Acara tahlilan telah selesai. Seperti biasa, keluarga Atmadjiwo kembali berkumpul di ruang keluarga. Bukan lagi untuk membahas perubahan strategi, melainkan skandal yang terjadi. Masa berkabung seolah tak lagi berarti. Ada hal genting lain yang menanti.
Malam ini, Ndaru mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang dilipat hingga siku, serta celana chinos abu-abu. Dia memilih untuk duduk tenang di salah satu sofa. Terlepas dari apa yang menimpanya, Ndaru sangat pintar untuk menyembunyikan perasaannya. Padahal dalam hati dia juga dibuat pusing dengan apa yang terjadi. Bahkan saat ini, dia yakin jika akan kembali disidang.
"Berita nggak mereda sama sekali," keluh Yanti. Dia cukup khawatir dengan karir politik suaminya.
"Saham Atmadjiwo Grup juga menurun," lanjut Guna.
Topik itu yang akan mereka bahas malam ini. Apa saja akibat yang mereka dapat dari skandal yang menyerang si bungsu.
"Bahkan berita tentang kecelakaan Arya sudah tenggelam."
"Seharusnya dari awal kamu nggak perlu datang ke sini." Putri berbicara. Wanita itu memang ikut berkumpul setelah berhasil menenangkan diri dengan tidak menyerang Ndaru. Namun sepertinya rasa sakit itu masih ia rasakan.
"Maaf, Mbak." Ndaru benar-benar tulus meminta maaf.
"Sudah banyak cara yang kita lakukan. Pengalihan isu pun nggak berguna sama sekali." Yanti menatap Ndaru. "Kamu kasih netizen apa, sih, Ru? Sampe heboh banget bicarain kamu?"
"Ya, karena Om Ndaru ganteng, misterius, dan tak tersentuh. Sekali muncul eh malah foto panas yang kesebar. Gimana nggak rame?" Kali ini Mala, anak Guna yang berbicara. Entah apa yang membuat remaja berusia 16 tahun itu tiba-tiba ikut bergabung. Mungkin penasaran dengan skandal dari pamannya itu. "Sekarang orang-orang pada heboh bahas yang lain. Mereka ngira Om Ndaru selingkuhannya Shana Arkadewi."
Ndaru memijat keningnya. Apa lagi ini?
"Jadi gimana sekarang? Nggak mungkin kita diem aja sampai berita hilang. Pak Roni minta aku untuk segera selesaikan masalah ini," jelas Guna. "Susah ambil suara rakyat kalau berhubungan sama adab gini."
Bahkan ketua partai yang Guna naungi pun ikut turun tangan.
"Dan jangan sampai pemegang saham perusahaan ikut menentang Ndaru untuk memimpin perusahaan."
"Oke." Akhirnya Ndaru membuka suara. "Aku akan klarifikasi nanti."
Ndaru sudah memikirkan hal ini dengan matang. Usaha yang mereka lakukan benar-benar tak berarti. Mulai dari menghapus sumber cuitan serta semua cuitan yang berhubungan, menuntut penyebar berita, sampai tiga berita pengalihan isu juga mereka keluarkan. Namun tetap tidak ada yang berhasil. Nama Handaru dan Shana masih menjadi perbincangan hangat.
Publik terus membicarakan masalah foto itu dan menunggu jawaban. Jika ia tidak membuka suara maka masyarakat tidak akan berhenti dan malah semakin menjadi-jadi. Dalam sehari saja sudah banyak hal yang merugikan mereka. Mulai dari karir politik Guna sampai saham perusahaan. Bagaimana jika hal ini terus berlangsung? Ndaru tidak bisa membayangkannya.
"Klarifikasi yang bagaimana, Mas? Kamu jangan gegabah." Harris memperingati.
"Biar aku pikirkan nanti. Yang pasti, publik ingin aku angkat bicara tentang masalah ini. Kalau terus diam, malah semakin banyak berita tidak bener yang berkembang. Bahkan sekarang buzzer untuk jatuhin Mas Guna sudah banyak."
"Pastikan kamu bahas sama kita dulu sebelum publish klarifikasi kamu."
Ndaru mengangguk dan mulai berdiri. "Aku harus pulang."
"Ke Hotel?"
Ndaru menggeleng. "Apartemen. Gilang sudah mengetatkan keamanan."
"Kenapa nggak beli rumah aja, Ru? Kan kamu juga mau pindah ke sini?" tanya Yanti. "Mau Mbak bantu carikan? Atau mau yang satu komplek sama kita? Keamanan terjamin kalau itu yang kamu khawatirkan."
"Nanti aku pikirkan, Mbak."
"Iya, Mas. Apa kamu sudah memutuskan untuk kembali?" tanya Harris.
Ndaru tersenyum miring. "Nggak ada pilihan lain, kan, Pa?"
"Bagus. Segera kamu urus kepindahan kamu. Sia-sia otakmu kalau dibuat ngurus anak perusahaan Atmadjiwo aja."
Ndaru mengangguk. "Aku pulang." Dia berpamitan pada semua orang. Tak terkecuali kakak iparnya yang sedari tadi masih diam. beruntung kali ini Putri mau menjabat tangannya.
Benar, mereka memang butuh waktu.
***
Di dalam mobil, Ndaru membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Perjalanan akan sedikit memakan waktu mengingat jika hari ini adalah malam Sabtu. Tentu jalanan akan dibuat padat oleh orang-orang yang mencari hiburan setelah lelah bekerja.
"Pak Ndaru benar ingin membuat klarifikasi?" tanya Gilang memastikan.
"Nggak ada cara lain. Berita sudah melebar ke mana-mana." Ndaru menatap Gilang. "Kamu denger kata Mala tadi? Sekarang saya malah dituduh jadi selingkuhan perempuan itu."
Gilang meringis. Ada benarnya juga. Diam tidak akan menyelesaikan masalah. Malah berita menjadi berkembang liar ke mana-mana. Cara yang biasa mereka lakukan tidak berhasil. Mungkin mereka harus mencoba cara lain sekarang.
"Oh, iya, Pak." Gilang mulai menatap Ndaru serius. "Shana Arkadewi menghubungi saya."
Ndaru terkejut mendengarnya. "Untuk?"
"Dia ingin bertemu Bapak." Gilang menunjukkan pesan email yang Shana kirim tadi sore. "Mungkin dengan pertemuan ini, Bapak bisa mencari jalan keluar yang aman bersama."
"Oke, atur jadwal untuk besok."
***
TBC