Sebuah Kesepakatan

1994 Kata
Sebagai kepala keluarga, tentu Harris Atmadjiwo tidak bisa tenang. Hatinya dikuasai rasa bimbang. Kematian anak tengahnya sudah cukup membuatnya terguncang. Lalu sekarang anak bungsunya kembali datang dengan masalah yang menantang. Seharusnya di usianya yang menginjak 71 tahun ini, Harris sudah bisa bersantai di hari tuanya. Kehidupan serta karir anak-anaknya juga sudah bagus dan menjanjikan. Namun siapa sangka jika dia tetap turun tangan saat ada permasalahan yang menyangkut nama Atmadjiwo. Bukan usaha yang mudah untuknya membangun kerajaan bisnis hingga seperti ini. Harris percaya jika nama baik akan memberikan banyak keuntungan. Mulai dari kepercayaan rekan bisnis hingga kepercayaan masyarakat. Meski ada juga yang membenci, tetapi suara mereka tidak terlalu vokal. Lalu sekarang, setelah bertahun-tahun hidup tenang, keluarganya terguncang dengan satu skandal. Skandal yang untuk pertama kalinya sulit mereka atasi. Sekali lagi, nama baik Atmadjiwo sangat penting untuknya. Harris bisa seperti ini juga karena citra positif yang ia bentuk sejak awal. Apa lagi dia harus mengubah tatanan yang ada setelah kematian Arya. Semua akan menjadi sulit ketika skandal ini masih dibicarakan dan terus berkembang tanpa bisa dikontrol. "Kita nggak bisa gini terus, Mas," ucap Darma, salah satu pemilik saham Atmadjiwo yang juga merupakan besan Harris, pembisnis sukses dari Kalimantan Timur yang juga Ayah dari Putri Asmadi, istri Haryadi. "Kamu nggak bisa bujuk mereka dulu, Dar? Kita masih berkabung kalau kamu lupa." "Tentu, Mas. Saya juga masih sedih karena kehilangan menantu." Darma menghela napas kasar. "Saya sudah minta mereka untuk sabar dan menunggu. Tapi mereka terus mendesak karena harga saham terus turun." "Kita sedang mencari jalan keluar." "Maaf, Mas." Darma berdeham sebentar. "Tapi apa benar kalau Ndaru jadi selingkuhan?" Harris menatap Darma tajam. "Anak saya nggak seperti itu. Kayak nggak ada perempuan lain aja," gerutunya. "Terus kenapa ada narasi seperti itu di media, Mas? Itu yang bikin panas. Nama keluarga Mas jadi buruk." "Ya, ulah siapa lagi? Musuh Atmadjiwo kan banyak, ditambah Mas Guna juga mau nyaleg." Darma berdecak. "Saya nggak bisa tahan mereka terlalu lama, Mas. Segera minta Ndaru untuk selesaikan masalah ini, apapun caranya. Karena biar bagaimana pun skandal ini sangat berdampak untuk semua bisnis kita." Harris mengangguk. "Sebentar lagi, minta mereka untuk sabar menunggu sebentar lagi." "Untuk kasus Benasaka. Jadinya gimana, apa ada informasi?" tanya Darma teringat dengan kasus yang ditangani oleh almarhum menantunya. "Yang saya dengar akan diganti hakim lain. Pemeriksaan akan diulang dari awal lagi." Darma mengusap wajahnya kasar. "Arya... Arya... saya masih nggak nyangka, Mas. Putri juga masih sering nangis." "Wajar, jangan ganggu Putri dulu. Dia masih sedih." Darma mengangguk dan mulai berdiri. "Kalau gitu saya harus kembali ke kantor. Sekali lagi saya mohon, Mas. Minta Ndaru untuk segera selesaikan masalah ini. Kalau enggak, jangan harap yang lain setuju kalau Ndaru yang ambil alih perusahaan." Setelah berjabat tangan, Darma berlalu pergi. Meninggalkan Harris yang kembali menarik napas dalam. "Ingin minum, Pak?" tawar Iqbal. Harris menggeleng dan berpindah ke sofa. Tubuhnya sudah tua, bahkan dia berjalan dengan bantuan tongkat. Namun dia tetap dipusingkan dengan realita yang ada. "Mas Ndaru telepon kamu, Bal?" "Tadi pagi, Pak. Ingin berbicara dengan Bapak." "Masih kekeh dengan keputusannya?" tanya Harris. "Betul, Pak." Harris menggeleng pelan. "Sudah saya sekolahkan tinggi-tinggi sampai luar negeri, tapi kok tetap nggak bisa atasi masalah ini." "Boleh saya bicara, Pak?" tanya Iqbal hati-hati. "Katakan." "Saya tau Pak Ndaru bukan orang bodoh. Selama mengurus anak perusahaan Atmadjiwo, sudah banyak prestasi yang diberikan. Namun untuk masalah kali ini berbeda, Pak." "Maksud kamu?" "Yang sedang kita perbaiki di sini bukan masalah suara pilihan Pak Guna yang menurun atau turunnya harga saham, melainkan nama baik keluarga Atmadjiwo. Kalau urusan suara pilihan dan harga saham, saya yakin Pak Guna dan Pak Ndaru bisa mengatasinya. Tapi kalau untuk nama baik tentu sulit, Pak, karena yang menilai adalah masyarakat sendiri. Jika tidak ada informasi baru mengenai Pak Ndaru dan Shana Arkadewi, maka publik akan terus beranggapan negatif seperti sekarang." "Jadi maksud kamu ide Ndaru bisa berhasil begitu?" "Tidak ada salahnya mencoba, Pak." Harris berdecak. "Ini pernikahan, Bal. Bukan main-main. Dan kamu dengar sendiri kemarin, ayah Shana Arkadewi adalah mantan narapidana. Kamu pikir itu bagus untuk keluarga saya?" "Tidak banyak orang yang mengetahui kehidupan pribadi Shana Arkadewi, Pak. Bahkan Gilang sedikit kesulitan untuk menggali informasi tentang gadis itu." "Kenapa kamu mendadak setuju?" Harris menatap Iqbal aneh. "Kita sudah melakukan banyak cara dan tidak berhasil. Mungkin cara ini bisa berhasil. Kita juga bisa membungkam Dito Alamsyah yang menjelekkan nama Pak Ndaru." Iqbal memberikan sebuah map. "Saya sudah kumpulkan beberapa artikel mengenai Shana Arkadewi, Pak. Mungkin Pak Harris butuh pertimbangan. Yang saya lihat, tidak ada berita buruk mengenai Shana. Dia juga aktif di kegiatan sosial dan dunia kreatif." "Ah, ternyata Mas Ndaru berhasil hasut kamu untuk ikut menghasut saya juga. Benar, kan?" Iqbal tersenyum tipis, "Saya pikir pernikahan kontrak juga tidak ada salahnya, Pak." "Saya baca dulu. Setelah itu saya akan ambil keputusan." Pada akhirnya Harris pun ikut memikirkan ide gila itu. *** Dari halaman, Ndaru menatap bangunan di hadapannya dengan lekat. Rumah bergaya minimalis modern itu terlihat nyaman dengan sentuhan warna putuh dan coklat. Tak lupa juga taman mini di depan rumah untuk menambah kesan kesegaran. Sebenarnya ada hal lain kenapa Ndaru memilih rumah ini. Pagarnya begitu tinggi dan tertutup. Itu yang Ndaru butuhkan. Meski keamanan komplek juga terjamin karena tidak sembarang orang bisa masuk. Tetap saja Ndaru ingin ketenangan. Sebisa mungkin tidak ada yang boleh melihat kondisi rumah meski hanya dari balik pagar. "Rumah sudah bisa ditinggali, Pak. Untuk perabotannya juga sudah lengkap, tapi kalau Bapak nggak suka, saya bisa hubungi desainer interior." Hanya butuh satu hari bagi Ndaru untuk memutuskan membeli rumah ini. Jangan bertanya tentang uangnya yang tidak berseri. Ndaru hanya memikirkan ketenangan hidupnya. Tak lama lagi ia akan menetap di Jakarta yang pasti akan membuat orang-orang semakin mudah menelisik kehidupan pribadinya. "Ada ruang bermainnya, kan?" tanya Ndaru. "Ada, Pak. Di lantai dua, tepat di sebelah kamar utama." Ndaru mengangguk dan berbalik pergi, membuat Gilang sedikit bingung tetapi tak urung ia tetap mengikuti. Mereka pun masuk ke dalam mobil. "Bapak nggak mau masuk dulu buat liat-liat?" tanya Gilang. "Siapa tau ada yang mau diubah." Ndaru menggeleng sambil melirik jam tangannya. "Jam berapa Mas Juna berangkat?" "Nanti malam, Pak." "Berarti saya bisa jemput." Gilang mengangguk. "Setelah tahlilan kita bisa berangkat." "Kamu nggak masalah ikut pindah, Lang?" Gilang tampak berpikir. "Emang saya boleh resign, Pak?" "Jangan harap. Selama kamu belum nikah, ikut saya aja." Gilang terkekeh. "Siap, Pak." Kepindahan Ndaru tentu membuat Gilang juga ikut pindah. Dia akan tinggal di apartemen lama Ndaru, sebagai salah satu fasilitas menjadi asisten pribadinya. Selain Gilang, Ndaru juga akan membawa pengasuh anaknya nanti. Suara dering telepon membuat fokus Gilang teralihkan. "Pak Iqbal, Pak," ucapnya setelah melihat siapa yang menghubunginya. "Angkat." Dalam hati, Ndaru berdoa agar Iqbal menyampaikan kabar baik dari ayahnya. "Pak Harris ingin bicara dengan Bapak." Seketika jantung Ndaru mulai berdegup kencang. Dia menerima ponsel Gilang cepat. "Halo?" "Mas...," sapa suara Ayahnya di seberang sana. "Apa keputusan kamu sudah bulat?" Ndaru mengerti maksud pertanyaan itu. "Sudah, Pa." "Kalau begitu lakukan. Jangan sampai ada kesalahan lagi. Tapi inget, Mas. Hanya pernikahan kontrak. Segera akhiri jika kondisi sudah membaik." "Aku tau. Terima kasih, Pa." Panggilan pun berakhir. Ndaru menatap Gilang dengan anggukan. "Siapkan semuanya, Lang. Hubungi Shana untuk bertemu nanti malam. Kita akan membicarakan pernikahan kontrak ini." *** Seumur hidup, Shana tidak pernah merasa setegang ini. Bahkan saat ia menanti namanya muncul di daftar penerimaan mahasiswa pun rasanya tidak seperti ini. Berkali-kali dia menarik napas untuk menjadi sumber energi. Kembali berhadapan dengan Handaru Atmadjiwo membuatnya bergidik ngeri. Awalnya, Shana sudah pasrah dengan nasibnya. Namun tiba-tiba Gilang menghubunginya dan ingin bertemu secara mendadak karena permintaan atasannya. Siapa sangka jika pada akhirnya Ndaru mau menerima tawarannya? Bahkan Shana seperti berada di alam mimpi. Rasanya seperti tidak nyata dan ia ingin dibangunkan dengan segera. Shana menatap kertas di tangannya dengan napas tertahan. Sesekali dia melirik pria di hadapannya. Ndaru, pria itu juga menatapnya. Menunggunya membaca surat kontrak yang sudah dibuat. "Katakan jika ada yang ingin dirubah atau tambahkan." Mendengar itu Shana kembali membaca kertas di hadapannya. Dia harus teliti agar tidak ada kesalahan yang merugikannya. Poin perjanjian: 1. Pernikahan hanya akan berlangsung selama satu tahun. Dapat diperpanjang apa bila Pihak Pertama dan Pihak Kedua memiliki kepentingan yang belum terselesaikan. 2. Selama masa pernikahan, Pihak Kedua harus tinggal bersama dengan Pihak Pertama. 3. Selama masa pernikahan, Pihak Pertama akan menanggung segala kebutuhan Pihak Kedua. 4. Selama masa pernikahan, Pihak Pertama dan Pihak Kedua harus saling membantu untuk membangun citra positif. 5. Selama masa pernikahan, Pihak Pertama dan Pihak Kedua tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. 6. Selama masa pernikahan, tidak boleh ada orang ketiga di antara Pihak Pertama dan Pihak Kedua. 7. Selama masa pernikahan, tidak ada kontak fisik yang terjadi. Bisa dipertimbangkan jika untuk keperluan publik. 8. Selama masa pernikahan, Pihak Pertama dan Pihak Kedua dilarang memberi tahu siapa pun tentang pernjanjian ini. 9. Setelah kontrak selesai, Pihak Pertama dan Pihak Kedua tidak boleh saling menyinggung atau menyebut nama satu sama lain di media. 10. Setelah kontrak selesai, Pihak Pertama dan Pihak Kedua tidak diperbolehkan untuk membuka kontrak rahasia ini ke publik. Seketika kepala Shana pening membaca poin-poin yang tertera. Mendadak dia ingin berlari pergi. Shana tahu satu tahun adalah waktu yang cukup singkat, tetapi jika ia harus hidup dengan pria asing maka rasanya akan seperti berabad-abad. "Saya masih boleh kerja, kan, Pak?" "Poin 5, saya tidak akan ikut campur urusan pribadi kamu. Selama pekerjaan kamu tidak membuat nama saya jelek, maka tidak masalah." Shana mengangguk mengerti. Sebenarnya ada satu hal lagi yang ia ingin tanyakan. Namun dia cukup malu melakukannya. "Ada lagi?" "Poin 3, kebutuhan apa yang dimaksud?" tanya Shana memiringkan kepalanya. "Nafkah lahir tentu saja. Meskipun ini pernikahan kontrak, tapi pernikahan akan tetap sah di mata agama dan negara. Jadi, saya akan bertanggung jawab untuk hidup kamu selama satu tahun." Shana kembali mengangguk paham. Dia melihat bagian bawah surat perjanjian itu. Sudah ada tanda tangan Handaru Atamdjiwo di sana. Sekali Shana melabuhkan tanda tangannya di samping nama pria itu, maka dia tidak bisa berbalik menjauh. Ini konyol! Dia yang mengajukan ide gila ini tetapi dia sendiri yang takut untuk melakukannya. "Ada lagi, Shana? Waktu saya tidak banyak." Ndaru melirik jam tangannya. "Bagaimana dengan keluarga Bapak?" "Tidak ada masalah." "Mereka tau tentang pernikahan kontrak ini?" Shana cukup terkejut. "Nggak sesuai sama poin 8, dong?" "Hanya keluarga, Shana. Kamu juga bisa beri tahu kakak kamu. Ingat, hanya keluarga. Lagi pula kamu hanya perlu berakting saat di depan publik dan kamera saja. Selain itu, kamu bebas." Shana menggeleng samar. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ternyata keluarga Atmadjiwo cukup berbahaya. Mereka bisa melakukan apa saja demi nama baik keluarga. "Oke, saya setuju." Namun pada akhirnya Shana tetap pada keputusan awalnya. Ndaru melirik Gilang yang dengan sigap memberikan bolpoin pada Shana. Meski terlihat tenang, tetapi percayalah, tangan Shana sudah sangat dingin. Dia menelan ludahnya susah payah sampai akhirnya tanda tangan berhasil ia labuhkan di atas kertas. Mulai saat ini ia akan terjebak dalam kehidupan Atmadjiwo. "Saya harus pergi. Tentang pernikahan, akan dilakukan secepatnya. Setidaknya sampai masa berkabung keluarga saya selesai." Ndaru mulai berdiri. "Mas Juna sudah sampai, Lang?" Lanjutnya pada Gilang. "Tiga puluh menit lagi pesawat mendarat, Pak. Kita bisa berangkat sekarang." Ndaru mengangguk dan kembali menatap Shana. "Saya permisi." "Tunggu." Shana menahan tangan Ndaru. Namun dengan cepat ia melepasnya. "Bapak mau ke mana?" Ndaru menaikkan sebelah alisnya. Merasa aneh dengan pertanyaan Shana yang sedikit melewati batas. "Pak Ndaru mau jemput anak Bapak?" Shana kembali bertanya. "Iya, kenapa?" jawab Ndaru pada akhirnya. "Boleh saya ikut?" Bukan hanya Ndaru yang terkejut. Bahkan Gilang ikut menatap Shana dengan tatapan aneh. "Kalau boleh, sih, Pak." Shana menggaruk lehernya canggung. "Kan kita harus sering-sering muncul di publik sebelum menikah." Lagi-lagi ucapan Shana berhasil mengusik Ndaru. Benar, mereka telah sepakat membuat drama yang akan menghebohkan satu negara. Tentu harus ada awalan yang pas dan sesuai. "Oke, kamu boleh ikut." Ndaru menatap Shana lekat. "Tapi ingat batasan kamu. Jangan terlalu dekat dengan anak saya." "Saya paham, Pak. Saya nggak akan langgar kesepakatan kita." Ndaru mengangguk dan beralih pada Gilang. "Kita berangkat sekarang, Lang." "Baik, Pak." *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN