"Tadi ketika saya akan kembali, aku melihatnya bersama seorang pria, lalu pria itu menyeretnya masuk ke dalam kereta. Pria itu membekap mulutnya agar tidak berteriak. Saya mencoba menolongnya, tapi seseorang dari belakang memukul kepala saya."
Tubuh Adriel menjadi lemas dan hampir terjatuh kalau saja Liliana tidak menahan tubuhnya. Ia tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi di sini. Ini pertama kalinya Adriel melihat wajah Liliana dari jarak dekat. Ia cukup terkesima bahwa Liliana mirip dengan Lady Rosabella.
"Maaf my Lord, saya tahu penculikan ibu Anda membuat Anda sedih, begitu pun juga dengan saya, tapi sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tidak tahu siapa penculiknya dan kemana penculik itu membawa Her Grace. Tadi saya melihat Mr. Buchanan di dalam. Mungkin kita bisa meminta bantuannya."
"Kamu benar."
Adriel dan Liliana kembali masuk ke dalam. Liliana mendekati Bernard yang sedang duduk diantara pelayat lainnya, sedangkan Adriel menunggu di sisi lain ruangan.
"Saya ingin bicara dengan Anda. Bisakah Anda ikut saya sebentar?"
Bernard memperhatikan wanita yang tak dikenalnya sedang berbicara dengannya.
"Saya mohon."
"Baiklah."
Bernard berdiri dan mengikuti Liliana. Pelayan itu membawanya menemui Adriel yang berada di luar ruangan dalam keadaan cemas.
"Lord Adriel,"serunya. "Sebenarnya ada apa ini?"
"Ibuku diculik."
"Apa? Kapan?"
"Baru saja. Ada seorang pria tak dikenal menculiknya. Itu yang dikatakan Liliana kepadaku?"
Bernard menoleh kepada Liliana. "Benarkah itu?"
"Benar. Bahkan kepala saya dipukul saat mencoba menghalangi penculik itu."
"Apa kamu melihat wajah penculik itu dengan jelas?"
"Iya. Saya melihatnya dengan jelas."
"Bagus. Sekarang kalian ikut denganku ke kantor polisi. Di sana akan ada seseorang yang dapat melukiskan wajah penculiknya."
"Tunggu apa lagi,"seru Adriel tidak sabaran.
Mereka bertiga berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu keluar estat. Rosabella yang melihat mereka menjadi penasaran.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu,"bisiknya pada Caleb.
"Apa?"
"Entalah. Aku melihat Buchanan, Adriel, dan pelayan pribadi Dowager Duchess of Windshire berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemas keluar dari estat."
"Benarkah?"
Caleb memandang ke sekeliling.
"Aku juga tidak melihat ibunya Adriel di sini,"kata Rosabella.
"Mungkin memang telah terjadi sesuatu."
"Ayo!"
Rosabella tiba-tiba berdiri dan Caleb pun ikut berdiri.
"Kita mau kemana?"
"Mengikuti mereka."
"Tapi bagaimana dengan upacara pemakamannya?"
"Kita tidak akan menghadirinya yang penting kita sudah datang kemari untuk melayat."
Rosabella cepat-cepat berjalan di antara para tamu diikuti oleh Caleb. Pria itu sesaat melihat Angelica yang memakai gaun hitam yang sedang memandangi peti jenazah suaminya dengan wajah sedih dan basah oleh air mata.
***
"Apa kita perlu mengikuti mereka?"
"Tentu. Apa kamu tidak ingin tahu apa yang sudah terjadi?"
"Kamu benar."
Rosabella melihat kereta kuda hitam mengkilat milik Adriel baru saja meninggalkan halaman depan estat dan ia buru-buru menyuruh salah satu pelayan untuk menyiapkan kereta kudanya. Tidak lama kemudian kereta kudanya yang berwarna putih telah siap dan mereka cepat-cepat masuk. Rosabella memberikan perintah kepada kusir untuk mengikuti kereta kuda Adriel.
Kereta kuda milik Adriel berderap kencang dan meninggalkan kepulan debu tebal. Sesekali kereta berguncang dengan keras dan tidak ada seorang pun yang berbicara. Diam-diam Adriel memperhatikan Liliana yang sejak dari tadi memandang ke arah luar jendela. Matanya tidak salah lihat, kalau Liliana memang sangat mirip dengan Rosabella.
"Liliana, apa kamu ada hubungan keluarga dengan Lady Rosabella?"tanya Adriel tiba-tiba membuat pelayan itu tersentak kaget.
"A-apa maksud Anda, Yang Mulia? Kenapa bertanya seperti itu?"
"Karena kamu mirip dengan Lady Rosabella, jadi aku berpikir kamu ada hubungan keluarga dengannya."
"Sa-saya tidak ada hubungan keluarga dengan Lady Rosabella. Mungkin itu hanya kebetulan saja saya mirip dengannya."
Adriel menatap dan memandang curiga kepada Liliana membuat pelayan itu sangat gugup. Bernard pun ikut memperhatikannya.
"Setelah diperhatikan kamu memang mirip dengan Lady Rosabella,"timpal Bernard yang ikut penasaran.
Kereta kuda kembali berguncang dengan sangat keras melewati jalanan berlubang. Liliana yang diperhatikan oleh dua pria tampan di depannya menjadi salah tingkah apa lagi keduanya menyimpan kecurigaan kepadanya.
"Asalmu dari mana?"tanya Adriel yang masih berusaha mengorek informasi siapa sebenarnya Liliana, karena yang ia tahu, Liliana datang ke kastilnya pada malam hari satu tahun yang lalu untuk mencari pekerjaan. Hal itu memang tidak biasa dan aneh ada orang mencari pekerjaan di malam hari.
Adriel masih ingat Liliana datang dengan pakaian agak kotor dan lusuh. Wajahnya kusut dan ketakutan seperti dikejar sesuatu. Ibunya yang merasa kasihan membiarkan Liliana masuk dan berbicara dengannya. Liliana pun diterima sebagai pelayan pribadi ibunya. tanpa ada surat rekomendasi dari siapa pun. Hal itu sangat riskan, jika Liliana bukan gadis baik-baik.
"Liliana adalah gadis yang baik,"kata Olivia.
"Ibu yakin akan menerimanya sebagai pelayan pribadi?"
"Iya. Liliana tidak memiliki keluarga. Ia hidup sebatang kara."
Sejak saat itu Liliana bekerja di kastilnya sebagai pelayan pribadi ibunya sampai saat ini. Selama satu tahun ini, Lliliana selalu bersikap baik dan sopan. Apa yang dikatakan oleh ibunya mungkin benar. Liliana adalah gadis yang baik.
Kereta kembali berguncang.
"Aku berasal dari Hampstead dan bekerja sebagai pelayan selama beberapa waktu di sana."
"Apa kamu dipecat dari pekerjaanmu sebelumnya?"
"Tidak. Aku sama sekali tidak dipecat."
"Lalu kenapa kamu pergi dari asalmu tinggal?"
"Itu karena aku memutuskan berhenti bekerja."
"Berhenti? Kenapa?"
Liliana menjadi semakin gugup dan hal itu tidak luput dari perhatian Adriel. Sekarang entah kenapa ia yakin kalau Liliana sedang menyembunyikan sesuatu. Terlebih pada saat ia menghilang pada acara pemakaman Marquess of Blackmore.
"Saya sudah merasa tidak cocok bekerja di sana, karena mereka tidak memperlakukan saya dengan baik, lalu saya memutuskan untuk mencari pekerjaan lain di tempat lain."
Adriel mengernyitkan dahinya. Kali ini ia menerima alasan Liliana, meskipun di hatinya ia merasa Liliana menyembunyikan dan merahasiakan sesuatu. Kereta kuda mulai memasuki pusat kota dan mulai terlihat keramaian dan kesibukan. Jalanan mulai agak macet dengan banyaknya kereta kuda yang hilir mudik. Mereka pun tiba di depan kantor polisi yang sangat besar.
Liliana turun terlebih dahulu kemudian Adriel, lalu disusul oleh Bernard. Mereka masuk ke dalam dan Adriel semakin mencemaskan keadaan ibunya yang sekarang entah di mana dan berharap para polisi itu akan segera menemukannya.
***
Rosabella dan Caleb turun dari kereta kudanya dan penasaran kenapa Adriel pergi ke kantor polisi. Ia yakin telah terjadi sesuatu. Mereka berdua masuk dengan terburu-buru. Di dalam ia melihat Adriel dan Bernard sedang berdebat. Wajah Adriel begitu cemas. Ia mengkhawatirkan pria itu.
Caleb menahan tangan Rosabella ketika gadis itu akan mendekati mereka.
"Ada apa?"
"Sebaiknya kita jangan ke sana dulu."
"Kenapa?"
Caleb menarik Rosabella agak menjauh.
"Bagaimana kalau kakekmu tahu kalau kamu berada di sini bersama Adriel? Pasti kakekmu tidak akan suka."
"Jadi kamu mencemaskan itu?"
"Iya. Aku tidak ingin kakekmu memarahimu, karena kamu dekat-dekat dengan Adriel. Aku disuruh oleh kakekmu untuk mengawasimu supaya jangan dekat-dekat dengan Adriel."
"Apa?!"serunya tak percaya.
Rosabella menatap kesal pada Caleb.
"Jadi kakek menjadikanmu sebagai mata-mata untuk mengawasiku? Ini benar-benar keterlaluan. Seharusnya ia percaya kepadaku kalau aku tidak akan mencoba untuk mendekati Adriel atau pun mengharapkan cintanya, karena aku tahu, kami tidak mungkin bersama."
"Aku mohon sebaiknya kamu menjauh darinya."
Rosabella tidak mempedulikan kata-kata Caleb, lalu pergi berjalan meninggalkan Caleb. Mau tidak mau Caleb pun akhirnya menyusul Rosabella.