Bab 10

2129 Kata
Samar-samar cahaya matahari membawa silau. Farhana menyipitkan mata, dia hendak bangkit, namun sesaat kemudian dia terperangah saat mendapati jas Farras menutupi setengah badannya. Dia kemudian duduk dan mengedarkan pandangan, dia mendapati Farras sedang tidur di sofa panjang dekat jendela. Farhana menatap ke arah pria yang tengah terbaring dengan tangan di atas kepala itu. Dia kemudian menggeliat, lalu mengayun kaki dan turun dari tempatnya. Kemudian berjalan gontai ke kamar mandi.  Tiba-tiba jeritan Farhana membuat Farras terperanjat dan segera menghambur ke asal suara. Farras tidak lupa kalau di apartemennya ada makhluk berkromosom x. Farras mengusap kasar wajahnya. “Apa?” pekiknya kemudian. Farhana berbalik dan menghujani Farras dengan pukulan. “Ada tikus, tikus, tikus!” Jeritnya sambil mengedikkan bahu akibat geli. Farras beberapa kali mencoba mencegah pukulan wanita itu. Namun, pukulannya terlalu pelan dan terkesan manja. Membuat Farras bergidik jijik. Begitulah perempuan, baru diperhatikan dengan diselimuti jas, sudah terbawa perasaan.  “Antar aku pulang ke rumah Oma Yuli, sekarang!” ucap Farhana seraya mengentakkan kaki.  Kening Farras mengerut. Kenapa wanita itu bersikap seolah Farras memang pacarnya, padahal sudah jelas sejak kemarin Farhana mengucapkan kalimat yang menyiratkan penolakkan. “Cepat!” Farhana kemudian mendorong tubuh Farras dengan bahunya. “Aku harus mandi, ganti baju. Kamu tahu aku sedang datang bulan.” Tiba-tiba rengekannya terdengar menjijikkan di telinga Farras.  Farras masuk ke dalam kamar mandi. “Jangan cari muka padaku, kamu terlalu jelek!” Farras kemudian menutup pintu kamar mandi dengan keras, hingga Farhana terkesiap.  “Pak Arga!”  “Jangan panggil aku Arga!” teriak Farras dari dalam kamar mandi.  Farhana mendengkus. Dia sangat resah menunggu pria itu keluar dari kamar mandi. “Cepat,” ucapnya sembari mengetuk.  Farras sengaja membuat Farhana lebih lama menunggu, dia ingin lihat sesabar apa wanita itu.  “Pak Farras,” panggil Farhana lembut. “Bapak nggak bunuh diri, ‘kan?” tanyanya tak kalah lembut dan pelan. “Jangan mati dulu, Pak. Bapak belum bayar utang sama saya.” Farhana mendekatkan telinga ke daun pintu. “Pak,” panggilnya lagi.  Tiba-tiba pintu terbuka dan kepala Farhana tepat mengenai Farras yang telanjang d*da. Farhana segera menegakkan tubuh dan menelan liur yang mendadak tercekat. Begitu Farras maju dia terus saja mundur, mencium di tempat umum saja Farras berani, apalagi di sini hanya ada mereka berdua. Farras terus mendekatkan wajahnya pada Farhana. Sementara Farhana spontan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Kamu pikir saya bodoh? Meski hidup saya membosankan, saya tak pernah berniat untuk mati bunuh diri.” Farhana menurunkan tangan dan mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, bukan sebuah senyuman yang dia persembahkan, melainkan sebuah ejekan.  *** Farhana memasang sabuk pengaman, sementara Farras sudah melajukan mobilnya. Andai Farhana tahu jalan menuju rumah Oma Yuli, dia tidak  akan sudi untuk menginap di apartemen Farras. Mengalami hal gila dengan pria aneh itu. “Harusnya sekarang kita cari Furniture, harusnya sekarang kamu mulai kerja,” ucap Farras sembari memutar roda kemudi. “Iya, tahu,” gumam Farhana yang masih sibuk memasang sabuk pengaman.  “Karena saya baik, saya akan tunggu kamu bersiap dan jangan banyak alasan.” Farhana tak ingin menanggapi. Membosankan! sedari kemarin Farras terlalu banyak membanggakan diri sendiri, keangkuhannya begitu kentara,  apalagi sikapnya yang tidak sopan pada neneknya sendiri. “Kau dengar, Nona?” “Iya, Tuan,” jawab Farhana malas. Farhana pura-pura terpejam saja. Sementara Farras terus mengemudi. “Lain kali pulang sendiri, jangan pernah merepotkanku.”  Ya, Farhana dengar, hanya saja dia malas menanggapi pria angkuh itu lagi. Sudah cukup kesialannya kemarin. Farhana punya harga diri, jangan mentang-mentang Farras bos dan bisa semena-mena, terus Farhana diam saja? Tidak akan! Farhana tetap ingin menjadi dirinya sendiri meski dibenci semua orang.   “Berani kamu mengabaikan saya?” “Bodo amat,” dengkus Farhana seraya membuang muka membelakangi Farras.  Mata pria itu membulat. Bisa-bisanya Farhana bersikap seperti itu, padahal Farras sudah bicarakan ini baik-baik, lunak tak seperti sebelum-sebelumnya. Sementara Farhana masih membelakanginya. Farhana sibuk memikirkan cara untuk menjatuhkan dan membuat Farras sadar dengan tingkahnya yang angkuh.  Mobil berhenti di depan rumah Oma Yuli. “Aku tunggu di sini,” ucap Farras.  Farhana memang tidak mengerti kenapa Farras seperti menghindari neneknya sendiri. “Tidak masalah, aku hanya perlu mandi dan bersiap-siap. Mungkin sekitar--” Farhana menatap arlojinya, “dua jam.”  Mata Farras mendelik saat melihat Farhana turun. Dia kemudian segera mengejar wanita itu. “Dengar,” pintanya sembari menarik tangan wanita itu, “Jangan katakan apapun soal kemarin pada Oma.” Farhana mengangkat sebelah alisnya. “Untungnya apa kalau aku bilang? Justru di sini aku yang merasa dirugikan,” ucap Farhana seraya berbalik, kemudian melenggang pergi.  Farras mengerang. “Argh …sudah kubilang aku akan mengganti ponselmu,” kata Farras sembari mengejar Farhana.   Farhana pura-pura tak mendengar. Namun, dia tercenung saat Farras menunjukkan ponsel yang terdapat bukti bahwa dia sudah mentransfer sejumlah uang pada Farhana, bahkan lebih dari yang Farras katakan kemarin.  “Sudah cukup?” tanya Farras sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. “Jangan katakan tidak, karena ini sudah terlalu banyak untuk kamu.” Farras mengangkat wajahnya dan tidak menatap Farhana. “Biasanya semalam saya cuma bayar  15 persen dari ini, kamu tinggal hitung berapa malam waktu yang harus kamu habiskan denganku.” Farhana mengedikkan bahu. “Perjanjiannya tidak seperti itu. Bukannya Anda hanya minta saya untuk pura-pura menjadi calon istri Anda, iya, ‘kan?”  Farras menarik napas, hendak berkata. Namun, Farhana terlanjur melenggang pergi. Saat hendak mengejarnya lagi.  Oma Yuli datang menghampiri. “Farras.” “Oma.” Raut wajah Farras masih sama seperti sebelum-sebelumnya saat Farras menolak keinginan Oma Yuli. Bahkan, ancaman Oma Yuli sama sekali tidak mempan dan Farras malah mendurhakai neneknya sendiri.  “Makan yuk,” ajak wanita tua itu. “Oma sudah masakin makanan kesukaan kamu.” Farras segera melenggang pergi tanpa menanggapi ajakan Oma Yuli, meski begitu Farras tetap masuk dan duduk di kursi meja makan. Oma Yuli hanya perlu bersabar menghadapi Farras. Tindakannya kemarin memang keterlaluan, terlalu mendesak dan memaksakan keinginannya terhadap Farras.  Kini Farras menyantap makanan kesukaannya. Sementara Farhana sibuk berdandan. Dia bukan sedang cari muka pada Farras, hanya saja dia sudah bersumpah akan membuat pria itu bertekuk lutut padanya. Maka, dia memoles bibirnya dengan lipstik warna nude. Dia memang tidak pernah berdandan. Namun, dia tidak senorak itu sehingga segala bentuk make up dia tempelkan ke wajahnya. Tidak! Farhana tahu caranya mempercantik diri.  Dia mengayun kaki ke luar dari kamar. Jeans biru yang dia kenakan ketat mencetak betis jenjangnya, robekkan di beberapa titik antara lutut dan betis membuatnya merasa modis, padahal pakaian seperti itu sudah Farhana tinggalkan sejak mengenal Gias. Namun, penolakkan Gias membuatnya kembali bergaya seperti dulu.  Outerwear hitam menutupi blouse tanpa lengan berwarna abu misty yang dia kenakan. Sementara rambutnya disanggul ke atas dengan beberapa anak rambut yang menjuntai. Aroma sweet rose menguar tercium oleh Farras dari jarak yang cukup jauh, hingga pria itu menoleh ke tempat Farhana berdiri. Saat Farhana berjalan dan mendekat ke arahnya, Farras segera membuang muka dan pura-pura tidak melihat wanita itu.  “Pagi, Oma,” sapa Farhana seraya mendekat. “Hana berangkat kerja dulu, ada janji sama bos garang.” Dia mengulurkan tangan hendak mengecup tangan keriput Oma Yuli.  “Kamu makan dulu.” Oma Yuli menarik kursi di sebelah Farras. “Duduk sini,” pintanya.  “Tapi, Oma--” Farhana melirik Farras yang pura-pura tak mengenal dirinya.  “Nggak apa-apa, cucu Oma baik kok,” ucap Oma Yuli sembari menepuk-nepuk kursi itu.  Perlahan Farhana mendaratkan bok*ngnya. “Iya deh, Oma yang maksa.” Dia kemudian tersenyum sembari melirik kembali pria di sebelahnya yang hampir tersedak, lantaran mendadak debaran di balik d*da pria itu kembali menyebalkan. Farras ingin sekali menghentikan debaran ini. “Kamu kenapa?” tanya Oma Yuli pada Farras.  Farras tak menjawab dia hanya berdehem. Bukan sebagai jawaban yang dia persembahkan hanya sebagai bentuk pemberitahuan kalau dia tidak ingin diajak bicara. “Ya udah deh, Oma ngobrol sama Hana aja.” Wanita tua itu kemudian menatap Farhana yang sedang mengunyah roti sandwich selai kacang. Farhana memang mudah akrab dan mudah berbaur, padahal gadis itu baru dua hari tinggal di rumahnya.“Kamu punya pacar?” tanyanya.  Farhana menggelengkan kepala.  “Siapa juga yang mau pacaran sama cewek menyebalkan kayak dia,” celetuk Farras. Bibirnya ternyata gatal juga untuk tidak berkomentar. Farhana dan Oma Yuli saling tatap, kemudian Farhana menoleh pada pria angkuh itu. “Kamulah siapa lagi,” seloroh Farhana. Namun, kalimat itu dianggap serius oleh Oma Yuli.  “Serius kalian pacaran?” tanya Oma Yuli antusias. Farhana tercenung, apa dia telah mengatakan sesuatu, atau membongkar suatu rahasia? Rasanya Farhana tidak melakukan itu.  Mata Farras mendelik menatap wanita itu. Sementara Farhana hanya bisa tersenyum kering sembari mengedikkan bahu.  “Wah, jadi beneran. Pantas tadi Oma lihat, Hana ke luar dari mobil kamu,” ucap Oma Yuli pada Farras.  “Nggak kok Oma, itu kebetulan,” sanggah Farhana.  “Terus maksud yang kemarin itu, kalian sedang bertengkar, iya?” tebak Oma Yuli. Kening Farras mengerut, sementara Farhana menggaruk pelipisnya. Dia tidak begitu peduli, yang terpenting Farras sudah membayar utangnya. 35 juta. Cukup untuk membeli ponsel dan satu buah motor, sayang sekali jika Farhana membelikan uang tersebut hanya untuk satu barang saja.  “Jadi?” tanya Oma Yuli memastikan lagi.  Farras masih belum menemukan jawaban. Jika dia katakan iya, dia takut Oma Yuli akan mendesaknya untuk segera menikahi wanita menyebalkan itu, jika dia katakan tidak, dia juga takut Oma Yuli akan kembali menjodohkannya dengan anak sopir itu.  “Saya permisi, Oma. Sudah terlalu siang.” Farras kemudian bangkit sesaat setelah menenggak air putih miliknya.  Farhana masih santai dan masih menikamti makannya. Namun, Farras mendesis. “Mulai bekerja atau saya pecat?” Farhana kemudian melirik pria itu sekilas lalu menatap Farhana. “Sebenarnya Oma, Hana itu kerja di perusahaan cucu Oma,” ucapnya sedih.  “Kenapa, apa kamu tidak suka?” tanya Oma Yuli.  “Bukan begitu Oma, tapi--” Tiba-tiba Farhana tergemap saat Farras menarik tangannya dan membawanya pergi dari hadapan Oma Yuli. Sementara wanita tua itu sama terkejutnya. Namun, dia senang karena Farras akhirnya mau mengenal perempuan. Perlahan dia bangkit dan mengikuti cucunya itu hingga ke depan.  “Ingat kamu harus rahasiakan hubungan kita,” desis Farras. Namun, tak di sangka Farhana malah tertawa.  “Bukannya kita hanya pura-pura kenapa harus dirahasiakan, bilang saja tidak. Bisa, ‘kan?” Farhana mengedikkan bahu.  “Tidak!” Farras menunjuk wajah Farhana. “Awas saja kamu--” Farhana menarik telunjuk Farras dan hampir menggigitnya. Namun, Oma Yuli terlanjur datang. “Kalian ada masalah lagi?” “Nggak kok, Oma. Mau salim tuh.” Farhana meraih tangan Farras dan medekatkan punggung tangan pria itu ke keningnya. Sementara Farras mengernyit dan segera menepis tangan wanita itu. Lalu menggosok-gosokkan tangannya sendiri ke permukaan celananya. Oma Yuli malah tertawa.  “Kalau atasan sama bawahan ‘kan, nggak mungkin seperti ini.” Farhana kemudian tercenung. Iya, dia lupa kalau Farras adalah atasannya. Yang dia ingat Farras hanyalah pria menyebalkan yang tak beradab.  “Iya, Oma. Kami memang pacaran.” Kalimat yang baru saja Farras ucapkan berharap bisa membungkam mulut Oma Yuli.  “Wah, nanti Oma bilang ke orang tua kamu agar kamu segera menikah,” ucap Oma Yuli riang.  Sementara bahu Farras turun. Sudah dia duga. Kenapa dia bisa sebodoh itu? Dan Farhana tercengang. Ini tidak boleh terjadi. Dia tidak sudi menikah dengan pria seperti Farras. “Tidak!” pekik Farhana sembari mengedikkan bahu, Oma Yuli terkesiap dan menatap Farhana. “Maaf Oma, Hana terkejut.” “Kamu harus segera melamar Han--”  “Maaf Oma, kami harus segera berangkat,” ucap Farras seraya menunduk dan meraih tangan neneknya.  Oma Yuli terkagum-kagum, lantaran Farras kembali bersikap sopan. Dia tidak salah lihat, meski sebenarnya Oma Yuli tahu, Farras dan Farhana hanya berpura-pura. Jalan pikiran Farras sudah dapat dia tebak. Farras memang hanya sedang berusaha menghindari desakannya.  “Hana berangkat ya, Oma,” ucap Farhana sembari memeluk Oma Yuli. “Sebenarnya kita cuma pura-pura pacaran, Oma, buat menghindari cewek bernama Siwi,” bisik Farhana. Mata Oma Yuli membola. Benar saja apa yang dipikirkannya. Dia kemudian mengangguk. “Hati-hati ya.” Oma Yuli melambaikan tangan saat melihat mereka berdua masuk ke dalam mobil. Tak apalah meski hanya pura-pura, tapi dia yakin Farhana bisa merubah tabiat kasar cucunya itu. Farras mengenyakkan punggung ke sandaran sofa. Dia mengerang frustasi, kemudian menoleh menatap Farhana yang hanya tersenyum lembut menatapnya.“Ini semua gara-gara kamu!” Niat hati ingin membuat Farhana menderita. Namun, malah dirinya yang selalu merasa sial. Ternyata dia salah karena mau-maunya berurusan dengan Farhana.  Farhana terus saja tersenyum, seolah sedang tidak terjadi hal besar. Jika cara seperti ini bisa membuat Farras kalah, tentu itu akan sangat mudah. Farhana tinggal mainkan saja perannya. Bukankah berkamuflase itu mudah? Farras salah, jika dia pikir Farhana tidak menuntut balas atas apa yang Farras lakukan lima tahun lalu juga dua hari ke belakang. Meski dia terus menyunggingkan bibir dan tersenyum, namun hatinya sedang memaki perbuatan Farras terhadapnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN