Mantan Meradang

1563 Kata
Sebenarnya, bukan gaya Atmadjiwo untuk selalu tampil di layar televisi. Biasanya, mereka akan memanggil satu media terpercaya untuk menyebarkan press realease. Namun akhir-akhir ini alur kegiatan keluarga mereka mulai berubah. Tidak lagi begitu misterius. Karena apa? Karena ada kepentingan tersendiri yang membutuhkan perhatian publik. Adhiguna Amir ingin menjadi anggota dewan dan Handaru Gama ingin mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Mereka sama-sama memiliki kepentingan. Bukan hanya mereka berdua, tetapi Harris Atmadjiwo juga. Sebagai tokoh visioner keluarga, dia juga memiliki kepentingan. Selama menjadi pembisnis, dia tidak pernah ikut terjun ke politik. Dia selalu bermain rapi di belakangnya. Memberi dan memfasilitasi semua keperluan dengan harapan orang-orang yang ia dukung akan membantu bisnisnya. Itu yang masih ia lakukan hingga saat ini. Kepergian Haryadi secara mendadak tentu menjadi pukulan berat. Mereka harus merubah strategi dan rencana keluarga. Namun skandal seolah menjegalnya, yang mau tidak mau membuat mereka akhirnya muncul di kamera. Handaru Atmadjiwo sudah membuat pernyataan. Dengan skenario yang telah dibuat, dia mengatakan hal yang sama seperti Shana Arkadewi. Hubungan mereka sudah terjalin lama dan Dito hanyalah serangga perusak hubungan keduanya. Tentu berita itu membuat kehebohan. Netizen yang menyukai berita gila dan konspirasi memiliki banyak pendapat. Beruntung sepak terjang Ndaru dan Shana begitu baik selama ini. Sehingga apa yang mereka ungkapkan diterima dengan keadaan sadar. Masuk akal. Itu kata mereka. Dibantu dengan reputasi Dito Alamsyah yang memang sudah buruk, semua tentu akan semakin mudah. Sekarang justru netizen yang balik menyerang pria itu. Berhasil membuat Dito gelisah di kamar apartemennya. "Sialan!" umpatnya membaca semua berita hangat pagi ini. Apa lagi cuitan netizen yang ingin sekali ia remas. Dito tidak menyangka jika Shana dan Ndaru akan mengeluarkan pernyataan demikian. Dia mulai bimbang, apa yang sebenarnya terjadi di balik keduanya? Atau justru benar jika Shana memang berselingkuh dengan Ndaru di belakangnya? "Jangan harap aku akan lepasin kamu, Shan," geram Dito murka. Sekarang gantian dia yang akan mengunci diri. Menghindari wartawan yang tengah menanti. Dito akan lebih berhati-hati. Jangan sampai ucapannya kembali menyerang dirinya sendiri. Seperti saat ini. Meski begitu, Dito tidak menyerah menghubungi Shana. Dia tidak mau kehilangan gadis itu. Dito Alamsyah benar jatuh cinta. Hanya saja dia terlena. Sifat bejatnya masih belum bisa ia tata. Yang pada akhirnya membuatnya berselingkuh di belakang kekasihnya. Dito bersikap demikian karena tidak mendapatkan kehangatan dari Shana seperti wanita lain. Sekali lagi, ia memang b***t. Namun perasaan untuk Shana benar nyata adanya. "Kita ada pertemuan dengan produser," ucap Kiki. "Batalin. Gue pusing," keluh Dito memijat kepalanya. "Masih nggak bisa dihubungi?" tanya Kiki. Dito menggeleng lemah. "Sekarang Shana tau kalau ada nomer asing yang telepon, itu pasti gue. Jadi langsung di-block." Kiki menghela napas kasar. "Lo, sih. Udah gue bilang Shana itu beda. Jangan sampe lo bikin kesalahan yang sama seperti sebelumnya." "Gue khilaf." Kiki mencibir sambil berlalu. "Khilaf kok bolak-balik? Sekarang lo yang nyesel. Lepas dari lo, Shana malah dapat salah satu anggota keluarga Atmadjiwo. Fix, lo nggak bakal bisa dapetin dia lagi. Lo kalah telak." Benar, Dito kalah telak. Namun jangan panggil namanya jika ia tak mengelak. Shana adalah miliknya dan selamanya akan begitu. *** Suara televisi perlahan mulai membesar. Sesekali Shana melirik kakaknya yang masih berkutat di dapur. Ketika masih diabaikan, Shana kembali memperbesar suara televisi. Berharap jika kakaknya mau berkomentar, setidaknya menoleh saja. Namun sayang, hati Erina sekeras batu. Sebagai seorang kakak dia sulit untuk diluluhkan. Bahkan narasi-narasi di televisi mengenai dirinya dan Ndaru tak ia hiraukan. "Mbak?" panggil Shana lelah. Dia menghampiri kakaknya dan memeluknya dari belakang. "Gue pingin kawin." Sebuah pukulan dari telenan kayu mendarat di kepala Shana. Gadis itu meringis dan melepaskan pelukannya. Bukan bualan semata, pukulan Erina memang sangat sakit. Demi Tuhan, Erina memukulnya dengan kayu! "Semua orang udah tau hubungan gue sama Pak Ndaru. Tinggal nikahnya aja." Shana masih tidak menyerah. "Ngomong lo sama tembok." Shana kembali memeluk kakaknya. "Cuma setahun, Mbak. Habis itu gue cerai." Pukulan kembali Shana dapatkan. Bukan lagi telenan, tetapi terong ungu yang berukuran jumbo. "Lo pikir nikah itu main-main?" "Gue harus gimana biar Mbak Erina izinin?" Shana terlihat berpikir. "Nanti nafkah dari Pak Ndaru buat Mbak, deh. Kayaknya dia mau kasih banyak. Nanti kita bisa buka cabang restoran baru." "Sebenarnya niat lo apa, Shan?" Erina mulai berbalik. "Bersihin nama gue dan naikin nama gue." Erina menggeleng. "Gue tau lo nggak gila tenar kayak gini." Shana mengembungkan pipinya dan menunduk. "Gue sakit hati, Mbak. Dito selingkuhin gue. Jadi gue harus bisa dapet yang lebih dari dia." "Tapi kenapa harus Handaru Atmadjiwo, Shana? Lo tau siapa dia, kan?" Shana mengangguk pasti. "Kemarin terlanjur nyiumnya Pak Ndaru jadi ya mau gimana lagi? Untung Pak Ndaru yang gue cium, bukan satpam yang udah punya bini." "Nggak lucu!" Erina kembali fokus memasak. Hari ini dia memutuskan untuk mengambil jatah libur. Dia lelah dengan segala pertanyaan orang-orang tentang skandal adiknya. "Cuma setahun, Mbak. Izinin, ya? Lo udah baca kontraknya kemarin. Semua murni untuk kepentingan, gue nggak akan dirugikan, baik fisik dan materi." Erina meletakkan pisaunya kesal. Dia berbalik dan menatap Shana tajam. "Selama ini gue jagain lo, sekolahin lo, kuliahin lo, bukan buat jadi orang yang gampang putus asa kayak gini, Shan. Gue bahkan nggak peduli sama skandal itu. Kalau pun lo bangkrut, lo masih punya gue." Shana menatap kakaknya haru. Dia mendekat dan kembali memeluk Erina erat. Satu-satunya orang yang ia sayang di dunia ini adalah kakaknya. Melihatnya kecewa dengan tingkah lakunya juga membuat Shana ikut sedih. "Cuma setahun, Mbak. Please, izinin gue kali ini." "Kenapa harus Handaru Atmadjiwo, Shan?" lirih Erina untuk yang kesekian kalinya. Dia begitu berat melepaskan adiknya untuk bergabung dengan keluarga itu, meskipun hanya satu tahun. "Cuma mereka yang punya power, Mbak," balas Shana tak kalah lirih. *** Keadaan kafe cukup ramai hari ini. Padahal bukan akhir pekan. Shana tahu apa yang menjadi penyebabnya. Namanya mendadak viral akhir-akhir ini. Beruntung kali ini tidak begitu banyak wartawan yang mencarinya. Semua rasa penasaran mereka seolah terjawab dengan pernyataan yang sudah ia dan Ndaru berikan. "Mau pulang, Mbak?" tanya Ayu. "Iya, Yu. Ada perlu." "Mau aku panggilin satpam?" Shana menggeleng cepat. "Udah nggak ada wartawan. Tenang aja." "Oke, Mbak. Hati-hati." Shana mengangguk dan berlalu pergi. Sambil membawa laptop di pelukannya dia berdiri di depan kafe dengan wajah bingung. Tak lama sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya. Benar, mobil itu yang Shana tunggu. Tak ingin membuat orang di dalamnya menunggu, Shana langsung masuk. Jangan harap ada sambutan. Begitu ia duduk, mobil langsung berlalu pergi meninggalkan kafe. "Ada apa?" tanya Ndaru tanpa menatapnya. Shana memang menghubungi Gilang dan meminta untuk bertemu Ndaru siang ini. Dia butuh bantuan pria itu. "Saya butuh bantuan, Pak." Ndaru menoleh. Alisnya terangkat sebelah. "Saya mau Pak Ndaru ketemu sama kakak saya." "Untuk?" Ndaru masih bingung. "Minta restu, Pak." Hela napas kasar keluar dari bibir Ndaru. Dia menatap jendela dengan gelengan kepala. Ternyata rencana yang dibuat tidak selalu berjalan mulus. Secara tiba-tiba Shana datang dan memintanya untuk meminta restu pada kakaknya. Konyol. Ndaru masih ingat jika Shana yang menawarkan rencana ini. Dia pikir semua akan menjadi mudah. Namun justru pihak gadis itu yang mempersulit semuanya. "Saya pikir kakak kamu sudah tahu tentang masalah ini." Shana menunduk takut. "Saya sudah bujuk kakak saya, Pak. Tapi tetep aja gagal." "Kita nggak perlu restu." Ndaru kembali menatapnya. "Karena pernikahan hanya berlangsung satu tahun." Shana menunduk sedih. "Saya nggak bisa, Pak. Cuma kakak saya yang saya punya saat ini." "Kamu sudah tanda tangan kontrak, jadi jangan ada kata tidak bisa." Ndaru sedikit menaikkan nada bicaranya. Bukan membentak, tetapi terdengar sangat tegas. "Pak Ndaru nggak mau coba dulu? Ngomong baik-baik sama kakak saya? Saya nggak mau dicap sebagai adik durhaka, Pak." Shana kembali menunduk. "Kamu yang harusnya bujuk kakak kamu, bukan saya." "Sudah, Pak." Shana mulai gemas. "Tapi saya gagal." Ndaru kembali menghela napas kasar. Dia melirik Gilang yang duduk di samping sopir. Ndaru yakin pria itu juga mendengar pembicaraan mereka. Namun tidak ada bantahan dari Gilang, artinya pria itu setuju. Benar-benar merepotkan. "Hanya sekali," ucap Ndaru pada akhirnya. "Jika gagal, saya serahkan ke kamu sepenuhnya. Karena itu tanggung jawab kamu." Shana tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya dia memberikan senyum lebar pada Handaru Atmadjiwo. "Atur pertemuan untuk nanti malam, Lang," kata Ndaru pada Gilang. "Baik, Pak. Di restoran biasa, ya?" "Kenapa nggak sekarang aja, Pak?" tanya Shana bingung. "Saya harus kerja." Benar juga. Shana mendadak lupa siapa pria di hadapannya saat ini. "Oke, Pak." Shana mengangguk mengerti. "Mbak Shana mau diantar ke mana?" tanya Gilang. "Saya turun di sini aja, Mas." Gilang menggeleng cepat. "Nggak bisa, Mbak. Akan banyak orang yang melihat nanti." Shana meringis. Semenjak mendeklarasikan diri sebagai kekasih Handaru Atmadjiwo, kehidupan Shana tidak lagi sama. Di mana pun ia berada akan banyak kamera yang tertuju padanya. Memang tidak lagi menghalangi jalannya seperti dulu, tetapi tetap saja apa yang ia lakukan selalu terpantau. "Kalau gitu ke apartemen aja, Mas." Shana akan kembali ke rumahnya. Sudah lama dia tidak mengunjunginya. "Baik, Mbak." Terjadi keheningan selama perjalanan. Mobil perlahan mulai masuk ke area apartemen Shana. Kening gadis itu berkerut. Dia seolah tersadar akan sesuatu. "Kok Mas Gilang tau tempat tinggal saya?" Gilang berdeham pelan. "Sampai jumpa nanti malam, Mbak." Tak mungkin Gilang menjawab jika mereka sudah menyelidiki semua tentang Shana Arkadewi sebelumnya. Meskipun bingung, tetapi Shana tetap turun dari mobil. Tangannya melambai saat mobil Ndaru mulai berlalu pergi. Setelah benar-benar menghilang dari pandangannya, tangan Shana yang melambai pun jatuh begitu saja. Wajah tenangnya berubah menjadi datar. Hingga saat ini Shana masih tidak percaya jika akan melemparkan diri pada Handaru Atmadjiwo. Satu tahun. Benar, hanya satu tahun. Demi membersihkan namanya. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN