Berusaha Meyakinkan

1517 Kata
Erina tidak tahu apa tujuan Shana menculiknya. Saat ia memutuskan untuk bersantai di rumah, tiba-tiba adiknya memaksanya untuk ikut dengannya. Terpaksa Erina harus meminta Fathur yang akan datang berkunjung untuk putar balik. Karena Shana tidak akan membiarkannya berada di rumah malam ini. "Ngapain kita ke sini?" tanya Erina menatap bangunan khas di depannya dengan wajah tak suka. Djiwo Resto adalah salah satu pesaingnya di dunia kuliner. Erina kesal saat harus mengingat jika restorannya selalu berada di bawah peringkat Djiwo Resto. "Makan malem. Gue yang traktir." "Nggak mau!" Erina berniat untuk menghentikan taksi, tetapi Shana lebih dulu menariknya. "Kenapa, sih, Mbak? Nurut aja buat malam ini." "Lo ngapain bawa gue ke sini? Kalau mau traktir makan bisa di restoran lain. Atau enggak di warung tenda pinggir jalan. Mending di situ dari pada di sini," gerutunya. Shana meringis menyadari kekesalan Erina. Gadis itu memang sangat sensitif akhir-akhir ini jika berhubungan dengan nama Atmadjiwo. Shana juga tidak bodoh. Dia tahu jika Djiwo Resto adalah pesaing restoran milik Erina. Mereka sama-sama unggul di masakan nusantara. Tak heran jika kakaknya menatap sinis bangunan tak bersalah di hadapannya. "Sekali-kali, Kak. Nanti habis gue nikah, kita bisa makan sepuasnya di sini dan gratis." "Ogah!" Erina masih berusaha melepaskan genggaman Shana. "Oke-oke, kalau lo nggak mau makan terserah. Pokoknya kita harus masuk sekarang. Jangan cemberut, meskipun wartawan udah nggak ikutin kita, tapi mereka masih punya banyak mata-mata. Gue yakin foto kita kembali muncul di X besok." Erina menghentakkan kakinya dan menyerah. Dia mengikuti Shana masuk degan wajah angkuh. Hampir semua orang mengenalnya. Siapa yang tidak? Erina memiliki reputasi yang bagus sebagai koki selebriti. "Mbak Erina, boleh minta foto nggak?" tanya salah satu koki yang tiba-tiba keluar dari dapur. "Saya nge-fans banget sama Mbak." Mendengar itu, bibir Erina sedikit berkedut menahan senyum. Setidaknya ada hal positif dari restoran ini, yaitu penggemarnya. "Mbak Shana, selamat datang." Gilang muncul membuat senyum Erina pudar. "Sebentar, Mas. Kakak saya mau foto dulu." Shana berucap santai tanpa sadar jika raut wajah Erina mulai berubah datar. Batinnya bertanya-tanya. Kenapa ada asisten Handaru Atmadjiwo di sini? Erina yakin jika makan malam ini bukan hanya makan malam biasa. "Silakan ikuti saya." Shana dan Erina berjalan mengikuti Gilang. Menuju lorong sepi ke arah ruang privasi. Erina menyenggol bahu adiknya. "Ada yang gue nggak tau?" bisiknya. Shana hanya tersenyum canggung. Dia tahu kakaknya akan marah setelah ini. Namun Shana harus melaluinya. "Pak Ndaru sudah di dalam, Mbak. Silakan masuk," ujar Gilang. "Terima kasih, Mas." "Lo gila?!" geram Erina tertahan. Dia menatap Shana tajam. "Ngapain lo bawa gue ketemu dia?" "Please, Mbak. Malam ini aja turuti kemauan gue." Shana mulai memohon. Menunjukkan wajah memelas dari balik kaca mata besarnya. "Gue habisin lo setelah ini," marah Erina berusaha tenang. Shana menggigit bibirnya dan mulai masuk ke dalam ruangan. Seperti kata Gilang, Ndaru sudah berada di sana. Tampak sibuk dengan iPad-nya. Namun saat melihat Shana datang bersama Erina, pria itu menutup iPad-nya dan berdiri. "Silakan duduk," ucap Ndaru singkat. Berusaha sopan meski juga tidak terlalu sopan. Shana sudah duduk di depan Ndaru. Dia melirik kakaknya yang masih berdiri kaku. Mata Erina menatap tajam Ndaru. Shana meringis dan menarik gadis itu untuk segera duduk. "Maaf, agak telat, Pak." Erina menatap Shana tidak suka. "Ngapain lo minta maaf? Emang dia guru BK?" Ndaru tersenyum miring melihat respon dari Erina. Sekarang dia tahu kenapa Shana kesulitan untuk membujuk kakaknya. "Bisa kita mulai?" tanya Ndaru memastikan kedua orang di hadapannya selesai berdebat. "Sebenarnya ada apa ini? Apa yang kalian rencanakan?" tanya Erina tajam. "Saya yakin Anda sudah mendengar kesepakan saya dengan adik Anda." Erina mengangguk. "Dan saya tidak setuju." "Sayangnya Shana tidak bisa mundur. Tanda tangan kontrak sudah dilakukan." Ndaru menujukkan salinan kontrak miliknya. "Dan kalau Anda belum tau, Shana sendiri yang menawarkan perjanjian ini." Dari sudut matanya, Shana bisa melihat Erina menatapnya tajam. Dia yakin jika tidak ada Ndaru di sini, gadis itu akan memukul kepalanya dengan garpu mahal di atas meja. Bahkan Shana takut untuk melihat wajah Erina secara langsung. "Jangan dibuat sulit. Tinggal batalkan saja kontrak ini. Saya nggak mau adik saya terjebak dengan pernikahan konyol ini." "Boleh," jawab Ndaru tenang. Membuat Shana mengangkat wajahnya tidak percaya. Semudah itu? "Nanti Anda bisa hubungi asisten saya untuk masalah pembayaran denda," lanjut Ndaru. "Denda?" gumam Shana bingung. Ndaru menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir untuk apa kontrak dibuat jika dengan mudah kedua belah pihak membatalkannya? Jelas untuk mengikat keduanya, Shana." "Saya akan membayar dendanya. Berapa?" Erina mengangkat dagunya angkuh. "Sepuluh miliar." Sialan! Tanpa disangka Erina tertawa. Dia menatap Shana dengan tajam. Dari tatapannya terlihat jelas jika Erina mengejek adiknya. Ini yang akan terjadi jika sudah berurusan dengan Atmadjiwo. "Kok saya nggak tau, Pak?" Shana terdengar panik. "Kamu hanya baca halaman pertama, Shana. Untuk pinalti denda ada di lembar kedua." "Pak, kan saya minta Pak Ndaru buat yakinin kakak saya, bukan malah ancem kita." Shana mulai kesal. "Saya hanya ingin memberitahu kewajiban yang harus dilakukan jika kontrak dibatalkan secara sepihak." "Sebenarnya apa tujuan kalian menikah?" Kepala Erina kembali berdenyut. "Kalau untuk meredakan gosip yang beredar, untuk sekarang pun gosip kalian juga mulai mereda." "Mulai mereda tapi belum sepenuhnya. Baik saya dan Shana sama-sama memiliki kepentingan." Ndaru mengetukkan jari telunjukanya di atas meja. "Foto tak senonoh yang beredar tentu tidak bisa dilupakan begitu saja karena berkaitan dengan adab dan norma. Tidak semua orang bisa memakluminya. Itu mempengaruhi nama baik saya dan juga Shana." "Mbak?" panggil Shana sambil menyentuh tangan kakaknya. "Dan pernikahan adalah satu-satunya cara," lanjut Ndaru. "Semua orang akan terlena jika kami melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius." Erina menunduk untuk memijat kepalanya. Kepalanya sungguh pening. Sebenarnya ucapan Ndaru ada benarnya. Dia tahu apa tujuan Shana dan Ndaru menikah, yaitu untuk membersihkan nama mereka dan menaikkan nama keduanya. Namun sungguh, Erina tidak masalah dengan skandal yang menjerat adiknya. Dia akan tetap bersama Shana. Namun Shana lebih ingin membersihkan namanya dan membalas perbuatan Dito. "Cuma satu tahun, Mbak." Shana menggenggam erat tangan Erina. "Apa saya bisa percaya kalau kamu tidak akan menyakiti adik saya?" "Semua sudah tertera di kontrak. Anda tidak perlu khawatir." Ndaru melirik Shana sebentar. "Dan saya pikir, adik Anda sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusannya sendiri." "Hanya satu tahun. Tapi ingat, kalau ada yang menyakiti adik saya, saya nggak akan tinggal diam," ancam Erina. Ndaru tersenyum tipis. "Tidak ada yang berani menyakiti Shana jika dia sudah menyandang status sebagai istri saya." Benar. Siapa pun yang berani mengusik Atmadjiwo akan berakhir menyedihkan. "Jadi, apa kita sepakat?" Ndaru memastikan. "Terpaksa." Shana tersenyum mendengar jawaban kakaknya. Bahkan dia memeluk Erina manja. "Kalau begitu kita mulai makan malamnya." Setelah itu Ndaru meminta Gilang untuk membawa hidangan makan malam mereka. Terlalu banyak untuk tiga orang, tetapi sebagai tuan rumah, Ndaru harus memberikan yang terbaik. "Puding ini kurang kenyal dan mudah hancur," komentar Erina sambil memukul puding di hadapannya dengan sendok. "Dan rasa masakannya juga standar. Kenapa restoran ini bisa jadi top 5 restoran di Indonesia?" Shana meringis mendengarnya. Dia menatap Ndaru dengan tatapan meminta maaf. "Selain rasa, pelayanan juga diperhitungkan," balas Ndaru. Erina mengangguk. Dia jadi teringat dengan salah satu koki yang gembira saat bertemu dengannya. Pelayanan memang cukup baik. "Dan apa Anda tau alasan penting lainnya selain rasa dan pelayanan?" "Apa itu?" Erina penasaran. Dia ingin tahu sudut pandang dari pelakon bisnis seperti Handaru Atmadjiwo. "Rasa, pelayanan, dan juga siapa pemiliknya." Ndaru tersenyum. "Semoga Anda paham kenapa nama baik begitu penting bagi saya." Benar juga. Jika dibanding dengan dirinya, tentu saja nama Atmadjiwo begitu harum di kalangan masyarakat. "Saya ingin kalian mengosongkan jadwal untuk besok malam." "Untuk apa, Pak?" tanya Shana. "Makan malam bersama, dengan keluarga saya. Untuk membicarakan pernikahan." *** Malam yang larut tidak membuat Putri Asmadi memejamkan mata. Di ranjang besarnya, dia tengah duduk melamun menatap jendela. Sesekali tangan kirinya bergerak mengelus kepala anak semata wayangnya, Satria Lingga Atmadjiwo. Anak berumur 10 tahun yang tidak akan lagi mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah karena telah direnggut oleh maut. Setelah tahlilan 7 hari suaminya berakhir, Putri memilih untuk menenangkan diri sejenak. Dia mengungsi ke rumah ayahnya, Darma Baktiar. Dia masih tidak sanggup jika harus hidup di rumah besar yang memiliki banyak kenangan bersama Arya. Apa lagi untuk Satria, Putri harus memutar otak untuk menjawab segala pertanyaan Satria tentang ayahnya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Putri. Dia beranjak untuk membuka pintu. Sudah ada sosok ayahnya di luar sana. Pria itu menghela napas kasar saat melihat anaknya yang belum terlelap. "Kenapa belum tidur?" tanya Darma. "Belum ngantuk, Pa." Putri memberikan senyum tipisnya. "Satria?" "Sudah tidur." "Ada yang ganggu pikiran kamu? Kalau iya cerita sama Papa, jangan dipendam sendiri." Putri menunduk dengan tarikan napas panjang. Dia mendongak dengan memberikan senyum yang begitu tipis. "Aku hilang arah, Pa. Aku nggak tau harus gimana." Suara Putri mulai bergetar. Darma kembali prihatin. Dia menarik anaknya untuk masuk ke dalam pelukannya. Sebagai orang tua tentu dia juga merasakan hal yang sama. "Papa tau kehilangan Arya sangat menyakitkan buat kamu, tapi ada Satria yang harus kamu pikirkan. Pelan-pelan tata hidup kamu. Ada Papa di sini, kamu nggak sendiri." "Ada yang belum aku ceritain ke Papa, sama yang lain juga." "Apa itu?" Darma merenggangkan pelukannya. "Kecelakaan Mas Arya." Putri menelan ludahnya susah payah. "Ada seseorang yang sengaja melukai Mas Arya, Pa." *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN