Tidak ada yang berubah hari ini. Semua berjalan seperti biasa. Masih dengan berita yang ramai diperbincangkan tentu saja. Namun Ndaru berusaha untuk mengabaikannya.
Di dalam kamarnya, dia mencoba fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Cukup sulit bekerja dengan jarak jauh seperti ini. Namun Ndaru harus segera menyelesaikan semuanya sebelum kembali ke pusat. Baik Kakak dan Ayahnya sudah mendesaknya untuk segera mengambil alih induk perusahaan.
Suara ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. Tanpa menjawab pun dia tahu jika Gilang yang mengetuk pintu kamarnya. Benar saja, tak lama asisten pribadinya itu masuk.
"Permisi, Pak. Ini berkas yang Bapak minta semalam," ucap Gilang memberikan sebuah map coklat yang cukup tebal.
"Sudah lengkap?" tanya Ndaru mulai membuka map itu.
"Saya sedikit kesulitan untuk mencari tahu latar keluarganya, Pak."
Ndaru mengangguk mengerti. Dia memaklumi kekurangan informasi yang Gilang cari. Toh, permintaannya memang mendadak.
"Kalau begitu saya keluar dulu, Pak."
"Oh, iya, Lang." Ndaru masih menatap map di tangannya. "Segera cari rumah baru untuk saya secepatnya."
"Bapak nggak mau tinggal di rumah lama?" tanya Gilang hati-hati.
Ndaru langsung menatap Gilang. "Jual rumah itu dan cari yang baru."
Terdengar begitu tegas.
Gilang mengangguk. "Bapak ingin yang seperti apa?"
"Yang aman, tenang, dan tertutup." Sangat khas dari seorang Handaru Atmadjiwo yang misterius. "Saya nggak mau anak saya terganggu."
Sebenarnya Ndaru memiliki banyak properti di Jakarta, baik rumah, apartemen, atau penthouse. Hanya saja semua itu tidak untuk ia tinggali, hanya disewakan saja. Satu-satunya rumah yang tersisa adalah rumahnya dulu. Namun Ndaru tidak mau menginjakkan kakinya lagi di sana. Terlalu banyak kenangan pahit yang sulit untuk dilupakan.
"Gimana dengan Mas Juna?" tanya Ndaru.
"Mas Juna sudah pulang dari rumah sakit hari ini, Pak. Bapak ingin Mas Juna terbang malam ini atau besok?"
"Besok aja. Setelah kamu dapat rumah. Biarkan anak saya istirahat sebentar sebelum perjalanan."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi. Untuk daftar rumah akan saya serahkan dalam waktu dua jam."
Setelah Gilang pergi, Ndaru kembali fokus pada map di tangannya. Setelah mengeluarkan semua berkas di dalamnya, Ndaru disambut dengan potret wajah Shana Arkadewi yang berukuran 4R.
Benar, ini lah yang Ndaru minta pada Gilang semalam, yaitu latar belakang Shana. Gadis yang ia anggap gila tetapi berhasil mengusiknya.
Tidak, Ndaru tidak menerima tawaran Shana kemarin. Dia masih punya otak untuk berpikir dengan jernih. Cara yang Shana berikan adalah cara untuk orang yang putus asa. Lagi-lagi Ndaru memakluminya.
Jangan pikir Ndaru tidak marah. Setelah apa yang Shana lakukan pada hidupnya tentu ia dikuasai amarah. Hanya saja Ndaru bukan tipe orang yang meledak dengan mudah. Kontrol emosinya yang baik adalah sebuah anugerah.
"Shana Arkadewi, 26 tahun, penulis, lulusan sastra...," gumam Ndaru membaca profil gadis itu.
Setelah membaca sekilas, Ndaru dibuat sedikit terkejut. Ternyata kehidupan gadis itu tidak seburuk tingkahnya. Tidak banyak berita tentang Shana, bahkan Ndaru tidak menemukan berita negatif satu pun, kecuali yang baru saja mereka alami akhir-akhir ini tentu saja. Bahkan Shana masih mendapat pujian karena berani menjalin huhungan dengan sutradara buaya seperti Dito Alamsyah.
"Pawang yang berhasil menakhlukkan buaya," kata netizen. Padahal kenyataannya Dito masih suka bermain wanita dan hobi mendua.
"Dia terlihat pintar, tapi kenapa memakai cara bodoh untuk menyelesaikan masalah?" gumamnya bingung.
Ndaru kembali fokus membaca. Ada fakta baru yang ia temukan. Dia baru tahu jika Shana Arkadewi memiliki seorang kakak. Erina Keswari, seorang koki selebriti yang cukup terkenal. Ternyata kehidupan gadis itu juga bersinggungan dengan publik. Sekarang Ndaru mengerti kenapa Shana terlihat putus asa. Karirnya serta karir Erina bisa terganggu dengan berita skandal ini.
Tidak banyak informasi yang Ndaru dapatkan. Shana benar-benar membangun citranya dengan baik. Tak jarang Ndaru membaca artikel keterlibatan Shana dalam kegiatan sosial. Namun sayang, citra positif itu tidak berguna di mata Ndaru. Dia sudah lebih dulu mendapat kesan negatif sejak awal bertemu.
***
Tahlilan akan masih terus dilakukan hingga hari ke-7. Kediaman Haryadi kembali ramai malam ini. Bukan hanya tetangga dan saudara yang hadir, melainkan wartawan juga. Hingga detik ini mereka masih terus membututi keluarga Atmadjiwo. Belum selesai dengan berita kematian Haryadi yang tragis, berita heboh kembali muncul, yaitu skandal adiknya, Handaru Atmadjiwo.
Menjadi santapan lezat untuk para wartawan.
Semua kejadian yang terjadi berdekatan menimbulkan banyak kontra. Masyarakat berpendapat jika Ndaru, pria yang dikenal sebagai pribadi yang tenang dan tertutup itu mulai menunjukkan jati dirinya. Kali ini bukan hanya sekedar isu asmara, melainkan berdampak pada perusahaan juga.
"Seorang Handaru Atmadjiwo mau jadi selingkuhan? Gila, sih. Tau gitu ikut daftar juga. Suami juga restuin kayaknya wkwkw."
"Mampus saham Atmadjiwo anjlok! Kalau bisa bangkrut sekalian!"
"Keluarga Atmadjiwo itu anggota 9 naga nggak sih?"
"Kagak bakal gue pilih Adhiguna Amir. Diem-diem keluarganya banyak tingkah."
Dan masih banyak cuitan lainnya yang ramai diperbincangkan. Buzzer juga sudah mulai aktif menunjukkan eksistensinya. Membuat kepala Guna ikut berdenyut. Dia sudah berambisi dan tidak boleh gagal tahun depan.
"Pak, kita harus pulang sekarang. Besok subuh kita sudah harus ke bandara," ucap Rahmat pada Guna.
Saat ini Guna memang masih berada di rumah adiknya setelah mengikuti acara tahlilan bersama. Seperti biasa, pasti ada yang keluarganya bicarakan sebelum kembali ke rumah masing-masing.
"Sebentar lagi, Mat. Saya mau bicara sama Ndaru dulu. Tolong, panggil dia."
"Baik, Pak."
Guna kembali menatap ayahnya. "Gimana? Ndaru sudah punya cara, Pa?"
"Belum." Harris tampak berpikir. "Sebelum keadaan semakin runyam, kamu harus ke Kalimantan besok. Pastikan suara kamu tetap aman, Mas. Papa yakin pihak sebelah yang bayar buzzer-buzzer itu."
Guna mengangguk. Memang sudah waktunya dia mengunjungi Kalimantan Timur, daerah pemilihannya. Bukan hanya karena adanya masalah yang mengusik mereka, tetapi dia memang sering melakukan kunjungan terjadwal.
"Ada apa, Mas?" Ndaru datang bersama Gilang setelah selesai melakukan panggilan telepon mengenai pekerjaan.
"Gimana? Udah buat narasi klarifikasi?"
Ndaru menggeleng pelan. Helaan napas kasar pun ikut diberikan.
"Kamu nggak punya cara, kan?" tebak Guna tepat sasaran. "Posisi kamu kejebak, Ru. Maju kena mundur juga kena. Mau ngelak ada fotonya, mau tetap diam juga artinya kamu setuju dengan semua narasi yang ada."
Ndaru masih bergeming. Bukan bermaksud tidak peduli. Namun ia tengah berpikir. Disudutkan seperti ini membuatnya langsung teringat dengan kejadian kemarin. Di mana secara mendadak Shana Arkadewi menemuinya dan meminta untuk dinikahi.
Ide itu memang gila, tetapi bisa juga digunakan untuk mengendalikan berita buruk yang merajalela.
"Pak Darma juga desak aku untuk segera mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham," lanjut Guna.
Ndaru menyandarkan tubuhnya dengan menunduk. Sekali lagi, dia bukan tengah bersedih, melainkan berpikir keras. Sepertinya minggu ini menjadi minggu yang paling berat ia lalui.
Suara langkah lari yang mendekat membuat semua orang menoleh. Mala, gadis remaja itu terlihat panik dan segera menyalakan televisi di ruang tengah.
"Ada apa, Mbak?" tanya Guna pada anaknya.
Mala tidak menjawab. Dia mencari channel televisi yang ia cari dan berhenti di salah satu acara gosip. Seketika tubuh semua orang terduduk tegak.
"Dito Alamsyah, Pa. Dia angkat bicara tentang gosip itu. Dia nuduh Om Ndaru jadi pebinor," ringis Mala.
"Bagus! Hebat! Ayo, keluarin semuanya biar hancur sekalian!" Guna benar-benar marah kali ini.
Ndaru mengabaikan kakaknya. Dia masih memperhatikan televisi dengan serius. Mencoba mencerna setiap kalimat yang Dito utarakan. Yang malah sebagian besar terdengar sebagai ujaran kebencian terhadap dirinya.
"Ya, semua sudah jelas. Dari foto aja sudah keliatan, nggak perlu diklarifikasi lagi. Mungkin ini karma untuk saya." Dito tertawa kecut di sela-sela wawancaranya. "Saya mah apa, Mbak. Saya cuma sutradara ingusan. Beda sama yang sebelah. Pasti Shana lebih pilih yang hidupnya sudah terjamin."
Tangan Ndaru terkepal mendengar itu. Jika ia tidak tahu fakta yang sebenarnya mungkin dia akan dibuat bingung. Namun pada kenyataannya, Ndaru tahu jika justru Dito yang mendua. Kenyataan itu membuat dadanya bergemuruh.
Sekali lagi, Ndaru menunduk. Dia mengatur napasnya selama beberapa detik. Setelah itu dia menatap ayahnya lekat.
"Aku ada cara, Pa."
"Apa?" Guna bertanya tak sabar.
"Pernikahan."
"Pak?" Gilang terkejut mendengarnya. Dia pikir atasannya itu tidak menganggap serius tawaran Shana.
"Pernikahan apa, Mas?" tanya Harris. "Kamu jangan macam-macam."
"Pernikahan aku dengan Shana Arkadewi."
"Kamu gila, Ru?!" seru Yanti yang baru saja datang. Dia menatap adik iparnya tidak percaya.
"Hanya dengan cara ini semua akan kembali seperti semula."
"Pak, mohon dipikirkan lagi." Gilang ikut panik dengan keputusan mendadak atasannya. Dia harus tetap lurus dan realistis di tengah kegoyahan Ndaru.
"Bukannya masalah akan semakin runyam, Mas?" Harris memijat kepalanya pelan.
"Aku dan Shana sudah punya skenario yang pas, Pa. Kalian nggak perlu khawatir. Biar aku yang urus semuanya."
"Kamu ketemu sama perempuan itu?" tanya Yanti.
Ndaru mengangguk.
"Dan kamu yakin kalau dia setuju dengan solusi pernikahan?"
Ndaru kembali mengangguk. Bagaimana tidak setuju jika Shana sendiri yang mengajukan ide gila itu?
"Mas, kamu bener-bener bikin Papa pusing," keluh Harris.
"Ada aja tingkahmu, Ru." Guna kembali duduk dengan mata terpejam.
"Tapi kalau dipikir-pikir masuk akal juga," kata Mala sambil berpikir. "Untuk mewakili suara netizen yang kebanyakan Gen Z, ini yang mereka tunggu, kan?"
"Maksud kamu, Mbak?" tanya Yanti, Ibunya.
"Masa nggak paham, sih, Ma? Om Ndaru ini udah terlanjur nyemplung ke laut, jadi sekalian aja nyelam juga. Foto yang beredar jelas nggak bisa kita elak. Dan kalau memang Om Ndaru dan Shana memutuskan untuk menikah, foto itu bukan lagi skandal. Toh mereka calon suami-istri." Mala membuat kedua tangannya menjadi tanda kutip.
"Calon suami-istri gimana? Orang mantannya tiba-tiba muncul tuduh Om kamu jadi selingkuhan," gerutu Guna.
"Dito yang selingkuh, Mas. Aku bisa serang dia balik," sahut Ndaru.
"Apa kamu punya bukti?" tanya Yanti.
"Ada." Ndaru beralih pada Gilang. "Minta keterangan dari Wawan, Lang. Dia pasti tau apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Kalau dia mau kerja sama, maka tuntutan akan dicabut."
"Baik, Pak."
"Kamu yakin dengan keputusan kamu, Mas?" Harris masih terlihat ragu.
"Yakin, Pa. Kita sudah dikejar waktu dan ini cara yang bisa kita gunakan."
"Dengan mengorbankan kebahagiaan kamu?"
Ndaru terdiam selama beberapa detik. Setelah itu dia tersenyum miring. "Aku sudah nggak punya tujuan hidup, Pa. Sekarang cuma Mas Juna dan keluarga yang aku prioritaskan."
"Bal, kamu cari latar belakang keluarga Shana Arkadewi," pinta Harris pada sekretaris pribadinya, Iqbal.
"Nggak perlu. Aku sudah punya semuanya." Tangan Ndaru terulur pada Gilang untuk meminta berkas yang ia baca tadi pagi.
"Bagaimana keluarganya? Apa dia berasal dari keluarga terpandang?"
Ndaru menghentikan gerakan tangannya. Dia tahu jika ini yang akan ayahnya tanyakan. Status sosial sangatlah penting bagi mereka. Karena itu juga Atmadjiwo dikenal sebagai keluarga elit dan terpandang.
Bagaimana tidak?
Menantu pertama, Dayanti Pertiwi yang merupakan istri Guna adalah keponakan dari presiden periode sebelumnya. Menantu kedua, ada Putri Asmadi, istri dari Haryadi adalah anak dari pembisnis hebat dari Kalimatan Timur. Lalu yang ketiga, mantan istri Handaru, almarhum Farah Marissa juga merupakan anak dari mantan menteri dan seorang model ternama.
Yang bisa menjadi keluarga Atmadjiwo adalah orang-orang terpilih dan berpengaruh. Namun percayalah, tidak ada paksaan dalam pernikahan keturunan Atmadjiwo. Lingkungan orang-orang hebat akan terus dipertemukan dengan orang-orang yang hebat juga, bukan?
"Bagaimana dengan keluarganya, Mas?" Harris bertanya sekali lagi.
"Ibu Shana sudah meninggal."
"Lalu ayahnya?"
"Juga sudah meninggal dua tahun yang lalu."
"Jadi dia yatim piatu?" Yanti memastikan.
Ndaru mengangguk dan mulai menatap anggota keluarganya satu-persatu. "Tapi ada satu hal yang harus kalian tau."
"Apa?"
"Ayah Shana mantan narapidana."
Bagai tersambar petir, semua orang seketika terdiam. Fakta itu sangat mengejutkan. Fakta yang bisa menodai nama baik keluarga. Latar belakang Shana Arkadewi sangat jauh dari standar keluarga mereka.
Suara hela napas kasar terdengar dari bibir Harris. "Papa nggak setuju, Mas."
"Tapi, Pa—"
Pria tua itu mengangkat tangan kanannya. Meminta Ndaru untuk berhenti berbicara. "Tidak ada bantahan, Mas. Kita cari cara lain." Setelah itu, dia pun pergi. Meninggalkan anak, menantu, dan cucunya yang masih terdiam dengan kepala berdenyut.
Lalu cara apa lagi yang bisa mereka lakukan? Nama baik Atmadjiwo sangatlah penting bagi mereka.
***
TBC