Malam ini masih sama seperti malam sebelumnya. Mata Shana masih terjaga. Menatap layar laptop yang menyala. Konsentrasi penuh ia cipta, untuk berfantasi ria. Baru saja mengetik paragraf baru dan menghasilkan beberapa kalimat, kepala Shana sontak menggeleng. Dia kembali membaca ulang tulisannya dengan kening berkerut. "Jelek banget," gumamnya yang kemudian menekan tombol hapus. Dengan lemas, Shana mendorong laptopnya dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. Mencoba berpikir rangkaian kalimat apa yang akan ia tuangkan dalam tulisan. Biasanya di jam seperti ini, otaknya bisa berjalan dengan lancar. Namun sayangnya malam ini tidak. Ada hal lain yang mengusik Shana. Yaitu tentang proyek filmnya. Hingga saat ini Shana belum menemukan jalan keluar. Dalam hati yang paling terdalam, dia mengi

