Kembali Viral

1516 Kata
Roda kehidupan terus berputar tanpa henti. Mengundang masalah untuk datang silih berganti. Sebagai manusia kita hanya bisa meyakinkan diri. Jika masalah datang bukan tanpa arti. Ada makna dan pembelajaran yang bisa menguatkan hati. Ndaru adalah orang yang sangat disiplin. Dia selalu bangun pagi untuk menjalankan kewajiban dan aktivitasnya. Selarut apapun dia tidur, matanya otomatis akan terbuka jika waktu Subuh tiba. Mungkin bisa dihitung jari kapan ia bangun terlambat. Kegiatan pagi yang sering ia lakukan adalah berenang. Ini pertama kalinya Ndaru mencoba kolam renang di rumah barunya. Tanpa peduli dengan suhu air yang cukup dingin, dia tetap menenggelamkan tubuhnya di sana. Berenang dari ujung-ke ujung sampai ia merasa puas dan lelah. Tangan besar Ndaru mengusap wajahnya kasar. Menghilangkan tetes air yang mengganggu pandangannya. Kepalanya mendongak menatap langit gelap. Semburat biru perlahan mulai mengintip. Menandakan jika matahari akan muncul sebentar lagi. Ndaru memutuskan untuk menyudahi kegiatannya. Dia menjauh dari kolam dan duduk di kursi santai samping kolam renang. Pria itu duduk di sana sambil mengusap rambut basahnya. Tangannya meraih iPad dan melihat apa saja pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini. Gilang sudah mengirimkan jadwalnya Subuh tadi. Namun ada satu pesan yang membuatnya tertarik. Dengan cepat Ndaru membuka situs pencarian dan melihat berita terkini. Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi kembali menjadi perbincangan. "Handaru Atmadjiwo, putra bungsu Harris Atmadjiwo kembali terlihat bersama dengan penulis ternama, Shana Arkadewi. Sebelumnya, Handaru disebutkan terlibat skandal perselingkuhan dengan Shana di Atma Hotel. Foto yang beredar masih belum dikonfirmasi oleh pihak terkait. Namun pada tanggal 26 Oktober 2023, Handaru dan Shana kembali membuat publik gempar dengan muncul bersama di Bandara Soekarno-Hatta. Hingga saat ini pihak Handaru Atmadjiwo ataupun pihak Shana Arkadewi masih belum memberikan keterangan mengenai kedekatan keduanya." Ndaru kembali tersenyum. Ternyata pancingannya semalam membuahkan hasil. Orang-orang tidak lagi fokus pada foto ciuman yang beredar, tetapi mulai penasaran dengan hubungannya dengan Shana. "Selamat pagi, Pak," sapa seseorang di belakangnya. Ndaru menutup iPad-nya dan berbalik. Dia melihat Suster Nur yang sudah terlihat segar. "Mas Juna sudah bangun?" tanya Ndaru. "Belum, Pak." Suster Nur mendekat. "Tadi pagi Mas Gilang bilang kalau barang-barang Mas Juna mau dateng. Jadi kita beneran pindah ke Jakarta, Pak?" Ndaru mengangguk. "Suster nggak keberatan, kan? Nanti saya tambah gajinya sesuai dengan biaya hidup di sini." "Nggak keberatan, Pak. Cuma nanti kalau saya izin cuti buat lihat anak saya di pondok boleh, ya?" Ndaru tersenyum tipis. "Boleh, tapi jangan mendadak izinnya." "Siap, Pak. Kalau gitu saya liat Mas Juna dulu." Begitu Suster Nur pergi, Ndaru juga beranjak untuk pergi. Sambil mengusap tubuh basahnya, dia masuk ke dalam kamar. Dia harus membersihkan diri sebelum beraktivitas. Mulai dari sekarang, Ndaru tidak bisa lagi menghindari wartawan. Dia akan tampil dengan drama yang telah dipersiapkan. *** Kadang hidup memang tak berjalan mulus. Namun tetap saja manusia akan terus mengeluh. Meningkatkan keraguan diri dalam hidup. Yang memaksa agar tetap fokus. Sebelumnya, Shana sudah menyiapkan diri sebelum pergi ke kafe. Namun begitu sampai, rasa cemasnya kembali muncul. Dia tidak menyangka jika akan dihadapakan dengan begitu banyak wartawan yang sudah menunggu. Andai ada pengawal Ndaru di sini, mungkin Shana bisa dengan tenang masuk ke dalamnya. "Oke, Shana. Ini ide lo, jadi lo harus maju," gumamnya menyakinkan diri. Setelah mengatur napas, Shana keluar dari mobil dengan tenang. Seperti yang ia duga, kedatangnnya langsung disambut dengan suka cita. "Mbak Shana wawancara sebentar, dong, Mbak?" "Mbak, sebentar aja, Mbak. Tadi saya sudah beli kopi lima gelas!" teriak yang lainnya. "Ada hubungan apa sama Handaru Atmadjiwo, Mbak?" "Apa benar kata Dito kalau Mbak Shana selingkuh?" Mendengar pertanyaan itu, reflek Shana menghentikan langkahnya. Dia menoleh pada salah satu wartawan yang mengajukan pertanyaan. "Saya nggak selingkuh, Mbak. Hubungan saya dengan Dito sudah lama berakhir, jauh sebelum saya mengenal Ndaru." Benar, itu yang ingin Shana katakan. Dia ingin semua orang tahu jika tidak ada perselingkuhan yang terjadi. Meski dengan kebohongan, tetapi tak semuanya juga kebohongan. "Jadi Mbak Shana sama Pak Handaru pacaran?" Shana mengangguk mantap. "Bisa dibilang seperti itu." "Kok nggak pernah keliatan berdua, Mbak?" "Selama ini saya LDR. Kan Mas Ndaru tinggal di Surabaya." "Terus kenapa Dito bilang kalau Mbak Shana selingkuh?" Shana kembali tersenyum. "Ya, mungkin karena hubungan kita tidak berakhir dengan baik." "Kalau boleh tau kenapa, Mbak?" "Rahasia," tawa Shana terdengar renyah. "Intinya saya sudah tidak ada hubungan dengan Dito Alamsyah. Jadi jangan bawa-bawa dia lagi. Saya nggak enak." "Mbak Shana marah nggak waktu Dito bilang gitu ke media?" "Saya kesel, tapi Mas Ndaru yang lebih kesel lagi." Shana kembali terkekeh. "Tapi ya udah, biarin aja. Kita semua tau gimana sifat mantan saya." Shana kembali melangkah. Meski terlihat sulit, tetapi dia tetap berusaha untuk menjauh dari kerumunan. "Jadi foto yang beredar itu benar, Mbak?" "Foto yang mana?" tanya Shana geli. Mencoba mencairkan suasana. "Yang di Atma Hotel, Mbak." Shana tersenyum tipis dan mengangguk. "Benar, tapi itu foto lama." "Kenapa selama ini diem aja, Mbak? Pak Ndaru juga nggak klarifikasi apa-apa." "Keluarga Atmadjiwo sedang berkabung, Mbak. Nggak enak kalau saya dan Mas Ndaru sibuk klarifikasi ini-itu di saat keadaan sedang tidak memungkinkan." Shana kembali berjalan. Kali ini dengan cepat. Dia sudah hampir sampai di pintu kafe. "Mbak, sekali lagi, Mbak. Terus gimana lanjutan sequel film adaptasi dari novel Mbak yang disutradarai sama Dito Alamsyah?" Shana tidak menjawabnya. Bukan karena tidak mau, melainkan dia tidak tahu jawabannya. Sudah dibilang karirnya diperhitungkan di sini. Namun sejak Dito berkhianat, Shana tidak mau kembali terlibat. "Sudah dulu, ya. Saya mau kerja. Kalian muat berita yang tadi dulu. Yang lain kapan-kapan. Kalau kalian tenang, nanti saya kasih kopi." Shana tersenyum dan masuk ke dalam kafe. Bagas yang sedari tadi mengintip langsung bertindak mengunci pintu. Seharusnya mereka sudah buka siang ini, tetapi karena keadaan yang tidak memungkinkan dengan keberadaan Shana, akhirnya mereka harus menutupnya sementara. "Akhirnya mereka dapet berita," kikik Bagas puas. Namun setelah itu dia menatap Shana serius. "Katanya Mbak Shana nggak punya hubungan sama Handaru? Kok saya liat foto kalian berdua di Bandara semalem?" Shana mendengkus dan berlalu ke ruangannya. "Buatin wartawan di depan kopi, Gas. Setelah itu minta mereka pergi." "Oke, Bos!" Bagas memilih menurut. Ia tidak mau membuat perasaan Shana memburuk. *** Selain berenang, Ndaru juga menyukai kuda. Salah satu hobinya adalah berkuda. Karena itu, siang ini dia datang ke Atmadjiwo Equestrian untuk melihat kuda-kuda miliknya. Tempat sekolah berkuda ini juga di bawah naungan keluarga Atmadjiwo. Berhasil menciptakan atlet-atlet hebat yang menyumbangkan medali bergengsi untuk negara. "Mau pakai kuda yang mana, Pak?" tanya Gilang. "Holly. Sehat, kan?" Gilang menatap salah satu petugas yang ada untuk bertanya. "Sehat, Pak. Kalau gitu saya ambil Holly dulu." Dari jauh, Ndaru melihat anaknya yang tampak senang bermain dengan anak-anak kuda. Tidak perlu khawatir karena semua kuda itu berada di dalam kandang. Juna hanya sedang memberikan makanan untuk mereka dari luar ditemani oleh Suster Nur. "Pa, kuda!" teriak Juna senang. "Warna putih!" Ndaru tersenyum dan menganguk. "Kapan Papa saya datang?" tanyanya beralih pada Gilang. "Sebentar lagi, Pak." Ndaru mulai memasang sepatu berkudanya. Tujuannya datang ke tempat ini bukan hanya ingin berkuda. Melainkan bertemu ayahnya dan ingin mengajak Juna bermain. "Papa dengar Yono sakit?" tanya Harris yang ternyata sudah datang. "Yono sudah tua, Pa," jawab Ndaru. Yono yang mereka maksud adalah kuda kesayangan Harris Atmadjiwo. "Papa juga sudah tua. Jadi, Papa mau main sama cucu aja." Setelah itu Harris mendekati Juna dan memeluknya erat. "Kapan Mas Guna kembali ke Jakarta, Lang?" tanya Ndaru. "Kata Rahmat besok, Pak." Kakak sulung Ndaru itu memang masih berasa di Kalimantan Timur bersama istrinya. Melakukan belusukan yang bertujuan untuk menguatkan suara untuk memperebutkan kursi istimewa di Senayan. "Atur pertemuan. Setelah berita baru muncul, kita nggak akan bisa istirahat lagi. Pernikahan sudah di depan mata." "Baik, Pak." *** Ndaru menghentikan laju kudanya setelah merasa cukup. Dia turun, membiarkan kudanya diurus oleh pegawai yang ada dan berlalu menghampiri ayahnya. Pria itu bersantai di sebuah pendopo bersama Juna di pangkuan. Tanpa mengganti pakaian, Ndaru ikut bergabung dengan mereka. "Jadi kapan rencana pernikahan kamu, Mas?" tanya Harris. "Papa sudah liat berita tadi pagi." Pria itu kemudian menatapnya. "Mulai kondusif." "Setelah tujuh harinya Mas Arya kita bahas menyeluruh. Aku nggak enak sama Mbak Putri." "Jangan lama-lama. Pemilu sudah di depan mata. Papa juga harus segera umumkan Atmadjiwo mendukung paslon mana. Capres dan cawapres yang kita sokong sudah mulai mendesak. Kalau masalah kamu belum selesai, suara kita malah menjadi bumerang." Benar, banyak kepentingan yang melibatkan keluarga Atmadjiwo. Karena itu nama baik mereka sangatlah penting. "Setelah Mas Guna pulang kita bahas semuanya." Harris mengangguk dan kembali menyuapi Juna dengan kue lemon yang tampak menggiurkan. "Jadi, semalam kamu bawa perempuan itu untuk ketemu Juna?" "Kita harus sering terlihat bersama sebelum menikah." "Setelah menikah, kamu harus tegas, Mas. Jangan sampai dia membuat ulah dan merugikan keluarga kita." Ndaru mengangguk. "Untuk Shana, biar aku yang urus. Papa nggak perlu khawatir." "Pak, Mbak Shana sudah membuat pernyataan." Gilang datang sambil menunjukkan ponselnya. "Dia sudah berkata jika memiliki hubungan dengan Bapak." Ndaru mengangguk mengerti. "Di luar masih ada wartawan, Lang?" "Banyak, Pak." "Ajak mereka masuk. Pesankan makanan untuk mereka," ucap Harris. Ndaru tidak membantah. Dia segera berdiri dan bersiap untuk mengganti pakaiannya. Apa yang ayahnya perintahkan sudah benar. Ini saatnya Ndaru muncul di depan kamera dengan pernyataannya. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN