16. Kantor polisi

1127 Kata
"Selamat siang!"sapa Rosabella. Adriel terkejut. Tatapannya terpaku pada wajah gadis itu. Seperti biasa Rosabella kelihatan penuh percaya diri. Ia juga melihat kalau gadis itu sedang memperhatikannya. Tatapan matanya yang seperti warna madu membuat seluruh badan Adriel dialiri rasa hangat yang sudah tidak dirasakannya selama lima tahun lamanya. Rambut coklat gadis itu ditata rapih di atas kepalanya dan Adriel membayangkan, jika rambut itu tergerai pasti akan memukau. "Lady Rosabella,"katanya dan tidak mempercayai penglihatannya, ia bisa melihat Rosabella yang selama beberapa terakhir ini selalu memenuhi pikirannya. Adriel senang melihat cara gadis itu menatapnya secara langsung tidak berusaha membuatnya terkesan dengan senyuman palsu, mengedipkan bulu matanya, dan suara lembut yang dibuat-buat oleh kebanyakan wanita lainnya, jika sedang berbicara dengannya. Adriel semakin menyukai Rosabella. "Lady Rosabella, apa kabar?"tanya Bernard. "Baik." "Halo Caleb!"kata Bernard. "Aku melihat kalian terburu-buru meninggalkan estat Hallbrook. Apa yang terjadi?" "Ibuku diculik." Mata Rosabella terbelalak, lalu Adriel menceritakan secara singkat apa yang terjadi estat. "Di mana Liliana sekarang?" "Dia sedang memberikan gambaran penculik di sana,"jawab Bernard sambil menunjuk ruangan di depannya. "Apa kita bisa bicara sebentar?"tanya Rosabella kepada Bernard. Adriel memperhatikan mereka berdua dengan penuh tanda tanya. Mereka pergi agak menjauh. "Apa pelakunya salah satu dari anggota the Black Skulls?"tanya Rosabella. "Entahlah, tapi kemungkinan itu ada." "Jika itu benar, apa yang diinginkan penculik itu darinya?" "Aku tidak bisa menyimpulkannya sekarang. Kita bisa tahu setelah penculik itu menghubungi kita." Rosabella melirik ke arah Adriel yang sedang duduk dengan wajah cemas, lalu Liliana keluar ruangan bersama seorang ilustrator. Bernard dan Rosabella segera menghampirinya. Lukisan wajah penculik yang telah selesai dibuat diserahkan kepada Bernard, lalu diserahkan kepada Adriel. "Apa Anda mengenalnya?" "Tidak. Aku belum pernah bertemu dengan pria ini." "Bagaimana denganmu, Lady Rosabella?" "Aku juga tidak mengenalnya." "Aku akan memperbanyak lukisan ini, lalu disebar keseluruh London." Rosabella kemudian menyadari Caleb tidak ada. Ia mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan dan ia menemukannya sedang membaca surat kabar di salah satu sudut ruangan. "Aku ingin Ibuku segera ditemukan." "Kami akan berusaha untuk menemukannya. Sebaiknya kalian pulang dan tunggu kabar dari kami,"kata Bernard pada Adriel dan Liliana. "Baiklah." "Aku juga akan pulang,"kata Rosabella. Baru saja mereka akan pergi, Arthur datang dan melihat Rosabella dan Adriel. Ia melirik gadis itu dengan tatapan tajam dan penuh peringatan. Caleb yang sekarang berada di belakang Rosabella menjadi gelisah. "Selamat siang, Lord Ridgely,"sapa Adriel. "Aku tidak menyangka kita bertemu lagi di sini. Apa kabar Anda?" "Saat ini kabarku tidak baik. Ada hal buruk lagi yang terjadi kepada keluargaku." Mata Arthur mengkilat penasaran dan dahinya berkerut. "Saya ingin berbicara dengan Anda,"kata Bernard pada Arthur. "Kalau begitu kami permisi dulu,"ujar Rosabella. Arthur memandangi kepergian mereka sampai hilang dari pandangannya. Ia kemudian memasuki kantornya bersama dengan Bernard dan Caleb. "Kenapa Adriel bisa ada di sini?"tanyanya. Bernard menceritakan penculikan Dowager Duchess of Windshire kepada Arthur. "Diculik?" "Benar." "Ini pelaku penculikannya." Bernard memyerahkan lukisan wajah pelakunya. Arthur memakai kacamata sebelahnya. "Sayang sekali, aku tidak pernah melihat wajah pria ini sebelumnya,"kata Arthur. "Baiklah. Aku akan pergi ke percetakan bersama Caleb untuk memperbanyak lukisan wajah pria ini. Permisi!" "Bernard,"panggilnya. "Iya, Sir." "Berilah hadiah 200 pounds kepada orang yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan pria itu." "Apa anda yakin akan memberikan hadiah uang sebanyak itu?" "Tentu saja. Duchess of Windshire dulu sudah banyak membantuku sekarang giliranku untuk membalas kebaikannya." "Baiklah." Bernard keluar ruangan dan pintu menutup di belakangnya. Arthur duduk di kursinya sambil mengetuk-ngetukan tongkat berjalannya sambil memikirkan sesuatu. Ada sesuatu yang masih mengganjal dipikirannya, yaitu tentang bros itu. Semalaman ia mencoba memikirkannya, tapi Arthur tidak bisa mengingatnya. *** Di depan kantor polisi, kusir kuda memberitahu pada Rosabella kalau roda keretanya ada yang rusak akibat dipakai dengan kecepatan tinggi. Adriel menawarkan mengantarkan Rosabella pulang menggunakan kereta kudanya. Gadis itu menerimanya. Di dalam kereta kuda milik Adriel, Rosabella berusaha menghindari tatapan pria itu. Ia mengalihkan pandangan ke luar kaca jendela. Kereta kuda kembali terguncang ketika melewati jalanan yang tidak rata. "Mungkin kalian akan menganggapku gila, tapi kalian benar-benar mirip. Kalian seperti kakak adik,"kata Adriel. Liliana menjadi salah tingkah dan Rosabella yang penasaran langsung melihat wajah Liliana lebih dekat lagi. "Mungkin ini hanya kebetulan saja,"kata Rosabella. "Benarkah begitu?" "Iya. Aku belum pernah bertemu ataupun mengenal Liliana sebelumnya." "Seperti yang katakan oleh Lady Rosabella ini hanya kebetulan kalau kami ada kemiripan." "Baiklah. Aku tidak mengungkit kemiripan kalian lagi." Suasana menjadi hening kembali yang terdengar hanya derap langkah kuda. Rosabella memberanikan diri menapat Adriel yang kepalanya sedang menyandar di kursi sambil memejamkan mata. Ia seolah-olah bisa merasakan kesedihan pria itu. Selama ini Adriel hidup bersama ibunya setelah ayahnya meninggal bertahun-tahun yang lalu. Rosabella berharap ibunya Adriel akan baik-baik saja dan semoga saja The Black Skulls tidak membunuhnya. Kereta kuda memasuki halaman estat Duke of Sconce. Seorang pelayan pria hendak meraih tangan Rosabella untuk membantunya turun dari kuda, tapi Adriel cepat-cepat menghalangi pelayan itu. Ia turun dan meraih tangan Rosabella yang dibalut oleh sarung tangan putih. Adriel masih belum melepaskan tangannya dan genggamannya semakin kuat. Desir gairah membanjiri badan Adriel menetap di bagian bawah perutnya. "Terima kasih sudah mengantarkanku pulang." Adriel menyunggingkan senyuman. Mata biru safirnya menghunus tajam pada gadis itu. "Sampai jumpa lagi, my Lady." *** Kereta kuda hitam mengkilat milik Adriel berhenti di depan pintu kastilnya. Matahari sore sebentar lagi akan terbenam. Adriel melintasi pintu depan kastilnya. "Yang Mulia, saya senang Anda sudah pulang." Adriel menyerahkan topi, dan mantelnya ke tangan kepala pelayannya tanpa berhenti melangkah. Ia berjalan ke ruang kerjanya. Di mejanya terdapat setumpuk undangan pesta, makan malam, minum teh, dan setumpuk surat tanpa tersentuh selama beberapa hari. Ia menanggalkan jasnya, melonggarkan cravatnya, lalu duduk di kursi dan menyandarkan kepalanya. Perasaannya tidak tenang memikirkan nasib ibunya. Dengan enggan, ia mulai membaca surat-suratnya dari tumpukan yang paling atas. Surat itu berasal dari teman lamanya, Maxmillian yang mengabarkan ia akan datang ke London bersama istrinya Minggu depan dan berharap bisa tinggal di kastilnya selama berada di London. Adriel menulis jawabannya secepat yang ia bisa dan menyuruh pelayannya untuk mengirimkannya segera. Ia tidak tahu apakah surat itu akan datang tepat waktu sebelum mereka pergi. Tidak membuang waktu lagi, Adriel mengerjakan pekerjaannya yang lain meskipun pikirannya terpecah, karena masalah penculikan ibunya. Ia harus memperbarui semua data kekayaannya dan belum lagi masalah perkebunan dan peternakan yang telah dikembangkan oleh ayahnya dan diwariskan kepadanya. Suara ketukan terdengar. "Masuk!" "Maaf Yang Mulia kalau saya sudah menganggu pekerjaan Anda." Adriel tidak mau repot mengangkat pandangannya, karena ia sedang sibuk menulis. "Ada apa?" "Pengacara Anda, Mr. Edmundo Linares sedang menunggu Anda." "Suruh dia masuk!" "Baik." Pelayan itu pergi dan tidak lama seorang pria tinggi berkumis masuk ke ruang kerjanya. "Silahkan duduk!" Goresan pena terdengar nyaring di ruang kerjanya yang sangat hening. Adriel kemudian mengangkat kepalanya. "Ada apa?" "Saya kemari untuk menyerahkan beberapa dokumen untuk Anda tandatangani."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN