Hampir tengah malam, Madeline mendatangi kamar Rosabella. Ia mengetuk pelan pintu kamar dan tidak ada jawaban, lalu ia membuka pintu yang tidak terkunci. Pelayan itu berjalan mengendap-ngendap masuk ke kamar. Rosabella sudah tertidur dengan nyenyak. Madeline dengan hati-hati dan pelan-pelan membuka laci nakas yang berada di samping tempat tidur dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Ia senang melihat surat itu berada di sana dan mengambilnya. Cepat-cepat ia menutup kembali laci dan pergi dari kamar. Keesokan paginya, Adriel datang. Madeline membukakan pintu. Lelaki itu tersenyum ceria seperti mentari pagi. Kedua tangannya disilangkan di belakang. Madeline mempersilahkannya masuk. "Apa surat itu sudah kamu dapatkan?" "Ah itu. Saya sudah mendapatkannya." Madeline meronggoh saku cele

