak suka. Dahi Ndaru berkerut. "Memangnya kenapa?" Shella menggeleng. "Banyak yang bilang kalau dia tukang selingkuh. Bahkan dia juga selingkuh dari Dito." Tanpa disangka Ndaru mendengkus geli. Dia yang tahu kenyataannya hanya bisa menggelengkan kepala. Tak heran Shana menginginkan pernikahan. Ternyata gosip yang beredar menuduhnya dengan kejam. "Dia nggak seperti itu. Aku kenal dia cukup baik." Ndaru juga mengenal sikap nekat Shana dengan baik. "Tapi, Mas—" "Apa yang kamu khawatirkan, Shella?" tanya Ndaru pada akhirnya. "Kalau kamu khawatir tentang posisi kakak kamu, kamu tenang aja. Aku nggak akan lupain Kakak kamu." "Tapi aku mengharap wanita lain, Mas. Yang jauh dari kabar miring. Aku nggak mau Juna punya ibu tiri yang memiliki sepak terjang yang—" "Sudah aku bilang Shana bukan wanita seperti itu. Tolong hargai keputusan aku. Untuk Mas Juna, aku yakin Shana bisa jadi Ibu yang baik." Ndaru tidak yakin. Namun semua ini hanyalah kepalsuan semata. "Apa Mas Ndaru udah ke makam Mbak Farah?" Ndaru terdiam. Belum, dia belum melakukannya. Kesibukannya benar-benar membuat pikirannya teralihkan. Shella tersenyum miring dan mulai berdiri. "Artinya Mas Ndaru udah lupain Mbak Farah." "Besok, aku akan ke makam Farah besok." Shella menarik napas dalam. "Aku nggak suka Shana Arkadewi, Mas. Aku harap ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi Mbak Farah selain wanita itu." Ndaru tidak menjawab. Dia membiarkan adik iparnya itu berlalu pergi. Benar-benar hari yang berat. Ndaru menunduk dan mengusap wajahnya kasar. Tidak, dia tidak memikirkan ucapan Shella. Toh, keberadaan Shana hanya sementara. Tidak perlu dipikirkan teralu keras. Yang terpenting saat ini adalah semua berjalan lancar sesuai rencana awal. Jangan sampai ada masalah baru yang mengganggu jalan Atmadjiwo untuk terus maju. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN