Setiap hari Farhana menyiapkan sarapan, meminta Mang Amin mengantar makan siang ke kantor dan menyambut Farras pulang, lalu makan malam bersama, begitu terus setiap harinya sampai dia merasa bosan. Sebenarnya Farhana ingin membuktikan kalau dia bisa jadi istri yang baik, sesuai yang diharapkan Farras, dia sampai merelakan semua yang dia inginkan dan melupakan hidupnya. Suara denting sendok menjadi pengiring sarapan pagi ini. Tegukkan air menjadi pertanda berakhirnya kegiatan di meja makan. “Aku berangkat,” ucap Farras seraya bangkit. Farhana mengecup punggung tangan Farras, lalu pria itu mengecup kening Farhana. Seperti itu setiap harinya. “Sayang, kamu di rumah baik-baik, jangan terlalu capek.” Farhana mengangguk. Farhana mengantar Farras ke depan rumah, deru mesin mobil menjadi per

