Meskipun hari sudah malam, tetapi suasana bandara tetap ramai. Sayangnya itu tidak berlaku untuk di dalam kendaraan. Keadaan benar-benar sangat tenang. Namun juga menegangkan.
Perjanjian kontrak yang telah disetujui seolah tidak ada artinya. Tembok besar masih berdiri kokoh sebagai pemisah. Maklum tentu menjadi dasar utama. Pertemuan awal yang tidak baik tentu tak bisa memperbaiki hubungan keduanya.
Shana memilih untuk melihat ke luar jendela. Mulutnya juga masih tertutup rapat. Bahkan sejak satu jam yang lalu saat perjalanan dimulai. Shana tidak tahu apa yang Ndaru lakukan di sampingnya. Lagi pula Shana juga tidak ingin mencari tahu. Pria itu terlalu fokus menutup mulut dan menatap layar iPad-nya.
"Semua sudah selesai, kan, Lang? Saya tinggal menghadiri acara perpisahan." Untuk pertama kalinya Ndaru membuka suara setelah satu jam lebih terjadi keheningan.
"Betul, Pak. Tiga hari lagi Bapak bisa ke Surabaya."
Shana masih diam, meski sesekali dia juga mencuri dengar. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan orang kaya seperti Handaru Atmadjiwo.
"Kenapa kita nggak keluar, Pak?" Shana pada akhirnya menoleh.
"Terlalu banyak orang. Saya kurang nyaman," jawab Ndaru masih fokus pada iPad-nya.
"Terlalu banyak wartawan, Mbak. Pak Ndaru dan Mbak Shana bisa keluar sebentar nanti kalau Mas Juna sudah datang," jelas Gilang.
"Saya nggak liat ada wartawan, Mas," gumam Shana melihat sekitar.
Gilang yang duduk di depan pun menoleh. "Mereka punya cara baru setelah Pak Ndaru membawa pengawal. Selain itu, Pak Ndaru dan Mbak Shana juga tidak ada yang membuka suara jadi mereka memilih untuk mengikuti secara diam-diam."
Shana meringis. "Jadi mereka tau saya ada di sini?"
"Seharusnya mereka tau. Pak Ndaru dan Mbak Shana keluar bersama saat di restoran tadi."
Benar juga. Sekarang Shana sadar kenapa wartawan tidak mengelilinya seperti biasa. Ternyata itu efek dari keberadaan Handaru Atmadjiwo. Pria itu memiliki beberapa pengawal yang bisa menghempaskan para wartawan dengan mudah.
"Itu Mas Juna, Pak," tunjuk Gilang.
Ndaru yang sedari tadi diam mulai menoleh. Dari jauh, dia bisa melihat anaknya datang di gendongan susternya dan diikuti oleh dua pengawal. Seketika senyum Ndaru muncul. Dia merindukan anaknya.
Sudah berapa hari mereka tidak bertemu?
"Bapak dan Mbak Shana bisa keluar sekarang. Abaikan cahaya kamera yang muncul nanti."
Shana dibuat takjub dengan Gilang yang begitu cekatan. Suatu saat dia juga ingin memiliki asisten pribadi seperti itu juga. Namun rasanya mustahil karena dia bukan siapa-siapa.
Sebelum keluar, Shana menarik napas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia melakukannya berkali-kali sampai ia merasa cukup tenang.
"Sudah?"
Shana menoleh dan melihat Ndaru yang ternyata menunggunya. "Siap, Pak," jawabnya.
Setelah itu Ndaru pun keluar, diikuti oleh Shana. Benar saja, di balik kaca mata minus yang ia pakai, Shana bisa merasakan cahaya kamera yang tertuju padanya. Benar kata Gilang, ternyata wartawan berada di mana-mana dan entah dari media mana saja.
Sekarang Shana merasa seperti seorang selebriti.
"Mas Juna," sapa Ndaru dengan senyuman. Dia segera mengambil alih anaknya dari gendongan pengasuhnya.
"Papa!"
Tanpa diduga, Shana tersenyum mendengar suara imut yang terdengar bahagia itu. Kali ini senyum Shana bukan palsu, melainkan tulus ia berikan.
"Kemarin habis sakit, ya?" tanya Ndaru lembut.
Shana pun mengalihkan pandangannya. Tidak ada wajah datar seperti yang pria itu tunjukan tadi. Shana melihat sosok lain. Sosok ayah yang begitu lembut pada anaknya.
"Mas Juna kemarin disuntik? Sakit, nggak? Dokternya baik?" tanya Ndaru lagi sesekali mencium pipi gembul anak berusia dua tahun itu.
"Disuntik, Pa. Sakit," balas Juna sambil menunjukkan tangannya yang terdapat plester bekas infus. "Pa, siapa?" tanya Juna saat melihat Shana yang sedari tadi tersenyum tipis.
"Tante Shana," jawab Ndaru singkat.
Siapa sangka jika pertanyaan itu membuat senyum Shana hilang. Dia terkejut sekaligus salah tingkah sendiri. Dia tidak tahu jika Ndaru tidak perlu berbasa-basi pada anaknya. Shana pikir pria itu tidak mau mengenalkan dirinya.
"Boleh saya pegang, Pak?" tanya Shana tidak bisa menahan rasa gemas.
Ndaru tidak menjawab, tetapi dia berbalik untuk menghadapkan anaknya pada Shana.
"Halo, Mas Juna," sapa Shana dengan senyuman. Tangannya bergerak menyentuh jari-jari kecil itu.
"Jawab, Sayang," ucap pengasuh Juna. "Hai, juga, Tante Shana."
Juna pun menirunya. Dia tampak malu-malu dan kembali masuk ke dalam pelukan Ndaru.
"Dia Suster Nur, pengasuh anak saya," Ndaru memperkenalkan.
Shana tersenyum dan mengulurkan tangannya. Bahkan dia sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk kesopanan pada wanita paruh baya itu.
"Saya Shana, Sus. Salam kenal."
"Salam kenal juga, Bu."
Dalam hati Shana ingin menolak panggilan itu. Namun dia memilih untuk menahannya. Lain kali dia bisa membicarakannya.
"Sudah cukup?" tanya Ndaru pada Gilang.
Gilang mengangguk. "Dapat dipastikan tidak lama lagi berita kebersamaan Bapak dan Mbak Shana akan segera muncul."
Hebat. Sandiwara yang keren.
***
Di dalam mobil, keheningan kembali terjadi. Namun ada yang berbeda kali ini. Shana seperti menikmati perjalanan karena sesekali menggoda Juna dengan wajah konyolnya. Tidak menimbulkan suara karena dia tahu Ndaru sudah menegaskan posisinya untuk menjaga jarak.
Shana memang menyukai anak-anak. Bahkan dia lebih memilih untuk berinteraksi dengan anak-anak yang belum fasih berbicara dari pada orang dewasa. Karena itu juga dia sering mengikuti kegiatan sosial bersama para relawan. Tak jarang Shana ikut terbang ke bagian timur Indonesia untuk melihat keadaan anak-anak yang kurang beruntung di sana. Apa yang ia lakukan bukan untuk kepentingan publik, tetapi untuk dirinya sendiri.
Shana butuh meyakinkan diri jika dia bukanlah satu-satunya anak yang menderita. Jadi dia harus tetap bersyukur meski masa lalunya juga menyedihkan.
"Baaa!" Shana kembali menggoda Juna.
Anak itu tertawa malu dan masuk ke dalam pelukan ayahnya. Juna memang duduk di pangkuan Ndaru dengan nyaman.
Shana mengalihkan pandangannya, sesekali melirik Juna yang kembali mengintip. Saat ingin kembali menggoda Juna, tiba-tiba Ndaru menatapanya. Membuat Shana menelan kembali kata yang ingin terlontar.
"Maaf, Pak," gumam Shana menahan senyumnya. "Galak bener," gumamnya tak terdengar.
Jujur Shana geli dengan interaksi mereka saat ini. Ndaru benar-benar dingin dan tak tersentuh.
"Mas Juna tidur aja, ya?" minta Ndaru saat Juna kembali ingin bermain.
"Belum ngantuk, Pa."
Jawaban itu membuat Shana kembali menahan senyumnya. Ucapan Juna yang belum begitu fasih terdengar lucu di telinga.
"Tadi Mas Juna tidur terus selama perjalanan, Pak," jelas Sus Nur.
"Mas Juna mau ketemu Kakek besok. Jadi, ayo tidur. Sudah malam."
Shana kembali melirik Juna yang ternyata menatapnya dengan senyuman malu. Dia memberi anggukan pelan dan mulai memejamkan mata. Memberi tahu Juna jika saat ini adalah waktunya tidur.
"Mbak Shana mau diantar ke mana?" tanya Gilang.
"Rumah kakak saya aja, Mas."
Shana kemudian melihat Ndaru sebentar. Pria itu mengelus punggung Juna dan sesekali menepuk pantatnya.
Lihat, pria itu begitu hangat saat bersama orang-orang tertentu. Namun saat mata itu sudah menatapnya, Shana selalu dibuat mati kutu. Dan itu lah sisi lain dari Handaru Atmadjiwo yang tak pernah ia lihat dari media.
***
Mobil telah berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang mungil tetapi bergaya modern. Jika sudah memasuki komplek rumah Erina, maka Shana bisa tenang. Tidak semua orang bisa masuk ke area komplek karena harus memerlukan izin terlebih dahulu.
"Setelah hari ini, kita akan kembali menjadi perbincangan. Jika ada apa-apa, hubungi Gilang," ucap Ndaru.
Shana mengangguk. "Saya ngerti, Pak. Kalau gitu saya duluan," ucapnya membuka pintu mobil. "Makasih semuanya," lanjutnya sebelum menutup pintu.
Shana tidak bisa menyapa Juna karena anak itu sudah jatuh tertidur di pelukan ayahnya. Saat melihat mobil Ndaru sudah menjauh, Shana menatap rumah di hadapannya dengan tarikan napas lelah.
Ada satu hal yang belum ia selesaikan, yaitu restu dari kakaknya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tidak begitu larut untuk anak muda jaman sekarang, tetapi untuk Shana jelas berbeda. Gadis itu terbiasa untuk berada di rumah, mengurung diri bersama laptop dan imajinasinya.
Begitu membuka pintu, Shana disambut oleh Erina yang melipat kedua tangannya di d**a. Wajahnya tertekuk membuat Shana meringis. Di belakangnya, ada Fathur yang menatapnya tenang.
Pasangan yang saling melengkapi, bukan?
"Habis dari mana?"
"Ada perlu." Shana melepas tasnya dan berlalu ke dapur. Mendadak tenggorokannya kering.
"Sama Handaru?"
Shana tidak jadi meminum air putihnya. Dia menatap kakaknya tidak percaya. Apa secepat itu berita tersebar?
"Lo tau dari mana, Mbak?"
"Mas punya banyak informasi, Shana." Fathur yang menjawab.
Ah, tentu saja. Shana lupa siapa pria itu.
"Udah gue bilang jangan ke luar rumah. Lo malah ketemu sama Handaru. Mau bikin masalah lagi?" Erina bertanya tajam.
"Cuma mau ngelurusin sesuatu, kok."
Erina berdecak dan memijat keningnya. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam.
"Jangan bikin ulah lagi, dong, Shan. Gue pusing."
"Gue lagi berusaha untuk memperbaiki keadaan, Mbak."
"Maksud kamu apa?" tanya Fathur penasaran.
Shana meminum air di gelasnya cepat. Dia butuh tenaga sebelum beradu argumen dengan Erina. Shana sudah yakin jika kakaknya akan menentang keputusannya. Namun itu lah yang akan Shana perjuangkan.
"Gue mau nikah."
Erina terdiam selama beberapa detik kemudian tertawa keras. "Kamu denger, Yang? Udah gila, nih, anak."
"Sorry, kalau gue bakal langkahin kalian," lanjut Shana tidak peduli.
"Shana, ini bukan waktunya bercanda." Fathur menatapnya jengah.
Shana menggeleng. "Aku beneran mau nikah, Mas."
"Sama siapa?" Pertanyaan Fathur bernada ejekan.
"Handaru Atmadjiwo."
Erina meraih remot dan langsung melemparnya ke arah Shana. Beruntung lemparan itu meleset dan menghantam lemari pendingin di belakang Shana.
"Jangan bikin Mbak makin marah, ya, Shan?" geram Erina. "Nggak lucu!"
Shana menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. "Gue nggak lagi bercanda, Mbak. Gue udah mutusin buat nikah sama Handaru Atmadjiwo."
"Kok bisa?" Fathur benar-benar cocok menjadi kakak iparnya. Pria itu begitu tenang, berbeda dengan Erina yang mudah meledak-ledak.
Shana mendekat untuk mengambil tasnya. Dia mengeluarkan sebuah map dari sana dan menunjukkannya pada Fathur.
"Hanya satu tahun. Setelah semua keadaan aman terkendali, kita akan berpisah," jelas Shana.
"Shan, kamu serius?" Fathur membaca perjanjian kontrak itu tidak percaya.
"Serius, Mas."
"Aduh, darah tinggi gue." Erina kembali memejamkan matanya erat.
"Shan, pernikahan bukan main-main." Fathur mulai serius setelah membaca kontrak itu. Ternyata ucapan Shana bukanlah kehaluan semata.
"Aku udah dewasa, Mas. Aku tau apa yang harus aku lakukan."
Erina berdiri dan berlalu pergi. "Urus adik kamu, Yang. Aku pusing. Mau pisah kartu keluarga aja kalau gini."
Shana menatap kepergian Erina dengan masam. Dia tahu jika hal ini akan terjadi. Namun keputusannya sudah bulat. Pernikahan harus tetap dilaksanakan.
***
TBC