Bab 9

2153 Kata
“Kenapa kamu balik lagi?” tanya Farras pura-pura. Padahal sedari tadi pria berambut ikal itu berdiri memperhatikan Farhana dari jauh.  Farhana masih dalam keadaan kesal. Dia ingin sekali memukul kepala pria itu, itupun jika Farras tidak akan membalas perbuatannya dengan lebih jahat lagi. Namun, Farhana masih sayang nyawanya. Dia pun akhirnya hanya bisa menarik napas dan mencoba memberikan senyum terbaiknya meski terkesan dipaksakan.  “Bapak Arga yang terhormat. Saya mau meminta pertanggung jawaban Pak Arga, lantaran bapak sudah menghancurkan ponsel saya, sehingga saya tidak bisa pesan ojek untuk pulang,” tutur Farhana panjang lebar. Dia bahkan tidak memberikan Farras kesempatan untuk bicara.  “Berhenti panggil saya Arga!” desis pria itu seraya mendekatkan wajahnya.  “Kenapa?” Farhana tak kalah mendesis sembari mengangkat wajahnya seolah menantang pria tersebut.  Farras langsung menarik bahu Farhana dan memeluknya. “Kamu kebasahan, Sayang.” Mata Farhana membola. Apa Farras benar-benar gila? Dia segera mendorong d*da pria itu agar menjauh darinya. Namun, Farras terus mengencangkan pelukannya.  “Farras?” Seorang wanita bergaun mini berdiri di belakang Farhana dengan kening yang mengkerut. “Sedang apa kamu?” “Hai, Wi.” Farras melepaskan pelukannya dan membuat Farhana kini ada di sebelahnya. “Kenalin, calon istriku,” ucap Farras.  Mata Farhana semakin membola. Dia sampai harus meletakan sepatu flatnya di atas sepatu Farras, lalu menekannya dengan keras, berharap pria itu meringis dan meralat ucapannya.  Siwi, wanita seusia Farras itu mengedarkan pandangan terhadap Farhana yang lebih mirip seperti anak SMA, kecil, mungil, bahkan wajahnya sangat polos tanpa polesan meke-up. “Kamu yakin?” tanyanya heran.  Farras tersenyum kikuk. “Yakinlah.” “Ya udah selamat, aku tunggu undangan pernikahan kalian.” Siwi kemudian melenggang pergi menuju apartemennya, meninggalkan mereka berdua di lobi.  Farhana segera menjauhkan tubuhnya. Kali ini dia mengentakkan kaki di kaki Farras. “Maksud kamu apa?” Alih-alih menjawab, pria itu segera menarik tangan Farhana dan membawanya masuk ke dalam lift. Setelah lift berdenting, benda kapsul itu membawa mereka ke lantai 5, tempat Farras tinggal.  “Dengar ya! Seumur hidup, saya tidak sudi menikah dengan pria seperti Anda,” ucap Farhana penuh penekanan. “Kalau misalnya laki-laki di dunia ini tinggal kamu--” Farhana mendorong d*da pria itu dengan telunjuknya, “aku lebih baik jadi perawan tua.” Farras mendecih. “Kamu pikir saya sedang melamar kamu? Jangan harap!” kata Farras tak kalah menekankan. Farhana segera berpaling dan bersedekap. “Cowok b******k!”  “Saya akan mengganti ponsel kamu dengan yang jauh lebih mewah. 12 juta.” Farhana menajamkan telinga untuk kembali mendengar penawaran Farras. Apa pria itu sedang menyogoknya? “Kurang?” tanya Farras tanpa melirik wanita yang kini membelakanginya. “Ponsel keluaran terbaru, 30 juta, mau?”  Farhana menarik napas. Hatinya terus melantunkan kalau dia bukan wanita matrealistis. Harga dirinya tidak bisa dibeli, meski dengan ratusan juta sekalipun. “Kerjaan kamu mudah, kamu hanya perlu pura-pura menjadi calon istriku,” tegas pria itu.  Farhana kemudian berbalik. “Tak sudi,” decihnya. Gigi Farras bergemeretak, dia tidak suka dengan penolakan, apalagi dari rakyat jelata seperti Farhana. “Hanya pura-pura, jangan sok cantik!” Mata bulat Farhana semakin menusuk menatap pria itu. “Aku memang cantik dan aku bisa dapatkan pria yang lebih dari kamu. Siapa juga yang mau jadi istri dari pria yang tak memiliki hati seperti Anda.” Perkataan Farhana semakin membuat Farras geram. Farras menyeret tubuh Farhana, hingga punggung wanita itu menggebrak dinding lift. Farhana terkesiap, saat lift tiba-tiba berhenti. Dia kemudian menjerit bukan karena keadaan yang mendadak gelap dan pengap. Namun, karena dia takut Farras akan berbuat kurang ajar terhadapnya.  Farras segera menjauhkan tubuhnya dari Farhana, dia merogoh ponsel untuk menghubungi satpam lantaran lift yang dia gunakan tiba-tiba tidak berjalan. “Gus, lift lantai tiga macet, calon istri saya tiba-tiba mulas, saya takut dia keguguran. Mana dia histeris karena takut gelap.” “Astaga!” Farhana memekik. “Kamu gila!” Farhana hendak memukul kepala pria itu. Namun, tangan Farras segera menahannya.  Dalam gelap, bibir Farras kembali menyunggingkan senyum sinisnya. Dia ‘kan sudah bersumpah akan membuat Farhana menderita karena dulu telah berani menyumpahinya. “Tuh, ‘kan, Gus kamu dengar sendiri, cepat kirim bantuan ke sini,” ucapnya di telepon.  Farhana kembali mengentakkan kaki, Farras memang tidak bisa dibiarkan, jika Farhana terus mengalah, pria itu akan semakin semena-mena padanya. Bibir Farhana mengerucut, dia kemudian menyikut perut pria itu. Namun, serangan yang Farhana lakukan meleset dan malah membuatnya jatuh terjengkang, hingga menimpa Farras. Beruntung pria itu berdiri tak jauh dekat dinding lift.  Cahaya ponsel Farras memberi terang yang sangat tipis. Gerakan matanya melambat menatap gadis itu. Namun, jantung berdebar dengan cepat dan lantang, hingga Farras merasa kalau reaksi tubuhnya tidak wajar dengan apa yang terjadi sekarang. Dia segera mendorong punggung Farhana darinya.  Farhana mengerjap dan segera menegakkan tubuhnya. Sungguh aroma green tea dan peppermint selalu saja membuatnya semakin kesal pada pria itu. Dari lima tahun yang lalu sampai sekarang hanya wangi itu yang membuatnya selalu merasa benci pada sebuah ciuman.  Tiba-tiba sebuah cahaya panjang dari celah lift perlahan membesar dan lift itu pun terbuka dengan lebar. Farras segara menautkan jari-jemarinya di tangan Farhana. Dia kemudian menarik gadis itu ke luar dari lift.  “Makasih, Gus,” ucapnya pada petugas keamanan apartemen.  “Siap, Pak Bos,” ucap Agus sembari mengangguk takzim.  Farhana terperangah saat Farras terus menariknya melewati tangga darurat menuju  lantai lima. “Di sini liftnya rusak,” ucap pria itu.  “Hei.” Farhana melepaskan genggaman tangan Farras. “Lift satunya kan ada.” Farras kemudian menoleh dan berdecak kesal. “Apa kamu tidak termasuk gadis yang kapokan?” Farhana mengernyit. “Maksud kamu apa?” “Itu artinya apa yang aku lakukan lima tahun yang lalu tidak membuatmu trauma, ‘kan?” tanyanya seraya mendekat. Sementara Farhana terus mundur menjauhkan wajahnya dari pria itu. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita lakukan lagi?”  Farhana tidak sadar kalau dia sudah berada di bibir tangga. Hingga dia hampir terjungkal jika saja Farras tidak sigap menangkap pinggulnya. Jantung Farras kembali berdebar tak karuan, rasanya sangat menyebalkan. Hingga dia segera melepaskan Farhana sesaat setelah gadis itu menegakkan tubuhnya sendiri.  “Sekali lagi kamu cari perhatian saya, awas ya!” Telunjuk Farras sangat dekat sekali dengan wajah Farhana. Hingga Farhana meraih dan menggigitnya dengan keras.  “Arghhh ….” Farras meringis. “Cewek gila!” pekiknya seraya terus mencoba menyelamatkan diri dari gigitan Farhana.  Jujur Farhana masih kesal, hingga dia ingin sekali menggigit telunjuk pria itu sampai putus. Namun, teriakan Farras membuat beberapa orang datang berhamburan.  Agus sudah berdiri di ujung tangga paling bawah. “Kenapa Pak Bos?” tanyanya. “Gus tolong saya, Gus.”  Farhana mengentakkan kaki dan melenggang pergi sesaat setelah tangannya mendorong perut pria itu.  Farras tercenung sembari menahan sakit sekaligus malu, lantaran dia terlihat bodoh hanya karena Farhana, perempuan cantik dengan alis tebal dan bibir tipis. Farras segera menegakkan tubuhnya seraya tersenyum miring. “Dia marah, Gus. Karena aku katakan kalau dia hamil dan takut keguguran.” Suara tawanya yang menyeramkan tiba-tiba menggema. “Padahal saya menyentuh dia juga belum.” Agus hanya menatap pria itu. Farras memang tak biasanya seaneh ini. Bahkan selama ini Farras terkesan keras dan pemarah. Agus menganggap semua karena perempuan tadi. Mungkin saja cinta bisa mengubah karakter Farras.  Farras kemudian berlari menaiki anak tangga itu. Sementara Farhana sudah menunggunya di depan pintu apartemen. Tiba-tiba Farras pura-pura ramah, lantaran Siwi sedang memperhatikannya di depan pintu rumah yang kebetulan bersebelahan dengan rumah apartemen Farras.  Sebenarnya Farhana masih marah dan ingin memaki. Namun, kehadiran Siwi membuatnya harus menahan itu. Tapi kenapa tiba-tiba dia jadi peduli pada dua makhluk itu, yang jelas-jelas tidak ada hubungan apapun dengannya. Setelah pintu terbuka. Farhana mengayun kaki dan masuk ke dalam apartemen Farras yang teramat sangat tidak nyaman dan sama sekali tidak mirip dengan tempat pulang.  “Aku tidur di mana?” desah Farhana. Seketika makian yang tersimpan dalam benaknya terlupakan begitu saja tatkala melihat ruangan kosong yang hanya tersedia sofa berwarna sage, bahkan kasur saja tidak ada. “Kamu tinggal di sini berapa lama sih?” gumamnya sembari menjatuhkan bok*ng di sofa.  “Tidur?” Farras kemudian tertawa. “Jangan harap bisa tidur.” Farhana semakin geram dengan tingkah Farras yang membuatnya semakin memurkai pertemuannya ini. Dia hanya bisa menarik napas dan mengempaskannya perlahan. Begitu terus hingga berulang kali dan dirasa lebih baik dari sebelumnya. Jujur sebenarnya Farhana tidak peduli berapa lama Farras tinggal di sini. Hanya saja dia benar-benar baru menemukan pria seaneh dia, pasalnya pria itu terlihat sudah sangat akrab dengan para penghuni apartemen tersebut, bahkan pada satpam saja tidak sopan meski hanya satpam apa salahnya bersikap sopan, apalagi berusia lebih tua darinya. Jadi, Farhana rasa dia sudah cukup lama tinggal di apartemen ini, lalu kenapa tak ada satupun furniture di sini?  Ketidak pedulian Farhana terbukti, hingga dia berani mengabaikan pria itu. saat ini dia hanya butuh tidur, maka Farhana pun merebahkan tubuhnya di sofa. Sementara tas teronggok di ujung kakinya.  Farras hanya menatap wanita itu, kenapa dia merasa tiba-tiba bisa sedekat ini. Ada apa dengan dirinya. Kejadian lima tahun yang lalu memang salahnya, hanya saja kenapa dulu dia biasa saja, Farhana memang hanya korban kekesalannya. Namun, dia tak pernah berpikir akan dipertemukan dengan wanita itu lagi. Sudahlah kalimat tersebut seperti benang kusut yang membuat kepala Farras berdenyut. Dia tidak peduli dengan wanita menyebalkan di depannya ini. Bahkan dia sudah tidak punya tujuan hidup sejak sumpah serapah Farhana lima tahun lalu terus menghantuinya. Farhana memicingkan mata, melirik Farras yang bersandar dengan kepala terkulai. Perutnya saat ini meminta jatah. Di mana dia harus mencari makanan, sementara dia tidak yakin zombie di depannya ini punya stok makanan. Farhana menggerak-gerakkan kaki dan menggoyang-goyangkannya, resah dan rasa tidak nyaman membuatnya seperti itu. Bahkan dia ingin sekali berguling ke sana kemari, sayang sekali ini hanya sofa. Gadis itu kemudian menegakkan tubuhnya. “Heh, Zombie.” Farras mengerjap. ‘Apa dia kata? Seenaknya saja memanggil orang!’ “Aku lapar!” teriak wanita itu, tak tahu malu. “Sebelum aku memakanmu--” Kedua matanya membola. Namun, ucapannya terhenti saat dia ingat dengan siapa dia bicara. ‘Astaga dia bosku.’ Farhana menyipitkan mata. “Maaf, Pak, saya emosi.” Farras menatap tajam wanita menyebalkan di depannya itu. Dia kemudian bangkit dan berjalan ke dapur. Dia lalu mengambil dua cup mie instan dan melemparkannya ke atas pangkuan Farhana.  Farhana paling tidak suka jika ada yang memberinya dengan cara seperti ini. Tidak sopan dan secara tidak langsung telah menghinanya. Namun, apa boleh buat, dia lapar, tadi makan siang hanya sedikit.  “Airnya di mana?” Farhana mengedarkan pandangan dan Farras sedang mengisi cup tersebut dengan air panas dari galon. Syukurlah masih ada sisa-sisa kehidupan, meski penghuni rumah itu tampak stress dengan hidupnya sendiri.  Farhana kemudian mendekat dan ikut menuangkan air panas tersebut ke dalam cup, hingga bulatan mie terendam. Tiga menit rasanya cukup lama menunggu mie itu matang dan mengembang. “Dengar untuk penawaranmu siang tadi, aku ambil,” ucap Farhana lurus-lurus saja.  Farras menarik napas. “Oke. Besok, tiga puluh juta mendarat di nomor rekeningmu.” Farhana bahagia sekali, dia merasa melambung dan terbang ke angkasa. Ini seperti iseng-iseng berhadiah, meski entah apa yang akan dia hadapi setelah ini. Sepertinya dia harus membuat perjanjian.  “Ada syarat yang harus kamu penuhi,” ucap Farhana. “Hanya aku yang boleh mengajukkan syarat,” sanggah Farras. Kening Farhana cepat sekali mengerut. “Dengar aku tidak sedang menjual diriku padamu, kamu hanya meminta bantuanku untuk menjadi pacar pura-puramu, ‘kan?” “Bukan pacar, tapi calon istri. Catat itu!”  “Masa bodoh!” Farhana mendelik. “Jangan pernah lakukan hal yang sama seperti lima tahun yang lalu. Intinya kau tidak boleh berbuat keterlaluan. Ingat aku punya harga diri yang jauh lebih mahal dibanding harga dir--” Sensor otak Farhana mencegahnya berkata tidak baik. Dia tidak boleh menghina orang lain dan membawa-bawa soal harga diri dia dan dirinya.  “Aku mengerti. Tenang saja kamu bukan tipeku.” Farhana menghela napas. Dia kemudian menyantap mie nya, tanpa melirik pria itu lagi. Kedua pipinya menggembung. Untuk apa cari muka pada pria seperti Farras, dia, ‘kan bukan tipenya.  Farras lagi-lagi tercenung menatap fenomena ini, biasanya kalau perempuan makan, selalu berhati-hati, entah karena gincu yang terlalu takut ikut memudar atau apalah Farras tidak mengerti. Yang jelas wanita di depannya ini tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu.  “Apa?” Farhana kembali mendelik. “Semenit yang lalu kamu bilang aku bukan tipemu, lalu sekarang kamu sudah naksir aku, ajaib!” komentar Farhana.  Farras mendecih. “Naj*s!” gumamnya sembari mengaduk mie dalam cupnya.  Farhana mengedikkan bahu. “Dengar! Aku tidak pernah bermimpi punya calon suami seaneh dirimu.” “Ya syukur, siapa juga yang mau nikah sama kamu?!” Lagi-lagi kalimat seperti itu ke luar dari mulut Farras. Farhana kemudian berdehem. “Awas saja kalau jatuh cinta.” Farras tak ingin berkomentar. Mental perempuan itu sama, mudah terbawa perasaan, Farras yakin Farhana akan mudah besar kepala kalau disanjung-sanjung atau diberi hal-hal manis. Dia bersumpah setelah membuat Farhana jatuh hati padanya. Dia akan langsung mematahkan hati wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN