Pagi ini Shana memilih untuk bermalas-malasan. Dia duduk di meja makan sambil menatap Erina yang sibuk ke sana-ke mari. Tampak bersiap untuk berangkat bekerja. Profesinya yang merupakan seorang chef selebriti tentu membuatnya cukup sibuk. Bahkan Erina memiliki tiga program acara unggulan di televisi. Yang berhubungan dengan kuliner tentu saja.
"Gue udah bikin sarapan. Lo tinggal makan aja."
Shana menyandarkan kepalanya dengan malas. "Gue pingin makan ketoprak."
Erina berdecak. "Makan yang ada. Gue harus berangkat sekarang."
Shana kembali menegakkan kepalanya. "Gue beneran nggak boleh keluar?"
"Boleh, kalau lo mau dikeroyok wartawan."
Shana berdecak, "Gila, ya? Masih aja rame bahas masalah kemarin."
"Lo yang gila! Ngapain nyosor bibir orang? Mana yang disosor klan Atmadjiwo. Apa nggak heboh satu negara?"
Shana mengusap hidungnya kasar. Sepertinya memang lebih baik dia diam. Seketika kepalanya pening saat Erina kembali mengomel.
"Gue nggak bisa nulis apa-apa. Kepala gue berisik banget. Mana udah ditagih editor." Shana kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Erina mendekat dan menyentuh kening Shana. Masih terasa hangat. Memang semalam adiknya itu mendadak demam, membuatnya panik dan ingin segera membawanya ke dokter. Beruntung Shana menahannya dan hanya meminum obat demam.
"Mau ke dokter?" Kali ini suara Erina melunak.
Erina Keswari adalah tipikal kakak pada umumnya. Hobi mengomel dan marah-marah, tetapi jauh di dalam hatinya, dia sangat menyayangi adiknya. Usia Shana sudah 26 tahun, tetapi Erina tetap memperlakukannya seperti balita.
"Kita ke dokter," ucap Erina saat Shana tidak menjawab.
"Gue nggak mau. Katanya masih banyak wartawan di depan komplek?"
Erina berdecak. "Ya, gimana lagi? Siapa tau mereka luluh liat wajah pucet lo."
"Yang ada makin kepo," gerutu Shana.
Benar juga.
"Dito masih hubungi lo?" tanya Erina kembali meletakkan tasnya. Dia berjalan ke dapur untuk membuat teh hangat. Dia belum bisa meninggalkan Shana begitu saja dalam keadaan seperti ini.
"Tiap menit, tapi udah gue block nomernya."
"Pantes."
"Kenapa?" Shana kembali mengangkat kepalanya.
"Dia telepon gue semalem."
"Lo angkat?" tanya Shana.
Erina menggeleng cepat. "Gue block."
"Bagus." Shana kembali merebahkan kepalanya.
"Minum dulu." Erina memberikan secangkir teh hangat. "Gue nanti pulang malem. Telepon aja kalau demam lo masih belum turun, biar gue pulang bawa dokter."
"Iya. Udah, berangkat sana!" usir Shana.
"Inget, jangan keluar rumah."
"Iya, Mbak," jawab Shana sabar.
"Gue berangkat." Erina mencium kepala Shana sebentar dan berlalu pergi.
Setelah mendengar mobil Erina menjauh dari rumah, Shana mulai duduk tegak. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Sampe mana?" tanyanya saat panggilan terangkat.
"Mau keluar tol, Mbak."
"Nitip ketoprak."
"Oke, Bos!"
***
Pintu rumah yang diketuk membuat Shana segera beranjak. Dia membuka pintu dan tersenyum melihat dua orang yang ia butuhkan saat ini.
"Gimana? Aman masuknya?" tanya Shana membiarkan dua orang itu masuk.
"Buset, satpam komplek galak bener," gerutu Bagas. "Mana banyak tanya lagi."
Ayu ikut masuk sambil memberikan satu kantong plastik pada Shana. "Ketoprak pesenan Mbak Shana."
"Makasih, ya." Shana tersenyum senang. Dia sudah mendambakan rasa lezat itu di mulutnya sejak kemarin.
"Jadi beneran Mbak Shana nggak bisa keluar?" tanya Bagas menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Bukan nggak bisa, tapi belum bisa. Lo tau sendiri gimana gilanya wartawan di depan."
Ayu mengangguk setuju. Dia bergidik ngeri saat melihat kumpulan orang-orang yang ingin bertemu dengan Shana. Kasihan tentu saja, tetapi memang sudah resiko pekerjaan mereka.
"Oh, iya. Lo mau ngomong apa, Gas?" tanya Shana memberikan tiga piring untuk mereka makan bersama.
Pagi ini, Shana memang sengaja memanggil Bagas dan Ayu untuk datang. Beruntung Ayu shift sore hari ini. Selain karena Shana yang bosan dan butuh teman, Bagas juga ingin membicarakan sesuatu. Untuk sementara Shana memang tidak bisa ke mana-mana, oleh karena itu dia meminta Bagas dan Ayu untuk datang menemuinya.
"Sebelumnya saya mau minta maaf, Mbak." Bagas menunduk takut.
"Untuk?"
Bagas mulai gelisah. "Mbak inget temen saya yang lagi pesta lajang di Atma Hotel waktu itu?"
Shana mengangguk, "Kenapa?"
"Ternyata dia yang nyebarin foto itu, Mbak." Bagas berpindah duduk di samping Shana. "Saya bener-bener minta maaf, Mbak. Saya udah bilang ke temen saya buat nggak bikin ulah kemarin, tapi emang si Wawan g****k nggak punya otak."
Mendengar itu, seketika nafsu makan Shana menguap. "Jadi bukan karena wartawan?"
Bagas menggeleng. "Sekarang dia udah kena batunya."
"Maksud kamu?"
"Handaru Atmadjiwo tuntut dia, Mbak. Pernikahannya terancam gagal. Mau kasihan tapi dia sendiri yang bikin ulah." Terlihat Bagas juga ikut pusing dengan tingkah temannya.
Kali ini Shana benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka jika keluarga Atmadjiwo sudah mengambil langkah sejauh itu. Meski begitu, Shana tetap masih kesal dengan teman Bagas. Dia bersyukur jika Handaru telah membereskan pria itu.
"Kenapa?" tanya Shana tiba-tiba. "Kenapa yang temen lo sebarin foto-foto gue? Bukan foto bugil Dito sama selingkuhannya?"
Bagas meringis. "Yang bagian Mas Dito nggak sempet kefoto, Mbak. Pas denger suara Mas Dito teriak-teriak baru kita keluar takut Mbak Shana kenapa-napa. Eh, malah kita liat adegan yang luar biasa."
Mata Shana terpejam. Dia tidak lagi menjawab dan kembali pada makanannya. Antara malu dan menyesal.
"Gitu aja? Mbak Shana nggak marah? Minimal jambak saya gitu?" Bagas terlihat bingung dengan respon Shana.
"Gue pusing, Gas. Badan gue demam. Lagian temen lo udah diberesin sama Handaru, kan?"
"Nah, itu masalahnya." Bagas mengusap wajahnya. "Wawan titip pesan buat Mbak Shana."
"Apa?"
"Kalau ketemu Handaru, tolong minta dia buat cabut tuntutannya."
"Kenapa dia mikir kalau gue bisa ubah keputusan Handaru?" tanya Shana bingung.
"Bukannya Mbak Shana ada sesuatu sama Handaru?" Bagas mengangkat kedua tangannya membentuk tanda kutip.
"g****k! Kemakan hoax juga lo!" Kali ini Ayu memukul Bagas keras dengan bantal sofa.
Peduli setan jika Bagas adalah atasannya. Pria itu benar-benar bodoh kali ini.
***
Masalah memang tidak bisa terus dihindari. Menjauh hanya akan memusingkan diri sendiri. Tidak apa jika hanya sejenak untuk menenangkan hati. Asal tidak selamanya melarikan diri.
Tepat jam satu siang, Ndaru sudah sampai di sebuah restoran. Seperti biasa, dia akan memilih ruangan privat. Tidak perlu khawatir akan wartawan, karena restoran ini juga salah satu bisnis Atmadjiwo. Sudah dipastikan keamanan dan kerahasiaannya akan terjamin.
Sesuai jadwal yang telah dibuat, siang ini Ndaru akan bertemu dengan Shana Arkadewi. Tersangka utama atas skandal yang menimpa mereka. Bahkan demi pertemuan ini, Ndaru rela mengatur ulang jadwal rapat dalam jaringannya. Dia ingin tahu, apa tujuan Shana menemuinya.
Suara ketukan pintu membuat Ndaru mengangkat kepalanya. Gilang masuk bersama seorang gadis di belakangnya. Meski sudah pernah bertemu sebelumnya, tetapi baru kali ini Ndaru bisa melihat Shana Arkadewi dengan jelas.
"Silakan duduk," ucap Ndaru.
Shana bergumam terima kasih dan mulai duduk di hadapan Ndaru. Mata mereka pun bertemu. Selama beberapa detik baik Ndaru dan Shana sama-sama saling mengamati. Lalu sekarang mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Terima kasih sudah menerima permintaan saya untuk bertemu, Pak."
Ndaru tidak menjawab. Dia masih menatap Shana lekat. Sedikit membuatnya heran karena gadis itu tidak terlihat gentar akan tatapannya. Bahkan tidak ada ekspresi bersalah di wajahnya.
"Saya pikir kita tidak akan bertemu, Ibu Shana."
"Shana, panggil Shana saja, Pak."
Ndaru mengangguk. "Ingin pesan sesuatu sebelum kita bicara?"
Shana menggeleng. "Kita langsung aja, Pak. Waktu saya nggak banyak."
Bagus, sekarang Ndaru merasa harga dirinya terluka. Ini tidak benar. Seharusnya Shana Arkadewi meminta maaf. Bukan malah menatapnya tanpa takut seperti ini.
"Silakan."
Shana menarik napas dalam. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas kejadian malam itu."
Ini yang Ndaru tunggu. Namun entah kenapa dia tidak puas dengan permintaan maaf Shana.
"Saya juga minta maaf atas beredarnya foto yang tidak pantas itu."
Ndaru mengangguk. "Kenapa kamu melakukannya? Apa yang terjadi malam itu?"
"Maaf, saya nggak bisa bilang. Itu urusan pribadi, Pak."
"Kamu melibatkan saya, Shana. Saya harus direpotkan dengan banyak hal karena ulah kamu."
Shana menahan napasnya saat tatapan Ndaru berubah tajam. "Pacar saya selingkuh. Saya nggak bisa berpikir jernih malam itu."
Ndaru menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ternyata alasan Shana menciumnya hanya karena itu. Siapa sangka jika akibatnya akan begitu besar?
"Dan akibat dari perbuatan kamu itu sangat fatal."
Shana mengangguk setuju. "Karena itu saya memberanikan diri menemui Bapak secara langsung untuk meminta maaf."
"Berita tentang kita belum mereda sama sekali. Kamu tau itu, kan?"
Shana mengangguk. "Cukup mengganggu pergerakan saya, Pak. Bahkan saya harus minta bantuan temen saya untuk bisa datang ke sini."
"Kamu pikir saya juga tidak terganggu?"
"Seenggaknya Bapak punya beberapa pengawal, sedangkan saya?"
Ndaru menaikkan alisnya. "Kamu lupa kalau semua ini terjadi karena ulah kamu?"
Shana menunduk. "Maaf."
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan? Saya yakin kamu datang bukan hanya untuk meminta maaf."
"Nama saya jadi jelek, Pak." Shana memainkan tangannya yang sudah basah. "Nama Bapak juga jelek."
"Saya tau dan itu semua karena kamu."
Shana meringis dalam hati. Sepertinya Ndaru akan terus membuatnya ingat jika semua ini terjadi karena dirinya. "Tapi kita beda, Pak. Bapak punya orang-orang hebat di belakang Bapak. Saya yakin masalah ini nggak bikin Bapak putus asa. Berbeda dengan saya."
"Sebenarnya apa maksud kamu?"
"Menjadi penulis adalah satu-satunya profesi saya untuk bertahan hidup." Shana menatap Ndaru lekat. "Kalau karir saya hancur, habis sudah hidup saya."
Ndaru ikut menatap mata Shana. Dia bisa melihat ada rasa putus asa dari tatapan gadis itu. Sekarang Ndaru paham dengan apa yang gadis itu lakukan kali ini.
"Kamu ingin pekerjaan dari saya?" tebak Ndaru.
Shana menggeleng cepat. "Bukan itu, Pak."
"Apa yang kamu inginkan, Shana?" Ndaru mulai lelah.
Melihat wajah kusut Ndaru, Shana menjadi tidak yakin. Namun dia juga tidak bisa mundur. Dia sudah berani menampakan diri. Oleh karena itu dia harus menyampaikan tujuannya.
"Saya mau Pak Ndaru menikahi saya." Setelah mengucapkan itu, Shana memejamkan mata dan menggigit pipi bagian dalamnya keras.
Terjadi keheningan selama beberapa detik. Jantung Ndaru seperti lepas saat mendengar ucapan gadis di hadapannya itu.
"Kamu sakit?" Setelah terdiam beberapa detik, akhirnya Ndaru mendapat kesadarannya kembali.
Shana kembali membuka matanya. Seperti yang ia duga, wajah Ndaru sudah sangat memerah. Terlihat kesal dengan tingkah tidak tahu dirinya.
"Nama kita sama-sama jelek, Pak," lirih Shana. "Saya dituduh selingkuh dan Bapak juga dituduh jadi selingkuhan saya." Shana membuka ponselnya dan memperlihatkan foto mereka yang tengah berciuman. "Dan foto yang tersebar juga sangat mendukung."
Ndaru bersandar sambil menggelengkan kepalanya tegas. "Saya anggap tidak pernah dengar ucapan kamu tadi."
"Jadi kita ubah aja narasinya, Pak." Shana masih berbicara, mengabaikan Ndaru. "Saya nggak pernah selingkuh dan Bapak juga nggak pernah jadi selingkuhan saya. Kita benar-benar menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Dan foto ini? Anggap aja kita memang lagi dimabuk asmara."
"Sepertinya kondisi kamu memang sedang tidak baik."
"Cuma dengan cara itu, Pak. Dengan kita menjadi pasangan, maka orang-orang nggak punya alasan untuk tuduh kita macam-macam. Semua gosip yang ada akan langsung terbantahkan. Karir saya akan kembali dan begitu juga dengan nama baik Bapak sekeluarga."
"Bukannya kamu sudah punya pacar? Dan semua orang tau itu, kan?"
"Dito?" tanya Shana dengan alis terangkat. "Biar dia saya yang urus. Lagian Dito nggak datang ke acara ulang tahun saya kemarin. Jadi saya bisa jadikan itu alasan kalau kita sudah lama berpisah."
Ndaru masih menggelengkan kepalanya pelan. Menatap Shana tidak percaya. Dia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa ide gila itu terlintas di kepala gadis itu?
Anehnya, Ndaru mulai memikirkan tawaran Shana. Ini tidak benar.
***
TBC